
"Kenapa sayang?" Tanya Bagas menyukai Anya, yang terlihat menggemaskan jika seperti itu.
***
6 bulan kemudian
"Sayang, kok gak kerja?" Tanya Anya melihat Bagas belum pergi.
"Abang kerja di rumah, pirasat abang lagi gak enak nih Gel." Jawab Bagas.
"Emm gitu, saya buatin hot chocolate dulu." Ucap Anya pergi ke dapur.
Bagas berjalan ke ruang kerjanya. Dan segera melihat beberapa berkas yang harus ditandatangani dan melihat skedulnya.
"Ini bang diminum selagi hangat." Ucap Anya menyodorkan cangkir beisi coklat panas dan beberapa cemilan. Sandwich fruit dan kue kering.
"Makasih sayang." Ucapnya menyeruput hot chocolatenya.
Anya hanya mengangguk dan tersenyum. "Sayang, saya mau renang." Ucap Anya kemudian.
"Pagi-pagi begini sayang, kamu gak dingin?" Tanya Bagas, yang masih fokus pada laptop kerjanya.
"Iya, gak tahu deh bawaan debay kali. Ikut renang yuk?" Jawab Anya, mengajak Bagas.
"Saya gak bisa nolak tawaran kamu, yuk." Jawab Bagas, menutup laptopnya.
Merekapun berganti pakaian, yang nyaman untuk berenang. Dan segera berjalan menuju kolam renang di rumahnya.
"Sayang, hati-hati. Jangan lupa kalo kamu sedang hamil." Ucap Bagas memperingati.
"Tentu saja saya tidak lupa, ini kan sudah 9 bulan. Selain sudah lama saya hamil, perut saya pun sangat buncit." Jelas Anya kesal.
"Saya hanya mengingatkan." Ucap Bagas tenang.
Mereka asyik berenang, Bagas mengajari Anya berenang. Dan terus menjaganya, karena Anya masih belum pandai berenang.
Setelah merasa puas berenang, mereka akhirnya berenam di air hangat bersama. Di bathtub yang besar, bukan bathtub yang biasa mereka pakai untuk mandi.
"Sayang, besok ada jadwal kamu periksa ya?" Tanya Bagas.
"He'em. Kamu cuti kerja?" Jawab Anya mengangguk, sekaligus bertanya pada Bagas.
"Tentu saja, saya kan selalu cuti kerja kalo menemani kamu check up." Jawab Bagas bangga.
"Oh iya, kamu kan tadi sedang kerja yang. Maaf banget saya jadi ganggu pekerjaan kamu." Ucap Anya tak enak.
"Tidak sayang, pekerjaan saya sedikit lagi selesai kok." Jelas Bagas.
Mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai berendam dan mandi bersama. Bagas sangat menikmati momen ini, karena jarang sekali dia berada di rumah sepanjang hari begini.
Namun, semenjak Anya masuk ke dalam kehidupannya, semuanya berubah drastis.
***
__ADS_1
Bagas tengah fokus bekerja, di ruang kerjanya. Hari sudah menunjukkan malam. Dia masih bergelut dengan laptop kerjanya.
Sedangkan Anya tengah menyiapkan teh hangat dan biskut untuk Bagas. Dia berinisiatif memanjakan suaminya.
Tiba-tiba...
"Prank...." Cangkir teh manis buatannya jatoh, dan pecah berserakan di lantai.
Mbok Iyem, salah satu pembantu orang tuanya Bagas, yang pindah kerja ke rumah Bagas baru beberapa bulan yang lalu. Langsung mendekati sumber suara, dia sedang ada di kebun rumahnya Bagas.
"NON ANYA!" Teriak mbok Iyem histeris. Melihat Anya memegangi perutnya yang buncit. Dan terduduk di lantai, setelah menjatuhkan cangkirnya.
"Mbok, tolong panggilin Abang Bagas." Ucap Anya mencoba tenang. Sambil mengatur ritme nafasnya.
"Baik non." Dia bergegas menuju ruangan kerja Bagas.
Sedangkan ART lainnya, sibuk di lantai atas. Hanya mbok Iyem yang ada di lantai 1.
"Tok tok tok." Mbok Iyem mengetuk pintu tak sabaran.
"Den Bagas, anu.. anu non Anya jatuh.." Belum selesai berbicara, Bagas segera keluar dan berlari.
"Dimana mbok?" Tanya Bagas sambil berlari.
"Dapur den." Jawab mbok Iyem menyusul Bagas.
"SAYANG!" Teriak Bagas melihat Anya masih terduduk di lantai sambil memegangi perutnya, dan mengatur nafasnya.
