
"Karena nyaman."
***
"Bukan! Dia memanfaatkan sahabat kamu, agar lolos dari jeratan kamu. Bukan berarti dia benar-benar mencintainya." Jawab Bagas.
"Hmm. Tuan tahu darimana?" Tanya Anya meremehkan.
"Ya! Jangan meremehkan saya begitu. Meskipun saya belum pernah pacaran, saya tahu banyak tentang cinta." Jawabnya bangga.
"Hmm. Baiklah, terimakasih tuan. Dan..."
"Dan apa?"
"Dari mana tuan mengetahui saya di sini?"
"Saya sudah selesai untuk membicarakan kerja sama saya. Dan ketika itu, saya melihat ada wanita yang mendekati kamu. Saya mendengar semua pembicaraan kamu, lewat perekam suara ini." Tunjuk Bagas pada anting Anya.
"Ya! Kapan tuan memasangnya?"
"Tentu saja itu scenario saya."
"Lalu?"
"Saya mengikuti kamu perlahan. Dan melihat juga mendengar kamu diperlakukan kasar. Dan saya sedikit terlambat untuk menyelamatkan kamu!" Jelasnya menyesal.
"Hmm... Tidak tuan, tuan sudah tepat waktu. Dan saya sangat berterima kasih kepada tuan." Jawab Anya tersenyum manis.
"Ya hentikan!" Ucap Bagas salah tingkah.
"Apa?" Tanya Anya tak mengerti.
"Skip." Jawabnya malu, tetapi memasang wajah dingin.
"Em ya tuan, saya ingin menanyakan hal yang mungkin memalukan."
"Apa?"
"Em anu em.. itu."
"Katakan saja!"
"Mengapa tuan mencium saya? Dan meskipun di dalam air?" Tanya Anya cepat.
"Hah?"
Hening...
"Em.. itu emm... Itu karena saya memberikan nafas buatan. Kamu jangan ge-er! Siapa bilang saya mencium?"
"Jika hanya memberikan nafas buatan. Lalu, kenapa tuan sedikit menghi-"
"Ya! Sudahlah, harusnya kamu berterima kasih! Bukan membahas hal begitu." Potong Bagas cepat.
"Ah ia tuan. Maafkan saya."
"Em atau jangan-jangan kamu..."
"Memang menginginkannya?" Lanjut Bagas cepat, dan mendekati leher Anya.
"Tidak." Jawab Anya memundurkan tubuhnya.
Bagas menahan tekuk leher Anya.
"Tuan.. memmm..." Ucap Anya terhenti.
Bagas mencium bibir Anya cepat. Dan menahan tekuk leher Anya. Bagas menghi*ap bibir Anya, atas dan bawah. Memainkan sedikit li*ahnya, membuat Anya hampir terbuai dan terlena.
Anya mendorong dan memberontak Bagas. Namun, tenaganya hanya akan habis. Jika berhadapan dengan Bagas, jelas Anya kalah. Meskipun, tenaga Anya sangat kuat dan besar.
"Mheemmm.."
Beberapa menit kemudian...
Bagas melepaskan ciumannya. Dan tersenyum smrik, penuh kemenangan.
"Bagaimana? Sudah saya lakukan, apakah kamu puas baby?" Bisik Bagas di telinga Anya, setelah mencium dan tersenyum di hadapan Anya.
Anya menelan salivanya kasar. Merasa kesal dan marah. Anya tak menjawab dan menatap tajam wajah Bagas. Anya berusaha berdiri, karena dia merasa kedinginan pula. Angin menembus ke kulitnya yang basah.
"Tunggu!" Ucap Bagas menghentikan Anya. Dan membuka jasnya, menutupi tubuh Anya.
"Pakai ini!" Ucap Bagas lembut, memakainya pada Anya.
__ADS_1
Anya berniat menolak, namun Bagas memperingatinya.
"Ya sudah, jika kamu ingin memamerkan tubuh kamu pada semua orang yang melihatnya!" Ucap Bagas dingin.
