Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 6 - Tidur Bersama


__ADS_3

"Kamu tukang pijit?" Tanya Bagas.


"Bukan."


"Atau bahkan kamu tukang pijit plus-plus?" Tuduh Bagas menatap tajam Anya.


**


"Saya sering memijit ibu saya dulu!" Jawab Anya, sabar.


"Oh begitu. Untung saja."


"Gimana tuan?"


"Lupakan!"


"Em ini pijit tangan saya juga!" Pinta Bagas, menyodorkan tangannya.


Beberapa saat kemudian. "Ah kepala saya juga pening!"


Anya berniat memijat kepalanya. Bagas tak sengaja melihat dad* Anya yang masih banyak dengan tanda kepemilikan.


"Glegg. Kenapa itu sangat menggo*a sekali! Tidak, tidak sadar! Ini bukan waktunya!" Batin Bagas bermonolog.


"Kamu sudah minum obat?" Tanya Bagas khawatir.


"Sudah."


"Salep?"


"Belum."


"Kenapa?"


"Susah." Jawab Anya.


Bagas pun beranjak bangun, ketika Anya masih memijit kepalanya. Anya menghentikan aksinya.


Bagas mengambil salep, dan membuka pakaian Anya tanpa permisi. Anya yang belum sempat menghindar, seketika menutupi dad*nya.


"Tuan? Apa yang ingin tuan lakukan?" Tanya Anya was-was.


"Diam! Siapa yang lebih berhak atau tubuh ini?" Tanya Bagas mencengkram kedua bahu Anya.


"Angel, meskipun saya memp*rko*a kamu! Itu bukan kesalahan! Mengerti!"


"Hah? Apa?"


Bagas menarik tangan Anya, dan menahannya. Bagas mengambil tali dan mengikat kedua tangan Anya ke belakang.


"Tuan!"


"Ssssstttttsss.... Jangan bergerak baby!" Bisik Bagas.


Anya bergidik ngeri. Bagas mengeluarkan salep dan mengobati Anya, tidak ada yang tersisa. Dia terus mengolesi saleb di setiap tanpa merah yang ia tinggalkan.Tentu saja Bagas tidak bisa menahan hasratnya, juniornya pun sudah bangun kembali dari hibernasinya.


"TUAN! HENTIKAN!" Teriak Anya sakit dan risih.


"Diam! Sebentar saja!"


Anya memejamkan matanya, tidak terasa air matanya telah mengalir deras. Bagas menghentikan aksinya, dia memeluk Anya. Bagas menahan has*atnya, dan melepaskan ikatannya.

__ADS_1


Bagas memasang wajah wibawanya, seakan tidak ada rasa malu. Dan dia tetap keren, dan apa yang dilakukannya bukan kesalahan.


"Pakai pakaianmu! Atau haruskan saya lagi yang memakainya?" Tanya Bagas tersenyum nakal.


Anya mengambil pakaiannya yang Bagas lepaskan tadi. Bagas memandanginya, tanpa berkedip dan dia melihat begitu santainya Anya memakai pakaiannya padahal hatinya telah hancur.


"Gunakan pakaian itu!" Ucap Bagas menunjuk ke arah pakaian yang berjejer rapi.


Bagas sudah membelikan pakaian untuk Anya, bahkan selemari penuh.


"Semua pakaian dan barang-barang kamu, harus di simpan di sini juga. Ingat 24 jam di sisi saya!"


"Dan yeah jangan coba menolak atau membangkang!" Tambah Bagas, menekankan ucapannya.


Anya melihat pakaian pemberian Bagas. Di sana sudah tertulis, pakain tidur, pakaian meeting, pakaian liburan, pakaian santai, pakaian olahraga, dan pakaian seksi (kamu harus menggunakannya, ketika saya ingin).


Anya mengambil baju tidur, namun semuanya piyama seksi dan lingerie. "Memalukan!"


Tapi Anya tidak bisa menolak. Dia mengambil lingerie putih.


"Ah ternyata kamu pandai memilihnya, dan sangat serasi dengan saya!" Ucap Bagas yang sudah mengganti pakaiannya dengan piyama sek*i putih. Setelah melihat Anya berganti pakaian.


Anya nyaris tak berkedip melihat Bagas yang sangat terlihat seksi dan maskulin itu. Dia sangat tampan dan cocok dengan apa yang dia pakai saat ini.


Begitu pula dengan Bagas, yang melihat setiap inci tubuh Anya. Sangat tipenya, namun dia tidak tertarik akan cinta. Menurutnya cinta hanya membuat dirinya repot, dia tidak ingin direpotkan dengan segala hal yang mengaitkannya dengan cinta.