Kini wajah dan lehernya dipenuhi keringat dingin. Dan Anya menahan sakit di perutnya. "Sayang, sakit." Ucap Anya lemas.
Kini jam menunjukkan 19:15 WIB.
"Pirasat saya tak pernah salah. Jika saja saya pergi ke kantor, mungkin saya belum pulang Angel. Apa perutmu mules? Atau sakit?" Tanya Bagas yang sudah mendudukkan Anya di kursi depan, di sampingnya.
Bagas segera melajukan mobilnya, dengan cepat dan hati-hati.
"Iya sayang, tadi saya sedang menyiapkan teh manis hangat dan biskut. Tetapi tiba-tiba perut saya terasa mules dan sakit sekali. Jadi saya tidak sengaja menjatuhkan nampannya." Jelas Anya.
"Itu bukan masalah sayang, masalahnya adalah apa yang terjadi padamu. Dan kenapa kamu repot-repot begitu, disaat kamu sedang hamil besar sayang. Seharusnya kamu tidur dan beristirahat saja." Jelas Bagas.
"Sayang, biasanya kan saya begitu.. aww... Sayang lebih cepat!" Jawab Anya, meringis kesakitan.
"Iya sayang, ini saya sudah sangat cepat."
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit kepercayaan Bagas, alias rumah sakit pribadinya. Anya segera di bawa ke ruangan bersalin.
Karena dokter spesialis kandungan, yang menangani Anya sudah tahu bahwa keadaan Anya kini tengah kontruksi.
"Dok, apakah saya akan melahirkan hari ini?" Tanya Anya cemas.
"Sepertinya begitu." Jawab sang dokter tenang.
"Kenapa sayang? Saya yakin kamu bisa melewati ini." Tanya Bagas dan ucap Bagas menenangkan Anya sambil menggenggam tangan Anya.
__ADS_1
"Sayang, saya sangat takut. Mungkin karena ini persalinan pertama saya." Jelas Anya.
"Tidak apa-apa sayang, semuanya akan baik-baik saja. Saya akan selalu berada di samping kamu. Jadi, tenanglah!" Jelas Bagas menenangkan Anya.
Yang padahal dia pun sangat khawatir dan takut. Pasalnya ini persalinan pertama istrinya dan anak pertama baginya.
Yang lebih mengejutkan adalah sekaligus mendapatkan dua anak.
***
"Pembukaan 5." Ucap sang asisten dokter yang membantu persalinannya.
"Jangan khawatir Bu, meskipun ini persalinan pertama. Semuanya normal, dan kemungkinan besar ibu akan melahirkan normal meskipun dua anak."
"Selain dokter kandungan dan kedua asisten saya. Ada juga dukun beranak, yang akan membantu persalinannya." Jelas sang dokter.
"Syukurlah dok." Jawab Anya sedikit lega.
"Oh iya, dokter Ana. Saya ingin menemani istri saya." Ucap Bagas.
"Tentu saja itu sangat dianjurkan!" Jawab Ana.
"Sayang, semuanya baik-baik saja. Kita akan segera bertemu anak kita sayang." Jelas Bagas mengusap dan mencium kening Anya.
"Iya, hal yang sangat kita nantikan." Jawab Anya.
Beberapa jam pun berlalu, dan akhirnya kedua anak Anya dan Bagas telah lahir.
Dengan selisih 3 menit saja. Kedua anaknya laki-laki yang sehat dan tampan.
"Sayang, lihatlah mereka mirip dengan saya." Jelas Bagas menggendong satu anaknya, dan satunya lagi digendong Anya.
"Iya sayang, sangat tampan dan kulitnya begitu putih bersih." Jawab Anya.
"Siapa dulu ayahnya!" Bangga Bagas.
"Saya sudah menyiapkan nama yang bagus untuk mereka!" Ucap Bagas lagi.
"Benarkah? Siapa sayang? Kenapa kamu tidak memberitahu saya? Dan kenapa kita tidak membuatnya bersama?" Tanya Anya bertubi-tubi.
"Sabar sayang, namanya juga belum lengkap kok. Saya sengaja, agar kamu melengkapinya." Jelas Bagas gemas.
"Marchell dan Michaell. Bagaimana bagus tidak?" Tanya Bagas.
"Emm bagus sayang, bagaimana jika Marchell Khristal Jaya dan Michaell Khristal Jaya?" Tambah Anya.
"Bagus sayang. Saya akan mengatakannya nanti, agar segera dibuatkan akte kelahiran." Jawab Bagas antusias.
***
Visual 🐰🐰
__ADS_1