Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 43 - Married


__ADS_3

Mereka semakin dekat, dari hari ke hari. Hubungan mereka terjalin dengan komitmen saling melengkapi segala kekurangan dan selingkuh atau perceraian adalah larangan nomor satu yang harus dipatuhi dan dijaga oleh keduanya.


****


Bagas dan Anya petting baju pengantin. Mereka mencoba beberapa gaun pengantin.


"Tuan, saya punya permintaan."


"Apa?"


"Saya ingin memanggil tuan, dengan sebutan abang. Lagi pula, usia kita kan beda 7 tahun?" Ucap Anya.


"Kenapa harus abang? Kemarin-kemarin kalo bicara ama mamah bilangnya kakak, lah kenapa sekarang mau abang? Gak ayang aja?"


"Karena saya menyukainya." Jawab Anya santai.


"Ya sudah terserah mau kamu aja."


"Mulai sekarang ya, bang." Ucap Anya sambil tersenyum.


"Eheehehe sangat aneh, tapi tidak masalah."


"Bang, kita bakalan ganti 10 kali? Gak capek emang bang?" Tanya Anya syok.


"Ini gak seberapa Angel."


"Tapi, tunangan kan cuma satu gaun." Ucap Anya.


"Itu kan cuman tunangan, yang hadir pun hanya keluarga kita."


"Tapi kan keluarga besar bang, semuanya kumpul."


"Angel, pesta yang kita adakan memang harus mewah. Karena banyak kolega dan rekan bisnis, sahabat saya dan keluarga kita. Teman-teman kamu pun di undang bukan?"


"Iya bang, tapi ini tidak seperti yang saya bayangkan. Ini sepertinya sangat berlebihan dan kelewat megah."


"Angel, Angel. Kamu tahu beres saja, bahkan saya pun tidak turun tangan. Kita hanya memilih gaun dan dekorasi."


"Baiklah, saya tidak bisa berdebat lagi."


***


Acara pernikahan Bagas dan Anya pun berlangsung begitu megah. Ijab Kabul yang Bagas ucapkan begitu lantang tanpa harus mengulang lagi.


Anya dan Bagas sudah sah sebagai pasangan suami istri.


Para tamu undangan pun, mengantri untuk sesi foto bersama. Anya dan Bagas berganti pakaian sampai 10 kali hingga malam.


Akad dimulai jam 08:00, sedangkan resepsi 08:30 pagi, hingga 21:00 malam.


Alunan musik akustik, piano dan biola pun mengiringi acara pernikahan Bagas dan Anya.


Setelah selesai dengan acara yang begitu meriah dan membuat siapapun terharu.


Anya dan Bagas pun menangis saat pelaksanaan sungkeman. Mereka melaksanakan pernikahan dengan adat Sunda asli dan lengkap.


Karena memakai adat Sunda dari mempelai perempuan. Meskipun pernikahan mereka diadakan di villa milik Bagas pribadi.


"Pesta kali ini meskipun bernuansa zaman dulu. Adat Sunda lengkap, ada lengser dan sebagainya tetap saja sangat mewah dan elegan."


"Lihat kolega kamu sampai-sampai terkesima melihat lengser tadi." Ucap Anya yang sedang duduk melihat bagaimana ekspresi semua orang yang datang ke acara pernikahan mereka.


"Tentu saja, ini pertama kalinya mereka melihat acara pernikahan dengan adat Sunda. Sering kali kan kita diundang, acara pernikahannya pasti adat barat." Jawab Bagas.


"Abang kenapa memilih adat Sunda?" Tanya Anya.


"Karena kamu berasal dari suku Sunda." Jawab Bagas.

__ADS_1


"Hanya karena itu?"


"Emm iya, saya ingin melihat sesuatu yang berbeda. Terutama pernikahan kan sekali seumur hidup." Jelas Bagas.


"Eh iya bang, acara pernikahan kita sudah selesai. Sekarang, saya mau ke dalam dulu ya. Mau ganti baju." Ucap Anya.


"Saya ikut."


"Kenapa harus ikut? Nanti saja saya dulu, meskipun sudah menikah saya masih malu."


"Bukankah sudah biasa ya? Kita kan memang sekamar sebelumnya?" Heran Bagas.


"Tapi, kali ini beda."


"Baiklah. Sana!"


"Abang marah?"


"Tidak."


Anya pun meninggalkan Bagas yang sedang cemberut dibuatnya. Anya teringat bingkisan yang dibawa oleh mamahnya Bagas. Belum dia buka, sejak makan siang waktu itu.


"Duh hampir lupa belum dibuka nih, kira-kira mamah bawa apa ya?"


Anya pun membuka Tote bag pemberian dari mamahnya Bagas. Di dalamnya ada kotak yang dibaluti pita. Cantik dan elegan.


"Hah apa ini? Lingerie?" Ucap Anya kaget.


Bagas yang sebenarnya mengikuti Anya dari belakang, melihat Anya memegang lingerie. Dan itu pemberian dari mamahnya.


"Mamah pengertian juga yah." Ucap Bagas terkekeh senang.


