
Semua karyawan tertegun kaget. Pertama kalinya Bagas tersenyum tulus. Di depan mereka. Namun, satu persatu karyawan tepuk tangan. Untuk kemenangan Anya.
Anya tersenyum tak percaya.
***
Semua karyawan yang terlibat mempersiapkan segalanya untuk festival babak 2 di Yogyakarta.
Sementara itu, Anya menerima telepon dari nomor yang tidak diketahui.
"Hallo? Assalamualaikum? Dengan siapa?" Jawab Anya.
"Wa'alaikumsalam. Anya ini mamah, jangan beritahu Bagas. Kita ketemuan hari ini bisa kan?"
"Iya mah. Dimana?" Tanya Anya.
"Di taman kota."
"Jam berapa mah?" Tanya Anya lagi.
"Jam makan siang. Agar tidak menganggu. Jika Bagas bertanya, kamu bilang saja mau ke ATM kek, atau bilang mau beli sesuatu." Jelas mamahnya Bagas.
"Anya gak bisa bohong dan gak pandai bohong mah." Jawab Anya jujur.
"Haduhhh..." Mamahnya Bagas menepuk keningnya pusing.
"Yasudah, bilang saja mau nemenin mamah makan siang." Ucap mamah Bagas mengalah.
"Baiklah itu lebih baik mah, Anya tahu tuan maksud saya kak Bagas punya mata-mata." Jelas Anya. Sedikit segan dan gugup.
Setelah menutup telepon dan mengakhiri pembicaraan. Anya kembali bekerja, dan memikirkan untuk membeli sesuatu spesial khusus untuk calon mertuanya.
Anya pun menyiapkan mentalnya untuk meminta izin pada Bagas, agar diizinkan tanpa kendala.
"Angel!" Panggil Bagas.
"Tuh kan baru aja dipikirin udah nyaut aja." Batin Anya. "Iya tuan?" Balas Anya.
"Sini! Ambil semua berkas ini!"
"Baik tuan."
Anya pun segera mendekati Bagas dan mengambil semua berkasnya.
"Saya ada meeting, tolong urus berkas saya untuk diberikan pada pihak HRD. Ini berkas yang saya sudah setujui, untuk interview pekerja baru."
"Persiapan festival babak 2. Itu berikan kepada pemimpin festival. Saya sebagai ketua pelaksana sudah menandatanganinya. Paham?" Jelas Bagas.
Anya hanya manggut-manggut paham.
"Oh iya, nanti siang-" Ucap Bagas terpotong.
"Nanti siang, saya ada janji tuan." Potong Anya cepat.
"Hah? Janji apa? Sama siapa? Berani-beraninya kamu membuat janji tanpa sepengetahuan saya dan izin dari saya?" Tanya Bagas bertubi-tubi, sangat kesal dan marah.
"Biasa aja kali tuan, ini kan bukan pelanggaran hukum. Toh surat kontrak sudah tuan batalkan!" Jawab Anya.
"Jawab saja pertanyaan saya, jangan memberikan pembelaan!"
"Dengan mamahnya tuan, hanya makan siang biasa tuan." Jawab Anya mengalah.
"Oh begitu, kamu yakin itu hanya makan biasa?" Tanya Bagas ragu.
"Sepertinya begitu."
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Bagas.
Dia segera menghubungi seseorang sebagai mata-mata untuk menelisik apa maksud dan tujuan ibunya meminta Anya untuk makan siang bersamanya, dengan tiba-tiba begitu.
***
Setelah selesai dengan tugas kantor, dan perintah Bagas untuk menemui HRD juga pemimpin festival.
Anya izin keluar, untuk membeli buah tangan. Tentu saja untuk calon mertuanya.
Untung saja Anya dan Boni sedang sibuk, jadi mereka tidak banyak bicara. Dan membuat kesalahpahaman lagi.
Anya membeli seikat bunga harum dan indah, juga macaron manis. Untuk calon mertuanya.
"Mah! Gimana kabarnya?" Tanya Anya.
Rara sudah sampai di restoran ternama yang dipilihnya. Dengan meja yang sudah disiapkan olehnya.
"Alhamdulillah baik Nya. Eh ini mamah bawa sesuatu." Jawab mamahnya Bagas, sambil menenteng tas yang tak tahu isinya apa
Tas yang di dalamnya berisi kotak elegan.
"Mamah gak usah repot-repot. Eh iya, ini Anya juga bawa sesuatu buat mamah!" Ucap Anya memberikan tas berisi macaron dan buket bunga.
"Kamu romantis sekali sayang." Ucap mamahnya Bagas memeluk Anya, sambil cipika-cipiki.
"Mamah juga tak kalah romantis hehe." Balas Anya. Sambil menyalami tangan Rara.
"Eh iya, mamah mengajak kamu ke sini. Untuk membicarakan persiapan pernikahan kalian. Mamah dan papah, juga keluarga kamu sudah menyetujui bahwa minggu depan proses keberlangsungan pernikahan kalian." Jelas mamahnya Bagas tanpa basa-basi.
