
"Aku sih liatnya dia lari sendirian, Iv." Terang Aldi.
"Ke arah mana? Sekitar jam berapa kamu liatnya?" Sambung Ivanna dengan tidak sabar.
"Kayanya larinya itu ke arah luar sana deh. Aku gak tau pasti jam berapa, cuma kya nya sekitar jam 6 gitu. Aku juga gak terlalu jelas melihatnya, soalnya masih ngantuk-ngantuk." Aldi tersenyum dan malu sendiri karena ketahuan jadi tukang tidur.
"Kayanya Ivanna harus cari Eva dulu deh pak, bu. Takut Eva kenapa-kenapa." Kata Ivanna dengan nada cemas. Tentu saja Ivanna cemas memikirkan adik satu-satunya yang masih tertinggal di dimensi ini, tapi keberadaannya masih tidak di ketahui.
"Iya nak, cari adikmu dulu. Nanti kalau ketemu ajakin ke sini saja dulu, kan di rumah kalian gak ada orang." Ucap pak Aziz ramah.
"Iya nak hati-hati ya. Aldi kamu temani Ivanna yah, mama takut kalau Ivanna pergi sendirian."
"Iya mah, siap. Aldi ganti baju dulu ya bentar aja kok, tunggu ya Iv." Aldi berlalu sambil tersenyum.
"Ayo Ivanna." Aldi sudah siap sepertinya dengan baju kaos biru dan celana hitam. Aldi terlihat tampan sekali dengan rambut yang rapi dan baju kaos yang menampakkan lengan dan dada berototnya. Ivanna memandangi Aldi tanpa berkedip. Rasanya Aldi lebih tampan dari dari. Benar saja, saat keluar menemui Ivanna tadi, pakai baju tidur terus rambut acak-acakan kaya rumput liar. Berbeda sekali dengan Aldi yang ini.
"Ayo Iv, udah siap kan?"
"Eh i-iya iya." Ivanna sedikit tergagap menjawab Aldi karena sepertinya dia sangat terpesona melihat Aldi.
"Pa, ma, kita pamit dulu ya." Aldi salaman dan mencium tangan kedua orang tuanya. Ivanna juga melalukan hal serupa.
"Hati-hati Al, jagain Ivanna."
"Iya Al hati-hati jagain calon menantu mama." Bu wanda terkekeh di senggol Aldi. Mamanya Aldi memang suka sekali menggoda putra semata wayangnya, sebab dia tau Aldi sudah sejak lama menyukai Ivanna. Hanya saja gerakan Aldi lambat, dengan dalih Ivanna masih sekolah.
Sambil melangkah meninggalkan rumah Ivanna hanya tersenyum dan siapa sangka pipinya memerah. "Iv pipi kamu kenapa?" Goda Aldi.
"Eh enggak, gak papa kok. Kayanya karena cuaca sedikit panas." Jawab Ivanna asal. Aldi hanya tersenyum sendiri mendengar jawaban Ivanna.
"Ivanna manggil kamu ka Aldi aja ya biar lebih sopan." Berusaha mengalihkan pembicaraan soal pipi merahnya.
"Emmm iya deh boleh." Aldi tersenyum lagi, senyum nya manis sekali. Wanita mana pun yang melihat pasti langsung jatuh cinta dengan laki-laki berkulit eksotis dan tubuh berotot ini, di tambah sedikit brewok semakin menambah kadar ketampanannya. Juga dengan mata elangnya yang berwarna coklat. Karena Aldi adalah laki-laki blasteran Indo-Turki. Papanya Aldi yang berasal dari Turki mewariskan seluruh ketampanannya pada Aldi. Pak Aziz.
"Rumah kita sebenarnya gak terlalu jauh ya Iv, tapi kita gak pernah temenan." Aldi memulai pembicaraan lagi.
__ADS_1
"Iya kak, Iv kalau pulang sekolah jarang keluar rumah, Iv di rumah aja kegiatannya. Sebenarnya, sama kak Aldi juga Ivanna gak pernah liat. Cuma tau aja kalau anaknya bu Wanda ada kak Aldi."
"Nah kan sekarang udah kenalan, udah tau sama aku. Jadi kita temenan?"
"Iya kak Aldi." Ivanna melempar senyum ke arah Aldi.
"Eh kak, ini rumah terakhir di jalan ini, kita juga udah di ujung jalan nih."
"Iya Iv, kak Aldi rasa adik kamu gak mungkin jauh-jauh deh lari nya. Coba panggil aja."
"Gak papa nih ka? nanti di sangkain kenapa lagi teriak-teriak akunya."
"Tapi iv, ini kya nya sepi banget deh. Coba kamu liat, beberapa rumah-rumah di sini juga berubah kan, kayanya orang-orang memang mengihilang Iv. Aku makin bingung deh, kenapa kita di sisain ya?"
"Iya sih ka bener. Ivanna juga gak tau kenapa. Ya udah nanti aja mikirin nya, bantuin Iv cari Eva dulu ya kak?"
