Lorong Waktu

Lorong Waktu
Mereka


__ADS_3

Aku berlari mengahmpiri mereka.


“Pak Aziz… bu Wanda…” Kataku dengan terengah-engah karena karena berlari.


“Loh Ivanna, kenapa nak?” Tanya bu Wanda. Aku yang masih menyesuaikan napas belum menjawab pertanyaan bu Wanda.


“Ayo nak Ivanna masuk dulu, biar ngobrolnya di dalam saja.” Kata pak Aziz. Aku hanya menganggukkan kepalaku saja, tanda setuju dengan usul beliau.


Setelah di dalam, aku duduk dengan pak Aziz, sementara bu Wanda ke dapur mengambilkan minuman.


“Ini nak, di minum dulu.” Kata bu Wanda sembari menyuguhkan satu orange jus. Ku lihat juga di nampan yang bu Wanda bawa da beberapa cemilan.


“Iya bu, makasih banyak ya,” kata ku sambil tersenyum kepada bu Wanda.


“Nak Ivanna kenapa, kok tadi lari-lari sih?” Kata pak Aziz.


“Emmm gak papa sih pak, cuman mau cepat-cepat aja.” Kata ku.


“Pak Aziz, bu Wanda.. kalian kaya ada ngerasain sesuatu yang aneh gak sih?” Aku langsung mengutarakan isi kepalaku.


“Ibu sih sebenarnya ada merasakan keanehan, tapi ibu sangka baik aja dulu nak, pak.”


“Keanehan kaya gimana bu?” Pak Aziz langsung menyahut.


“Tetangga-tetangga sebelah rumah kita ini loh pak, keluarganya pak Sapto, tumben-tumbenan sepi rumahnya. Padahal kan biasanya keluarga mereka selalu ramai. Apalagi kan mereka punya empat orang anak, kembar-kembar pula. Yang udah gede aja, sara dan sari yang umurnya 15 tahunan itu, mereka selalu aja ribut pagi-pagi. Bukan karena apa, biasanya kan mereka emang suka rebutan baju pagi-pagi.” Terang bu Wanda.

__ADS_1


“Kali aja mereka liburan bu, kan ini hari minggu.” Sanggah pak Aziz.


“Ibu sih tadi juga sempat mikir gitu pak, nak Ivanna.” Kata bu Wanda sambil memandang kami bergantian. “Tapi yaa masa sih pagi-pagi gini mereka udah pergi, ibu tau banget gimana repotnya mereka kalau mau pergi jalan atau liburan, karena ibu lumayan sering ngobrol sama istrinya pak Sapto itu. Anak kembar mereka yang masih umur 4 tahun juga pada ribut sih biasanya pagi-pagi. Tapi pagi ini semuanya sepi sekali.”


Aku manggut-manggut mendengarkan ceritanya bu Wanda. “Emangnya bu Wanda gak sadar apa yaa kalau ini bukan tahun 2020 lagi.” Kata ku tapi cuma dalam hati aja.


“Pak, bu, Iv mau cerita sesuatu sama bapak sama ibu, boleh yaa?”


“Boleh nak, cerita saja.” Kata pak Aziz sambil tersenyum ramah, di ikuti anggukan kepala dan senyuman bu Wanda.


“Jadi, gini loh pak, bu. Kemarin kan Iv jalan-jalan sama ayah, ibu sama Eva juga. Terus sampai rumah Iv kecapean, Iv langsung tidur. Terus Iv bangunnya kan kesiangan nih, Iv kira semuanya baik aja, tapi…”


“Tapi kenapa?” Kata pak Aziz dan bu Wanda hampir bersamaan.


“Ivanna udah coba hubungi mereka belom?” Tanya bu Wanda.


“Udah bu, Iv udah coba nelpon ayah, ibu, sama sahabat-sahabat Iv, tapi gak ada yang nyambung telponnya. Terakhir Iv coba nelpon Eva, sebenernya nyambung sih bu, Cuma gak di angkat. Ternyata hp Eva ada di kamanya, tapi Evanya gak ada bu.”


“Terus ibu tau apa lagi yang bikin Iv tambah bingung?” Tanpa menunggu respon dari pal Aziz dan bu Wanda, aku langsung melanjutkan ceritaku panjang lebar. Bukan karena apa aku langsung bercerita sama mereka, karena keluarga ku memang akrab dengan mereka. Katanya ada hubungan keluarga sedikit antara kami dengan bu Wanda dan pa Aziz.


“Iv kaget pas liat hp, ternyata ini tahun 1998 bu, Iv kira hp Iv yang bermasalah sama tanggal dan tahun, tapi pas Iv menuin hp Eva, tanggal, bulan sama tahunnya juga sama dengan yang ada di hp Iv. Bukan cuma itu loh pak bu. Rumah-rumah tetangga Ivanna juga berubah.


“Hah, masa sih nak?” Kata pak Aziz dengan ekspresi yang tidak bisa ku artikan, entah beliau percaya, kaget atau gak habis pikir dengan ceritaku barusan.


“Iya pak, bu beneran.” Kata ku sambil menatap mata mereka.

__ADS_1


Pak Aziz dan Bu wanda manggut-manggut memikirkan cerita ku.


Tiba-tiba, dari dalam kamar keluar seorang laki-laki yang ku taksir umurnya sekitar 20 tahunan.


“Eh ada tamu cantik gini kok aku gak di panggil keluar sih ma?” Sambil berjalan menghampiri kami.


“Ah kebiasaan deh kamu Al, siapa yang mau ngenalin kamu yang kaya kebo ini sama cewe cantik, yang ada mama malu. Dasar tukang tidur, udah gede juga masih aja suka malas-malasan. Harusnya kamu itu bangun pagi-pagi, ngapain kek. Cari kegiatan yang berguna, misalnya bantuin mama kek gitu di dapur.” Semprot bu Wanda. Aku hanya tertawa mendengarnya.


“Oh iya, kenalin nama aku Aldi Pratama.” Sambil tersenyum dan mengulurkan tangan kepadaku.


“Iya, salam kenal namaku Ivanna Saraswati, panggil aja Iv.” Sambil tersenyum dan salaman.


Kemudian Aldi langsung duduk di sebelah pak Aziz. Mereka menceritakan apa yang ku alami pagi ini, semuanya. Dan Aldi mendengarkan cerita mereka dengan seksama.


“Iv, adik kamu Eva itu gimana sih?” Tanya Aldi.


“Loh kenapa?”


“Enggak, aku tadi pagi liat ada cewe yang lari-lari di jalanan. Mukanya mirip kamu, cuma rambutnya kayanya lebih panjang deh.” Kata Aldi kemudian sambil memikirkan sesuatu.


“Hantu kali yaa?” Sambungnya.


“Masa sih, kaya nya itu Eva deh. Dia lari kemana, sama siapa?” Sambungku dengan tidak sabar.


(Dukung terus author untuk berkarya yaa dengan like dan vote cerita nya. Terima kasih.. salam hangat dari author untuk kalian😊😘)

__ADS_1


__ADS_2