
Denyut nadinya melemah. Bagas semakin panik dibuatnya. Entah merasa bersalah, ataukah Bagas yang mulai mencintainya.
***
"Gas ayo bawa ke rumah sakit!" Ajak Vian yang sudah menyiapkan mobilnya.
Bagas membopongnya. Dan ikut masuk, mereka bahkan tidak punya waktu untuk menganti pakaian. Baik Anya ataupun Bagas. Meskipun basah kuyup dan tembus pandang.
"Lu apain lagi si Anya?" Tanya Vian khawatir.
"Gue salah ambil gelas itu, si Cika nuker gelasnya. Dan gue ceroboh, ga sadar. Alhasil, gue yang terkena efek obat perangsang itu!" Jelas Bagas, masih kesal.
"Hadeh! Terus Lo mau perkos* si Anya?" Tanya Vian gamblang.
"He'eh niatnya gitu, tapi si Angel malah loncat ke kolam. Dia milih mati, daripada gue rampas keperawanannya." Jelas Bagas kecewa.
"Wah baek banget tuh si Angel!" Balas Vian santai.
"Jangan ngikutin gue lu, itu panggilan gue ke dia. Cuma gue." Ucap Bagas cemburu.
"Panggilan sayang nih?" Goda Vian.
"Diem lu!"
"Lu bisa cepetan ga si?!" Pinta Bagas khawatir.
"Nih udah nyampe!" Balas Vian.
Bagas bergegas membawa Anya ke dalam, tim medis menyambut kedatangan Bagas. Karena ini adalah rumah sakit pribadi Bagas. Yang dia beli, khusus untuk dirinya dan keluarganya. Namun, tetap membuka untuk umum. Terutama bagi masyarakat yang kurang mampu.
Sebejad-bejadnya Bagas, dia sangat rendah hati dan penyayang. Dia selalu menyembunyikan kebaikannya, termasuk sering bersedekah, ikut acara amal, dan bahkan runtin zakat mal atau zakat harta.
Karena, meskipun dia tidak mengerti banyak tentang agama. Dia tahu, bahwa sebagian hartanya milik orang yang tidak mampu. Yang harus, dia berikan dengan ikhlas.
Seperti pepatah, jika tangan kanan memberi. Tangan kiri tidak perlu tahu. Begitulah ia, memegang prinsipnya, agar selalu sembunyi-sembunyi dalam melakukan kebaikan.
***
Anya segera ditangani, dan digantikan pakaiannya. Dengan pakaian pasien, begitu pun dengan Bagas. Dokter memeriksa keadaannya, karena dia telah melompat dari ketinggian. Yang membuat orang salah paham, apakah dia akan bunuh diri atau uji nyali.
"Saya tahu, pak Bagas pasti syok bukan? Pasalnya ini pengalaman pak Bagas lompat dari lantai 15 ke dalam kolam?" Tanya dokter sopan.
"Iya dok, terlebih ada yang terancam karenanya." Jawab Bagas santai.
"Nyonya Anya sudah baikan kok, dia hanya kehabisan nafas dan syok. Karenanya denyut nadinya melemah. Besok bisa pulang." Jelas dokter santai.
"Baik dok!"
"Gas lu mau ngindep di sini?" Tanya Vian.
"Ya gimana lagi." Jawab Bagas malas.
"Besok aja kita jemput dia?" Saran Vian.
"Gak. Gue yakin dia pasti kabur." Tolak Bagas.
"Hmm lu emang dendam apa demen si?" Tanya Vian, tak yakin.
"Gue jitak ya lu lama-lama!" Ancam Bagas kesal.
"Ampun bos!" Ucap Vian, merapatkan kedua tangannya memohon ampun.
"Ah iya, si Cika gimana ceritanya?" Tanya Bagas mengalihkan.
__ADS_1
"Aman bos!" Jawab Vian santai.
"Ceritain kronologis nya!" Pinta Bagas dingin.
Flash on*
"Saya sebagai asisten pribadi pak Bagas, tidak terima dengan perbuatan anda!" Ucap Vian tegas.
"Maksud pak Vian apa?" Tanya Cika, pura-pura bodoh.
"Jangan berlagak gak tahu apa-apa!" Ucap Vian geram.
"Kamu yang sudah menjadi mata-matanya nyonya Rara bukan?" Tanya Vian lagi.
"Tid-tidak pak!" Jawab Cika gugup.
"Lalu kenapa kamu gugup?" Tanya Vian, memancing Cika.
"Emmm... Saya, saya tidak gugup." Jawab Cika kembali gugup.
"Saya sudah memiliki semua buktinya!" Ucap Vian memberikan Vidio Cika yang sedang memergoki Bagas dan Anya. Juga bukti rekaman orang-orang yang termakan dengan gosip murahannya.
"Kalo saja mereka tidak mengakui, mereka akan dipecat dan dihukum." Jelas Vian setelah memberikan semua buktinya.
"Pak tangkap dia! Yang sudah menjadi penguntit dan pencemaran nama baik. Hukum seadil-adilnya!" Ucap Vian, pada beberapa polisi yang dia bawa untuk menangkap Cika.
"Baik pak!" Jawab semua polisi serempak.
