
Para bodyguard membawanya ke suatu tempat. Di Lombok, vila angker yang sempat Anya dan Diki datangi. Ternyata vila tersebut memang tak berpenghuni.
***
Klara terus berusaha melepaskan ikat di tangannya. Kemudian setelah berhasil, dia melepaskan ikat di kakinya. Dan melepaskan perban di mulutnya. Dilihatnya sekeliling vila angker tersebut. Sangat dingin dan gelap.
"Gue dimana sih ini?"
"Gue harus cepet-cepet keluar!"
Dia pun sampai di pintu keluar. Dia terus berjalan sampai gerang. Setelah itu dia berjalan lagi, sampai menemukan jalan raya.
"Bu ini dimana ya?" Tanya Klara polos.
"Hah? Masa mbak gak tahu, ini di Lombok mbak." Jawab ibu-ibu yang lewat, kemudian meninggalkannya.
"Apa? Jauh sekali mereka bawa gue ke sini."
Untunglah Klara membawa kartu ATM. Dia mencari bank atau ATM di sekitar sana. Kemudian dia memesan tiket pesawat.
Klara kembali ke Subang dengan selamat.
***
Bagas pulang dari kantor. Malam hari, karena banyak masalah yang harus ia tangani. Mulai dari pekerjaan kantor, meeting, pertemuan di caffe dengan client, hingga mengurus orang yang ngusik hidupnya. Yaitu Klara.
"Anak-anak udah pada tidur, yang?" Tanya Bagas membuka pintu. Dan terlihat Anya menunggu di sofa ruang tamu.
"Hmmm. Iya, ini udah jam 11 malam. Lembur ya bang?" Jawab Anya.
"Iya. Banyak masalah hari ini, untung sudah teratasi."
"Syukurlah. Kamu mau makan apa mandi?" Tanya Anya.
"Mandi dulu. Mau temenin gak?"
"Cuman temenin, gak mandi bareng?" Tanya Anya.
"Ya, ikut mandilah biar asyik." Balas Bagas.
Mereka ngobrol sambil berjalan ke lift di rumah mereka menuju lantai paling atas.
"Loh kamu mau ke atap rumah sayang?" Tanya Anya yang melihat Bagas menaiki tangga ke sana.
"Sebentar sayang, udah lama gak ke sini."
"Kan ada lift juga, kenapa pake tangga?" Tanya Anya.
Di atap gedung, sudah didesain banyak tumbuhan. Pohon bahkan kolam renang. Bagas mengajak ke sana karena ada maunya juga.
Tanpa aba-aba, Bagas menyambar Anya. Mulai dari ciuman hingga si dedek dimainkan oleh jari cantik Anya.
"Ahhhhhhhhh.... Sayang, kamu selalu nikmat." Erang Bagas. Anya hanya pasrah.
"Susu terenak yang pernah abang coba." Ucapnya seksual setelah melepaskan p*t*ng Anya.
__ADS_1
***
4 bulan kemudian.
"Sayang udah siap belum?" Tanya Bagas yang baru pulang kantor. Langsung masuk ke dalam kamarnya.
"Iya bentar, Anya mandi dulu. Tadi Anya ngurus anak-anak, sekarang mereka udah pada siap." Jelas Anya yang sedang berendam di bathtub.
"Ceklek." Bagas membuka pintu kamar mandi di dalam kamarnya.
"Abang juga mau ikutan mandi. Kebetulan belum mandi." Jelasnya.
"Yaudah abang mandi aja, Anya udah kok." Jawab Anya yang mau beranjak.
"Eitssss.. no no no." Cegah Bagas. "Kita mandi bersama titik."
Alhasil mereka mandi bersama. Dengan melakukan ritual keramat. Bagas tak pernah bosan meski setiap hari. Bahkan sehari tiga kali pun ia sanggup.
Setelah semua siap. Bagas, Anya dan anak-anak masuk ke mobil menuju KFC Jakarta. Mereka ingin merayakan ulang tahun Rachell yang ke empat.
Dengan sederhana makan chicken, burger, kentang goreng, cola, dan masih banyak lagi.
"Apakah tuan mau merayakan ulang tahun?" Tanya seorang pelayan yang mengenali Bagas. Dia tahu kalo Bagas pengusaha terkaya di Asia. Sekaligus tersukses dan terkenal.
"Iya, anak saya."
"Yang mana?" Tanyanya.
"Ini, dia ulang tahun ke empat." Tunjuk Bagas pada Rachell.
"Kalo mau, tuan dan nyonya bisa ke ruangan atas. Di sana sudah disiapkan untuk yang sedang ulang tahun. Tuan dan nyonya juga bisa memilih fasilitas VVIP." Jelasnya.
