
Anya terkena serpihan kaca, hampir saja mengenai matanya. Untungnya dia menutup matanya, alhasil kelopak matanya berdarah. Dan dibeberapa bagian tangannya terluka.
***
Hening...
"Tidak pernah ada wanita yang bisa menolaknya. Entah itu karena uang, atau karena terpikat padanya." Lanjut Bagas kehabisan tenaga, dan melemahkan suaranya.
"Saya sudah pastikan kamu pun sama!" Ucap Bagas lagi.
"Saya bukan wanita seperti itu tuan!" Ucap Anya tak terima.
"Kamu dengar, saya tidak masalah. Kamu bercinta dengan lelaki manapun, tetapi tidak untuk saat ini. Saat kamu masih menjadi barang saya!" Ucapnya kejam.
Bagas melihat darah mengalir di kelopak matanya Anya, dia baru menyadarinya dan sangat syok. Banyak pecahan kaca yang masih menempel di tubuh Anya.
"Angel!" Ucapnya menunduk, mendekati Anya yang terduduk lemas. Karena Bagas melemparnya tadi.
Bagas menyentuh pipi Anya. Ada beberapa goresan kecil di sana.
"Aishhh.. tuan saya tidak apa-apa." Ucapnya dingin dan memalingkan wajahnya.
Anya sangat takut dengan kemarahan Bagas, yang meledak-ledak seperti sekarang ini.
Bagas mengambil kotak P3K. Dia memegang kedua tangan Anya agar duduk di tepi ranjangnya.
"ANGEL! Hati-hati kau bisa menginjaknya." Ucapnya khawatir.
"Tuan saya baik-baik saja, sebaiknya tuan segera tidur. Saya tahu besok tuan harus bekerja!" Jawab Anya kecewa dengan sikap Bagas.
Bagas tidak menggubris, dan membuka kotak P3K. Lalu mengobati Anya perlahan. Anya tidak ingin mengeluarkan suara. Dia hanya meremas sprei jika sakit.
"Jika sakit. Jangan tahan, keluarkan suaramu tidak apa-apa!" Ucapnya lembut.
"Aishh.. tuan sudah." Tolak Anya dingin.
"Tunggu, satu lagi. Tutup matamu!"
Anya malah melotot pada Bagas.
"Tutup! Bukan melotot!" Ucapnya tegas.
Anya pun perlahan menutup matanya. Bagas mengobatinya dengan telaten, dia menyadari jika dia sudah kelewatan kali ini.
Setelah Bagas menyimpan kotak P3K, dia mengajak Anya pindah kamar. Anya yang berniat menolak kini hanya bisa pasrah.
Mereka tertidur saling membelakangi sambil memeluk guling masing-masing.
"Sebenarnya gue mau balas dendam dan menghukumnya. Atau gue mempertahankan dia, hanya karena gue udah mulai mencintainya?" Batin Bagas bermonolog.
"Aku nurutin perintahnya karena takut. Atau karena kontrak, kenapa dia berkepribadian ganda sih? Kadang lembut, kadang kasar. Kadang cuek, kadang perhatian." Batin Anya bermonolog.
Dan akhirnya merekapun tertidur pulas.
***
Malam yang sunyi, senyap dan gelap. Selalu membuat Anya merasa lebih baik dan tenang.
__ADS_1
"Saya suka kebersamaan, tapi saya tidak suka keramaian." Anya.
Pasalnya siang, lebih ramai daripada malam. Bising dan mengusik hati yang damai. Membuat Anya lebih menyukai malam yang sepi.
Malam hari, sangat nyaman untuk bisa menyenangkan diri sendiri. Menyendiri dan mencurahkan isi hati sendiri. Menikmati waktu sendiri, dikala waktu luang.
Menyenangkan diri sendiri, meskipun bekerja sendirian di malam hari. Lebih nyaman, daripada di kantor dengan ramainya karyawan, dan sekertaris ataupun asisten pribadi yang bulak-balik meminta tanda tangan persetujuan darinya.
"Saya suka kesendirian, tapi saya tidak suka kesepian." Bagas.
Dia memang sering meluangkan waktu sendiri di kala malam, meskipun terkadang sesekali di waktu siang.
Namun, melihatnya kesepian tanpa seorang wanita atau pasangan. Yang membuatnya menjadi seperti seorang raja sungguhan. Dan membuat hidupnya menjadi manis.
Membuat Bagas, menyesali masa-masa mudanya yang seharusnya dia lebih nikmati. Pasalnya, hingga saat ini belum ada wanita yang memikat hatinya.
Namun, ketika dia menemukan tipenya dari Anya. Hanya saja, pertemuan itu membuatnya membenci Anya. Dan pertemuan itu bukanlah pertemuan idamannya yang sangat ia dambakan.
Seperti tak sengaja berpapasan di tepi pantai, atau saling tertukar barang dan di waktu bersamaan mereka menyadarinya, lalu mereka menukar kembali barang masing-masing. Dan terjadinya dialog yang panjang, dan merajut kasih.
Seperti pertemuan yang langka, namun mendebarkan. Tetapi realita nyatanya tak seindah ekspetasinya. Yang ada hanyalah, pertemuan yang merugikan dan mengesalkan diantara mereka.
Maka dari itu, hingga saat ini Bagas enggan mengakui perasaannya.
***
Sesulit apapun, sesedih apapun, setragis apapun halaman sebelumnya. Kamu tetap harus membuka halaman selanjutnya, agar kamu tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Memang setiap buku memiliki cerita tersendiri. Dan terus berputar, ada bahagia ada sedih maupun tawa dan tangis yang menerpa.