"Kalian akad nikah dan resepsi minggu depan! Itu sudah menjadi keputusan kami, agar tidak terus mengulur-ulur waktu." Jelas mamahnya Bagas.
"Emm kak Bagas sudah tahu mah?"
"Belum. Kamu harus bisa membujuknya. Papah sudah menelpon Bagas, untuk pulang ke rumah kami nanti. Agar tidak pulang ke rumahnya. Kamu gak apa-apa ditingal Bagas semalam?" Tanya mamahnya Bagas.
"Iya mah gapapah. Jika itu yang terbaik, Anya ngikut aja." Jelas Anya.
"Yasudah. Mari kita nikmati hidangannya."
Mereka menikmati semua hidangannya yang sudah dipesankan, sambil di sela-sela santapan mereka bertukar cerita dan pemikiran.
***
"Kenapa pah? Tiba-tiba nelepon Bagas begitu?"
"Sini duduk. Kita makan malam bersama." Ajak papahnya.
"Bagas gak tega ninggalin Angel sendirian. Langsung aja ke intinya!"
"Anya sudah tahu Gas, jadi dia tidak masalah semalam ditinggal kamu. Toh banyak pegawai di rumah kamu!" Jelas papahnya.
"Kok bisa tahu?"
"Intinya gini, minggu depan kami sekeluarga sudah sepakat akan menggelar pernikahan kalian. Resepsi dan akad nikah disatukan sehari." Jelasnya to the point.
"APA? Kok papah ngasih tahu Bagas terakhir? Tapi gak apa-apa, Bagas siap kok nikah hari ini pun." Jawabnya sedikit kaget.
"Dasar kamu Gas!"
__ADS_1
"Bagas sudah kenyang pah. Bagas mau pulang aja ke rumah Bagas, lain kali Bagas ngindep di sini."
"Kalo Angel gak ada di rumah, atau kalo kami sudah menjadi pengantin hehe." Ucap Bagas cengengesan.
"Terserah kamu dah." Jawab papah Bagas menepuk jidatnya.
***
"Tok tok tok." Bagas mengetuk pintu kamarnya.
"Angel. Ayang pulang nih, bukain dong." Ucap Bagas sok manja.
Anya yang tertidur pulas, terganggu lalu ia mengucek matanya. Mengumpulkan kesadarannya, kemudian membukakan pintu untuk Bagas.
"Loh, tuan pulang? Bukannya ngindep di rumah papah?" Tanya Anya.
"Saya gak bisa jauh dari kamu." Gombal Bagas.
"Hemm.. Gombal." Ucap Anya salting. "Yasudah mau masuk atau mau terus berdiri di sana?" Lanjut Anya yang sudah ingin mengistirahatkan tubuhnya.
"Iya dong sayang, mau masuk." Ucap Bagas manja.
"Ihh geli tahu." Balas Anya menepiskan tangan Bagas.
"Eh jangan gitu dong, oh iya btw mulai sekarang panggil saya sayang. Jangan tuan, masa calon pengantin panggilannya gak romantis." Pinta bagas setelah duduk di ranjang tidur miliknya.
Anya tertawa kecil. "Iya iya, lain kali saya panggil sayang."
"Kok lain kali sih, sekarang aja."
"Maksa banget ya?" Ucap Anya gemas.
"Iya dong harus, entar orang mikirnya aneh dong. Masa suaminya dipanggil tuan, emang istrinya itu babu." Jelas Bagas kekeh.
"Hmm gimana ya, emang awalnya begitu kan?"
"Maksudnya?" Tanya Bagas kesal.
"Tuan kan menganggap saya pengasuh tau babu, dulu sangat benci sama saya. Sampai-sampai sering menghukum saya dan memperlakukan saya seenaknya."
"Hanya karena ingin balas dendam. Padahal saya dan kakak saya bicara baik-baik ingin bertanggung jawab, eh tuan malah sensi." Jelas Anya menggoda Bagas.
"Itu kan masa lalu, lagi pula saya sudah meminta maaf dan saya pun menyesal telah memperlakukan kamu seperti tawanan begitu."
"Tapi, kan saya sudah membayarnya dengan segala fasilitas. Ditambah sekarang saya membayar rasa maaf ini dengan ikatan cinta." Jawab Bagas tak mau kalah.
"Ah tuan bisa saja."
"Iya dong, apa sih yang gak bisa buat kamu?" Goda Bagas.
"Tuan saya malu."
"Kenapa harus malu sih, sayang ...." Ucap Bagas manja mencubit hidung Anya.
"Ih geli tahu, romantis kan gak harus lebay." Ucap Anya.
"Hmm." Bagas kembali dingin.
"Maafin sayang." Balas Anya manja.
"Nah.. baru itu calon istri ku."
Mereka semakin dekat, dari hari ke hari. Hubungan mereka terjalin dengan komitmen saling melengkapi segala kekurangan dan selingkuh atau perceraian adalah larangan nomor satu yang harus dipatuhi dan dijaga oleh keduanya.
***
__ADS_1
Visual ketemu camerš½