
"Iya tuan, maaf."
***
2 Minggu kemudian...
Hari yang istimewa untuk Bagas. Hari yang ditunggu-tunggu, hari kebanggaan yang membuatnya merasa bernilai, dan segala perjuangannya tak ada yang sia-sia.
"Angel, sudah siap?" Tanya Bagas, yang duduk manis membuka majalah bisnis.
Duduk dengan mengangkat satu kaki. Menunggu Anya dipakaikan gaun elegan, dan di make up. Membuatnya terlihat lebih cantik dan berkelas.
Bagas menyukai make up dan fashion Anya, tetapi hari ini Bagas ingin semuanya perfect. Tanpa terkecuali. Anya Prinsiska Angella, sebagai pendampingnya kini.
"Sudah tuan. Bagaimana cantik bukan?" Tanya seorang make over Anya.
Beberapa detik Bagas terkesima dan dibuat mati kutu. Dia tak bisa membohongi hati dan matanya, kalo saat ini Anya benar-benar bidadari yang elok. Namun, egonya selalu mengalahkan kenyataan.
"Emm. Seperti biasanya." Jawab Bagas enggan.
"Hmmm.." Anya tersenyum kecut.
"Ayo cepat!" Ajak Bagas berdiri dan melingkarkan satu tangannya. Tanda ingin digandeng, seperti sepasang kekasih.
"Apa ini tuan?" Tanya Anya merusak suasana.
Semua yang melihat kejadian, menahan tawa.
"Nyonya, gandeng tangan tuan. Layaknya sepasang kesasih." Jawab kepala make over.
"Eheee.." Anya tersenyum malu, dan binggung. Pasalnya mereka hanya sepasang partner kerja.
Anya pasrah dan menggandeng tangan Bagas.
Sesampainya di mobil, Bagas membukakan pintu untuk Anya. Dan berlari kecil duduk di kursi belakang, di samping Anya. Bagas meminta supir pribadinya, untuk mengantarkan mereka sampai tujuan.
***
Semua kolega sudah sampai. Acara tersebut diadakan di Bali. Selain untuk membahas kerja sama dan pencapaian bisnis masing-masing dari berbagai negara.
Bagas ingin memperkenalkan kekayaan dan budaya Indonesia, pada semua koleganya yang sudah berpartisipasi.
Mobil Bagas berhenti, tepat di depan kolega-kolega dan tamu undangan yang terhormat. Mobil Bagas menjadi pusat perhatian. Pasalnya mobil yang mewah dan langka orang dapatkan.
Ditambah, mereka yakin bahwa yang berada di dalamnya, tentu salah satu kolega yang berpartisipasi dalam kerja sama besar-besaran ini.
Supir Bagas turun, dan membukakan pintu mobil untuk Bagas. Sedangkan Bagas menunggu Anya keluar, dan memberikan kode padanya untuk menggandeng tangannya.
"Ayo!" Ucap Bagas tersenyum manis.
Anya pun turun dengan angun dan meraih tangan Bagas. Kemudian, menggandengnya sambil tersenyum manis.
Semua kolega Bagas tersenyum dan menyambut mereka. Tidak ada yang tidak kagum pada kedua pasangan ini. Cantik dan elegan.
Acara dimulai, dan mereka semua membicarakan kerja sama dengan menggunakan bahasa Inggris tentunya.
Untuk menjalin kerja sama antar negara. Agar mudah dimengerti.
Tak disangka Roni kakaknya, menjadi penyanyi dan pemain piano. Diacara tersebut.
***
__ADS_1
Anya meminta izin untuk melihat-lihat pantai Bali. Dia ingin mengganti pakaiannya, setelah acara minum-minum tadi.
Bali tempat yang sangat ia ingin kunjungi, saat usianya masih 7 tahun. Tepat dimana keluarga mereka masih utuh dan hangat.
"Anya?" Tanya seorang perempuan mendekati Anya yang duduk di tepi pantai.
"Kak Klara?" Tanya Anya tak percaya. Setelah 3 tahunan tak bertemu, tentu saja Anya merasa terkejut.
"Ah.. benarkah ini kamu?" Tanyanya tak percaya.
"Iya, kenapa?" Jawab Anya.
"Sungguh di luar dugaan. Aku hampir tidak mengenali kamu, dulu kan kamu pendek, gemuk, item. Dan gaya kamu berantakan." Jawabnya gamlang.
"Hmm.." Respon Anya malas.
"Ah iya, sedang apa kamu di sini? Em pasti bekerja sebagai pela*ur bukan?" Ucapnya memfitnah Anya.
"Saya mengira anda sudah berubah. Ternyata jauh lebih buruk dari sebelumnya." Jawab Anya berjalan menjauh.
Namun Klara terasa terhina. Dan meraih tangan Anya kasar.
"Sini kamu! Berani-beraninya kamu berkata demikian? Tak lupa apa yang sudah kamu lakukan? Menjadi perebutan lelaki orang?" Ucapnya marah.
