
Pasalnya pertunangan mereka pun hanya menutupi rumor. Dan kedekatan mereka, hanya berdasarkan balas dendam Bagas pada Anya.
***
Anya yang merasa kepalanya kembali berat, dan pandangan mulai kabur. Tiba-tiba ambruk pingsan.
Untungnya Bagas masih merangkul bahu Anya, dan cepat menangkap tubuh Anya. Bagas membopong Anya, ke kamar yang berada di lantai 1.
Kedua orang tua Bagas, ikut panik. "Bagas! Bawa ke kamar cepat!" Ucap Bima panik.
"Apa yang sebenarnya terjadi, pada Anya? Kenapa tubuhnya memar?" Tanya Rara khawatir.
Bagas memanggil Erik, dokter pribadinya. Beberapa menit kemudian, Erik dan Yara istrinya datang ke rumahnya.
Seperti biasa, Bagas sangat posesif pada Anya. Ia ingin yang menangani Anya, adalah seorang wanita.
"Kenapa lagi Bagas? Lu bener-bener ya, Gas lu tuh kelewatan sama Anya." Ucap Erik, saat telah tiba di rumah Bagas. Dan segera masuk ke kamar, dimana Anya berada.
"Cepet periksa. Eh bukan Lo, istri Lo!" Ucap Bagas cepat, sebelum Erik menyentuh Anya.
Semua yang berada disitu, terkejut. Dengan keinginan Bagas, yang tidak masuk akal. Padahal Erik seorang dokter.
Dokter pribadi kepercayaannya pula, ditambah Erik sudah menikah. Terutama dengan orang tua Bagas. Yang sangat syok dengan anaknya ini.
"Gas, sebenarnya. Apa yang terjadi pada Anya?" Tanya Yara khawatir, setelah dia periksa.
Bagas mendesah panjang, sangat berat menceritakannya. Namun, dia menceritakan rentetan semua kejadiannya.
Tanpa memberi tahu, apa permasalahan mereka. Dia hanya menegaskan, Anya melakukan kesalahan dan itu wajib dihukum.
"Tapi Bagas, dia tunangan kamu? Kenapa harus kamu hukum seperti budak begitu?" Tanya Rara tak mengerti.
"Benar Gas, kamu kenapa kasar sekali? Sejak kapan kamu menjadi seperti itu? Siapa yang mengajarimu?" Tanya Bima, marah.
"Pah, mah. Ini cara Bagas, jadi sebaiknya kalian tidak perlu ikut campur. Dan datang lagi ke rumah ini, kalian boleh datang dan temui Bagas di apartemen, vila, hotel, kantor pribadi Bagas. Tapi, untuk rumah pribadi Bagas. Tidak." Jelas Bagas.
"BAGAS! Ikut papah." Teriak Bima marah, dan menyeret Bagas. Rara mengikuti mereka.
Sedangkan, Erik dan Yara. Hanya bisa diam, dan memeriksa Anya dengan teliti. Tidak ingin, ikut campur urusan mereka.
"SEMUANYA! KUMPUL!" Teriak Bima, pada ART Bagas.
Semua ART Bagas, berkumpul sambil menundukkan kepalanya. "Mohon maaf tuan Bima, ada apa?" Tanya bi Inem sopan.
"Ceritakan pada saya. Siapa Anya, dan jangan takut pada Bagas. Saya yang akan bertanggung jawab untuk itu, meskipun kalian dipecat oleh Bagas."
"Kalian akan saya jamin, bisa bekerja di tempat saya. Yang lebih nyaman dan damai."
"Jika kalian tidak bicara, maka saya akan memukul Bagas, setiap pertanyaan yang saya tanyakan tidak kalian jawab!"
"Pah, jangan pah. Kasiani Bagas pah..." Bujuk Rara, memegang tangan Bima.
"Mah, Bagas terlalu dimanjakan. Karena dia anak satu-satunya. Dia, sudah hampir 27 tahun. Tapi belum juga dewasa." Ucap Bima.
Bima dan Rara tidak pernah kasar, dalam perkataan maupun tindakan selama ini. Ini adalah kali pertama, Bima bersikap kasar pada Bagas.
__ADS_1
"Tapi, pah. Gak gini caranya. Kita bicarakan baik-baik." Ucap Rara.
"Tidak. Ini yang terbaik!" Sanggah Bima.
"Siapa Anya?"
Hening...
"Buuuukkk.." Bima meninju pipi Bagas, darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Aghhhgggghhhh..." Teriak para ART Bagas, dan Rara.
Bagas hanya memegangi pipinya tanpa melawan dan bersuara.
"Siapa Anya?"
