
"Iya sayang, masih belum selesai. Tadinya siang ini saya pulang." Jelas Bagas.
"Emm gitu."
***
"Maaf pak Vian. Saya tidak bermaksud-" Jelas seorang perempuan takut.
"Tidak apa-apa. Saya sudah buat klarifikasi bahwa dia adik kandung saya, dan menunjukkan foto lengkapnya." Jawab Vian.
"Pak kalo boleh jujur. Bukan saya yang posting di grup kantor. Tapi Syanas, dia bajak hp saya."
"Hah?"
"Kala itu, dia menyuruh saya fotocopy berkas yang dia bawa. Kemudian, dia otak-atik hp saya. Kalo bapak gak percaya bisa lihat cctv." Jelasnya.
"Saya sudah tahu. Saya sedang cek cctv kantor tepat saat kamu kirim foto tersebut. Sebenarnya saya sama sekali gak masalah. Toh dia adik saya." Jelas Vian.
"Kalo begitu, untuk permintaan maaf saya. Bapak bisa panggil saya jika perlu apa-apa." Ucapnya.
"Bukan kamu yang salah, kenapa harus kamu yang tanggung jawab?" Tanya Vian.
"Tidak apa-apa pak, itu juga gara-gara ada foto bapak dan adik bapak di hp saya." Jawabnya.
"Baiklah. Kamu boleh keluar."
"Emmm Sati tunggu!" Panggil Vian.
"Iya pak?" Tanya Sati balik badan.
"Saya boleh titip sesuatu?"
"Apa pak?"
"Ini. Tolong kamu buang roti sandwich dan kopi ini. Saya sudah kenyang." Ucap Vian beralibi.
"Baik pak. Tapi, kalo boleh tahu kenapa dibuang ya pak?" Tanya Sati.
"Terus harus digimanain?"
"Gak tahu juga pak, kan mubajir kalo dibuang. Bapak makan nanti aja kalo laper." Saran Sati.
"Keburu basi. Kamu makan aja kalo gitu, masih baru kok belum disentuh." Ucap Vian yang sebenarnya dia berinisiatif memberikan pada Sati, padahal dia sama sekali belum makan.
"Loh kok jadi Sati yang makan sih pak?"
"Kalo gak mau, yaudah buang!"
"Kalo begitu saya per-"
"Tok tok tok."
"Masuk!" Ucap Vian.
"Ka Vi-. Sati?"
"Shinta?" Tanya Sati.
Merekapun berpelukan. "Aku kangen banget sama kamu Sati. Tadi aku ke ruangan kamu, sengaja mau nyari kamu." Ucap Shinta sambil memeluk Sati.
"Aku juga kangen banget. Kok kamu bisa tahu aku kerja di sini?" Tanya Sati.
Shinta pun menceritakan semua kronologinya.
"Oh gitu? Syukur banget kita bisa ditakdirkan bertemu yah. Jadi, yang difoto itu kamu?"
"Iya."
"Maafin aku yah, sebenarnya." Sati menceritakan bagaimana dia dibajak hp.
"Ya ampun, jadi kamu juga korban?" Tanya Shinta.
"Iya."
Vian hanya menyimak dan memperhatikan adik dan karyawannya Bagas. "Udah?" Tanya Vian.
"Eh kakak. Maaf ya kak , jadi lupa." Ucap Shinta.
__ADS_1
"Hmm."
"Shin, kita ngobrol setelah aku pulang kerja ya? Sambil makan malam?" Tanya Sati.
"Boleh. Aku juga harus pulang dulu."
"Kak, Shinta pamit pulang yah." Ucap Shinta setelah menjabat tangan Vian.
"Hmm. Hati-hati di jalan."
"Pak, saya permisi." Ucap Sati.
"Hmm."
***
Sementara itu.
"Sayang, boleh minta jatah gak?" Tanya Bagas.
"Kita baru nyampe rumah. Langsung mandi, ganti baju. Baru aja mau istirahat, mintanya itu mulu." Keluh Anya.
"Istri dosa loh tolak suami." Ucapnya mendekati Anya.
"Anya juga tahu, Anya juga ngerti."
"Terus?"
"Kamu pasti aja pake senjata itu."
Bagas pun mendekati Anya. Dia menautkan bibirnya, mengecupnya. Lama-kelamaan dia mengisapnya sampai menjadi *******-******* nikmat.
"Ahhh. Sayang!"
Bagas turun ke lehernya, terus mengisapnya dan menyisakan kiss mark di sana. "Ahhhh...." Erang Anya.