"Hah? Saya tidak salah dengar? Lelaki siapa yang anda maksud? Kak Diki bukan lelaki anda, dan saya mengenalnya sebelum saya tahu... Kalau ternyata anda juga mengincarnya, ah bukan mengejar-ngejar cintanya. Dan ketika saya tahu, saya ingin mundur. Tetapi ternyata, dia bukan pacar anda. Dan ketika itu pula, respon dia sangat baik pada saya." Jelas Anya sopan.
"Hah? Perasaan Lo aja!"
"Saya bahkan sudah melupakannya. Lantas untuk apa saya membahasnya lagi? Jika ingin ambil saja!" Ucapnya menepis tangan Klara.
"Lo benar-benar gak bisa diajak kompromi. Sini Lo!" Ucapnya menyeret Anya kasar.
Klara membawa Anya ke jembatan di tengah-tengah pantai. Dan mendorongnya kasar.
Anya segera berdiri dan tak banyak drama. "Apa sih mau kak Klara?" Tanya Anya menatap wajah Klara.
"Ah jadi Lo berani sekarang?'
"Jika tidak ada urusan, maka saya-" Ucap Anya terpotong.
"Byuuuuuuurrrrrr..."
Klara mendorong kasar Anya ke dalam laut.
"Hmm.. sok-sokan mau lawan gue. Mampus mati aja sekalian!" Ucapnya mentertawakan Anya yang tenggelam.
Klara mengetahui bahwasanya Anya tidak pandai berenang. Meskipun sangat menyukai air.
Ketika dia berbalik. "Siapa ka-?" Tanya Klara terpotong.
Bagas menatap tajam wajah Klara dan memberikan aura ingin membunuhnya sadis.
"Tangani dia! Dan bawa ke ruang belakang!" Ucap Bagas dingin, dan memerintahkan kepada bawahannya.
***
"Byuuuuuuurrrrrr..."
Bagas menolong Anya. Dia sangat khawatir dan panik.
Bagas terus mencari Anya, karena malam hari. Penerangan dalam air pun sedikit mengurang. Meskipun rembulan menerangi dengan cahaya terangnya.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian...
Akhirnya Bagas menemukan Anya. Anya sudah tak berdaya, dan matanya terpejam. Bagas segera menyelam ke bawah, dan memeluk tubuh Anya.
Bagas tanpa berpikir panjang, segera mencium Anya. Dan memberikan sedikit nafas buatan padanya. Membuat Anya menyadari dan membuka matanya.
Betapa terkejutnya Anya, melihat Bagas yang ada di hadapannya. Bahkan menciumnya di dalam air. Anya hanya mengira dia berada di alam Surga.
"Ah mengapa di surga pun, yang aku lihat pertama kali dia?" Batin Anya menggerutu.
Setelah melepaskan ciumannya, Bagas segera berenang dan mengangkat Anya ke atas.
"Hah hah hah..." Anya hampir kehabisan nafasnya, mengambil udara sebanyak-banyaknya. Dan bernafas tak beraturan.
Sedangkan Bagas yang sudah biasa, tak bereaksi sama seperti Anya.
"Ya! Mengapa kau bergaul dengan gadis seperti dia? Dan mengapa kau berjalan jauh sekali seperti ini? Kau tidak boleh melewati batas ini. Mengerti? Seharusnya tadi saya tidak mengizinkan kamu berjalan sendirian." Ucapnya bertanya berturut-turut khawatir.
"Ya jawab?! Mengapa kamu harus berjalan jauh dari tempat acara yang saya adakan?" Tanya Bagas lagi.
"Saya mengenal Klara ketika di sekolah SMK. Dia kakak kelas saya, dan kita seorganisasi. Meskipun tidak terlalu dekat, namun dia mempunyai dendam pribadi kepada saya." Jelas Anya sedikit lemah. Kehabisan nafas.
"Dendam apa?"
"Dulu dia mengira, bahwa saya merebut lelaki incarannya. Namun, pada akhirnya dia ataupun saya tidak memenangkan hati lelaki itu. Dan justru.."
"Justu apa?"
"Sahabat terdekat saya, yang memenangkan hati lelaki itu. Haha lucu bukan?" Jawab Anya tersenyum kecut.
"Ya! Lelaki seperti apa dia? Apa lebih baik dari saya? Tentu saja tidak. Kamu harus tahu, itu adalah berita baik."
"Jika dia menolak kamu! Lelaki yang dikejar-kejar seperti itu, bukan lelaki setia. Apalagi pantas untuk diperjuangkan. Lelaki seperti itu, hanya memanfaatkan keadaan saja!"
"Kenapa?" Tanya Anya polos.
"Kamu pikir dia tertarik pada kamu? Tidak. Dia hanya menjadikan kamu pelarian, karena dia gagal dengan Klara. Dan dia mencintai sahabat terdekat kamu karena apa?"
"Karena nyaman."
***
Visualš¤
Roni
Vian
__ADS_1