Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 61 - Salah Sasaran


__ADS_3

Sedangkan Anya sudah naik mobil bersama Vian.


***


"Nih tip buat Lo. Btw dia mati gak?"


"Gue gak tahu bos. Soalnya tadi gue tikam dulu sama kayu, terus jatoh deh. Gue buru-buru kabur." Jelasnya.


"Gak ada gak liat Lo kan?" Tanya Mela mamastikan.


"Gak bos, tenang aja."


"Si Anya itu gak sempet liat Lo kan?" Tanya Mela.


"Anya? Kok nama cowok Anya bos?" Tanya preman itu tak mengerti.


"Cowok? Maksud lo? Lo dorong siapa sih sebenarnya?" Tanya Mela mulai gusar.


"Cowok yang bos tunjuk waktu itu, bos." Jawabnya.


"Hah?" Tanya Mela tak paham, seingat dia. Dia menunjuk Anya yang sedang berpelukan dengan Bagas ketika Bagas mau berangkat ke kantor.


"Benerkan bos?"


"Bodoh ya lo! Yang lo celakain Bagas? Pacar. Ralat calon pacar gue." Tanya Mela langsung memukul kepala preman itu.


"Lahh bos kan nyuruhnya sama dia?"


"Gue potong ya gaji lo. Karena lo salah sasaran. And lo harusnya bersyukur gue masih bayar." Ucap Mela mengambil setengah dari uang itu dan langsung pergi meninggalkan preman itu.


"Loh bos, jangan gitu dong bos!" Ucapnya mengejar Mela.


"Jangan ikutin gue! Gue mau memastikan keadaan Bagas. Itu semua salah lo!" Ucap Mela menaiki mobilnya dengan keadaan marah.


"Ahhh sialan. Lain kali gue gak bakal maafin kalo terjadi lagi. Itu kan salah dia gak ngasih tahu dengan jelas." Ucap preman itu pergi.


***


"Sayang. Bangun, kenapa ini bisa terjadi?" Ucap Anya yang sudah masuk ruangan Bagas. Hanya sendiri.


Melihat Bagas memakai oksigen, EKG, selang infus, selang berisi darah, dan banyak alat yang menempel di dadanya.


Sangat ironis. Karena itu, ruangan harus steril. Makanya yang menjenguk harus bergantian satu orang dengan memakai perlengkapan medis.


"Sayang, apapun yang terjadi. Saya tahu kamu kuat. Bertahanlah! Bukan hanya untuk dirimu, tetapi untuk saya dan anak-anak. Terutama saya sekarang sedang hamil." Ucapnya berkaca-kaca.


"Dret... Drettt..." Ponselnya berdering.


Anya keluar ruangan, dan mengangkat telponnya. "Hallo assalamualaikum mah." Ucap Anya setelah duduk dan mengangkat telponnya.


"Wa'alaikumsalam sayang. Papah sudah tahu, dan dia segera ke rumah sakit untuk mendonorkan darah. Sekarang dia ada di ruangan sebelah Bagas."


"Mamah akan menyusul, karena orang tua kamu baru saja sampai ke rumah. Kita akan bergantian menjenguk." Jelas Rara.


"Oh iya mah. Makasih banyak mah, kalo gitu Anya mau jenguk papah. Assalamualaikum." Jawab Anya.


"Wa'alaikumsalam." Telpon pun terputus.


Anya berjalan ke ruangan sebelah kiri dari ruangan Bagas. Dan ternyata benar ada papahnya Bagas yang sedang tertidur, dan tangannya dibalut oleh perban bekas mendonor.


Anya berjalan perlahan takut menganggu. Dia duduk di samping papahnya Bagas. Perlahan dia berkaca-kaca, kemudian air matanya jatuh tak terbendung.


"Anya?" Tanya Bima setelah membuka matanya dan merasakan kehadirannya.


"Pah. Hiks... Hiks.." Ucap Anya menangis.

__ADS_1


"Iya nak, sudah sudah. Jangan menangis terus, Bagas pasti sadar dan pulih." Ucap Bima menenangkan Anya.


Bima duduk dan mengelus pundak Anya menguatkannya. "Kamu udah makan?" Tanya Bima.


Anya menggelengkan kepalanya. "Belum pah, tadi mau makan siang tapi Anya dapet berita Bagas. Jadi Anya belum sempet makan." Jelas Anya.


"Yasudah ayo ke lobi." Ajak Bima.


"Papah juga belum makan?" Tanya Anya.


"Belum makan malam, tadi siang sudah di kantor." Jelas Bima.


Anya mengangguk dan menurut. "Setidaknya kamu harus memikirkan anak kamu yang masih belum bisa apa-apa, masih berada di dalam kandungan." Ucap Bima cemas.


"Iya pah, Anya lupa. Tadi Anya sangat panik, jadi tidak ingat apa-apa." Jawab Anya.


"Yasudah, lain kali kamu harus memperhatikan diri sendiri sebelum orang lain." Ucap Bima mengingatkan.


"Iya pah, Anya usahakan."


Mereka pun sampai di lobi. Dan makan malam bersama, sangat hangat dan harmonis.


Anya merindukan suasana itu, bersama dengan ayahnya dulu. Yang jarang sekali ia alami lagi.


"Kenapa? Makanannya gak enak?" Tanya Bima melihat Anya melamun.


