Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 65 - Nostalgia


__ADS_3

"Iya nya. Nyonya juga yang betah ya memperkerjakan saya."


"Semoga ya Rati."


***


Setelah selesai pesta peresmian tersebut. Bagas mengajak Anya dan anak-anak jalan-jalan.


"Sayang, yok kita jalan-jalan sambil jajan kamu pasti suka. Pemandangan kota di malam hari kan favorit kamu juga, selain pantai." Ajak dan jelas Bagas.


"Iya sayang."


Merekapun jalan-jalan malam, di pinggir jalan. Mereka melewati jembatan. M² bersama dengan Bagas, Richaell di dorong di roda bayi oleh Anya. Sedangkan Rachell di gendong Rati.


"Sayang, tumben Vian gak ikut?" Tanya Anya.


"Dia katanya nunggu di depan sana. Dia makan bakso di sana." Jelas Bagas.


"Loh kok makan bakso gak ngajak kita?" Tanya Anya heran.


"Gak tahu. Dia kek ngidam bakso, di pesta tadi aja nyari-nyari bakso. Alhasil dia pake mobil ke sana, gak mau jalan sama kita. Katanya kalo udah makan bakso dia ikut jalan-jalannya." Jelas Bagas.


"Wah bisa gitu ya Vian." Kagum Anya.


"Dia itu serba bisa, satu yang dia tak bisa."


"Apa?"


"Dapetin cewek haha..." Jawab Bagas tertawa puas.


"Jangan gitu, kali aja dia punya pacar. Ya cuman kamu gak tahu."


"Awas aja kalo bener. Gue geprek tuh si Vian."


"Kok gitu? Harusnya kamu seneng dong? Kan kamu yang sering nyuruh dia cari pacar?" Tanya Anya.


"Iya. Tapi, ya harus laporan dong sama saya."


"Kenapa harus?"


"Pertama saya itu kan sahabatnya dari lama. Kedua, saya juga bosnya. Yang perlu tahu urusan pribadinya, siapa tahu ngeganggu pekerjaan." Jelas Bagas.


"Kamu ini ya. Setahu Anya sih, bos tuh cuman mesti tahu urusan pekerjaan aja. Urusan pribadi itu, ya private dong." Timbal Anya.


"Mulai nih ngebela Vian!"


"Mulai posesif?! Vian itu sahabat kamu, rekan kerja kamu! Anya kan istri kamu, berarti Anya berhak dong belain atau khawatir sama Vian?"


"Ya enggak dong."


"Nyonya , tuan. Udah sampe." Ucap Rati melihat Vian yang sedang duduk di bangku tukang bakso.


Rati sangat tak nyaman, berada ditengah-tengah keributan sang majikan. Sangat canggung dan mencekam.


***


Setelah merasa puas, mereka pun kembali ke hotel.


Lusanya Bagas dan semua pulang. Karena sudah selesai tugas di Medan.


Dan hanya liburan sehari, karena Bagas harus meeting dan bertemu dengan client penting di Jakarta.


Sesampainya di rumah.

__ADS_1


"Sayang, kamu asyik banget. Lihat apa sih?"


"Ini loh, foto-foto Anya pas ulang tahun ke 20 tahun. Waktu itu kan, Anya baru kenal sama abang. Tapi, abang udah rayain ulang tahun Anya kayak anak SMA ABG 17 tahunan." Jelas Anya sambil mengingat momen tersebut.


"Oh itu sayang?"


POV*


Ulang tahun Anya ke 20 tahun.


"Anya sudah datang?" Tanya Bagas pada Vian.


Vian mengangguk. "Dia ada di depan pintu!"


Lampu yang padam, membuat Anya heran. "Masa di rumah konglomerat mati lampu sih?" Batin Anya.


"Duarrrrr...."


Balon besar yang dipecahkan dan beberapa balon stick metalik pun berhampuran ke udara. Tepat di atas tubuh Anya.


Anya hanya terkisama, ketika lampu dinyalakan. Hiasan dinding dan ruangan memenuhi rumah Bagas.



Anya pun dirangkul bahunya oleh Bagas, dan diajak ke area utama. Yaitu, kolam renang dekat taman.


Cahaya rembulan dan kemerlip bintang, terpantul membiasi kolam renang yang dihiasi oleh kelopak bunga dan balon.