"Evaaaa....." Ivanna berteriak dengan keras. "Vaa kamu di mana?"
"Evaaaa...." Aldi juga berusaha memanggil adiknya Ivanna itu.
"Sebaiknya nanti dulu Iv, di komplek kita juga belum seluruhnya kita cari kan?
"Iya kak, tapi Iv takut Eva kenapa-kenapa. Dia satu-satunya adik Iv, dan dia juga satu-satunya keluarga Iv yang Iv tau ada di sini." Ivanna mulai sedih membayangkan bagaimana adiknya itu, dia tahu betul bagaimana Eva, dia selalu takut sendirian, bahkan tidur saja sering minta di temani Ivanna.
Tiba-tiba terdengar suara isakan tangis seseorang. Aldi dan Ivanna diam membisu dan saling pandang.
"Kakak dengar? Suaranya dari mana kak?" Wajah Ivanna menegang, iya yakin itu suara adiknya.
"Iya kak Aldi dengar, kayanya dari rumah itu Iv." Aldi menunjuk rumah besar berwarna putih yang tak jauh dari mereka berdiri sekarang.
"Kita ke sana sekarang kak!" Angguk Ivanna mantap
Aldi mengikuti Ivannna dari belakang. Sementara Ivanna berlari menuju rumah itu. Di gedor-gedornya pintu rumah besar itu, namun pintunya terkunci.
"Kak gimana nih pintunya di kunci." Ivanna cemas. Dia takut Eva di kenapa-kenapa di dalam
__ADS_1
"Ivanna tenang dulu, kita cari jalan lain ya." Aldi berusaha menenangkan gadis cantik itu. Akhirnya mereka memutuskan memeriksa sekeliling rumah itu, siapa tau ada celah untuk mereka bisa masuk ke dalam.
"Iv lihat jendela ini tidak ada pagarnya kaya jendela di depan." Ivanna bingung maksud Aldi gimana.
Aldi yang mengerti kebingungan Ivanna langsung menyuruh Ivanna minggi sedikit. Aldi mengambil batu besar yang ada di taman rumah itu, dan "braakkk..." seluruh kaca itu pecah.
"Wow... Cerdas." Ivanna langsung mengatakan itu sambil tersenyum menampakkan giginya
"Ayo cepat Iv kita masuk ke dalam, tangisannya semakin jelas, kayanya adik kamu memang di sini." Aldi langsung menarik tangan Ivanna.
Mereka masuk ke dalam rumah itu melalu jendela yang pecah. "Ivanna pegang tangan aku ya, jangan di lepas." Ivanna hanya menganggukan kepalanya.
Ternyata rumah tersebut sangat luas hampir 3 kali luas rumah Ivanna, bagaimana tidak, rumah itu memiliki 3 lantai. Ivanna dan Aldi mencari di setiao sudut dan setiap kamar di lantai bawah namun tidak menemukan Eva. "Kak Aldi, di mana Eva? tadi Iv dengar di sini asal suara nya tangis itu."
"Evaaa...." Teriak Aldi.
Tiba-tiba...
"Tolong.... siapa itu tolong aku di sini." Suaranya terdengar jauh. "Eva ini kaka, kamu di mana?" Teriak Ivanna.
"Disini kak." Suara itu terdengar dekat, padahal tadi terasa jauh sekali. "Kak Aldi kok suaranya kaya dekat yaa?" Ivanna memandang Aldi sambil terus memegangi tangan laki-laki itu.
"Kaya nya dari kamar sekitar sini Iv, tapi tadi kan kita sudah buka ke 5 kamar di sini dan gak ada siapa pun di kamar ke 5 kamar tersebut." Eva membenarkan perkataan Aldi.
"Tapi kak apa gak sebaiknya kita cek lagi kak." Ivanna cemas juga takut. Rumah ini hawa nya seram sekali kalau sudah di dalam. Banyak lukisan aneh dan patung di sini.
"Tolong...." Suara itu serak dan pelan. Ivanna makin hawatir pada adiknya itu.
"Tolong aku di sini...." Suara yang nyaring kembali terdengar, namun bukan suara dari kamar lantai bawah, melaikan suara dari lantai atas sepertinya.
Ivanna dan Aldi bingung harus kemana terlebih dahulu. "Kak apa sebaiknya kita berpisah ya nyari nya?" tanya Ivanna ragu.
"Jangan Iv, rumah ini kya nya bukan rumah sembarangan, kita jangan jalan sendiri-sendiri. Apa pun yang terjadi kamu tetap sama aku ya. Aku janji bakalan jagain kamu." Ucap Aldi.
(Hai para pembaca setia Lorong Waktu.👋🏻 Dukung terus author yaa dengan like, komen, dan vote cerita Autor. Dukungan kalian sangat berarti untuk author. Salam hangat untuk kalian pembaca setia.😊)
__ADS_1