
Kepala ku di penuhi bermacam macam pertanyaan saat ini. Apa yang terjadi? Bagaimana semua ini bisa terjadi? Kemana ayah ibu? Kemana Eva? Kenapa mereka semua bisa hilang atau menghilang? dan masih banyak pertanyaan lagi yang tak bisa ku ungkapkan
Aku sungguh terkejut, sangat terkejut.
Sejenak aku duduk di teras rumah ku, menyandarkan kepala ke tiang rumah. Aku mulai berpikir, "bagaimana caranya aku bisa kembali?" gumam ku.
Aku terus duduk dan memikirkan hal mengejutkan ini,
"Apa tahun di ponselku salah setel yaa?" ku cek lagi ponselku.
Ternyata memang masih tahun 1998.
"Aku harus minta tolong sama siapa? Saat ini apa ada orang yang mengenalku? Aku saja lahir di akhir tahun 2003." Aku terus berpikir, aku tidak mungkin berdiam diri saja, aku mau kembali ke tahun 2020.
Ku putuskan masuk ke rumah dulu. Aku akan mandi, karena badanku sudah agak bau. Dalam perjalanan ke kamar mandi, aku diam saja. Hening. Tak ada siapa pun di rumah ini yang dapat ku ajak bicara.
"Kalau sepi gini, rumah ku kok jadi kaya serem yaa" batinku. Aku terus ke kamar mandi dan mandi membersihkan badan.
Setelah mandi aku memoles wajahku dengan make up tipis. Kemudian aku memakai rok putih bergambar bunga bunga kecil warna pink yang panjangnya selutut dan baju kaos merah muda.
Aku pun keluar dari kamar.
"Kaya nya lebih baik aku makan dulu deh, udah lapar juga." kata ku sambil berjalan menuju dapur. Sampai di dapur aku membuka lemari. "Huh untung saja masih ada mie sedap." :-D
Aku sangat suka mie sedap. Lalu aku memasak mie dan menggoreng telor.
__ADS_1
"Untung saja makanan di dapur juga tidak ikut hilang. Kalau hilang ****** aku, mau makan apa coba?" haha sempat sempat nya ketawa pas lagi situasi kya gini. :-D
Setelah menghabiskan satu bungkus mie. Aku mengambil ponselku, aku berniat menelpon Sarah dan Dewi, kali aja mereka juga terjebak sama seperti aku. Pertama, aku menelpon Sarah.
Tidak ada bunyi tut tut tut atau pun suara operator yang menjawab.
"Apa Sarah juga hilang?"
"Coba ku telpon Dewi." Ternyata sama saja tak ada bunyi tut tut tut dan jawaban apa pun dari operator. "Aduh gimana nih..."
Aku terus berusaha menelpon orang orang terdekat ku, aku menelpon mama, papa, tapi hasil nya nihil.
Terakhir, ku coba menelpon Eva, adikku.
"Tut tut tut...."
"Apa yang terjadi sama kamu Va.."
Jujur saja aku hawatir terjadi sesuatu yang tidak baik pada Eva. Aku cemas memikirkan adikku, juga kedua orang tuaku. Aku terus mencoba menelpon Eva, karena hanya nomer hp nya yang bisa ku hubungi saat ini.
Aku mondar mandir di lantai bawah. Kemudian aku naik ke lantai atas,
"Aku mau keluar saja siapa tau di luar aku bisa mencari bantuan, paling tidak aku bisa menemukan seseorang dan bertanya, atau pun bercerita tentang kejadian mengejutkan pagi ini." Sambil terus memencet nomer ponsel Eva.
Tiba tiba aku mendenger dering ponsel.
__ADS_1
"Kaya suara hp, tapi punya siapa yaa?" Aku terus mencari sumber suara itu.
"Kok kaya nya dari kamar Eva, apa Eva ada di kamar yaa? Tapi kalau dia di kamar pasti udah keluar juga dari tadi." Gumam ku.
Aku membuka kamar Eva, "Va kamu ada di sini?" Aku mengedarkan pandanganku, kosong. Tak ada siapa pun di sini. Tapi aku menemukan ponsel Eva di kamarnya.
Aku mengambil ponsel nya, ku buka dan aku mau mengecek tahun di ponsel Eva. Kali aja aku di kerjain se isi rumah. Tapi ini bukan hari ulang tahunku sih. "15 Januari 1998." Sama saja dengan tanggal dan tahun di ponselku.
Aku ke kamarku mengambil sweeter dan tas kecil. "Aku harus keluar."
Ku masukkan ponsel ku dan punya Eva di tas, juga dompet dan sejumlah uangku. Aku tidak yakin sih uang ini akan berguna, mengingat ini masa lalu apakah uang ini bisa di gunakan buat transaksi nanti.
"Sudahlah bawa saja." Gumam ku.
-------------
Aku Sudah berada di luar rumahku, aku tak memakai motor, kuputuskan jalan kaki saja agar lebih mudah mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Ku lihat rumahku, dan ku mantapkan hati ku untuk mencari adik dan orang tuaku.
"Tunggu aku rumah, aku akan membawa orang tua ku dan adikku lagi ke sini."
Aku terus berjalan, menyusuri jalan sekitar rumahku, tak banyak yang berubah, rumah rumah sama saja seperti tahun 2020. Hanya saja ada sebagian rumah yang masih kecil, yang ku tau itu rumah Bu Nuril. Dan rumah yang tetap Besar, rumah Ibu Desi, mereka memang kaya raya dari dulu, katanya, ternya memang benar.
Sekitar 500 meter dari rumahku, aku mendapati sebuah rumah, di sana ada seorang ibu dan bapak yang aku kenal. Mereka duduk di teras sambil berbincang.
Aku berlari mendekati mereka,
__ADS_1
"Pak.... Bu......"