"Hmm. Baiklah terima kasih." Ucap Anya menahan jas Bagas.
***
Anya dan Bagas mengganti pakaiannya, di kamar hotel yang sama. Bagas memesan satu kamar untuk mereka. Sengaja ia lakukan, agar Anya tak lepas dari pandangan.
Dia tidak ingin Anya mengalami masalah lagi, terlebih ini adalah Bali. Anya mungkin saja bisa tersesat.
Semua koleganya telah kembali ke Jakarta, untuk melanjutkan pengembangan bisnis mereka. Sedangkan Bagas dan Anya tidak pulang. Karena insiden itu, membuatnya ketinggalan pesawat. Dan supir yang mengantarnya sudah pulang duluan. Dengan perintah Bagas.
"Anya kita mengindap di sini beberapa hari." Ucap Bagas yang sudah mengganti pakaiannya.
"Emm baiklah." Jawab Anya malas mendebat.
"Dreettt... Dreeettt.." Hp Bagas bergetar.
"Hallo?"
"Tuan, bagaimana ini? Apakah gadis ini kami harus lepaskan?" Tanya anak buah Bagas.
"Oh ia, saya ke sana sekarang!" Jawab Bagas menutup teleponnya.
"Siapa tuan?"
"Anak buah saya. Em kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana!" Ucap Bagas.
"Emm.."
***
"Hmm jadi kamu yang bernama Klara?" Tanya Bagas mencengkram erat dagu Klara.
"Emm lepasin!"
"Saya akan melepaskan kamu dengan satu syarat!" Ucap Bagas dingin.
"Apa?"
"Jangan ganggu Anya!"
"Hmm.. jadi sekarang incarannya om-om?" Tanya Klara tersenyum jijik.
"Hah? Dia bukan orang lain, dia hanya be na lu."
"Tidak tahu malu! Gue laporin polisi baru tahu!"
"Laporin aja, kalo punya bukti!" Tantang Klara.
Bagas memberikan kode. Dan anak buahnya mengerti, layar lebar pun menyala dan menampilkan tuntutan kejadian dari awal Klara mendekati Anya, hingga Klara mendorong Anya.
Dengan suara yang sangat jelas, dan kasar terdengar dalam Vidio tersebut.
Klara mati kudu, terperangah melihat apa yang Bagas lakukan. Ketika lampu dinyalakan, Klara baru menyadari bahwa yang berada di hadapannya adalah tokoh yang sangat dia kagumi, segani, dan ingin dia jumpai.
Klara sangat menyukai Bagas Khristal Jaya. Tokoh idolanya, yang menjadi kebanggaannya. Seorang pengusaha terkenal, tersukses di Asia diusianya yang masih sangat muda.
"Pak Bagas?" Tanyanya terkejut dan malu.
"Ya, kenapa Lo kenal sama gue? Tapi, gue sama sekali gak kenal tu sama Lo?!"
"Maafkan saya pak, saya sudah melakukan kesalahan besar. Dengan berkata kasar pada bapak. Saya sangat mengagumi bapak. Bapak adalah tokoh favorit dan motivasi bagi saya." Ujarnya menundukkan kepalanya.
"Terlambat!"
"Maksud bapak?"
"Saya tidak mempunyai penggemar seperti anda. Yang mencelakai adik kelasnya sendiri, dan saya akan melaporkan anda." Jelas Bagas meninggalkan Klara.
"Pak tolong! Pak tolong ampuni saya!"
***
"Tok tok tok!" Ketukan pintu terdengar.
Anya yang menonton TV, segera beranjak dan membukakan pintunya.
"Anda siapa?" Tanya Anya.
"Ah sayang! Kamu cantik sekali." Ucap seorang pria mabuk, dan masuk ke dalam memeluk Anya.
__ADS_1
"Maaf tuan, lepaskan saya!" Tolak Anya memberontak.
