
Pasti ada cahaya indah yang menyambut. Waktu akan mengantarkan kamu, kepada titik itu. Percayalah.." Ucap Bagas menenangkan Anya.
***
Bagas setia memeluk Anya. Anya pun merasakan kehangatan dan menjadi lebih tenang.
"Ah tunggu. Ngapain aku membicarakan masalah pribadi padanya? Ashhh sial. Bagaimana ini." Batin Anya bermonolog.
"Angel!"
"Emm?" Jawab Anya terkejut dan melepaskan pelukannya.
"Kita ke pantai yuk! Lihatlah ada sunset." Ajak Bagas antusias.
"Tuan menyukai hal seperti itu?" Tanya Anya tak percaya.
Bagas terlihat sangat cuek dan tak peduli sekitar.
"Tentu saja. Saya juga manusia."
Anya terkekeh dengan jawaban Bagas.
"Baiklah mau tidak?" Tanya Bagas lagi.
Anya mengangguk ingin.
Mereka menghabiskan waktu di tepi pantai. Membeli sesuatu ke sana kemari, bercerita sambil duduk bersama. Memakan es krim dan becanda bersama.
Siapa pun yang melihatnya, pasti mengira mereka sepasang kekasih.
"Ah tuan jangan terlalu jauh, saya bisa tenggelam!"
"Ada saya." Jawab Bagas tersenyum.
Bagas menggendong Anya dan menceburkan Anya. "Ahhh... Tuan!"
Bagas tersenyum senang.
Bagas dan Anya berendam di air laut. Hingga tak terasa hari pun sudah malam.
Anya terbawa arus ombak, kemudian Bagas mengejarnya. Mereka tertawa renyah. Dan menikmati keindahan pantai bersama.
Bagas dan Anya merasa lelah. Mereka duduk berdua di tepi pantai.
Bagas meminta pelayan restoran di tepi pantai, untuk membawakannya beberapa cemilan ringan dan es krim. Bagas juga meminta kelapa muda.
"Tuan tidak kedinginan?"
"Kamu dingin?"
"Sedikit. Tapi, saya masih betah hehe.."
"Baiklah sepuluh menit lagi kita kembali ke hotel."
"10 menit?"
"Iya, setelah menghabiskan makanan ini. Kita makan malam di sana!" Tunjuk Bagas ke restoran di tepi pantai yang sederhana namun indah.
Arsitektur yang sangat Anya sukai. Berbau tradisional, terasa kuno dan langka. Antik dan unik.
Anya tersenyum senang.
"Kenapa?"
"Ah tidak tuan. Saya sangat menyukai arsitektur restoran itu." Jawab Anya tersenyum manis.
"Emm.. kamu tidak suka hal yang mewah?"
"Suka. Tetapi, hal kuno yang antik seperti itu sulit didapatkan di zaman sekarang." Ucap Anya menatap wajah Bagas.
Bagas mabuk kepayang. Hampir saja Anya melihatnya salah tingkah.
"Emm.. benar juga." Jawab Bagas sekenanya.
"Ayo!?" Ajak Anya tak sabar.
"Hahhh... Baiklah ayo!"
***
Anya sangat menyukainya, begitu pula dengan menu yang tertera. Sangatlah simpel dan sederhana. Namun enak di lidah.
"Tuan, jika besok ke sini lagi. Kita makan di sana lagi ya? Terlebih di malam hari. Penerangan di sani dengan lampu-lampu yang antik begitu indah."
"Baiklah. Em kita naik delman ya!" Ajak Bagas menghentikan delman yang lewat.
__ADS_1
Mereka bercerita, berfoto dan bercanda di dalam delman. Hingga tak terasa, sudah sampai di depan hotel.
"Angel! Besok kita harus pulang. Mamah dan papah membuat ulah lagi." Ucap Bagas setelah mandi dan melihat Anya berdiri menyeruput secangkir coklat panas.
"Em baiklah tuan." Jawab Anya berbalik dan melihat Bagas.
