
Anya hanya diam berdehem. "Hmm."
***
"Pulang yuk?" Ajak Bagas, setelah anak-anaknya keluar dari mandi bola.
"Naik perahu yah, sekali lagi!" Ucap Marchell.
"Gak ah. Pulang aja." Ucap Michaell cepat.
"Takut ya? Payah!". Ucap Marchell membalas.
"Gak. Siapa takut!" Balas Michaell.
Akhirnya mereka pun naik perahu. Memesan dua perahu. Anya bersama Marchell dan Richaell, sedangkan Bagas bersama Michaell dan Rachell.
"Ih ayah pelan-pelan!" Ujar Michaell.
Marchell yang mendengar. Tertawa puas. "Tuh kan takut!" Ejeknya.
"Gak kok." Bela Michaell.
"Kalian ini, punya ketakutan masing-masing yang berbeda. Marchell takut tinggi, Michaell takut kedalaman air. Jadi, kalian jangan saling mengejek begitu." Ucap Anya menengahi.
"Justru harusnya kalian itu saling bantu, saling jaga!" Tambah Bagas.
"Iya ayah, bunda." Jawab M² kompak.
Merekapun pulang. Setelah puas dengan wahana dan jajanan pasar malam.
"Besok kita ke Jakarta!" Ucap Bagas yang menyetir mobilnya menuju rumah sewa.
"Kenapa yah?" Tanya Marchell.
"Ayah kan harus kerja, toserba udah ada yang handle juga. Ini kan cabang dari supermarket besar di Jakarta." Jelas Bagas.
"Yang ini atas nama bunda ya, ayah?" Tanya Michaell.
"He'em, soalnya uang dan semuanya. Bunda yang siapin, dari tabungan bunda yang bekerja sama ayah." Jelas Bagas.
"Emm gitu yah."
***
Mereka sampai di Jakarta malam hari.
"Sayang, kamu besok kerja ke kantor?" Tanya Anya.
"Iya, kenapa sayang?"
"Gak istirahat dulu?" Tanya Anya.
"Kan sekarang istirahat." Jawab Bagas.
"Hmm."
"Oh iya, lusa saya ada reuni dari universitas. Kamu sama anak-anak ikut ya?" Tanya Bagas.
"Anya malu ah, gak ada yang kenal juga." Jawab Anya.
"Kan ada abang sayang."
"Yaudah deh."
***
__ADS_1
Tibalah di acara reuni universitas tempat Bagas menempuh pendidikannya. Bagas lulusan S3 di universitas yang sama ini.
"Hallo Bagas murid teladan yang always juara 1 berturut-turut dari S1 sampai S3." Sapa teman Bagas.
"Hai. Kerja dimana lo?" Tanya Bagas.
"Seperti yang lo tahu, gue jadi dokter." Jelasnya.
"Lo?" Tanya Bagas pada teman sebelahnya.
"Gue jadi pilot, setahun yang lalu." Jelasnya.
"Oh selamat ya buat kalian semua."
"Lo jadi pemilik perusahaan ternama kan? Yang dinobatkan sebagai pengusaha terkaya di Asia?" Tanyanya.
"Hmm." Respon Bagas tak ingin sombong.
"Wah hebat bener lo!"
"Kalian juga hebat. Kalo sakit, kita pasti butuh dokter. Dan kalo berpergian jauh, kita juga butuh pilot." Jelas Bagas.
"Ah lo dari dulu selalu rendah hati."
"Yuk kita makan!" Ajak yang lainnya.
Pesta reuni pun dimulai. Setelah acara makan-makan.
"Wah bini lo bening banget, mana anak-anak lo cakep-cakep." Bisik teman Bagas.
"Of course." Jawab Bagas santai.
"Kita akan adakan permainan, untuk permainan pertama menangkap seikat bunga ini. Dan akan dijelaskan nanti, kalo udah ada yang nangkap bunganya!" Jelas sang MC.
Bagas hanya duduk santai. Sedangkan yang lainnya berdiri mendekati panggung. Tiba-tiba....
"Hah?" Tanya Bagas tak mengerti. Bunganya jatuh di paha Bagas yang sedang duduk.
"Sini ke depan!"
***
Bagas membuang nafas panjang. Dan berjalan ke panggung.
"Kamu harus mencium istrimu di depan sini!" Ucap sang MC membuka kertas yang Bagas pilih.
"Apa? Tidak terima kasih." Jawab Bagas malas.
