
Dan akhirnya merekapun olahraga malam. Karena si dedek yang gagah perkasa minta dihangkatkan.
***
Esok malamnya, mereka ke bioskop. Untunglah Ririn mengindap di rumah. Jadi anak-anak bisa dititipkan. Tentu saja dibantu para ART.
Bagas dan Anya sudah duduk di kursi bioskop. Mereka mendapatkan kursi paling depan. Yang sebenarnya Anya dan Bagas suka duduk di tengah atau paling belakang.
Awal-awal mereka menikmatinya, sambil memakan popcorn dan meminum coca cola. Tapi di tengah film.
"Ahhh.." Anya kaget bukan main.
Pasalnya film yang ditayangkan film bergenre romantis dewasa. Yang menayangkan adegan intim suami istri.
"Wooww.. baru kali ini, saya sangat menikmati film bioskop." Tukas Bagas.
"Ih kamu apaan sih bang!" Ucap Anya menyenggol lengannya.
"Kita peragain di rumah ya sayang!" Ucap Bagas intim.
"Ihh gak!"
"Dosa loh nolak suami." Ucap Bagas.
"Pasti arahnya langsung ke sana kamu!"
Setelah pulang dari bioskop. Bagas dan Anya mampir ke kantor Bagas. Bagas menarik tangan Anya ke kamar pribadinya yang berada di dalam ruangannya.
Saat di bioskop tadi, Bagas melakukannya hanya sentuh-sentuh saja. Ciuman dan nete. Banyak pasangan di sana pun yang melakukan hal serupa, bahkan lebih.
"Ih mau kemana?" Tanya Anya.
"Meragain yang tadi. Kita coba gaya tadi!" Ujarnya santai.
"Kamu kan tahu, Anya hamil udah besar."
"Bisa hati-hati."
"Ih gak mau."
"Gak bisa dibantah!" Ucap Bagas.
Bagas pun menyambar bibir ranum Anya. Terus mengisapnya. Bagas menurunkan dress atas Anya, yang kebetulan modelnya mudah untuk dibuka.
Dress lengan pendek sedada. Yang memperlihatkan bahu dan leher Anya yang mulus. Bagas menghisap leher Anya, dan turun ke da**nya. Bagas menghisap p**ing nya Anya dengan tak sabaran.
"Arrrggghhh..." Erang Anya.
Bagas pun memompa tubuhnya. Dan terus mengulanginya, sedangkan bibirnya masih menempel di *ad* Anya seperti bayi.
***
Setelah selesai mereka mandi bersama dan melakukannya lagi di sana. Bagas dan Anya sama-sama basah. Rambut mereka masih basah. Dan tidak ada pengering rambut di sana.
"Gas ini-" Ucap Vian terpotong melihat Bagas dan Anya bergantian.
"Rambut kalian kok basah?" Tanyanya polos.
"Ohh gue ngerti." Ucapnya lagi sebelum dibalas Bagas.
Vian akhir-akhir ini berbicara santai pada Bagas di kantor ketika tidak ada karyawan Bagas.
"Mana!"
"Oh iya ini!" Ucapnya menyodorkan berkas dan flashdisk.
"Lain kali ketuk dulu! Masa lupa gue udah nikah." Ucap Bagas sambil mentandatangani semua berkasnya.
"Oh iya gue lupa, bukan lupa kalo lo udah nikah. Gue lupa kadang-kadang istri lo juga mampir dan ikut kerja." Jelasnya.
***
4 bulan kemudian.
__ADS_1
Usia kandungan Anya sudah 9 bulan, sedangkan hari ini mereka mengadakan syukuran ulang tahun Marchell dan Michaell yang ke lima.
Mereka mengadakan pesta tersebut di rumah pribadi mereka. Setelah selesai pesta dan do'a bersama. Mereka membagi Snack berisi nasi dan beberapa kue cemilan ke pengemis di jalanan dan pengamen.
"Sayang, kamu jangan nyetir sendiri ya. Usia kandungan kamu udah besar. Bentar lagi kamu lahiran." Jelas Bagas.
"Iya sayang, tenang aja." Jawab Anya.
Setelah sampai di rumah.
"Bunda, ayah. Marchell sama Michaell bisa sekolah dong?" Tanya Marchell.
"Nanti ya, kalo kalian udah 6 tahun pas." Jawab Anya.
"Hmm... Baiklah bunda." Jawab Michaell.
"Kenapa Bun?" Tanya Marchell.
"Masuk SD, sekarang wajib 7 tahun. Biar gak lama di TK, jadi nanti aja pas udah 6 tahun." Jelas Anya.
"Oh yaudah Bun, kalo gitu." Jawab Marchell.
***
Anya terpaksa membawa mobil sendiri. Karena darurat, Bagas yang masih di kantor tidak tahu Anya mengendarai mobilnya sendiri.
"Anya temui aku, atau suamimu dalam bahaya." Pesan dari seseorang yang tidak dikenali.