Hening...
"Buukkkk...."
"Siapa Anya?" Bima terus menanyakan hal yang sama.
Bima dan Rara mengetahui siapa sebenarnya Anya. Namun, mereka ingin pengakuan yang jelas dari semua ART-nya Bagas.
"Tuan, nyonya Anya adalah.... Pengasuh atau asisten pribadi den Bagas." Jawab bi Inem.
"Pengasuh? Bukan tunangannya?" Tanya Bima.
"Dahulu tuan, sebelum mereka tunangan. Hanya itu yang kami tahu." Tambah bi Inem.
Hening...
"Buuuukkk...."
Kali ini Bima, meninju perutnya Bagas. Karena bagian wajah sudah memar semua.
"Apa yang sering mereka lakukan?"
"Saya pernah melihat, tuan Bagas menghukum nyonya Anya. Jika, nyonya Anya melakukan kesalahan. Atau suasana hati tuan Bagas tidak baik." Jawab ART lainnya Bagas.
ART Bagas yang sudah tua, memanggil Bagas den. Sedangkan yang masih agak muda, memanggilnya tuan.
"Oh begitu, kamu jadikan Anya samsak? Yang bisa kamu tinju semaumu?" Tanya Bima pada Bagas.
"Jawab Bagas?"
"Awal pertemuan kami, adalah kesalahan. Anya hampir menggagalkan bisnis Bagas. Saat Client dari Amerika datang untuk bekerja sama pah."
"Mengertilah, Bagas baik meskipun menjadikannya pengasuh, yang 24 jam siaga untuk Bagas."
"Tapi, Bagas tetap membayarnya. Dan memberikan ATM black card." Jelas Bagas kemudian.
"Baik? Seperti itu baik?" Tanya Bima kesal.
"Pah, sudah pah." Bujuk Rara, yang mulai berlinang air mata.
__ADS_1
"Tunggu mah, ada beberapa pertanyaan lagi."
"Pah.."
"Selain hukuman, apa lagi yang pernah kalian lihat?"
Hening...
"Buuuukkk...."
"Selain-"
"Mon maaf tuan, kami pernah sangat syok. Ketika, nyonya Anya memasak pertama kalinya di sini. Tuan Bagas, memakan masakan rumah sampai habis."
"Dan tidak biasanya itu terjadi, dan setiap nyonya Anya memasak. Itu selalu terjadi, bahkan..." Jelasnya terhenti.
"Tuan Bagas, memakan masakannya sendiri, setelah sekian lama dia memasak. Baru kali ini, setelah bersama nyonya Anya dia memakannya."
"Ya, meskipun tuan Bagas jago memasak. Dia selalu enggan, memakannya jika yang dia masak, makanan rumahan." Jelas ART Bagas yang lainnya.
"Ahhh bagus, itu membuatnya berubah menjadi lebih baik." Jawab Bima.
"Apa lagi yang membuat kalian syok, dengan tingkah Bagas yang tak biasa?" Tanya Bima lagi.
Hening....
"Buuukkk..."
"Ada. Ada lagi, kami pernah tak sengaja. Melihat, tuan Bagas sangat ingin menyentuh nyonya Anya. Sampai-sampai pernah memandikan nyonya Anya, dan tanpa sengaja juga."
"Salah satu dari kita, pernah melihat tuan Bagas. Mengajarkan nyonya Anya berenang, ketika beliau menyelamatkan nyonya Anya yang tenggelam. Dan memberikan nafas buatan padanya." Jelas ART Bagas yang lainnya.
"Apa lagi?"
"Tuan Bagas, sangat bergairah. Jika beliau dekat dengan nyonya Anya, sedangkan biasanya beliau tidak pernah bereaksi pada wanita seksi manapun." Jelas ART Bagas.
"Selain itu, ketika pulang dari beberapa bisnisnya. Yang melibatkan kerja sama antar negara, luar negeri. Nyonya Anya, diajak dan mendampinginya."
"Bahkan, ketika pulang malam hari itu. Tuan Bagas, menggendong nyonya Anya, hingga lantai 10." Tambah ART Bagas yang lainnya.
"Hanya itu yang kami tahu tuan, tolong ampuni den Bagas." Mohon bi Inem kemudian.
"Baiklah, sudah cukup. Kita pulang mah, biarkan Bagas yang mengatasinya." Ajak Bima pada Rara. Setelah puas memberikan pelajaran kepada Bagas.
Seburuk apapun Bagas, dia tidak pernah melawan orang tuanya. Meskipun, sering bertindak tidak sopan pada mereka.
***
Visual🌵🌵🌵
__ADS_1