Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 75 - Back To Jakarta


__ADS_3

"Tolong Anya, tolong beri aku kesempatan."


***


"Sudah ku katakan. Aku sudah bersuami, bahkan memiliki empat anak. Dan menjelang lima anak. Aku pikir kamu pun pasti sudah menikah bukan?"


"Aku belum menikah. Dan aku ingin menikahi kamu Anya!"


"Kamu sudah sangat terlambat. Mengapa sekarang tiba-tiba kamu muncul dihadapan ku? Seharusnya kita tidak pernah bertemu lagi."


"Terima kasih telah menemani ku dari masa MPLS (masa pengenalan lingkungan sekolah), hingga uji kompetensi." Jelas Anya meninggalkan Diki.


Namun Diki mengejar Anya. Dan membius Anya. Seketika Anya tumbang, Diki membopong tubuh Anya dan masuk ke vila tersebut.


Setelah dirasa cukup untuk mempersiapkan keberangkatan nya ke Jakarta. Diki membawa Anya ke mobil milik perusahaan tempatnya bekerja. Diki ingin membawa Anya ke Jakarta.


"Untung saja aku di kantor cabang tidak lama. Jadi bisa membawamu ke Jakarta." Ujarnya sambil mengendarai mobil.


Di sisi lain, Bagas tidak menemukan Anya.


"Vian, hubungi bodyguard gue semua. Anya gak ketemu!"


"Oke."


Vian pun menghubungi semua bodyguard Bagas dan memintanya untuk mencari keberadaan Anya.


"Kak Anya, belum ketemu kak?"


"Iya Shin, titip anak-anak ya." Jawab Bagas.


"Kalo gitu, Shinta sama kak Calvin mau kembali ke hotel. Anak-anak udah pada ngantuk. Hubungi Shinta, kalo ada apa-apa ya Kak." Ujar Shinta.


"Iya Shin, makasih ya. Maaf ngerepotin."


"Gak apa-apa kak, gak repot sama sekali."


***


"Gue dapet kabar dari para bodyguard, melacak lokasi di hp istri lo, katanya mereka menuju Jakarta. Dari sejam yang lalu." Jelas Vian pada Bagas.


"Sama siapa?" Tanya Bagas.


"Gue gatau. Mereka masih menyelidiki dan nyusul istri lo!"


"Yaudah, malam ini juga kita ke Jakarta." Ujar Bagas.


Akhirnya mereka pun bersiap-siap ke Jakarta. Terpaksa karena keadaan darurat. Bagas membawa Richaell. Yang sudah tertidur. Marchell bersama Vian, Michaell bersama Calvin, sedangkan Rachell bersama Shinta.


Sesampainya di Jakarta. Diki membawa Anya ke vila miliknya di tengah kebun. Dia membaringkan tubuh Anya pelan.


"Bodoh sekali aku, kenapa dulu mengabaikan perasaan tulusmu Anya." Ucapnya pelan.


Tiba-tiba Anya membuka matanya.


"Kak Diki? Dimana ini?" Tanya Anya syok.


"Tenanglah Anya, kamu belum aku apa-apa kan." Jelasnya.


"Dimana aku?" Tanya Anya lagi.


"Di vila ku."


"Ini berbeda dari vila angker tadi." Ujar Anya.

__ADS_1


"Memang berbeda."


"Dimana ini?" Tanya Anya lagi lebih sinis.


"Jakarta. Kita bisa melanjutkan hidup baru Anya. Bukankah ini yang kamu inginkan? Dulu kamu berharap, aku menikahi mu bukan?"


"Gila. Kak Diki berubah, kak Diki..."


"Anya. Maaf-"


"Cukup. Berapa kali maaf pun yang keluar dari mulutmu, aku sudah tidak akan peduli. Semua sudah sia-sia dan terlambat."


"Dulu aku memang sangat mencintai dan menginginkan mu, tidak dengan sekarang!" Ucap Anya memotong perkataan Diki.


"Anya!"


***


"Anya!" Panggil Diki melembut.


"Apa cintamu padaku sudah hilang?" Tanya dia lagi.


"Iya. Hilang bersama angan yang sudah terbawa angin. Kamu jelas tahu, betapa besar rasa ku dulu. Tapi, kamu hanya memberi rasa semu."


"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya. Tolong, jangan pernah usik lagi hidupku." Jelas Anya turun dari kasur Diki.


"Kamu mau kemana Anya?"


"Tentu saja pulang." Jawab Anya acuh.


"Kamu tidak tahu kan daerah Jakarta?"