Kita juga tidak bisa menyimpulkan, kita tahu segala isinya hanya dengan membaca judul bukunya saja.
Kita tidak boleh buntu, dan terdiam ketika sedang difase itu. Kita harus tetap membuka halaman demi halaman. Agar tahu, cerita apa yang akan terjadi setelahnya.
Jika kita tidak membukanya, lalu siapa yang akan memberitahu bagaimana ending atau akhir dari cerita kita?
Kita satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas cerita kita. Lalu, siapa lagi yang bisa menolong diri kita, selain kita sendiri?
Ya mungkin bisa jadi, kita tokoh antagonis di kehidupan orang lain. Tetapi, ini kehidupan kita. Kita tokoh utamanya, kitalah tokoh protagonis utama dalam cerita kita.
Mungkin beberapa halaman terlihat menyedihkan, tragis, menyengsarakan, dan melelahkan.
Namun, bagaimana kita bisa tahu halaman selanjutnya. Jika kita enggan membukanya?
***
"Angel, saya ada pertemuan dengan kolega dari luar negeri. Bukan hanya perusahaan Indonesia yang terlibat." Jelas Bagas.
"Iya tuan, lalu?" Tanya Anya tak mengerti.
"Ada beberapa kolega penting, dari Amerika, Inggris, Jerman, Jepang, China, Korea Selatan, Italia, Swiss, Turki, Malaysia, Singapure, dan India. Saya merasa senang, menjadi perwakilan dari Indonesia. Dan juga CEO terkenal se-Asia." Lanjutnya menjelaskan.
"Hmm iya tuan." Respon Anya santai.
"Maukah kamu menemani saya? Ah tidak, kamu harus menemani saya. Ini perintah." Pinta Bagas tegas.
"Apa tuan? Mengapa saya? Saya tidak pantas, tuan bisa mengajak yang lebih pantas. Atau menyewa orang lain saja." Jawab Anya syok.
"Kamu dengar, saat ini kamu sudah aku sewa. Jadi, tidak ada penolakan!" Sanggah Bagas tegas.
__ADS_1
"Ba-baik tuan." Jawab Anya gugup.
"Ah iya, acaranya masih lama kok. Ada waktu 2 Minggu untuk menyembuhkan semua luka kamu itu. Tenang saja, mulai sekarang kamu mempunyai dokter pribadi. Kamu harus perawatan kulit wajah, dan seluruh tubuh. Agar kulitmu terlihat segar, mulus, putih selalu." Jelas Bagas santai.
"Tidak perlu tuan." Tolak Anya sopan.
"Bukan hanya itu, kamu harus perawatan pola makan. Agar sehat, bugar, dan memiliki tubuh ideal." Lanjutnya.
"Kamu juga harus olahraga yang rajin lagi, agar sehat jasmani dan rohani."
"Perawatan kuku dan gigi, em juga mata agar sehat dan bersih."
"Kamu juga harus mengatur jam tidur, tidak boleh bergadang. Dan tidur siang terlalu lama."
"Itu semua rutinitas saya. Dan kamu sekarang harus memulainya!" Pinta Bagas memerintah.
"Tuan. Seriously? Tuan gak becanda kan?" Tanya Anya.
"Kapan saya berbohong atau bercanda?" Jawab Bagas dingin.
"Baik tuan. Saya tidak bisa menolak bukan?" Tanya Anya nyungkun.
"Kamu mulai berani sekarang? Kamu bekerja dengan saya, bahkan belum 1 bulan." Tanya Bagas sedikit menaikkan suaranya.
"Tidak tuan." Jawabnya menunduk. Meskipun dalam hatinya, menggerutu.
"Orang kaya mah bebas, mau tunjuk orang semaunya pun gak ada yang larang. Hidup ini terlalu kejam, bagi mereka yang tidak berdaya dan naif." Batin Anya menggerutu.
"Tidak perlu menggerutu begitu. Katakan saja terus terang!" Ucap Bagas menatap mata Anya penuh selidik.
"Ah tidak tuan, siapa yang menggerutu?" Sanggah Anya, ketahuan.
"Hmm.." Bagas tersenyum tak percaya, dengan kata-kata Anya.
"Yeah. Saya hampir lupa, kamu hampir seminggu dengan saya. Ini ATM kamu!" Ucap Bagas menyodorkan black card.
Anya dibuat terkejut bukan main, Bagas memberikannya ATM black card.
"Tidak tuan, tidak perlu black card. Saya yang-"
"Terima!" Ucapnya dingin, menyodorkan pada Anya.
Anya pun mengambilnya, tanpa berkomentar lagi.
"Dan yeah, kamu harus membantu saya menghabiskan uang saya. Jangan merasa sungkan, kamu sudah bekerja keras!" Ucapnya berjalan dan meninggalkan Anya.
Anya termenung, baru kali ini dia mendengar ada orang yang memintanya menghabiskan uangnya.
"Padahal, dulu aku susah banget mau minta uang ke orang tua. Harus bekerja sangat keras. Aku gak boleh boros lah, gak boleh banyak jajan lah. Ini orang benar-benar gila apa bagaimana?" Ucap Anya tak mengerti.
"Sampai kapan kau disana?" Tanya Bagas kembali ke kamarnya.
Anya terkejut bukan main.
"Ah tuan, iya?" Tanya Anya menyembunyikan ekspresinya.
"Bukankah kamu harus berada di sisi saya?" Tanya Bagas dingin.
"Iya tuan, maaf."
__ADS_1
***