Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 55 - Model Dadakan


__ADS_3

"Aamiin, makasih Vian."


***


"Tuan maaf, model kita ada kendala dan tidak bisa hadir." Jelas Vian di telepon.


"Bagaimana kamu ini, kenapa baru mengabari sekarang?" Tanya Bagas kesal.


"Maafkan saya tuan, manager model tersebut baru mengabari." Jelas Vian.


"Baiklah. Sekarang cari alternatif lain!" Pinta Bagas tegas.


"Tuan, bagaimana dengan istri tuan? Bukankah dia seperti model." Saran Vian.


"Emm.. saya tahu istri saya cantik bagai model. Tapi, dia bukan model. Dan.." Jelas Bagas terhenti.


"Dan apa tuan? Kita tidak punya banyak waktu. Saya yakin, istri tuan mau membantu." Kekeh Vian memohon.


"Baiklah. Saya akan coba membicarakannya." Jawab Bagas, lalu berdiri dan meninggalkan meeting tersebut.


Bagas menyiapkan meeting untuk persiapan sebelum pemotretan, bersama para karyawannya.


Bagas sampai rumah, tanpa mengetuk pintu. Dia melihat Anya yang sedang berdandan di depan meja riasnya.


"Sayang... Kamu mau ya jadi model dari produk baru perusahaan saya." Pinta Bagas memeluk Anya dari belakang.


Anya yang sedang duduk di depan meja rias sontak kaget dengan tawaran Bagas.


"Model?" Tanya Anya.


"Iya sayang, model saya sedang ada kendala dan tidak dapat hadir. Sedangkan kami tidak bisa mencari model lain di waktu yang singkat ini." Jelas Bagas.


"Tapi, apakah saya cocok jadi model bang?" Tanya Anya ragu.


"Tentu saja sayang, yang merekomendasikan kamu kan Vian. Dia asisten pribadi terbaik saya, yang tidak pernah gagal." Jawab Bagas bangga.


"Saya ingin membantu, tapi saya ragu." Jelas Anya jujur.


"Tenang saja ada bayarannya kok." Bujuk Bagas.


"Saya tidak mempermasalahkan itu. Setiap hari, kamu selalu memberikan kami fasilitas yang lebih dari cukup. Bahkan, black card yang kamu berikan dari lama." Jawab Anya.


"Lalu apa sayang masalahnya?" Tanya Bagas gemas.


"Ya saya tidak percaya diri." Jelas Anya.


"Percaya pada saya, kamu lebih dari seorang model. Kamu lebih cantik, dan lebih baik!" Ucap Bagas mengecup kepala bagian atas Anya.


"Baiklah, saya akan mencobanya." Jawab Anya kemudian.


Awalnya hanya Anya yang menjadi model, tetapi melihat ada pakaian pasangan. Membuat Bagas juga ikut pemotretan. Ditambah, Bagas meluncurkan pakaian anti virus untuk anak kecil. Marchell dan Michaell yang masih kecil pun ikut pemotretan.


Bukan seperti model, mereka layaknya foto keluarga. Tetapi, memanglah pantas juga jika mereka disebut model.


Setelah selesai pemotretan, mereka pun bergegas pulang. Namun, sebelum itu mereka mampir dulu ke pasar malam. Mengajak kedua anak kembarnya.


"Sayang, lihatlah anak kita sangat menyukai pasar malam." Tunjuk Bagas pada Anya.


Anya melihat ekspresi anaknya yang tak berkedip, tengok kanan kiri banyak lampu-lampu dan wahana. "Iya sayang, mungkin karena kenangan indah kita juga di pasar malam hahaha..." Balas Anya.


"Kita naik kincir yuk!" Ajak Anya.


Tak disangka Marchell dan Michaell bukannya takut, malah bersorak kegirangan. "Wah wah kalian ini persis bunda aja!" Ucap Bagas.


"Iya dong." Bangga Anya.


Setelah turun dari kincir mereka berjalan-jalan kembali.

__ADS_1


"Bang beli aromanis"! Tunjuk Anya.


"Sama apa?" Tanya Bagas.


"Emm apa ya pop ice." Tunjuk Anya.


"Marchell dan Michaell baru satu tahun jangan dikasih aromanis!" Tegas Bagas.


"Gak apa-apa nyicip doang dikit."


"Udah, udah tar batuk gimana?"


"Iya, iya. Bawel." Ketus Anya.


"Kamu juga kan udah hamil, dua bulan sayang. Harus dijaga pola makannya!" Tegas Bagas.


"Hmmm."


"Naik kuda-kudaan bang!" Tunjuk Anya.


Mereka memilih kereta kencana, di belakang kuda. Agar semuanya bisa naik. Tetapi beberapa kali mencoba naik kuda. Karena Marchell dan Michaell sangat penasaran ingin mencobanya.


