Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 72 - Masih Belum Terbiasa


__ADS_3

"Lagian siapa yang mau sekamar sama Lo?" Jawab Calvin tak mau kalah.


***


Pagi hari, matahari menghangatkan tubuh. Dan menyilaukan mata yang sedang nyamannya tidur.


Shinta berniat ke kamar kakaknya, untuk mengambil charger yang tertinggal di tas Vian.


Sementara itu, kamar tidak dikunci. "Aaaahhhhh..." Teriak Calvin dan Shinta bersamaan.


"Loh, kamu ada di sini?" Tanya Shinta.


"Sayang? Kok kamu bisa ada di sini?" Tanya Calvin.


"Aku ke sini sama kakak dan yang lainnya. Kamu?" Jawab Shinta.


"Aku ada proyek, dan kebetulan Bagas sama Vian ada di sini. Mereka sahabat aku juga." Jelas Calvin.


"Apa? Kakak aku sahabat kamu?" Tanya Shinta.


"Siapa kakak kamu? Kamu kan private banget waktu di Singapura." Tanya Calvin.


"Kak Vian."


"Hah? Dia gak tahu kan kita pacaran?" Tanya Calvin.


"Belum, dia belum tahu aku udah punya pacar." Jawab Shinta.


"Kalo gitu, sebaiknya jangan dikasih tahu dulu. Kita jelasin semuanya setelah kita semua free." Saran Calvin.


"Baiklah, aku juga setuju." Jawab Shinta.


Akhirnya mereka bersikap seolah-olah tidak saling mengenal.


Mereka sempat mampir ke perayaan di balai desa. Setelah kembali, mereka merayakan ulang tahun Marchell dan Michaell.


Pukul 10:00 pagi, semuanya ke kebun teh, untuk merayakan ulang tahun Marchell dan Michaell yang ke 4 tahun.


"Sayang, difoto dulu!" Ajak Anya.


Mereka membawa bekal, dan menyewa fotografer. Kali ini pesta ulang tahunnya cukup sederhana. Tidak mengundang siapapun. Hanya yang ikut ke Lembang saja.


Yakni Bagas, Anya, Marchell, Michaell, Rachell, Richaell, Vian, Shinta, Sati dan Calvin yang baru bergabung.


Mereka semua menyanyikan lagu ulang tahun untuk M². Dan memotong kue ulang tahun.


"Suapan pertama untuk siapa?" Tanya Anya.


"Bunda." Jawab M² kompak.


"Yah ayah gak dapet." Ucap Bagas sedih.


"Sama ayah." Ucap M² gerak cepat menyuapi Bagas.


"Kalo gitu ayah suapan ke dua dong?" Tanya Bagas.


"Hehe gak apa-apa ayah, kan bunda lebih utama." Jawab Marchell.


"Iya, bunda mengandung, melahirkan, menyusui, mengurus kita." Tambah Michaell.


"Ayah kan mencari nafkah sayang. Tanpa uang kita gak akan bisa makan, dan mempunyai fasilitas." Jelas Bagas.


"Iya deh, ayah dan bunda sama-sama istimewa." Ucap Michaell.


"Jangan cemburu ya ayah." Tambah Marchell.


"Ayah cuma becanda sayang." Ucap Bagas mencium satu-satu anaknya.


"Kalian itu pada pinter-pinter sih, kayak bunda." Ucap Anya gemas.


"Mirip ayah lah." Ucap Bagas tak mau kalah.


"Kita mirip kalian." Ucap M² kompak.

__ADS_1


Sementara itu, yang lain sibuk berfoto, makan dan sibuk dengan dunianya sendiri.


***


Keesokan harinya.


Anya dan Bagas menghadiri undangan pernikahan temannya Anya. Tanpa membawa anak-anaknya.


"Kamu udah punya anak berapa Nya?" Tanya teman Anya. Mereka sedang makan perasmanan.


"Empat hehe." Jawab Anya.


"Wah keren Nya, ada niat nambah lagi gak?" Tanya teman lainnya.


"Kita sih dulu mau punya lima anak. Tinggal nambah satu hehehe..."


"Oh gitu Nya. Umurnya berapa tahun aja?" Tanya yang lainnnya.


"Yang ke satu sama yang ke dua 4 tahun, hari ini. Tadi pagi kita ngerayain ulang tahunnya." Jelas Anya.


"Ohh HBD ya buat anaknya."


"Makasih ya."


"Kenapa gak bawa anak-anak?" Tanya teman Anya.


"Kita ke sini banyakan. Ngindep di vila sambil liburan. Mereka di asuh sama temen Bagas dan temen ku juga. Ribet juga bawa anak-anak." Jelas Anya.


