Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 29 - Dream Khristal Jaya


__ADS_3

"Terima kasih tuan."


"Sama-sama."


***


Bagas dan Anya kembali ke kamar mereka. Bagas mengajak Anya untuk joging di sekitar rumahnya.


"Tuan, kita jogging ke luar gerbang?" Tanya Anya malas.


"Tentu saja. Keliling rumah ini terlalu biasa, banyak yang belum kamu tahu." Jawab Bagas tersenyum.


Anya pun pasrah dan joging di samping Bagas.


"Sebentar. Kamu pilih joging dulu, atau bersepeda dulu?" Tanya Bagas menghentikan langkahnya.


"Tuan sukanya apa dulu?" Jawab Anya, balik bertanya.


"Joging."


"Yasudah." Jawab Anya.


Bagas hanya tersenyum.


Keduanya berjalan di sepanjang jalan yang begitu luas dan indah. Sepanjang perjalanan dihiasi pepohonan dan bunga yang mekar.


"Saya baru menyadarinya, ternyata jalan panjang ini begitu indah dan sejuk." Ucap Anya menghirup udara.


"Hmm. Ini belum ada apa-apanya dengan kejutan yang saya siapkan nanti." Ucap Bagas.


"Apa?"


"Bukan kejutan namanya, kalo saya beritahu di awal." Jawab Bagas tersenyum.


Anya dan Bagas duduk di kursi taman yang indah, dihiasi bunga yang melilit kursi tersebut. Di bawah rimbunnya pohon yang sejuk.


Mereka menengguk air mineral, menghabiskannya sebotol air masing-masing.


Yang mereka bawa dari rumah. Dan membuang botol tersebut, ke tong sampah di sebrang mereka.


"Sini tuan! Biar saya buang." Ucap Anya menggambil botol bekas di tangan Bagas.


Anya pun menyebrang dan membuangnya ke tong sampah.


"Saya sudah memikirkannya. Posisi yang cocok untuk kamu, di festival nanti." Ucap Bagas, setelah Anya duduk kembali.


"Apa?"


"Lihat saja besok." Jawab Bagas, terus membuat Anya penasaran.


"Tuh sepeda sampe, yuk!" Ajak Bagas.


Supir pribadi Bagas diperintahkan membawa kedua sepedanya.


Bagas dan Anya menaiki sepada masing-masing. Setelah sang supir, menurunkannya dari mobilnya.


"Loh?" Anya menatap tak percaya.


"Tadi saya menghubungi bi inem, supaya menyiapkan sepeda untuk kita. Dan supir saya membawanya." Jelas Bagas, setelah mereka menaiki sepeda masing-masing.


"Ohh.." Jawab Anya mengangguk.

__ADS_1


Mereka pun bersepeda berdampingan. Bagas mengajaknya ke sesuatu tempat. Dia belok ke samping kanan, taman dengan rerumputan yang bersih dan rapih.


"Tuan? Apakah itu danau?" Tanya Anya antusias.


"Iya." Jawab Bagas tersenyum.


"Lain kali, saya ajak naik perahu itu. Dan masuk ke kastil kecil di sana." Jelas Bagas.



"Kenapa tidak sekarang?"


"Beda jadwal. Sekarang, jadwalnya makan bersama." Jawab Bagas.


"Indah sekali. Apakah danau ini milik tuan?"


"Iya. Sengaja saya rawat, untuk berlibur dan bekerja." Jawab Bagas.


"Bekerja?"


"Iya tentu saja. Perusahaan saya kan, membuat segala jenis aksesoris, peralatan rumah tangga dan lainnya dari sampah."


"Perusahaan saya juga membuat pupuk kering dan pupuk basah dari sampah. Dan membuat alat pembersih lautan, danau, sungai, sumur dan lainnya. Yang berkaitan dengan air." Jelas Bagas.


"Jadi tentu saja, saya harus mencobanya bukan? Sebelum menjualnya." Tanya Bagas pada Anya.


"Jadi tuan memanfaatkan danau ini, untuk tuan jadikan percobaan alat tersebut?"


"Tentu saja. Karena jika ke laut, mungkin sedikit jauh. Selagi saya memiliki fasilitas yang dekat, untuk terus mencoba pengembangan produk saya. Why not?" Jawab Bagas tersenyum.


"Alat apa itu tuan?" Tanya Anya.


"Alat pengambil sampah, dan penetralisir kotoran." Jawab Bagas.


"Memangnya kamu tidak mencaritahu dulu, mengenai perusahaan saya?" Tanya Bagas heran.