"Bang beli bakso, laper!" Ajak Anya.


Mereka pun menghampiri tukang bakso dan makan bersama di sana. Untunglah ada nasi, jadi mereka pun bisa sambil makan malam.


Marchell dan Michaell sudah diberi nasi, karena usianya sudah satu tahun. Bagas dan Anya masing-masing menyuapi anaknya.


"Kemana lagi?" Tanya Bagas.


"Naik perahu!" Tunjuk Anya.


Setelah puas naik banyak wahana dan membeli banyak makanan juga minuman. Mereka pun pulang karena merasa lelah.


***


7 bulan kemudian...


"Iya bang. Marchell dan Michaell mana?" Tanya Anya.


"Itu mereka!" Tunjuk Bagas.


Marchell dan Michaell sudah bisa berjalan. Mereka kini berusia 20 bulan.


"Tak terasa, anak-anak kita sudah sebesar itu!" Ucap Anya haru.


"Iya dan sebentar lagi kamu melahirkan." Tambah Bagas. Anya tersenyum.


Tiba-tiba....


"Sayang.... Bang.... Auuuuwww sakit." Ringis Anya memegang perutnya.


"Kenapa sayang?" Tanya Bagas menghampiri Anya dan memegang perutnya.


"Sepertinya saya mau melahirkan." Jelas Anya.


Bagas dengan cepat mengendong Anya. "Marchell, Michaell! Ayo!" Ajak Bagas.


Namun anaknya memang masih kecil yang sangat menyukai bermain. Mereka sibuk dengan dunianya sendiri.


"Gas ada apa?" Tanya Vian yang baru datang.


"Istri gue kayaknya mau melahirkan. Lo bawa Marchell dan Michaell!" Pinta Bagas.


Vian pun membawa kedua anaknya Bagas.


Karena panik Bagas menuju kemudi, dia menjadi supir dan Anya di sebelahnya.

__ADS_1


"Gas? Kenapa duduk di sana? Gue gimana?" Tanya Vian.


"Udahlah cepat, lo di belakang sama anak gue." Ucap Bagas panik sampai urat-urat lehernya terlihat.


Vian ikut panik. Dan segara duduk di belakang bersama si kembar.


Tibalah mereka di rumah sakit.


Bagas yang mengendong Anya dan membawanya ke rumah sakit pribadinya. "Siapkan ruangan bersalin!" Ucap Bagas berteriak.


"Baik tuan." Ucap salah satu suster.


Anya pun sudah berada di ruangan bersalin, dan sedang diperiksa. Bagas seperti biasa berada di sisi Anya. Menemani persalinan sampai selesai.


5 jam kemudian.


Bayi pun lahir dengan selamat. "Selamat kalian memiliki putri yang sangat cantik!" Ucap dokter Ana, setelah bayinya sudah dibersihkan.



"Terimakasih dok." Jawab Bagas tersenyum bahagia.


Bagas melihatnya dan mengendong sebentar. Setelah Anya merasa puas menggendongnya.


Bagas mengadzani nya dengan khidmat.


"Sayang bayinya cantik." Ucap Anya.


"Iya sayang, mirip sama kamu!" Goda Bagas. Anya tersenyum lemas.


"Oh iya, Marchell dan Michaell mana?" Tanya Anya.


"Sama Vian, tadi saya sudah telepon orang tua kita." Jawab Bagas.


Anya mengangguk dan tersenyum.


"Nyonya segera susui anaknya!" Ucap sang suster masuk kamar Anya.


Anya mengangguk. Bagas memberikan bayinya ke Anya.


"Ini makan siang dan vitamin. Saya permisi." Ucap suster tersebut lalu pergi.


"Makasih sus."


"Sayang mau saya bantu sedotin kayak waktu itu?" Tanya Bagas tersenyum nakal.


"Tidak perlu. Sekarang kan susunya sudah deres. Apalagi saya masih menyusui Marchell dan Michaell." Jawab Anya ketus.


"Hmmm..." Bagas tersenyum kecut.


"Oh iya sayang, Marchell dan Michaell harus segera berhenti minum susu kamu dong?" Tanya Bagas.


"Kenapa?" Tanya Anya.


"Kan ada baby baru sayang.... Masa iya kamu harus menyusui 4 orang?" Jelas Bagas.


"4? Anak kita ada 3 sayang."


"Kan sama saya." Jawabnya santai.


"Dih apaan kamu gak diitung!"


"Jangan begitu dong, saya juga perlu nutrisi. Tiap hari minum cucu..." Ucapnya so manis.


"Ih ih jijik tau."


***

__ADS_1


Mom And Dad🖤🖤🖤



__ADS_2