"Sayang, jangan malu-malu dan menolak begitu." Ucapnya menciumi Anya.
"Ahhh... Lepaskan saya!"
Pria itu mendekati Anya dan membawa tubuh Anya ke ranjang. Anya berusaha lari, namun kakinya ditarik oleh pria tersebut.
"Ayolah, main sedikit sayang!" Ucapnya memaksa Anya.
"TOLONG!"
"TOLONG SAYA!" Teriak Anya.
Anya meraih teleponnya, dan mencari kontak Bagas. Dia memijat nomor Bagas dan...
Hp nya terlepar.
"Aggghhhh tuan! Lepaskan saya!" Ucap Anya menahan tangan pria itu yang melucuti pakaiannya.
"Hallo? Angel?"
"Ahhh... Lepasin saya! Tolong!"
Bagas mendengarnya panik. Bagas yang memesan beberapa makanan pun berlari, pelayan tersebut pun menatap aneh. Dan meminta pelayan lain, untuk mengantarkannya ke kamar Bagas.
"Buuugggg.." Bagas memukul pria tersebut. Dan menarik tubuhnya dari Anya.
Bagas dan pria tersebut baku hantam, dan membuat keributan.
Anya memegang tangan Bagas. "Tuan sudah tuan! Tuan bisa membunuhnya!" Pinta Anya takut.
Bagas pun luluh, dan menatap wajah Anya. Bagas mengusir pria tersebut, dan meminta anak buahnya untuk menanganinya dan melaporkan ke polisi.
Anya menatap wajah Bagas, begitu pula dengan Bagas. Yang menatap wajah Anya merasa bersalah. Anya menangis sejadi-jadinya.
"Hiks... Hiksss... Maafkan saya tuan, saya mengira itu adalah tuan. Saya tidak tahu, dia orang lain yang sedang mabok."
Bagas memeluk Anya, dan mengusap-usap kepalanya. "Sudah. Ini bukan salah kamu, ini salah saya. Seharusnya saya tidak meninggalkan kamu." Ucapnya menyesal.
"Hiks.. hiks.."
Bagas memperhatikan pakaian Anya yang sudah tidak berbentuk itu, pakaian yang hampir sobek semua. Dengan beberapa luka di bibir, dahi, leher dan tangannya. Juga beberapa cakaran di kakinya.
"Hei! Lihat ini, kenapa pakaian kamu jadi begini. Dan luka-luka ini, kenapa dia juga mencakar kaki kamu begini?" Tanya Bagas khawatir.
"Saya tadi mau lari, tapi dia menarik kasar kaki saya. Dia juga menampar saya, dan mendorong saya hingga terjerembab ke ujung ranjang ini." Jelasnya hampir menangis.
"Ayo ganti pakaian kamu!"
Anya pun mengganti pakaiannya. Dan Bagas menyiapkan kotak P3K.
Kemudian Bagas mengobati luka Anya pelan. "Ini leher kamu, kenapa merah dan berdarah?" Tanya Bagas.
"Hmm... Hiks.. hiks.. tentu saja dia mencium paksa dan menggigit nya tuan." Jelas Anya sambil menangis.
"Hmm huuuh..." Bagas bernafas panjang.
Bagas membawa air hangat, dan mengompres leher Anya.
"Dengarkan saya. Apakah kamu ingin membersihkannya?"
"Iya. Tapi, mungkinkah?"
"Saya akan membantu kamu!" Ucap Bagas mendekati Anya.
Bagas mulai mencium bibir Anya, dan menciumi leher Anya lembut.
"Emm.. tuan lepaskan, mengapa tuan melakukan itu?"
"Saya akan membersihkannya!" Jelas Bagas melanjutkan aksinya.
"Jangan! Tuan sudah lepaskan!"
Bagas tetap mencium bibi* Anya dan lehernya. Bagas hampir mebuka bajunya Anya, namun...
"Tok tok tok."
***
Visualš¦
Klaraš
__ADS_1