Anya tersenyum bahagia, dan berkaca-kaca haru. Melihat pemandangan dan momen yang pertama kali ia rasakan.


"Tuan?"


"Terima kasih tuan, saya sangat menerima dan menyukainya."


Anya hanya heran, mengapa Bagas melakukan hal demikian. Pasalnya, yang ia rasakan hanyalah sebuah siksaan pembalasan dendamnya.


***


Ternyata Bagas tidak sendiri. Teman-teman Anya dari Subang, dan keluarganya diundang oleh Bagas.


Bukan hanya keluarga kecil Anya, tapi ini keluarga besar. Sampai paman, sepupu, keponakan dan semuanya berkumpul.


Anya semakin takjub dibuatnya. "Okei kita mulai pestanya ya!" Ucap sang MC yang muncul di belakang panggung.


Diikuti oleh beberapa teman-teman Anya dari SD, SMP sampai SMK. Dan juga semua keluarga besarnya Anya.


Beberapa memberikan ucapan dan kado ulang tahun untuk Anya. Memeluk Anya dan memberi selamat padanya.


Beberapa menikmati pesta tersebut dan memakan hidangan, bergantian karena tidak mungkin jika harus secara bersamaan semua, bercengkrama dan berpelukan dengan Anya.


Rangkaian acara demi acara pun sudah dimulai sejak tadi. Hingga tiba saatnya Anya memberikan suapan pertama kuenya.


Kue yang super besar. Membuat siapapun takjub.



"Saya berikan pada kedua orang tua saya. Bunda dan ayah!"


"Yang kedua ini untuk siapa, nona Anya?" Tanya MC.

__ADS_1


"Untuk seseorang yang menyiapkan semua ini. Tuan Bagas!"


Bagas pun naik ke panggung. Dan menerimanya, sangat romantis dan terlihat seperti kekasih. Bukan pembalas dendam dan pembuat onar.


Setelah penutupan do'a. Yang lainnya pulang dan beberapa, masih menikmati pesta.


"Tuan, bagaimana dengan teman-teman dan keluarga Anya yang jauh?" Tanya Anya setelah duduk berdua di meja utama dengan Bagas.


"Saya sudah menyiapkan vila besar untuk mereka. Jadi, mereka bisa pulang besok."


"Mereka tuan yang jemput dan antar kembali ke kampung?"


"Lebih tepatnya, supir-supir saya yang antar jemput."


"Terima kasih tuan, atas semuanya. Saya sangat bahagia, mungkin ini adalah ulang tahun terbahagia saya."


Bagas tersenyum lembut.


"Sama-sama. Ini hanyalah kejutan utama, setelahnya maka kita akan sering bertempur. Seperti di medan perang!" Jawab Bagas tersenyum smrik.


Anya bergidik ngeri.


Setelah semua keluarga dan teman-teman Anya pulang. Bagas dan Anya dinner romantis, Bagas pun memberikan kotak besar pada Anya.


Mereka menikmati cake kecil. Dan makan bersama, Vian asal foto.



Setelah selesai acarapun, Anya sesi foto di beberapa sudut hiasan. Di dalam rumah, maupun di kolam.


Keesokkan harinya.


Anya membuka semua kado. Dan merapihkannya di ruangan khusus yang dibuatkan untuk semua barang-barang Anya.


***


Flash off*


"Rati? Sedang apa kamu di sini?" Tanya Vian memergoki Rati yang mengintip dan mengendap-endap di balik tembok.


"Eh pak Vian. Saya... Sa... Ya sedang mencari alat untuk membersihkan kamar." Jawab Rati gugup.


"Denger ya! Gue udah tahu kok, apa muslihat lo!"


"Mak-maksudnya pak?"


"Gue gak bisa bicara sopan dan formal lagi. Lo udah usik hidup Bagas dan Anya!"


"Ma-maaf pak, saya permisi!"


"Heh! Gak sopan banget sih, orang lagi ngomong maen pergi aja!"


"Maaf pak, saya banyak kerjaan."


"Pokoknya awas aja, lu usik rumah tangga mereka!"


Rati hanya pergi tanpa kata.


***


Visual hiasan ulang tahun Anya.


__ADS_1


Kado dari Bagas.



__ADS_2