"Gak apa-apa pah, enak banget kok. Anya cuma teringat masa-masa sama ayah dulu." Jelas Anya.


"Emm yang sabar ya Anya. Perceraian kedua orang tua kamu, pasti pilihan terbaik untuk mereka." Ucap Bima lagi-lagi mengelus pundak Anya.


Anya mengangguk dan tersenyum miris. "Anya! Papah." Panggil Rara mendekati mereka.


"Mamah? Sama siapa ke sini?" Tanya Bima.


"Sama supir pribadi pah, tadinya mau sama papah. Tapi, ternyata papah udah dapat kabar duluan." Jelas Rara.


"Sama besan pah." Jawab Rara.


"Oh syukurlah. Kamu mau ke atas?" Tanya Bima.


"Iya pah. Dimana ruangannya?"


"Biar Anya antar mah." Saran Anya.


"Anya kamu pulang aja, kasian anak-anak. Terlebih kamu sedang hamil." Pinta Rara.


"Iya nak, Rachell pasti haus kan. Dia masih kecil juga, yang nengok juga gak boleh lebih dari satu. Biar mamah dan papah yang jaga Bagas." Tambah Bima.


"Yasudah pah, mah, Anya pamit pulang ya." Ucap Anya memeluk Rara dan menyalaminya. Anya pun menyalami Bima.


"Hati-hati di jalan sayang." Ucap Rara.


"Siapa yang antar?" Tanya Bima.


"Biar saya saja, pah, mah." Ucap Vian yang baru datang dari kantor.


Setelah mengantar Anya ke RS, Vian kembali ke kantor untuk mengurus beberapa pekerjaan. Dia juga mencari tahu siapa pelaku yang mencelakai Bagas.


"Vian?" Tanya ketiganya serempak.


"Iya, saya baru selesai mengurus pekerjaan kantor dan mencari tahu siapa pelaku yang terlibat dalam kasus berencana untuk mencelakai Bagas." Jelas Vian.


"Siapa pelakunya?" Tanya Anya.


"Masih diselidiki, apakah benar atau bukan." Jawab Vian.

__ADS_1


"Yasudah Vian, titip Anya ya. Antar sampai rumah dengan selamat." Ucap Rara.


"Baik mah."


Vian sudah terbiasa memanggil orang tua Bagas mamah dan papah. Begitupun dengan Bagas pada orang tuanya Vian.


Tetapi terkadang jika sedang bisnis, Vian memanggilnya formal.


***


Dalam perjalanan ke rumah Bagas dan Anya. Mereka awalnya hanya diam.


"Vian? Siapa yang masih menjadi tersangka?" Tanya Anya.


"Mela. Dia menyuruh preman untuk mencelakai kamu, tapi malah salah sasaran. Semua bukti terekam cctv." Jelas Vian.


"Apa? Dia kembali lagi, setelah setahun kita tidak bertemu?" Tanya Anya.


"Iya, dia menghilang setahun untuk balas dendam. Dulu pun dia menghilang sangat lama, untuk menenangkan diri dan melupakan Bagas. Tapi, cintanya dia pada Bagas berubah menjadi obsesi." Jelas Vian.


"Lalu, selanjutnya apa yang akan dilakukan?" Tanya Anya.


"Kita harus menuntut Mela dan melaporkan ke polisi. Agar dia jera." Jelas Vian.


"Jika memang dia pelakunya. Saya kali ini benar-benar tidak akan memaafkannya." Ucap Anya penuh penekanan.


"Tentu saja Anya, dia sudah kelewatan."


Merekapun sampai di rumah. Dan langsung masuk rumah. Anya membawa kunci cadangan. "Vian, ayo masuk dulu." Ajak Anya.


Vian pun masuk. Karena dia memang sangat lelah hari ini. "Dimana anak-anak?" Tanya Vian.


"Sepertinya mereka sudah tidur." Jawab Anya yang melihat suasana rumah sepi.


Anya mengajak Vian ke dapur. Anya membuatkan kopi dan membuat pancake. "Ini. kamu sudah makan?" Tanya Anya menyodorkan nampan berisi kopi dan pancake pada Vian.


"Sudah. Terimakasih Anya, sebenarnya tidak perlu repot-repot." Jawabnya.


"Tidak masalah. Setelah ini, kamu mau ke RS lagi?" Tanya Anya.


"Sepertinya begitu." Jawab Vian sambil menikmati hidangannya.


"Sebaiknya kamu istirahat dan pulang. Besok saja ke RS nya, lagi pula besok kamu harus kerja kan?" Saran dan tanya Anya.


"Hmm." Vian mengangguk dan mengiyakan.


"Dan kapan kita akan mengurus kasus Mela?" Tanya Anya.


"Secepatnya, setelah semua buktinya terkumpul." Jawab Vian mantap.


Setelah selesai mengobrol dan menghabiskan kopi juga pancake buatan Anya. Vian pamit pulang.


"Kalo gitu, saya pamit pulang." Ucap Vian.


Anya mengangguk. "Terimakasih untuk hari ini, hati-hati di jalan." Jawab Anya mengantar Vian sampai depan pintu.


Vian hanya mengangguk dan tersenyum.


***


Visual 🥀🥀🥀



__ADS_1



__ADS_2