"Tidak bisa begitu. Permainan adalah permainan, harus dilakukan." Jelas sang MC.
Sementara itu, Anya meneguk salivanya sulit. Tercekat, terasa tegang dan panas dingin.
"Haduh. Apa-apaan nih." Ucapnya pelan.
"Bunda! Ke depan tuh!" Ucap Marchell. Yang melihat Anya malah menundukkan kepalanya sambil menutupi wajahnya.
"Suttts.. Marchell jangan berisik." Ucap Anya menaruh telunjuknya di bibirnya.
"Anya, nona Anya silahkan ke depan!" Ucap sang MC.
Anya pun pasrah ke depan. Bagas dan Anya menjadi canggung.
"Wow ternyata sang istri pun sedang mengandung? Ditambah anak-anaknya yang cantik-cantik dan tampan-tampan!" Ucap MC.
Anya dan Bagas hanya tersenyum tipis. Para penonton bertepuk tangan, mendengarnya.
"Sayang, sebentar aja kok." Bisik Bagas.
__ADS_1
"Hmm." Anya mengangguk.
Merekapun berciuman singkat. Semua orang bertepuk tangan, tak sedikit yang mengabadikan momen tersebut.
"Apa itu? Hanya kecupan bukan ciuman!" Ucap MC.
"Kita kasih waktu, berciuman semenit. Dimulai dari sekarang!" Ucap MC.
Bagas tak mau ambil pusing. Dia meraih tekuk dan pinggang Anya. Menyatukan bibir mereka, mengisap dan menyesapnya lama.
Bergantian ke bibir bawah dan atas. Bahkan Bagas mengigit bibir bawahnya Anya, untuk menerobos masuk.
Bagas bermain dengan lidahnya di dalam sana. Anya yang awalnya diam, membalas ciuman Bagas dengan nikmat.
"Wah... Sisuittt..." Banyak orang yang bertepuk tangan heboh dan bersiul silih berganti.
"Terima kasih untuk Bagas dan Anya. Ini hadiah untuk kalian." Ucap MC tersebut memberikan kotak besar.
Mereka pun turun dengan membawa hadiah dan bunga tadi.
"Permainan ke dua. Siapa yang meminum sebotol Soju ini akan diberikan tiket nonton bioskop!" Ucap MC tersebut.
"Yang, kamu ikut gih!" Pinta Anya.
"Loh kok tumben nyuruh ikutan?"
"Gak apa-apa lumayan bisa nonton."
"Saya bisa beli banyak tiket tersebut."
"Yang..."
"Yaudah deh, sebenarnya saya udah lama gak minum. Tapi, gak apa-apa kali ini aja." Jelasnya.
Bagas pun ikut dan menghabiskan Soju pertama. "Ini tiketnya Bagas. Selamat bersenang-senang!" Ucap MC tersebut mengedipkan matanya.
Membuat Bagas curiga. "Sebenarnya ini tiket film apa sih?" Tanya Bagas setelah turun panggung.
Permainan terus berlanjut. Dan Bagas memilih untuk pulang, karena terasa pening di kepalanya. Anya yang menyetir mobil.
"Anya aja yang nyetir." Ucap Anya.
"Hmm." Bagas mengangguk sambil menggendong Richaell.
Ketiga anak yang lainnya duduk di belakang.
Sebenarnya Bagas tidak mengizinkan Anya menyetir setelah usia kehamilannya 5 bulan seperti sekarang. Tapi Bagas tak berdaya, jadi dia membiarkan kali ini saja.
***
"Sayang..." Ucap Bagas intim.
"Hmm." Tanya Anya yang sudah sampai di rumah, dan mereka sudah di kamar.
Marchell dan Michaell sekamar, Rachell sekamar dengan Richaell.
Sedangkan Anya tinggal berdua di kamarnya bersama Bagas.
"Saya menginginkan itu." Ucap Bagas.
"Kamu gak capek apa tiap hari? Belum kalo Anya lagi dapet atau nifas tiap malem pasti nete. Mau ada ASI mau gak juga, tetep nete. Kayak bayi." Jelas Anya.
"Abang kan emang bayi, bayi besar." Ucapnya.
"Efek alkohol nih." Ucap Bagas lagi.
"Ada alkohol ataupun gak, sama aja abang kayak gitu!"
Dan akhirnya merekapun olahraga malam. Karena si dedek yang gagah perkasa minta dihangkatkan.
__ADS_1
***