Bagas berjalan mendekati Anya. Kemudian, mengambil cangkir yang Anya pegang.
"Minum sendiri?" Tanya Bagas. Lalu, meminum coklat panas milik Anya.
Anya membelalakkan matanya tak percaya. "Dia gila?"
"Saya tidak gila. Hanya mencicipi saja, apa menjadikan saya terlihat gila?" Jawab Bagas yang mengetahui isi pikiran Anya.
"Hah? Apa maksud tuan? Siapa yang mengatakan tuan gila?" Tanya Anya salah tingkah.
"Hmm." Bagas tersenyum tipis.
"Kemasi semua perlengkapan yang harus dibawa besok!" Pinta Bagas membalikkan tubuhnya dan berjalan menjauh dari Anya.
Anya mencari cangirnya. Dan baru menyadari, Bagas tidak mengembalikan cangirnya.
"Aishh... Sialan."
Bagas membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa pekerjaannya.
"Vian! Lu dimana?" Tanya Bagas setelah mengangkat telepon.
"Gue di rumah bonyok lu!" Jawab Vian.
"Ngapain?"
"Mau nyebar surat undangan lu, sama Mela." Jawab Vian kalem.
"HAH? Mela sahabat gue?"
"Iya siapa lagi?"
"Batalin semuanya! Gue bakal pulang sekarang juga." Pinta Bagas menutup teleponnya.
"Hallo Gas? Gas lu?"
"Ah edan. Ngapain si gue selalu ikut campur urusan si dedemit Bagas."
"Ada apa tuan?" Tanya Anya khawatir.
"Em baiklah. Saya juga sudah selesai mengemasi semua barang-barang tuan." Jawab Anya tak ingin berdebat.
"Bagus. Saya akan pesan pesawat pribadi sekarang, dan mobil yang menjemput kita. Tinggalkan semua barangnya di sini. Nanti ada yang membawakannya." Ucap Bagas, lalu memanggil seseorang.
"Ya keberangkatan ke Jakarta. Sekarang juga, secepatnya!" Ucap Bagas menutup teleponnya.
Bagas dan Anya menaiki pesawat pribadi. Setelah, mobil pribadi mereka tiba dan mengantar mereka ke bandara.
Bagas menelpon supir pribadinya yang di Jakarta. Dan memintanya untuk menjemputnya di bandara.
Bagas dan Anya sampai tak lama, hanya beberapa jam saja. Membuat Anya semakin takjub, pada kekuasaan dan kekayaan.
Karena dapat mengabulkan permintaan, walaupun hanya sekejap mata.
"Angel ayo!" Ajak Bagas setelah sampai di depan rumah orangtuanya.
"Dan yeah, kamu harus ikuti arahan saya." Pinta Bagas cepat.
"Emm? Ba-baiklah tuan."
"MAH!" Teriak Bagas setelah masuk ke rumahnya dan melihat dekorasi yang megah.
"Bagas? Bukankah kamu sedang di Bali?" Tanya Rara kaget.
"Sudah pulang. Itu semua gara-gara mamah. Bagas sudah bilang berapa kali sama mamah, Bagas gak mau dijodohin." Rengek Bagas.
"Bagas! Kamu anak satu-satunya mamah sama papah. Jadi mamah harus berbuat banyak untuk kamu!"
"Bagas sudah mempunyai pilihan sendiri! Mela sahabat Bagas, Bagas gak punya perasaan apa-apa mah!"
"Mela mencintai kamu Bagas!"
"Tapi Bagas gak bisa nerima. Mela seumuran sama Bagas, dan gak lebih dari seorang sahabat." Jelas Bagas.
"Apa masalahnya jika kalian sahabat dan seumuran?"
"Bagas sudah mencintai wanita lain!"
"Siapa?"
"Angel!" Ucap Bagas menggandeng Anya, yang awalnya berada di belakang Bagas dengan menundukkan kepalanya.
