
Vian hanya mengangguk dan tersenyum.
***
Vian mengurus kasus Mela dan melaporkannya ke polisi. Yang akhirnya Mela pun harus dipenjara, dia bisa bebas jika pihak Bagas mencabut tuntutannya.
Dia dijerat hukuman 15 tahun penjara dengan denda sebesar 100juta. Orang tuanya sangat malu setelah mendengar berita tersebut.
"Terima kasih Vian." Ucap Anya yang baru keluar dari kantor polisi dengan Vian. Anya sedikit diwawancarai.
"Sama-sama. Itu juga tanggung jawab saya, sebagai bawahan Bagas." Jawab Vian.
Mereka pun ke RS untuk menjenguk Bagas.
"Sayang, kapan sih kamu sadar. Udah seminggu ini, gak ada perubahan." Ucap Anya.
Namun Bagas hanya diam dan terbaring lemas di atas kasur rumah sakit. Tak ada respon sedikitpun darinya.
Anya memilih untuk ke luar ruangan. "Kok sebentar?" Tanya Vian.
"Kamu aja yang jaga. Saya mau ke depan sebentar, mau menemui anak-anak." Jelas Anya.
Karena hanya anak-anaknya lah yang menjadi penyemangatnya saat ini. "Ayah, bunda jika mau lihat keadaan Bagas boleh ke sana gantian." Jelas Anya pada orangtuanya setelah sampai di lobi.
"Iya nak, bunda mau lihat sebentar." Ucap Ririn.
"Nanti ayah susul aja ya, kalo bunda udah balik lagi ke sini." Jelas Anya.
"Iya sayang." Jawab Anton.
Anton sangat senang bermain dengan M² dan Rachell. "Ayah, titip dulu ya Anya mau ke toilet." Ucap Anya.
"Iya sayang, ayah titip air ya. Susah ini mau ambil ke sana." Jawab Anton.
"Baik yah."
***
3 bulan kemudian.
Anya merayakan ulang tahun Marchell dan Michaell di rumahnya sendirian bersama orang tua Bagas dan orang tuanya. Vian tidak hadir karena menunggu Bagas di RS.
Semuanya berdo'a bersama. Mengundang ibu-ibu dan bapak-bapak, karena ingin berdo'a khusus untuk keselamatan Bagas.
Di tengah-tengah acara, tiba-tiba telepon Anya tak berhenti bergetar.
"Drettt... Dret..."
"Iya dok?" Tanya Anya.
"Mohon maaf nyonya Anya. Kamu terpaksa harus melepaskan semua alat yang terpasang pada tuan Bagas. Karena beliau tidak pernah memberi respon positif, dan tidak ada tanda-tanda vital."
"Dokter sudah berusaha untuk membantunya. Namun, kini tuan Bagas dinyatakan meninggal. Mohon maaf yang sebesar-besarnya." Jelas sang suster mewakili dokter yang sedang mengurus Bagas.
"Gak itu gak mungkin sus. Itu semua gak mungkin, coba suster periksa lagi! Hiks.. hiks..." Ucap Anya tak terima.
Semuanya melihat Anya yang histeris. "Ada apa sayang?" Tanya Rara.
"Bagas meninggal mah." Ucap Anya.
"APA?" Tanya semua kompak.
Semuanya ingin bergegas ke RS. Dan menutup acara selamatan ulang tahun M².
__ADS_1
Namun, tiba-tiba dari pintu masuk terlihat pria berjalan dan berdiri sambil tersenyum.
Semuanya sontak mengalihkan pandangannya kepada pria tersebut. Anya berjalan perlahan mendekatinya.
Setelah tiba di depan pria tersebut. Anya memegang pipinya, meraba-raba pundak dan dada bidangnya.
"Kamu hantu?" Tanya Anya tiba-tiba sambil meneteskan air mata.
Pria tersebut heran, namun memasang wajah tersenyum. Anya sontak memeluknya erat.
"Kenapa terasa nyata, kalo kamu memang hantu?" Tanya Anya lagi, air matanya masih mengalir deras.
"Sayang." Ucap pria tersebut lemah lembut.
"Gak. Ini gak mungkin. Jelaskan apa yang terjadi, ini benar-benar sulit dimengerti." Ucapnya masih memeluk erat pria tersebut.
Pria tersebut tersenyum dan membalas pelukannya Anya.
"Tenanglah. Mari kita selesaikan dulu acaranya." Ucap pria tersebut kemudian membopong tubuh Anya
Pria itu membawa Anya ke panggung, yang di depannya meja di atasnya kue ulang tahun yang besar dan tinggi.
Pria tersebut melihat perut Anya, yang sudah membesar. Anya sudah 5 bulan mengandung.
