Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 7 - Kepribadian Ganda


__ADS_3

"Ah sudahlah. Ikut saya!" Bagas kelabakan dan mengalihkan topik.


"Baik tuan." Jawab Anya pasrah.


***


Anya hanya melihat Bagas berenang, Bagas hanya mengenakan celana pendek. Dadanya bidangnya dan perut sixpacknya terpampang nyata.


Namun, badannya yang sangat tinggi dan berisi, sangat pas dengan tipe idealnya Anya. Tidak terlalu besar dan tidak terlalu kurus.


"Ya, kenapa kamu tidak berenang?" Tanya Bagas menyadarkan lamunan Anya. "Dari tadi kamu memperhatikan saya?"


"Tidak tuan. Sama sekali tidak memperhatikan tuan. Emm saya tidak berani, karena sepertinya kolamnya dalam sekali." Jelas Anya gugup, dan mengalihkan perhatian.


"Ah saya lupa kamu sangat pendek." Jawab Bagas dingin.


Anya tersenyum miris.


"Tidak apa, ayo turun!" Ajak Bagas kemudian.


"Tidak tuan terima kasih." Tolak Anya cepat.


Bagas beranjak, dan mengambil coklat panas. Dia menyeruputnya dan menikmatinya, malam yang indah. Sudah seperti pasangan suami istri, dan pengantin baru.


"Angel ambilkan saya handuk!" Pinta Bagas.


"Saya?" Tanya Anya memastikan.


"Siapa lagi?" Jawab Bagas mengerjitkan halisnya.


Anya beranjak, namun tubuhnya kehilangan keseimbangan dan air yang berada di tepi kolam, membuatnya terpeleset. Karena sedikit licin.


"Byuuuuuuurrrrrr.." Anya terjatuh ke dalam kolam.


"Haha kamu ternyata pura-pura. Kamu malu berenang dengan saya?"


Namun, yang terjadi bukanlah seperti yang dipikirkan Bagas. Anya bukan sengaja berenang, dia terpeleset.


Tapi Bagas tidak menyadarinya. Anya tidak bisa mengatur keseimbangan di dalam air, yang membuatnya turun naik.


***


"Hahhh tuan..."


"Tuan.."


"Tolong!"


"Tolong saya!"


"Tuan!"


"Kau berakting?" Tanya Bagas belum menyadarinya.


"Tuan!"


"Kau ingin berenang dengan saya?" Goda Bagas.


"Tuan!"


"Tidak perlu berpura-pura, katakan saja!"


Namun tubuhnya tidak lagi ke atas, Anya tenggelam ke dasar kolam. Anya kehilangan kesadarannya. Anya terus turun ke bawah, dan makin bawah.


Hingga terpentok ke dasar. Kolam renang tersebut sangat dalam, diperkirakan 5 meter atau lebih.


"Hei! Benarkah? Kau tenggelam?" Tanya Bagas mulai panik.

__ADS_1


"Byuuuuuuurrrrrr...." Bagas panik, dengan cepet dia melompat ke dalam kolam. Berenang ke dasar kolam mencari tubuh Anya.


Dan akhirnya Bagas menemukannya. Dia mengangkatnya dengan kedua tangan di sisi kiri dan kanan Anya. Di ketiaknya.


Lalu, dia memeluk dengan satu tangan. Tangan yang lainnya mengarahkan ke atas, agar bisa keluar dari dasar kolam.


Bagas menggendong tubuh Anya dan mengangkatnya ke tepi kolam. Bagas menepuk-nepuk pipi Anya. "Angel!"


"Angel sadarlah!"


Bagas teringat dengan pertolongan pertama pada korban tenggelam. "Baiklah, pertama tekan dadanya berulang kali."


Bagas menekan-nekan dada Anya beberapa kali. Namun, tidak ada respon. "Kedua berikan nafas buatan."


***


Bagas menutup hidung Anya, dan memberikan nafas buatan lewat bibir. Namun, belum ada respon.


Bagas menekan-nekan lagi dadanya, dan memberikan nafas buatan. Berulangkali dia lakukan.


Anya membuka matanya, tepat saat Bagas memberikan nafas buatan padanya. Sontak Anya kaget, dan spontan mendorong dada Bagas dengan sekuat tenaga.


"Apa yang tuan lakukan? Mengapa mencium saya?" Tanya Anya kaget.


"Harusnya kamu berterima kasih, jika tidak kamu sudah mati!" Jawab Bagas dingin dan angkuh.


"Maafkan saya tuan."


"Bukan maaf."


"Terima kasih tuan."


"Baiklah, ayo ganti baju!"


Bagas menahan hasratnya, karena melihat tubuh Anya yang basah, dan bajunya yang menerawang. Membuatnya memalingkan wajah. Dan segera berdiri.


"Tuan!" Ucap Anya memegang tangan Bagas. Yang akan segera berdiri.


"Em maaf tuan." Ucap Anya yang sadar telah memegang tangan Bagas.


"Sebenarnya saya memang menyukainya, tetapi saya juga punya tragedi dengan apa yang saya sukai itu. Seperti yang ada di foto, tapi saya mencoba menikmati apa yang telah saya alami." Jelas Anya mengantung.


"Maksud kamu?" Tanya Bagas belum mengerti.