"Biasanya selalu saya cari tahu. Tetapi, saat itu semuanya terasa dadakan. Jadi, tidak ada waktu bagi saya untuk mencari tahunya."


"Jadi, saya hanya sibuk membuat surat lamaran kerja dan persyaratan yang diperlukan." Jelas Anya.


"Mengapa begitu?"


"Saya melihat ada lowongan kerja di kabar berita, dan tadinya saya cuman iseng saja. Dan waktunya ternyata tidak lama, jadi saya siapakan segala persyaratan tersebut. Tanpa mencari tahu dulu." Jelas Anya.


"Hmm.. kamu benar-benar lucu." Ucap Bagas mengacak-acak rambut Anya.


"Ahh tuan, jadi berantakan."


"Ayo kita makan." Ajak Bagas.


Di tepi danau. Bagas menyiapkan alas kain yang lembut, bermotif kotak-kotak merah.


Dengan berbagai hidangan khas Italia. Alat makan pun terbuat dari kayu dan rotan.


Anya tertegun kagum dan segera menyarap dengan Bagas, sambil mendengarkan musik klasik. Dan membicarakan berbagai hal.


"Sebaiknya tuan mulai mengerjakan proposal untuk festival." Ucap Anya kemudian.


"Itu sudah ada yang handle." Jawab Bagas.


"Terus tuan mau mengerjakan apa?"

__ADS_1


"Teori untuk presentasi. Hanya singkat, dan saya ke kantor untuk mengerjakan beberapa pekerjaan lainnya." Jelas Bagas.


"Oh baiklah. Perlukah saya membantu tuan?" Tanya Anya.


"Kalo dipikir-pikir. Kamu memang harus berada 24 jam di samping saya, jadi kamu harus ikut dengan saya ke kantor nanti." Jawab Bagas.


"Emm baiklah."


"Oh ia, saya tidak sengaja melihat buku diary kamu. Kamu jago menulis dan membuat puisi ya?" Tanya Bagas.


"Tuan! Itu tidak sopan tahu, diary kan privasi." Ucap Anya marah.


"Maafkan saya, itu tergeletak di lantai. Tak sengaja saya menjatuhkannya. Jadi saya membukanya. Diary itupun terlihat desain yang kuno. Apakah kamu sangat maniac terhadap hal yang kuno?"


"Iya." Jawab Anya kesal.


"Saya minta maaf. Dan saya menginginkan kamu membuatkan puisi untuk festival nanti, kamu juga yang membacanya?" Pinta Bagas kemudian.


"APA? Posisi itu tidak saya inginkan." Tolak Anya kaget.


"Bukankah kamu pernah membaca puisi, di depan teman-teman satu sekolahan kamu?" Tanya Bagas.


"Iya memang benar, ada teman seangkatan, kakak kelas, dan adik kelas. Semua guru juga menyaksikannya di samping saya. Tetapi, ini lain daripada yang lain." Jelas Anya.


"Apa?"


"Semua yang hadir bukan dari kalangan sekola, semua adalah rekan kerja tuan. Terlebih dari berbagai negara. Mereka tidak akan paham maksud saya." Jelas Anya.


"Saya akan membacakannya juga, dengan bahasa Inggris. Jadi bagaimana?"


"Seriously?" Tanya Anya tak percaya.


"Of course." Jawab Bagas ngotot.


"Emm baiklah."


***


Bagas dan Anya pun bersepeda kembali, sampai rumah. Mereka mandi dan berganti pakaian.


Setelah selesai. Bagas mengajak Anya ke ruang kerjanya, yang tersembunyi.



Setelah masuk mereka disuguhi pemandangan sore yang indah, di balik kaca besar.


"Ini memang perpustakaan. Tetapi, jika kamu mendorong lemari buku yang ini. Lihat." Jelas Bagas, sambil mempraktekkan apa yang dikatakannya.


"Krekeettt..." Lemari pun bergeser, dan menunjukkan ruangan tersembunyi.


"Wahh keren sekali." Ucap Anya tertegun kagum. "Anya betah banget di sini."


Bagas tersenyum senang.


"Ini proposal dari acara tersebut. Kamu baca dan pelajari, kemudian kamu bisa mulai menulis puisi."


"Biar saya yang mentranslatekannya ke bahasa Inggris." Ucap Bagas menyodorkan proposal pada Anya.


"Baik tuan." Anya pun mengambilnya dan mulai membacanya.


Dia mempelajarinya dengan cermat, dan begitu kagum dengan visi dan misi dari kerja sama tersebut.

__ADS_1


Mengumpulkan berbagai jenis sampah dari berbagai negara yang berbeda-beda pula.


***


__ADS_2