Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 27 - Gazebo


__ADS_3

"Saya sangat ingin mencobanya. Tetapi, sekarang tidak bertenaga." Jawab Anya melemas.


"Hmm besok saja."


***


"Ini bagian depan rumah. Ada ayunan, taman bunga, rumah pohon, dan gazebo ini desain dari Bali." Ucap Bagas duduk di gazebo tersebut.




"Ah sangat indah dan nyaman. Tapi saya baru melihatnya. Saya sangat menyukai desain rumah tuan di lantai 1 ini." Ucap Anya.


"Karena biasanya kita melewati jalan yang belakang atau samping. Saya sedikit menyembunyikan bagian depan ini."


"Semua yang pernah ke rumah saya hanya dari arah samping kolam saja. Karena saya menutup gerbang lainnya." Jelas Bagas.


"Kenapa?"


"Saya ingin ada rahasia. Dan hanya kamu yang tahu gerbang belakang, dan sekarang gerbang depan. Saya memiliki 4 gerbang. Gerbang utama ada di depan."


"Tetapi, hanya saya yang tahu. Bahkan, supir dan para pekerja pun tidak ada yang tahu gerbang utama ini. Selain saya rahasiakan, gerbang ini didesain untuk tersembunyi." Jelas Bagas.


"Saya selalu suka, dengan jalan pikiran tuan." Ucap Anya tersenyum.


"Hmm. Baiklah hari ini hanya lantai 1, besok dan seterusnya saya akan mengajak kamu keliling hingga lantai 10 dan bahkan di atas gedung ini."


"Yang pastinya, kamu belum mengunjunginya." Jelas Bagas tersenyum.


"Baiklah tuan, saya akan sabar menanti."


***


"Tuan, capek sekali ya mengelilingi rumah tuan." Ucap Anya yang sedang duduk di balkon kamar Bagas.


"Belum semua kok." Jawab Bagas tersenyum.


"Wah gila. Ini mah istana namanya, bukan rumah." Jawab Anya.


"Hmm. Kamu ini berlebihan." Ucap Bagas tersenyum heran.


"Rumah saya saja, hanya sebesar kamar ini tuan." Jawab Anya tak habis pikir.


"Saya tetap ingin mengunjunginya, rumah bunda dan ayah kamu." Ucapnya tersenyum.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Lagi pula, rumah ayah dan bunda pisah." Jelas Anya.


"Saya tahu. Dan itu bukanlah masalah Angel!" Ucap Bagas mengusap kepala Anya.


"Baiklah, tetapi jika hubungan kita bukan karena balas dendam ataupun sandiwara. Saya belum pernah membawa pria manapun ke rumah bunda, apalagi rumah ayah."


"Jadi, saya harap ketika itu tiba. Saya membawa kekasih real saya, bukan sandiwara." Jelas Anya.


"Hmm baiklah. Kita lihat, siapa yang akan memenangkan permainan cinta ini!" Tantang Bagas.

__ADS_1


"Saya harap. Cinta sejati lah yang akan memenangkannya." Jawab Anya.


Mereka pun memutuskan tidur dan mematikan lampu kamar. Tetapi, menyalakan lampu di pinggir ranjang di atas nakas. Lampu kecil yang temaram.


***


Keesokan paginya*


Semua keluarga Anya sarapan di lantai satu. Sedangkan Anya dan Bagas masih belum turun, dari kamarnya.


Keluarga Anya tidak mengetahui, bahwa Anya dan Bagas tidur di kamar yang sama sebelum menikah.


Mereka juga tidak mengetahui kontrak Anya dan Bagas. Mereka hanya mengetahui Bagas dan Anya belum mencintai.


Tetapi, sudah sangat dekat. Karena, mereka berpikir Anya bekerja sebagai sekertaris pribadi Bagas.


"Tuan!" Ucap Anya terkejut.


"Hmm?" Bagas enggan bangun.


"Sudah pukul 08:00 pagi." Ucap Anya.


"Terus?"


"Keluarga saya belum pulang." Ucap Anya.


Bagas terkejut dan beranjak. "Kenapa gak bilang dari tadi!" Ucap Bagas berlari ke arah kamar mandi.


Segera mandi dan berganti pakaian.


***


"Arrrgghh.. kebiasaan deh, ni perut gak bisa kerja sama." Ringgis Anya kesakitan.