"Emm gimana sayang?" Tanya Bagas meminta pendapat Anya.
Merekapun meminta ruang VVIP. Dimana selain keluarga kecilnya, ada badut yang memakai kostum ayam dan beberapa karyawan yang menyiapkan peserta tersebut.
MC nya pun memimpin pembukaan, do'a hingga penutupan. Setelah acara selesai, mereka menikmati pesanan dan juga kue ulang tahunnya.
"Wah seru jug ya Bun." Ucap Marchell sambil makan kentang goreng.
"Kita juga mau dirayain empat bulan lagi." Tambah Michaell.
"Kan semuanya selalu dirayain?" Tanya Bagas.
"Temanya kan beda-beda yah." Jawab Marchell.
"Yaudah temanya mau apa nanti?" Tanya Bagas.
"Di sekolah." Jawab mereka kompak.
Mereka saling pandang dan tertawa kecil. "Kita kan udah enam tahun yah?" Tanya Michaell.
"Iya, kita mau tema baru." Tambah Marchell.
"Kalian masuk sekitar tiga atau empat bulan lagi nak." Ucap Bagas.
"Hmmm." Mereka pun hanya bisa cemberut.
"Tahun depan ya sayang?" Bujuk Anya.
"Yaudah, gak apa-apa. Kalian baru masuk, langsung dirayakan ulang tahunnya di sana." Jelas Bagas.
"Horeeee!" Jawab keduanya kompak.
__ADS_1
***
Setelah sampai di rumah. Semuanya menuju kamar masing-masing karena lelah dan ngantuk. Marchell dan Michaell, sedangkan Rachell dan Richaell. Farhaell bersama orangtuanya karena masih kecil
Rencananya, setelah mereka remaja. Mungkin kamarnya, seorang satu. Tidak tahu dengan si kembar nanti bagaimana. Karena mereka seperti lem, yang sulit dipisahkan. Terlebih baju mereka selalu sama. Ya walaupun terkadang, beda warna.
"Sayang. Gak kerasa ya, anak-anak udah pada gede." Ucap Bagas yang duduk bersandar di ranjang besarnya.
Bagas membelai rambut Anya, yang tidur di pahanya. "Iya sayang, rasanya Anya tuh masih kecil. Gadis SMK dulu." Jelasnya.
Bagas mengusak rambut Anya, sedikit mengacak-acaknya. "Ih abang!" Rengek Anya.
"Udah punya lima anak, masih ngerasa anak SMK?" Tanya Bagas heran.
"Iya kan Anya tuh ngerasa belum dewasa bang." Jelas Anya.
"Mau jadi dewasa?" Tanyanya sensual.
"Gak. Abang pasti minta yang aneh-aneh." Tolak Anya.
"Gak aneh kok sayang, tiap hari malah dilakuin." Jawab Bagas.
Ketika Bagas ingin mencium Anya. "Udah, udah tidur!" Ucap Anya.
"Ihhh ayang mah gitu." Rengeknya.
"Owekk... Oweeee..." Farhaell pun terbangun.
"Tuh liat, anak kamu bangun!"
"Sayang, gak ngizinin banget ayah enak-enak." Cibirnya.
"Eh ngajarin anak sembarangan."
"Gak diajarin loh."
Setelah itu, Anya memberinya ASI. Dan menidurkannya kembali. Dilihatnya Bagas duduk di sofa sambil nonton tv. Dia meraih laptop kerjanya.
"Gak tidur bang?" Tanya Anya mendekati Bagas.
"Gak, bentar lagi. Abang mau cek dulu ini." Ucapnya sambil fukos pada laptopnya.
"Terus kenapa tv dinyalain?"
"Sambil nonton yang, biar gak pusing juga." Jawabnya.
Keesokan harinya.
Bagas sudah berangkat ke kantor tadi pagi. Rencananya Anya dan anak-anak mau ke kantor nanti sore. Dikawal oleh pembantunya.
"Bi, nanti sore anter Anya ya ke kantor." Ucap Anya yang sedang mengiris sayuran.
Anya memang lebih sering memasak dari pada para ART nya. Bukan tidak menyukai masakan ART. Tapi, selain hobby Anya. Bagas juga hanya bisa makan rumahan pasakan istrinya.
"Baik non."
"Oh iya bi, tolong jagain Farhaell dulu ya. Dia lagi tidur, Anya tidurin di kasur bayi deket tangga." Ujar Anya.
"Baik non." Pembantunya pun berjalan mendekati Farhaell.
***
Visual utama🥝🥝🥝
__ADS_1