"Hah!" Anya kaget dan menyembunyikan lingerienya. "Abang sejak kapan ada di sana?"


"Sejak tadi, sebaiknya malam ini kamu pake. Gak baik kan barang pemberian kalo gak dipake? Terlebih itu dari mamah." Ucap Bagas nakal.


Dia tentu saja sangat senang dan menyukai Anya menggunakan pakaian seksi, seperti lingerie seksi yang diberikan oleh mamahnya.


"Kamu berarti tidak menghargai pemberian mamah, dan menolak kemauan suami." Ucap Bagas kecewa.


"Ihh ya ampun bang, ini kan seksi banget sangat transparan pula. Seperti tak pakai baju saja."


"Kamu lupa, ini malam pertama kita?"


"Emmm bang, ngapain ngebahas itu?"


"Ya tentu harus kita bahas, kita sudah sah menjadi suami istri. Dan kamu wajib melayani saya lahir maupun batin." Jelas Bagas.


"Iya abang. Saya paham, tapi saya masih belum siap."


"Tidak ada penolakan. Siapkan malam ini juga baby.." Ucap Bagas nakal.


Anya bergidik ngeri. "Ih abang geli tahu. Ngomongnya pake baby baby segala lagi."


Bagas hanya tersenyum smrik.


"Abang mau kemana dan ngapain?" Tanya Anya yang melihat Bagas mendekati Anya.


"Kita mandi bersama sayang." Ucap Bagas menggendong Anya.


"Ih abang lepasin. Nggak mau, saya malu bang." Anya terus memberontak.


Namun tenaga Bagas lebih kuat darinya. Dan akhirnya dia hanya bisa pasrah.


***


Bagas menyalakan shower dan mengisi air di dalam bathtub.

__ADS_1


Dia memasukan Anya ke dalam bathtub yang sudah berbusa dan ditaburi kelopak bunga mawar. Di kelilingi lilin aromaterapi.


Bagas sudah menyiapkannya, karena dia ingin malam pertamanya berkesan. Bagi kedua pasangan yang masih perawan dan perjaka ini.


"Saya bisa naik sendiri." Tolak Anya yang melihat Bagas akan menggendongnya.


"No. Harus digendong baby, biar so sweet." Ucap Bagas gercep menggendong Anya dan memasukan ke dalam bathtub.


"Bang, saya masih pakai baju ini." Rengek Anya.


"Nanti saya bantu lepaskan, selama pertempuran." Ucap Bagas tak sabaran.


"Pertempuran?" Batin Anya.


Setelah Anya dimasukkan ke dalam bathtub oleh Bagas, kini Bagas pun naik dan masuk ke dalamnya.


Mereka berada di dalam bathtub yang sama. Bagas mulai meraba Anya, dari belakang.


"Bang geli. Kenapa kita harus mandi bersama? Di dalam bathtub yang sama pula?"


"Kita sudah halal sayang. Masa gak boleh sih mandi bareng di malam pertama?"


"Tapi, saya masih malu bang."


"Tak usah malu-malu lah. Nanti juga setiap malam terbiasa seperti ini."


"Setiap malam? Maksud abang, kita mandi bersama setiap hari?" Tanya Anya ngeri.


"Kita bisa bertempur di atas ranjang, di atas meja dan dimanapun juga setiap hari."


"Bahkan kita bisa mandi bersama setiap hari. Agar kita tetap romantis sayang. Masa kamu gak paham sih Angel." Jelas Bagas.


"Emm terus kalo saya sedang menstruasi?" Tanya Anya yang tiba-tiba kepikiran tentang menstruasi.


"Emm dengan berat hati, ya harus libur dulu. Mandi bareng dan bertempurnya. Tapi... Masih bisa kissing and minum susu." Goda Bagas.


"Bener-bener ya, kamu sangat mesum."


"Bukan mesum sayang. Tapi itu sebuah kebutuhan untuk saya dan kewajiban untuk kamu." Jelas Bagas.


Anya hanya bisa memutar bola matanya jengah.


Bagas mulai membuka baju Anya, satu persatu. Anya yang awalnya menolak, kini hanya bisa pasrah menerima.


Bagas terus menuntut hasratnya tersalurkan. Meskipun Bagas baru pertama kali, dia handal dalam hal ini.


Berbeda dengan Anya yang tak tahu menahu, dan masih sangat polos hanya bisa menerima serangan dari Bagas tanpa membalasnya.


Setelah bergulat di kamar mandi, mereka melanjutkan di atas ranjang. Pindah ke atas kursi dan atas meja rias.


Mereka terus bergulat mengelilingi kamar tidur yang sangat besar dan luas.


Hingga waktu menunjukkan pukul 02:00 malam. Mereka sangat lelah, dan memutuskan untuk tidur.


Sudah 5 jam dari sejak selesai acara, mereka mandi bersama dan lanjut tempur di atas ranjang.


"Lanjut besok ya sayang." Bisik Bagas di telinganya Anya.


"Hah? Besok? Saya tak yakin bisa berdiri apalagi berjalan esok pagi." Jawab Anya lemas.


Bagas tersenyum smrik.


***


Visual akad💐💐💐


__ADS_1




__ADS_2