Bagas menyisir rambut dan memperhatikan Anya yang tak diam. Anya mendudukkan dirinya dan melipat kedua kakinya , memeluknya erat.


Anya mengubah posisinya, mengangkat kedua kakinya ke atas dan disandarkan ke ranjang.


Anya mengubah lagi posisinya. Duduk dengan melipat kedua kakinya ke belakang, dan meremas perutnya.


"Angel!" Panggil Bagas, tak tahan.


"Hmm?"


"Ngapain?" Tanya Bagas mendekati Anya.


"Sakit." Ringisnya.


Bagas mendekati Angel. "Gak panas." Ucapnya memegang kening Anya.


"Sakit perut."


"Mau ke rumah sakit?" Tanya Bagas.


"Ini sakit pms, tuan. Tuan tidak akan paham." Ucap Anya.


"Hmm. Kata siapa?" Tantang Bagas.


Bagas membuka internet dan menanyakan beberapa pertanyaan.

__ADS_1


"Mau pakai obat atau jamu, atau minuman pereda nyeri haid?" Tanya Bagas.


"Tidak pernah memakai yang seperti itu." Ucap Anya.


"Kalo begitu, ikuti gerakan saya. Konon katanya akan mereda, karena posisi rahimnya yang baik. Ketika sedang mengalami nyeri haid." Jelas Bagas.


Bagas mempraktekkan beberapa gerakan, yang pernah ia pelajari saat kuliah di S1. Tak disangka pelajaran menyebalkan itu, bermanfaat kini.


"Gimana mendingan?" Tanya Bagas.


"Iya tuan. Kok tuan jago sii?"


"Hmm, saya selalu jago dalam hal apapun." Jawab Bagas tersenyum bangga.


"Aduh.. tapi masih ada rasa mules, mual dan sakit semuanya." Ringis Anya.


"Mual?"


"Iya saya kalo pms mual, pusing, gak nafsu makan, sakit perut dan sakit payu*ra. Sakit semua pokoknya.


Udah kek orang hamil, melahirkan, atau bahkan keguguran." Jelas Anya meremas perutnya.


"Em baiklah. Pantas saja sering sensi ya, yang pms. Saya kompres pake air hangat ya."


Bagas pun membuka baju Anya setengah. Dan mengkompres perut Anya bagian bawah.


Nalurinya masih berfungsi, melihat perut mulus Anya, membangunkan sesuatu yang sedari tadi tidur.


"Tuan!" Ucap Anya lemas.


"Hmm?" Jawab Bagas tersadar.


"Turun dan temui keluarga saya, mereka akan pulang. Dan katakan saya tidak bisa turun, karena tidak enak badan. Saya mohon ya tuan, maafkan saya sudah merepotkan." Pinta Anya menggenggam tangan Bagas.


"Ah baiklah. Tidak masalah." Jawab Bagas yang menahan sesuatu.


"Dia cuman megang tangan gue, kenapa reaksi lu begitu jir? Kerja sama dikit ngapa?" Batin Bagas.


***


Bagas turun ke bawah dengan menggunakan setelan yang simpel. Tetapi, tetap tampan dan maskulin.



"Anya gak bisa gabung. Dia sedang sakit, jadi saya yang akan mengantar kalian ke bandara." Ucap Bagas setelah duduk dan menyapa semuanya.


"Bandara? Kita pakai mobil saja nak." Ucap Ririn.


"Tidak apa-apa Bun, pakai pesawat pribadi kok. Jadi kalian juga akan nyaman, dan pulang dengan cepat. Subang kan jauh , bisa sampai 4 jam. Pake pesawat gak nyampe 1 jam kok." Jelas Bagas.


"Nak Bagas mempunyai pesawat pribadi?" Tanya Ririn tak percaya.


"Bagas saja Bun, hmm.. bisa jadi hehe." Jawab Bagas malu.


"Baiklah kami tidak akan menolak. Tetapi, bolehkan kami atau saya melihat Anya ke kamarnya?" Tanya Ririn.


"Em tentu saja. Semuanya boleh kok, mari saya antar." Ajak Bagas setelah menghabiskan sarapannya.


"Bunda? Ayah?" Tanya Anya setelah mendengar pintu dibuka.

__ADS_1


***


__ADS_2