3 orang polisi pun menangkap Cika. Dengan 1 komandan yang memimpinnya.
Flash off*
"Wah lu keren juga ya!" Puji Bagas bangga.
"Iya dong! Siapa dulu?" Jawab Vian, membanggakan diri.
"Kalo aja lu telat, entah pas tadi ke kamar gue buat nangkep si Cika. Ataupun tadi pas lu bawa mobil. Gue udah gorok lu!" Ucap Bagas kejam.
"Gak dong bos, gue kan cekatan." Balas Vian PD
***
Matahari pagi sudah menyinari sepasang mata, yang terlelap tertidur semalaman.
"Huahhh... Aku dimana ini?" Ucapnya mengucek-ngucek matanya.
"Sudah bangun?" Tanya Bagas yang membawa 2 nampan makanan. Dan obat.
"Tuan?" Tanya Anya membelalakkan matanya.
"Ayo kita sarapan!" Ajak Bagas santai.
Anya mengingat-ingat apa yang telah terjadi semalam.
"Mengapa tuan menyelamatkan saya? Saya sudah melanggar perintah dan pelaturan yang tuan beri." Tanya Anya, setelah mengingat semuanya.
"Karena hukuman yang kamu dapatkan, belum setimpal." Ucapnya dingin.
"Tuan, sampai kapan saya menjadi budak seperti ini?" Tanya Anya, mulai lelah.
"Sampai saya puas." Jawab Bagas dingin.
"Kapan tuan akan puas, saya sudah lelah menjadi tawanan tuan. Seperti seekor burung yang tidak bisa lepas dari sangkarnya." Tanya Anya.
__ADS_1
"Tentu saja tidak terbatas, kapanpun saya bosan. Saya mungkin akan membuang kamu, atau membunuh kamu. Agar tidak ada yang berani menyentuh apapun yang pernah saya miliki." Ucapnya berbisik.
Anya hanya bergidik ngeri, dan terdiam tak menjawab lagi.
"MAKAN!" Teriak Bagas, menyadarkan Anya.
"Saya belum lapar tuan." Balas Anya, yang sedikit terkejut.
"Kamu harus makan, kamu harus mempunyai tenaga untuk memuaskan saya, melayani saya, dan mengikuti saya kemana pun saya pergi!" Jelas Bagas kejam.
Anya pun memakan sedikit nasi dan sup ayam yang disajikan rumah sakit. Mendengar penuturan Bagas membuatnya tak nafsu makan.
"HABISKAN!" Teriak Bagas.
"Saya benar-benar kenyang tuan!" Jawab Anya lemah.
"Aaaa...!" Ucap Bagas meminta Anya membuka mulutnya.
Anya harus menghabiskan makanan yang Bagas beri, meskipun Anya tidak menghabiskan makanannya sendiri. Bagas sedikit mencicipinya.
Bagas begitu, karena sudah lelah dengan Anya yang membuat ulah. Dia tidak ingin bawahannya malas-malasan dan tidak bertenaga saat bekerja untuknya.
Meskipun Anya sangat kenyang, dia terus menelan makanan yang Bagas sodorkan. Tiba-tiba perutnya bereaksi, mual yang dia rasakan tidak bisa ditahan. Anya cepat-cepat mengambil selang infusnya dan berlari ke kamar mandi.
Bagas yang terkejut, mengikuti Anya dari belakang. "Angel! Kamu kenapa?" Tanya Bagas panik.
"Huekkk... Huuuekkk..."
Anya memuntahkannya semua isi perutnya. Tanpa tersisa. Bagas membantunya memijit-mijit tekuk lehernya.
Setelah mengeluarkan semua isi perutnya, Anya merasa lemas. Dan kepalanya berat, melihat pandangan kabur, dan gelap. Suara yang dia dengar, tiba-tiba menghilang. Dan....
"Bruuuuuuukkkkk..."
Anya terjatuh dipelukan Bagas, Bagas yang selalu sigap di dekatnya. Menangkap tubuh Anya.
"Aghhh.. kenapa pingsan lagi si!" Ucap Bagas menangkap tubuhnya, malas.
Setelah diperiksa. Anya tidak mengalami penyakit serius, hal ini biasa terjadi ketika asam lambung naik.
"Tidak perlu khawatir. Setelah siuman, nyonya Anya bisa pulang." Jelas dokter santai.
"Baik dok. Saya pikir dia sedang mengandung." Balas Bagas datar.
"Hmm.." Dokter tersenyum penuh arti. "Mual, muntah, pingsan, dan ciri-ciri ngidam lainnya kerap terjadi pada siapa saja. Yang bahkan, tidak hamil sekali pun."
"Bisa terjadi kepada orang yang sakit, seperti asam lambung, atau efek samping dari kemoterapi. Bahkan, wanita yang menstruasi pun kerap mengalami hal serupa. Bukankah pria juga pernah mengalaminya?" Tanya dokter Kevin.
Bagas hanya tertawa kecil, karena malu.
Lalu, Bagas menelpon Vian, agar menjemputnya.
Vian yang sedang sibuk dengan pekerjaan kantor, memerintahkan supir untuk menjemputnya.
***
Visualš„
Calvinš
__ADS_1