Dia pun memberikan lokasinya pada Anya. Awalnya Anya tidak memperdulikannya, namun dia memberikan foto dan Vidio yang sedang mengintai Bagas.
Anya tahu ada bodyguard di sekitar mereka. Yang selalu menjaga, walaupun tidak menampakkan diri. Namun, Anya juga tidak mau gegabah dan tinggal diam.
"****... Siapa dia?" Tanya Anya kesal.
Anya mengambil kunci mobil dan langsung bergegas ke parkiran mobil di rumahnya.
"Bi titip anak-anak. Jangan beritahu siapapun Anya nyetir sendiri." Pinta Anya pada ART nya.
"Baik non, hati-hati ya!" Jawab ART Anya.
Namun, dari arah lain ada truk yang menyetir. Supir tersebut sedang ngantuk, tiba-tiba dilihat mobil Anya dari lawan arah.
"Brakkk..."
Kecelakaan mobil tersebut pun sulit dihindari. Anya segera dilarikan ke RS. Sedangkan seseorang yang mengintainya merasa takut dan terkejut melihat Anya kecelakaan parah.
"Sial. Kenapa bisa terjadi begini sih!" Ucapnya.
"Gue harus cepet pergi." Dia pun meninggalkan Anya.
Di rumah sakit.
Anya segera ditangani dan dilarikan ke UGD.
"Siapkan ruangan persalinan dan segera hubungi pihak keluarganya!" Ucap dokter Ana.
"Anya?" Tanya dokter Ana yang baru ngeh.
Dia pun segera menelpon Bagas.
"Biar saya yang hubungi, dia pasien pribadi saya. Dan pemilik rumah sakit ini." Jelas dokter Ana.
"Hallo Gas. Cepat ke rumah sakit." Ucap dokter Ana. Dia pun menceritakan sedikit kronologi kejadian tersebut.
Bagas bergegas ke RS pribadinya. Dengan keadaan gusar, untunglah Vian menemaninya dan mengemudikan mobil untuk Bagas.
Setelah beberapa menit. Anya sudah ditangani.
"Mohon maaf tuan Bagas. Anda harus memilih salah satu dari mereka!" Ucap dokter Ana pada Bagas yang baru datang.
"Apa maksudnya dok?"
"Kamu harus pilih Anya atau anak kamu, maafkan saya yang hanya bisa menyelamatkan salah satunya."
__ADS_1
"Namun, Anya tadi sadar sebentar dengan keadaan masih kritis dia menyampaikan agar menyelamatkan anaknya." Jelas dokter Ana tak tega.
"Apa? Saya sayang keduanya. Baiklah, tolong selamatkan istri saya dok. Selamatkan Angel, selamatkan Anya!" Ucapnya pasrah.
"Baik. Jika seperti itu, kamu harus tanda tangan surat ini." Jelasnya.
Beberapa jam pun berlalu. Bagas semakin gusar dan cemas.
"Gue ngerti Gas. Istri gue juga lagi hamil besar. Apalagi lusa pernikahan Shinta dan Calvin." Jelasnya.
Bagas hanya terus menangis. Semangatnya pudar.
"Lo selidiki apa yang sebenarnya terjadi. Dia gak mungkin nyetir sendiri. Kalo keadaan gak darurat." Pinta Bagas.
"Oke. Gue urus semuanya. Lo tenang aja."
Suster pun keluar dari ruangan.
"Silahkan masuk tuan Bagas!" Ucapnya.
Bagas masuk. "Bagaimana istri saya?" Tanyanya.
"Mohon maaf tuan. Nyonya Anya memohon pada saya agar menyelamatkan anak kalian." Ujarnya memberikan bayi laki-laki pada Bagas.
"Anya!"
Bagas menggendong bayinya, dan menghampiri Anya yang sudah kaku. Bagas terus menangis.
"Lihat anak kita, tampan sekali. Anya apakah kamu tega, meninggalkan saya dan anak-anak?" Bagas terus menangis dan berbicara seakan Anya mendengar.
"Tolong bangunlah demi kami Anya!"
"Anya saya mohon!"
"Anya!"
Tiba-tiba setelah beberapa menit. Tangan Anya bergerak, Bagas merasakan itu. Dilihatnya Anya.
"Anya!"
Anya menarik nafasnya panjang. Dan perlahan membuka matanya.
"Anya! Anya kamu sadar sayang? Ini bukan mimpi kan?" Tanya Bagas senang.
"Ab Abang. In ini anak kita?" Tanya Anya yang masih lemas.
"Iya sayang. Sebentar!"
"Dokter! Anya bangun dok!"
Dokter Ana yang tidak percaya langsung menuju ruangan Anya. Ternyata benar Anya sudah bangun kembali.
"Syukurlah, suatu keajaiban."
Beberapa menit kemudian.
"Ada yang darahnya O?" Tanya Ana.
"Saya dok!" Ujar Roni kakaknya Anya.
"Baiklah, apakah kamu mau mendonorkan darah pada Anya?" Tanya Ana.
"Tentu saja." Jawab Roni.
***
Visual🥀🥀🥀
__ADS_1