"Tentu saja tahu. Aku tinggal di sini sudah lama. Jangan sok tahu deh, kak Diki kenal aku berapa lama sih? Gak sampai 4 tahun kan?" Ujar Anya tersulut emosi.


"Kamu jangan bodoh, aku tidak mungkin meninggalkan suami dan anak-anak ku, hanya demi pria seperti mu!" Ujar Anya berjalan ke arah pintu.


"Jika bukan aku, maka tidak ada yang bisa mendapatkan cinta mu Anya!" Ucap Diki penuh penekanan.


"Kamu siapa? Mengatur hidupku! Kamu benar-benar berubah!"


Sebelum Anya membuka pintu. Pintu tersebut sudah didobrak oleh Bagas.


"Sayang!" Ucap Bagas memeluk Anya yang berada di ambang pintu.


Anya pun membalas pelukannya.


"Apa yang kamu lakukan pada istri saya?" Tanya Bagas.


"Bang udah, kita pulang aja!" Ajak Anya.


"Tapi-"


"Bang, aku jelasin nanti di rumah. Dimana anak-anak?"


"Sama Shinta dan Calvin udah di rumah." Jawab Bagas.


"Anya!" Panggil Diki.


"Kak Diki, lebih baik kita akhiri di sini. Daripada semuanya lebih runyam." Ucap Anya memperingati.


Bagas dan Anya pun pulang. Sesungguhnya Bagas ingin memberi Diki pelajaran, tapi mengingat hari sudah sangat malam dan khawatir pada anak-anak juga. Ditambah Anya memintanya agar tidak memperdulikan Diki.


Setelah di mobil Bagas mulai membahasnya. Vian mengemudikan mobilnya, dari tadi dia menunggu di dalam mobil atas perintah Bagas.

__ADS_1


"Siapa dia?" Tanya Bagas to the points.


"Kak Diki. Kakak kelas, dulu di SMK. Anya pernah cerita kan sama abang dulu tentang masa lalu Anya. Iya, dia sahabat kak Boni HRD abang." Jelas Anya.


"Terus ngapain dia nyulik kamu dari Lombok ke Jakarta?" Tanya Bagas lagi.


"Anya juga gak tahu bang. Dia ngajak Anya untuk bersamanya." Jelas Anya.


"Ceritakan dengan jelas!" Pinta Bagas mulai cemburu.


Anya pun menceritakan semuanya.


"Baguslah, tadi saya cepat kemari. Sebelum terlambat." Jelas Bagas.


"Jika dia menemui mu lagi, katakan pada saya." Pinta Bagas.


"Tentu saja."


***


Pagi hari.


"Vian, kamu urus dulu meeting hari ini. Saya ke sana siang." Bagas mengirim pesan pada Vian.


"Baik bos." Balasnya.


Bagas sengaja tidak berangkat pagi, untuk mengantar Anya ke RS. Mengecek kandungan Anya.


"Usia kandungan nyonya Anya sudah sebulan. Jenis kelamin belum terlihat. Saya sarankan sih kalo mau USG usia kandungan lima, enam, atau tujuh bulan agar lebih jelas." Jelas dokter Ana spesialis kandungan.


"Baik dok."


"Oh iya dok, suami bisa ngidam gak dok?" Tanya Bagas.


"Tentu saja." Jawab dokter Ana tersenyum.


"Biasanya yang ngidam kan Anya, yang mengalami morning sickness juga biasanya Anya kan dok. Saya juga pernah sih dulu ngalamin, cuman gak parah dok." Jelas Bagas.


"Memangnya tuan Bagas kenapa?" Tanya dokter Ana.


"Saya mengalami morning sickness. Mual, muntah, bahkan pingsan dok. Apalagi kalo pagi hari dok, seperti saya sedang keracunan saja."


"Ditambah saya pengen makan atau minum yang aneh-aneh. Melakukan aktivitas yang tidak biasa, mau yang macem-macem juga dok." Jelas Bagas.


"Gejala kehamilan, seperti muntah, mual, pusing, ngidam dan lain-lain. Bisa saja dialami sang suami. Gejala tersebut disebut kehamilan simpatik atau cauvade syndrome." Jelas dokter Ana.


"Ohhhh.. berarti normal ya dok?" Tanya Anya.


"Ya tentu saja, tidak sedikit ayah yang mengalami hal tersebut." Jawab dokter Ana.


"Terima kasih dok, kalo gitu kami permisi." Ucap Bagas.


Mereka pun pulang, dan mampir ke restoran untuk makan siang. Sedangkan anak-anak di titip pada ART nya.


***


Visual 🪴🪴🪴




__ADS_1


__ADS_2