Rara dan Bima dibuat terkejut. Dan keluarga Mela pun baru sampai, ketika Bagas mengatakan yang sebenarnya atas apa yang dia rasakan pada Mela. Tidak lebih dari seorang sahabat.
__ADS_1
"Apa-apaan ini?" Tanya ibu dan ayah Mela.
"Yah, Bu kalian salah paham." Ucap Mela menenangkan orang tuanya.
"Tidak. Kalian tidak salah paham, saya dan Mela hanyalah sahabat biasa. Dan Mela datang untuk melamar saya?" Tanya Bagas.
"Dan bahkan ketika saya tidak di rumah? Tentu saja kedua orang tua saya menerima dengan senang hati. Tetapi, apakah kalian meminta pendapat saya?" Lanjutnya bertanya.
"BAGAS!" Teriak ayah Mela.
"Ya pak, saya tahu. Saya menyakiti hati Mela. Tetapi, saya akan lebih menyakitinya jika saya menikahinya."
"Apa maksud kamu Bagas?" Tanya ibu Mela.
"Saya sudah memiliki kekasih." Jawab Bagas memegang erat tangan Anya.
"Anya tunjukkan wajahmu!" Bisik Bagas di telinga Anya.
"Tapi tuan. Saya takut."
"Ada saya di samping kamu."
Anya pun menunjukkan wajahnya perlahan. Dan tersenyum dipaksakan.
"Saya tidak peduli! Surat undangan sudah tersebar. Dan kamu ingin mempermalukan keluarga kami?" Tanya ibu Mela marah.
"Tidak. Surat undangan belum tersebar satupun. Benarkan Vian?"
"Emm.. iya, saya diperintahkan untuk mengcancel menyebar undangan pernikahan tersebut." Jawab Vian gugup.
"Baiklah jika ini yang kalian inginkan! Tapi jangan berharap kerja sama kita berlanjut!" Ucap ayahnya Mela marah.
"Tunggu! Saya minta maaf atas perlakuan Bagas putra kami!" Ucap Rara menyesal.
"Baiklah jika kalian ingin membatalkan kerja sama kita. Maafkan kami." Lanjut Bima.
***
"Jelaskan semuanya Bagas!" Ucap Bima tegas.
"Pah, mah Bagas sudah memiliki kekasih. Yaitu Angel!"
"Nak, perkenalkan namamu?" Pinta Rara ramah.
"Emm.. saya Anya." Jawab Anya tersenyum.
"Anya? Atau Angel?" Tanya Bima.
"Namanya Anya Prinsiska Angella." Jawab Bagas tersenyum.
"Apa itu, senyuman apa itu?" Goda Rara pada Bagas.
"Siapa yang tersenyum?" Tanya Bagas malu. Dan memasang wajah dinginnya lagi.
"Oh Angel nama panggilan sayang?" Goda Bima.
"Ah papah! Sudahlah jangan bahas itu."
"Mengapa gadis secantik dan sebaik kamu ingin menjadi kekasih Bagas?" Tanya Rara.
"Hmm? Maksud Tante?" Tanya Anya binggung.
"Bagas itu bukanlah pria yang baik, seperti kelihatannya."
"Emm tuan. Emm maksud saya.." Anya binggung harus bilang apa pada Bagas.
"Kak." Bagas mengisyaratkannya pada Anya.
"Hmm kak Bagas memanglah tidak sebaik yang terlihat." Jawab Anya. Bagas mendelik kesal.
"Tetapi, kak Bagas lebih baik dari yang terlihat." Jawab Anya tersenyum.
"Hehehem.." Bagas tertawa senang dan pelan.
Rara, Bima, dan Anya menatap aneh. Ketika Bagas melihat lagi dan melihat eksepsi semuanya. Bagas memasang wajah dingin dan datarnya lagi.
"Baiklah besok kalian tunangan!" Ucap Rara dan Bima kompak.
"APA?" Teriak Anya dan Bagas kompak.
***
Visual🌸🌸🌸
__ADS_1