"Uuhhhh..... Sayang call me!"
"Bagas it's so hot!"
"Ahhhh Angel."
Anya pun menurut. Anya mencium leher Bagas memberikan tanda kepemilikan. Bagas bermain di dua gu*u*g kesukaan. Terus mere*as dan mengisap seperti kehausan.
"Sayang, kamu gak eneg? Kenapa dari dulu kamu suka ASI?" Tanya Anya. Bagas masih me*y*su.
"Ya mungkin kita juga hidup karena ASI." Jawab Bagas melepaskan isapannya.
"Arrrggghhh sayang... Geli." Erang Anya.
"Tapi nikmat kan sayang?"
Bagas pun memasukan juniornya. "Aaaaaaaaggggggrrrrrrhhhh....." Anya mengerang panjang.
"Owaaaaa owaaaa..." Richaell pun menangis terbangun.
"Ah sayang, kamu mah. Lagi enak-enak nya!" Keluh Bagas.
"Sorry." Anya pun berjalan mendekati Richaell. Untunglah anak-anak yang lain tidak terbangun.
"Maaf ya sayang, bunda lupa ada kamu." Ucapnya sambil memberinya ASI.
"Punya saya diambil." Rengek Bagas seperti anak kecil...
***
4 bulan kemudian.
"Sayang, saya ada ondangan." Ucap Anya yang sedang sarapan bersama.
"Kemana?" Tanya Bagas setelah melahap sandwich nya.
__ADS_1
"Lembang. Tahu gak?" Tanya Anya.
"Oh tahu kok. Dulu saya pernah bisnis teh sehat untuk yang diet dan diabetes. Dan memproduksi teh di Lembang." Jelas Bagas.
"Bukannya di Subang, tempat Anya lahir?"
"Iya sayang, selain Subang. Abang juga produksi di Lembang!"
"Emm gitu, bagus deh. Kita harus ngindep di sana. Soalnya jaraknya jauh sayang." Jelas Anya.
"Gak apa-apa sayang, sekalian kita hiburan." Jawab Bagas.
"Gimana kalo sekalian ngerayain ulang tahunnya Marchell dan Michaell?" Tanya Anya.
"Ide bagus sayang. Kali ini kita buat pestanya di kebun teh. Gimana?" Tanya Bagas.
"Setuju. Kita sewa vila juga buat seminggu?" Saran Anya.
"Okay fine."
Keesokan harinya.
Bagas dan Anya sudah siap. Begitupun dengan anak-anaknya.
"Vian yakin Lo gak ikut?" Tanya Bagas.
"Kemana?"
"Lembang. Masih inget kan?" Tanya Bagas.
"Oh kebun teh?" Tanya Vian mengingat.
"Iya, pas kita impor teh dari Lembang, untuk produk teh sehat." Jawab Bagas.
"Gue ikut, tapi sekalian ajak Shinta." Usul Bagas.
"Boleh. Kita juga sewa vila di sana. Berangkat tar sore, biar nyampe malem." Jelas Bagas.
Semuanya berkumpul di rumah Bagas.
"Kak boleh ajak Sati yah?" Tanya Shinta.
Sedangkan Sati sudah dia bawa dan sudah siap.
"Yaudah boleh." Jawab Vian.
"Wah siapa tuh yang dateng?" Tanya Anya pada M².
"Om Vian, Tante Shinta." Mereka diam sejenak. "Tante?" Tanya mereka.
"Sati." Jawab Sati tersenyum dan mencubit pelan pipi keduanya.
"Hai Tante Sati." Ucap keduanya.
"Hai. Namanya siapa?"
"Aku Marchell Tante."
"Aku Michaell."
Sedangkan Anya dan Bagas sudah mengenal Sati. Sebelum mereka mempunyai anak.
"Sati beneran gak apa-apa ikut?" Tanya Anya.
"Gak apa-apa dong kak." Jawab Sati. "Justru Sati seneng banget."
"Ya, kamu diizinkan cuti. Kirim suratnya via email." Ucap Bagas menghampiri mereka.
"Eh iya tuan, saya hampir lupa." Jawab Sati.
"Shinta aman?" Tanya Anya.
"Aman kak. Shinta udah izin cuti." Jawab Shinta.
"Baru 4 bulan kerja, emang boleh cuti seminggu?" Tanya Bagas.
"Boleh dong kak. Shinta kan rajin anaknya, gak pernah absen." Jawab Shinta bangga.
__ADS_1
Akhirnya mereka pun berangkat.
***