Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 34 - Smooth Like Butter


__ADS_3

"Baiklah ayo tidur." Ucap Bagas kemudian.


***


Keesokan harinya*


Mereka kembali ke Jakarta, setelah sampai rumah dan beristirahat.


Bagas berolahraga seperti biasanya, Anya menemaninya berolahraga.


"Angel!"


"Iya tuan?" Tanya Anya, yang masih fokus olahraga.


"Saya akan ajak kamu mengelilingi lantai 2! Kamu tahu rumah saya ada berapa lantai?" Tanya Bagas, yang kini sedang duduk menatap Anya.


"10 lantai?" Tebak Anya.


"Iya, di atas gedung ini. Ada sesuatu yang sangat menakjubkan." Jelasnya.


"Apa?"


"Nanti kamu tahu, tetapi saya ingin kamu mengelilingi rumah saya, secara perlahan." Jawab Bagas.


"Emm. Tuan ingin berlama-lama dengan saya ya?" Goda Anya.


"Perasaan kamu saja itu. Kheem.." Jawab Bagas salting, lalu mendahului Anya.


"Tuan! Jalannya santai saja, mengapa terburu-buru?" Tanya Anya, mengejar Bagas.


"Oh.. emm baiklah." Jawab Bagas masih salting.


"Sebenarnya di lantai dua ini, hanya ada beberapa kamar. Dan ruang keluarga saja. Tidak ada yang spesial." Ucap Bagas.


"Menurut saya, penataan rumah tuan semuanya indah. Meskipun konsepnya bukan hanya satu. Itu apa tuan?" Tanya Anya.



"Ah iya. Saya lupa, yang spesial adalah musholla itu. Tetapi, biasanya yang pakai hanya pekerja saja. Karena ruangan keluarga ini, masih kosong." Jelas Bagas.


"Jika tuan sudah berkeluarga. Itu artinya, musholla ini akan dipakai oleh keluarga ya?" Tanya Anya.


"Hmm. Tentu saja, karena di bawah pun ada musholla umum. Untuk pekerja dan semuanya. Di bawah lebih besar, dekat danau yang saya perlihatkan." Jelas Bagas.


"Emm yang seperti masjid itu?" Tanya Anya.



"Iya. Itu musholla, karena lebih kecil. Dan yang menggunakannya, hanya beberapa pekerja saya. Bukan masyarakat." Jelas Bagas.


"Di sini juga ada beberpa nuansa caffe. Tetapi, nuansa kali ini estetik ya tuan?" Tanya Anya.


"Iya. Saya ingin membuat, rumah saya berbeda-beda konsep. Agar tidak jenuh melihatnya." Jelas Bagas.


"Hmm. Saya semakin betah di sini. Terlebih, tuan sekarang tidak terlalu dingin dan kasar." Ucap Anya tersenyum lebar.


"Hmm. Perasaan kamu saja!"


***


Bagas membawa Anya ke dapur, di lantai 1. Bagas memasak untuk Anya, dengan cekatan. Seperti chef pada umumnya.


Anya dibuat kagum, untuk ke sekian kalinya. Pada seorang Bagas, CEO yang terkenal. Namun, masih memiliki sisi lembut. Yang tidak diketahui banyak orang.


"Tuan kenapa tidak makan?" Tanya Anya, setelah hidangan sudah disajikan.


"Sudah." Jawab Bagas.


"Temani saya makan, saya tidak enak makan sendiri." Pinta Anya.


"Em baiklah suapi saya!" Pintanya.


Anya hanya diam. Bagas mengambil sendok Anya, dan menyuapi Anya. Anya hanya bisa menerimanya, lalu Anya mengambil sendok baru. Dan menyuapi Bagas, Bagas terkejut dengan yang dilakukan Anya, tapi senang dan menerima satu suapan dari Anya.

__ADS_1


"Kamu jijik sama saya?" Tanya Bagas tersinggung.


"Tidakk tuan."


"Kenapa mengganti sendoknya?" Tanya Bagas meneliti.


"Takut tuan jijik sama saya." Jawab Anya jujur.


"Tentu saja tidak, saya menyukaimu." Ucap Bagas tiba-tiba.


Deg.


"Maksud tuan?" Tanya Anya syok.


"Menyukai kebodohanmu." Ucapnya dingin.


Anya bernafas lega, pasalnya dia ingin segera keluar dari jeruji ini. Anya ingin bebas kemanapun dia pergi, namun na'asnya Bagas tidak melepaskannya. Meskipun sudah lama sekali Anya dihukum.


Yang ada hanyalah tunangan, yang tidak didasari cinta. Hanya untuk menghilangkan rumor dating tersebut.


"Yah! Apa yang kamu pikirkan? Saya hanya bercanda." Tanya Bagas.


"Sejak kapan tuan bercanda?" Anya balik bertanya, setelah mengunyah nasinya.


"Ah lupakan." Jawabnya salah tingkah.


Bagas selalu mengatakan. "Memangnya sejak kapan, saya suka bercanda?"


Itulah mengapa, Anya menyindirnya. "Tuan serius?" Tanya Anya lagi.


"Tentang apa?" Tanya Bagas dingin.


"Saya sudah kenyang tuan." Ucap Anya menyudahi makannya. Dan mengalihkan pembicaraan.


"Tunggu!" Ucap Bagas dingin.


Bagas mengambil anggur merah, memberikannya kepada Anya.


"Tidak tuan, saya tida berselera." Jawabnya lemas.


Dia menarik pinggang Anya, dan memaksa Anya untuk membuka mulutnya. Dengan mencengkeram erat dagu Anya. Sehingga, Anya refleks membuka mulutnya. Bagas memasukkan anggurnya, dengan mulutnya.