Dan Bagas tidak menemaninya sudah 3 bulan. Dia sangat terharu dan sedih, mengingat hal tersebut.
"Bagas? Kamu Bagas kan? Kamu masih hidup kan? Lalu siapa tadi yang meninggal? Kamu udah sadar dari koma? Dengan siapa kamu kemari? Selama ini kamu mempermainkan saya? Kamu pikir itu semua lucu?" Tanya Anya bertubi-tubi.
Sambil mencengkram kedua lengkan Bagas dan menggoyang-goyangkan tubuhnya Bagas.
Bagas tersenyum. "Saya bersama dia." Tunjuk Bagas pada Vian.
"Tadi saya memang hampir meninggal. Tetapi, Tuhan masih baik pada saya dan kita. Saya sadar di tengah-tengah dokter yang sedang berusaha menyelamatkan saya menggunakan alat pacu jantung." Jelas Bagas.
Bagas tertawa renyah. "Kamu ini, gak usah dijelasin secara detail gitu. Saya gak akan mungkin tega ninggalin kamu dan anak-anak." Ucap Bagas geleng-geleng kepala.
Akhirnya acarapun selesai.
Bagas dan Anya sedang tidur di kasur yang sama. M² dan Rachell sudah tidur pulas. "Sayang kamu ingat apa yang terjadi?" Tanya Anya yang sedang tiduran dan kepalanya di atas dada bidang Bagas.
"Iya, waktu itu saya sedang melihat alat air mancur dan air terjun di atas gedung. Saya mendengar suara sepatu dari belakang."
"Saya kira Vian, tetapi ketika saya berbalik tiba-tiba kepala saya dipukul kayu."
"Saya sangat pusing dan sakit, saya juga tidak bisa menjaga keseimbangan. Sehingga terjatuh ke bawah, untunglah ke kolam. Jika tidak mungkin saya-" Jelas Bagas terpotong.
"Sssuutttsss.... Sayang gak boleh ngomong yang gak baik. Kamu tahu pelakunya?" Tanya Anya.
"Mela. Dia menyuruh preman untuk mencelakai kamu, dan preman itu mengira saya lah yang dimaksud Mela. Mela dan preman itu sudah dihukum dengan adil." Jelasnya.
"Vian yang jelasin?" Tanya Anya.
"Tentu saja. Siapa lagi?"
"Ini anak kita, kostum apalagi sayang?"
"Lucu kan?"
__ADS_1
"Punya berapa sih kamu kostum begitu?"
"Buanyak bang!"
Bagas hanya geleng-geleng kepala.
"Udah USG?" Tanya Bagas setelah beberapa menit hening.
"Belum sayang, gak sempet." Jawab Anya.
"Besok kita USG. Biar tahu keadaan anak kita dan kelaminnya apa." Ucap Bagas.
"Baru juga 5 bulan. Tanggung nanti saja 7 atau 8 bulan." Jawab Anya.
"Oh iya, nanti saja kalo begitu!"
Anya mengangguk. "Ayah kangen nih sama debay, udah lama gak jenguk." Ucapnya manja.
"Maksud kamu apa?" Tanya Anya was-was.
"Ya menurut kamu apa?" Tanya Bagas balik dengan senyum smrik nya.
"Gak yah, kamu baru sadar dan keluar dari RS. Lebih baik kita tidur, istirahat." Saran Anya.
"Sebentar janji deh. 5 menit aja." Jawabnya.
"5 menit itu kebilang lama." Ucap Anya.
"Sayang....."
Akhirnya merekapun melakukan hubungan malam di atas ranjang. Hingga kelelahan dan tidur.
***
Di pagi hari Bagas ke kantor. Setelah sebulan dia tidak ke sana. Para karyawan terkejut dengan kedatangannya, dan sangat bahagia melihat CEO nya sudah sehat dan pulih.
Bagas mengajak Anya dan semua anaknya ke kantor.
"Pagi tuan."
"Apa kabar tuan?"
"Syukurlah tuan sudah pulih."
Ucap beberapa pada karyawan menyambut kedatangan Bagas. Bagas hanya senyum dan berjalan melewatinya.
"Pagi nyonya Anya."
"Pagi nyonya Anya dan anak-anak."
Ucap karyawan lainnya.
"Pagi." Jawab Anya tersenyum.
Setelah di ruangan Bagas. Anya masuk ke kamar bersama anak-anaknya. "Sayang tunggu ya, sejam juga beres ini." Ucap Bagas.
"Iya sayang, santai aja."
Bagas pun menyelesaikan pekerjaannya.
Setelah menghabiskan waktu bersama, mereka pun pulang.
***
__ADS_1