"Emm selisih nya berapa aja sih anak kamu?"


"Yang kembar 4 tahun, yang ketiga 2 tahun 4 bulan, yang keempat 8 bulan. Selisihnya 20 bulan semuanya sih." Jelas Anya.


"Wah bisa ya samaan gitu."


"Sengaja ya? Biar gak jauh-jauh banget umurnya?"


"Hehe iya begitulah."


***


"Happy wedding. Kita pamit ya. Ini kado untuk kamu." Ucap Anya pada pengantin wanita, temannya.


Mereka pun difoto dengan pengantin, Bagas selalu di samping Anya. Banyak yang bertanya-tanya siapa itu Bagas, mereka merasa tak asing.


Setelah mencari tahu, mereka langsung bungkam. Pasalnya Bagas adalah pengusaha terkaya di Asia.


"Makasih banyak Anya. Btw anak-anak gak dibawa?" Tanya sang pengantin wanita.


"Mereka di vila, sama temen aku. Kalo bawa mereka kewalahan aku, anak aku kan udah empat." Jawab Anya.


"Wah subur sekali kamu, rame dong banyak anak gitu?"


"Hehe ya begitulah. Bye bye." Jawab Anya sambil cipaka-cipiki.


Setelah di mobil.


"Sayang, kok kamu diem aja sih dari tadi?" Tanya Anya.


"Abisnya saya bingung, harus bilang apa. Jadi bersikap cool aja." Jawabnya.


"Dasar es balok."


"Dingin, dingin begini. Saya selalu menghangatkan kamu kan?" Tanya Bagas.


Anya hanya tersenyum. "Jawab iya susah?" Tanya Bagas.


"Gak. Ayo aja kita pulang. Kasian anak-anak lama ditinggal." Ucap Anya mengubah topik.


"Mereka kan ada yang jaga."


"Iya. Tanpa kita, tetep aja Anya khawatir." Jelas Anya.


***

__ADS_1


Anya dan Bagas sampai di vila. "Anak-anak mana?" Tanya Anya.


"Tidur siang." Jawab Vian.


"Yang lainnya mana?" Tanya Bagas.


"Calvin ke balai. Shinta sama Sati di atas, nungguin anak kalian." Jelas Vian.


"Ohh gitu. Thanks, gue ke dalem!" Jawab Bagas.


"Vian, ini untuk kamu." Ucap Anya memberikan makanan. Untuk semuanya.


"Thanks Nya, padahal gak usah repot-repot."


"Gak apa-apa."


Anya pun menyusul Bagas ke atas.


"Shinta, Sati ini buat kalian." Ucap Anya menyodorkan makanan dan minuman pada mereka. Setelah sampai kamarnya.


"Makasih kak." Ucap Shinta dan Sati.


Anya mengangguk. "Kami ke bawah ya." Ucap Shinta.


"Iya, makasih ya udah jaga anak-anak."


"Masama kak."


Richaell terbangun karena haus. "Oweeee.... Oweee..."


"Haus ya sayang?" Tanya Anya mengangkat tubuh Richaell dan segera menyusuinya.


"Kita ke Jakarta besok sayang." Ucap Bagas setelah melihat laptop kerjanya.


"Kenapa sayang?" Tanya Anya yang masih menyusui.


"Biasa pekerjaan, ada yang harus saya segera tangani." Jawab Bagas.


"Emm baiklah sayang. Kita juga sudah undangan." Jawab Anya.


"Setelah pekerjaan saya stabil, kita ke sini lagi sayang." Ucap Bagas.


"Iya sayang. Anya paham kok, Anya kan pernah kerja sama kamu juga." Jawab Anya mendekati Bagas.


Bagas mengecup bibir Anya sekilas, kemudian mengecup pipi Richaell.


"Kita tidur siang bareng, saya penat banget!" Ajak Bagas.


Anya pun menidurkan Richaell ke kasur kecilnya. Kemudian mereka pun tidur berdua di kasurnya. Marchell dan Michaell tidur di kasur kecil mereka di sebrang. Rachell tidur di kasur sebelah Marchell dan Michaell.


Keesokan harinya.


"Semuanya udah siap?" Tanya Bagas.


Mereka memakai mobil yang cukup besar, muat untuk semua.


"Tunggu!" Teriak Calvin.


"Calvin?"


"Gue ikut!" Ucapnya.


Akhirnya mereka pun melakukan perjalanan dari Lembang ke Jakarta.


***


Visual🌳🌳🌳




__ADS_1


__ADS_2