Anya tidak bisa menolak, ketika ingin memuntahkannya. Karena Anya merasa mual, dan jijik atas apa yang dilakukan oleh Bagas.


Bagas menahannya, menahan bibirnya. Agar Anya segera mengunyahnya, Anya mengunyahnya perlahan-lahan dan ingin segera terlepas dari Bagas.


"Ohok..ohokk... Tuan, mengapa anda sering sekali berbuat semau anda?" Tanya Anya tak mengerti.


Bagas ingin melakukannya lagi, namun Anya segera menghindar.


"Jika tidak mau, maka ganti posisi. Kamu yang menyuapi saya, baby!" Ucapnya sarkas.


"Tidak tuan." Tolak Anya.


"Jika tidak.." Ucapnya nakal, dan mendekati Anya.


"Baik tuan." Jawab Anya cepat, dan memetik satu butir anggur. Yang dipegang Bagas, lalu memasukkan ke dalam mulutnya.


Karena Anya terlihat ragu, Bagas segera mengambilnya paksa dari Anya. Dia mengunyahnya, dan sebelum menelannya dia tidak melepaskan Anya.


"Huahhhh... Tuan saya kehabisan nafas." Ucap Anya setelah Bagas melepaskannya.


Anya berjalan perlahan, ke kamar Bagas. Sambil, memegang dinding di sepanjang jalan. Kepalanya terasa pening dan berat. Ketika dia bergerak, tiba-tiba pandangannya kabur. Dan kepalanya sakit.


"Sshhhhsss.." Bagas mendesis dan segera menggendong tubuh Anya ala bridal style.


"Saya benar-benar tidak tahan melihatnya." Ucap Bagas lagi.


Bagas merasa hasratnya kerap kali naik, ketika di dekat Anya. Padahal, biasanya tidak pernah berpengaruh kepada gadis lain. Meskipun mengenakan pakaian seksi, dia selalu acuh.



__ADS_1


"Tuan?" Tanya Anya takut.


"Tuan lepaskan saya!" Ucap Anya tegas.


"Kamu kena sindrom atau apa? Tiba-tiba pusing dan lemas, ketika saya menyuapi kamu dengan mulut saya?" Tanya Bagas kesal.


"Jika memang ia kenapa? Kenapa tuan melanjutkan hal bodoh ini?" Tanya Anya, tak kalah kesalnya dengan Bagas.


Anya segera menyadarkan diri, dan mendorong dada Bagas. Dengan sekuat tenaga. Meskipun Bagas, lebih kuat.


"Tuan hentikan!" Ucap Anya.


"Tuan, apa yang tuan lakukan? Ingat, tuan hanya ingin membalas dendam pada saya!" Ucapnya pada Bagas.


Bagas kesal, menarik kasar tangan Anya. Membawanya ke parkiran.


"Tuan! Lepaskan saya!"


Bagas tak bergeming.


"Tuan mau membawa saya kemana?" Tanya Anya, setelah masuk mobil.


***


"Tuan, tuan sering hampir memperko*a saya. Tetapi, mengapa tidak pernah ada kata maaf yang tuan katakan? Bahkan, tuan tidak pernah merasa menyesal sedikitpun." Ucap Anya kesal.


"Karena saya tidak salah, dan tidak menyesal. Itu adalah hukuman kamu!" Jawabnya cepat.


"Tuan kan tahu, saha terlalu naif. Saya tidak ingin melakukannya, sebelum saya menikah." Jelas Anya.


"Kalo begitu, menikahlah dengan saya!" Ucapnya kesal.


Hening..


"Angel, berhentilah melawan saya!" Ucap Bagas dingin.


"Apa yang Lo lakuin, Bagas? Lo lupa, dia cuman dihukum. Dan Lo cuman balas dendam. Gak lebih, untuk apa Lo ngajak dia nikah. Dengan santainya, begitu." Ucap Bagas dalam hati, saat menatap wajahnya di kaca spion depan mobilnya.


Sekarang giliran Anya, yang tidak bergeming.


"Keluar!" Ucapnya kasar.


"Tuan ingin menurunkan saya, di pinggir jalan begini?" Tanya Anya tak percaya.


Bagas menarik tangan Anya kasar. Dan memaksanya untuk keluar dari mobil.


"Banyak bertanya, dan membantah!" Ucap Bagas dingin.


"Tuan?"


"Lihat ini!" Ucap Bagas menunjukkan surat kontrak mereka.


Bagas merobeknya di depan wajah Anya. "Srek.. srek..."


Anya salah paham dan tak percaya apa yang Bagas lakukan, cukup kasar.


Bagas meleparkan butiran kertas itu, ke atas. Dengan wajahnya yang dingin dan marah.


"Baiklah, jika itu mau tuan!" Ucap Anya melepaskan cincinnya. Dan melemparkannya pada Bagas.


Bagas menatap Anya tak percaya. "Mengapa kamu melepaskan cincin tunangan kita?"


"Kita? Tidak ada kita! Saya dan tuan berbeda, dan tidak akan pernah menjadi kita!" Ujar Anya penuh kebencian.


Bagas mengambil cincin itu, dan memasang lagi pada Anya kasar.


"Kamu tetap harus memakainya! Meskipun kita tidak akan pernah menikah, agar kamu selalu mengingat saya!" Ucapnya penuh penekanan.


"Baiklah, jika itu maunya tuan!" Ucapnya berlari dan menjauhi Bagas.


***


pengumuman*

__ADS_1


Maaf guys kemarin-kemarin aku sakit dan gak up, and aku sempet hapus ceritanya. sekarang aku kirim lagi, sekalian aku tambah bab nya...


semoga suka yaa sama ceritanya, maaf kalo ada salah kata ataupun kekurangan happy reading 🤍🤍🤍🤍


__ADS_2