"Saya memang menyukai air, pantai, kolam, hujan, dan tangga, juga ketinggian. Tetapi, di balik itu saya pernah terluka karenanya. Tetapi, itu justru membuat saya semakin bersahabat dengan hobby saya."


"Maka dari itu, saya tidak pernah menjauhi semuanya. Saya menikmati pantai, hujan, kolam, menaiki tangga, menuruni tangga, dan bahkan berada di ketinggian." Jelas Anya.


"Em apa yang sudah kamu alami?" Tanya Bagas dan duduk di samping Anya, di tepi kolam. Mengikuti cara Anya duduk. Dengan kedua kakinya ia masukkan ke dalam kolam.


"Dahulu ketika saya masih kecil, saya suka sekali dengan kolam ataupun pantai. Tapi, saya mengira berenang tidak sesulit itu."


"Saya mengikuti teman saya, melompat ke dalam kolam. Yang ternyata cukup dalam bagi saya kala itu, saya tenggelam dan hampir meninggal."


Untungnya, ada orang di dekat saya yang menggunakan pelampung. Sehingga, saya bersandar padanya. Yang anehnya, ketika kakak saya mengetahui saya tenggelam.


Dia hanya melihat saya dari atas, mengkin dia syok dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, dia juga belum mengganti pakaiannya."


"Hmm kakak kamu tidak bertanggung jawab." Cibir Bagas.


"Tidak seperti itu tuan, kakak saya baik kok." Jelas Anya.


"Lalu?"


"Saya juga pernah bermain ke pantai dengan ayah saya. Kala itu saya kelas 2 SD. Saya keasyikan sehingga tidak menyadari, saya telah jauh dari tepi pantai.


Karena terbawa arus ombak. Untungnya ayah saya sigap, dan menyelamatkan saya." Jelas Anya lagi.

__ADS_1


"Saya juga sangat suka gunung. Walaupun, pernah jatuh terpeleset kala mendaki dulu!" Lanjut Anya.


***


"Ah itu baru bertanggung jawab."


"Hmm.. saya juga sangat menyukai hujan. Karena ketika kita menangis, hujan menutupinya."


"Hujan juga menyampaikan pesan rindu kita kepada seseorang yang tidak bisa kita temui. Dan tidak bisa kita sampaikan melalui pesan."


"Meskipun saya sering sakit jika terkena hujan, tetapi tidak selalu kok. Terkadang jika saya vit, saya baik-baik saja meskipun terkena hujan. Saya lebih menyukai hujan dan malam, karena menenangkan bagi saya."


"Dan itu semua, memberikan berjuta makna. Malam yang tenang, dan ditemani oleh bulan dan kemerlip bintang, membuat saya merasa tenang dan nyaman. Maka kenapa saya sering bergadang."


"Hujan yang dengan gemericiknya, memberikan suara beriringan yang nyaman didengar. Dan memberikan kesejukan bahkan, hingga ke dalam hati." Anya terus bercerita, sedangkan Bagas setia mendengarkan semuanya.


"Saya juga menyukai tangga, dan saat kecil bercita-cita ingin memiliki rumah yang ada tangganya hehehemmm...."


"Entahlah, kenapa saya sangat suka tangga. Meskipun saat kelas 1 SMK saat pernah jatuh di tangga sampai saya tidak bisa berjalan berbulan-bulan."


"Saya mengalami cidera yang cukup parah, kala itu. Sampai membekas tuh!" Tunjuk Anya. "Dan tulangnya bersuara kalo saya duduk terlalu lama, dan beranjak."


"Tetapi, membuat saya tetap menyukainya. Meskipun saya sering jatuh di tangga, bahkan ketika teman saya mendorong saya."


"Dan saya masih ingat, saat saya masih kecil kelas 3 SD mungkin. Saya mengunjungi teman saya, yang rumahnya tangga."


"Saya mengikuti dia, yang turun dan naik dengan cepat. Hingga akhirnya, saya terjatuh ketika turun tangga."


"Kamu benar-benar unik ya." Ucap Bagas tersenyum manis, tanpa ia sadari.


"Mungkin terlihat aneh." Jawab Anya.


"Tidak. Saya menyukainya."


"Hah?"


"Maksud saya jalan pikir kamu." Jawab Bagas kemudian, dan tersadar.


"Tuan tersenyum?"


"Tidak." Jawab Bagas, kembali memasang wajah dingin.


"Saya suka senyuman itu!" Ucap Anya tanpa sadar.


"Hah?"


"Ah tidak, lupakan!"


"Oh.. kalo soal ketinggian. Saya juga pernah jatuh dari ketinggian. Tetapi, meskipun ketika saya berada di ketinggian, ada pikiran yang terbersit untuk melompat."


"Atau bertanya, apakah akan mati jika melompat dari sana, atau bagaimana rasanya melompat dari sana. Gila bukan?"


"Tetapi tetap saja, saya menyukai ketinggian, karena melihat pemandangan dari ketinggian sangat indah dan benar-benar membuat saya ketagihan."


"Selain lebih kelihatan semuanya dari ketinggian, saya pun menyukai pemandangan malam dari ketinggian."


"Pemandangan kota, yang dipenuhi lampu dan gedung tinggi membuatnya indah."


***


visual🤸🏼‍♀️




__ADS_1




__ADS_2