***


Anya berniat tidur di sofa, yang berada dekat dengan pintu ke arah balkon. Selain sofanya besar dan nyaman, Anya merasa akan lebih aman jika tidur di sana. Sambil merasakan angin sepoi-sepoi malam yang sejuk.


"Mau kemana?" Tanya Bagas menatap tajam pada Anya.


"Di sini!" Tunjuknya menepuk kasur dan mengarahkan Anya agar tidur di sebelahnya.


"Tidak, kenapa harus di sana?" Tolak Anya.


"Jika saya memerlukan sesuatu yang mendadak, dan darurat bagaimana? Haruskah saya berteriak-teriak?" Alibinya.


"Tapi tuan, izinkan saya mere-"


"Tidak ada penolakan!" Potong Bagas tegas.


Anya segera berjalan ke arahnya. Namun, dia sangat trauma dengan sikap tiba-tiba yang Bagas lakukan. Anya duduk di tepi ranjang, sengaja menjauh dari Bagas.


"Kenapa jauh sekali?"


"Kita belum menikah." Jawab Anya santai


.


"Ah kau ingin menikah dengan saya?" Goda Bagas.


"Tidak." Jawabnya cepat.


"Lalu, belum?" Tanya Bagas, yang tak mengerti. Mengapa Anya menjawab belum. Yang mengartikan akan, walaupun entah kapan.


"Maksud saya, kita tidak menikah. Dan saya bawahan Anda tuan, tidak sepatutnya saya tidur di dekat anda." Jelas Anya.


"Hmmm."


Beberapa saat kemudian hanya hening. Anya tidak tahu mengapa, jantungnya tidak bisa dikendalikan, terus berdebar-debar kencang.

__ADS_1


'Ahh kenapa ini." Batinnya memukul-mukul pelan dadanya.


"Em ya." Ucap Bagas medekati Anya dan menghadap ke arahnya, menyamping ke sebelah kiri.


"Meskipun itu tubuhmu, tetapi sekarang menjadi milik saya dan hak saya. Jadi, meskipun dirimu sendiri tidak berhak menyakitinya."


"Emm baiklah." Jawab Anya malas berdebat. Anya ingin melepaskan pelukannya. Tetapi, Bagas semakin mengeratkan pelukannya. "TUAN!"


"Ingatlah, semakin kamu memberontak. Maka saat itu pula, saya semakin kuat dan tak akan kalah!" Ancam Bagas berbisik di telinga Anya. Yang membuat Anya geli dan ngeri.


"Kenapa belum tidur juga?" Tanya Bagas kemudian, dengan lembut.


"Entahlah."


"Ingin bermain?" Tawar Bagas nakal.


"Tidak, saya ngantuk tuan." Tolak Anya lemas.


"Ah ayolah, jangan berbohong!" Ajak Bagas, memaksa.


"Benar tuan."


"Ikut saya! Atau saya gendong, ah bukan saya seret!"


Anya pun dengan sigap bangun.


"Bagus, temani saya berenang. Saya lihat kamu sangat menyukai kolam, pantai atau air."


"Em tuan tahu darimana?" Tanya Anya heran.


"Foto. Yah tidak sengaja, saya memeriksa hp kamu saat pingsan waktu itu. Kamu berfoto di tepi pantai, dan di atas perahu."


"Saya juga melihat Vidio kamu sedang bersanda gurau, di sepanjang pesisir pantai tengah malam."


"Sepertinya kamu sangat menyukai pantai hingga ada foto dari terbit matahari hingga terbenam matahari."


"Em bukan hanya itu, banyak sekali foto kamu yang berada di tepi kolam, bahkan berbeda-beda tempat."


"Saya juga melihat kamu, berfoto dengan anak kecil di kolam anak. Tidak hanya itu, saya melihat kamu menikmati hujan di sekola. Dan berfoto sambil tersenyum lebar."


"Dan yeah kamu pasti suka tangga juga bukan, banyak foto kamu yang sedang menaiki atau menuruni tangga."


"Atau bahkan kamu tidak takut ketinggian? Sehingga banyak juga foto kamu di atas gedung sekola, dan melihat pemandangan dari atas?"


"Seberapa banyak tuan melihat galeri saya?" Tanya Anya sewot dan kaget.


"Sedikit."


"Bagaimana mungkin, tuan menjadi sangat tertarik dan berbicara panjang lebar?"


"Ah sudahlah. Ikut saya!" Bagas kelabakan dan mengalihkan topik.


"Baik tuan." Jawab Anya pasrah.


***


Visual šŸ„€



__ADS_1


__ADS_2