
"Baiklah besok kalian tunangan!" Ucap Rara dan Bima kompak.
"APA?" Teriak Anya dan Bagas kompak.
***
"Jika memang benar kalian sepasang kekasih. Jelas itu tidak akan manjadi masalah untuk kalian bukan?" Tanya Rara.
"Tapi mah? Itu terlalu cepat. Bagas dan Anya baru sebulan mengenal." Ucap Bagas.
"Tidak ada penolakan. Mamah dan papah, cuman mau kalian tunangan bukan menikah." Jelas Rara. "Lagi pula, sebulan waktu yang lama untuk saling mengenal."
"Yeah hanya engagement bukan married." Lanjut Bima.
"Lagi pula, selama apapun kalian pacaran. Tetap tidak akan mengenal dengan luas. Karena, kalian pasti memiliki rahasia masing-masing yang tidak diperlihatkan. Terutama kebiasaan buruk, dari masing-masing kalian." Ucap Bima.
"Kalian akan saling mengenal, nanti ketika sudah menikah. Dan disanalah kalian harus saling bisa menerima kekurangan masing-masing." Jelas Rara bijak.
"Tetap saja itu butuh pemikiran yang sangat matang. Kami juga belum mengenal keluarga satu sama lain." Jelas Bagas.
"Keluarga Anya dan keluarga kita sudah saling mengenal kok." Jawab Rara tersenyum.
"APA?" Tanya Bagas dan Anya kompak.
"Kami mencari tahu mengenai gadis yang dibawa kamu ke rumah. Rumah yang bahkan kamu rahasiakan dari orang tuanya." Jelas Rara.
"Dan ternyata dia adalah Anya. Kami mencari tahu tentang Anya dan latar belakangnya." Lanjut Bima.
"Mah, pah. Kalian sudah kelewatan!" Ujar Bagas kesal.
"Kami juga tahu Bagas , kamu mencari tahu tentang Anya. Bahkan, ketika masih ada dendam dalam hati kamu!"
"Kami juga tahu, kalian berbohong mengenai pembicaraan tadi. Kalian tidaklah pacaran. Tetapi, kami juga tahu. Anya banyak merubah kepribadian Bagas." Jelas Rara.
"Jadi, kami memutuskan untuk menikahkan kalian. Kami juga sudah meminta restu dari kedua orang tua Anya." Lajut Bima.
"Apa maksud papah?" Tanya Bagas belum paham.
"Kami datang ke kota Subang. Dan mendatangi rumah ayah dan bunda dari Anya. Kami tahu, bahwa orang tua Anya bercerai. Dan kami tidak mempermasalahkan itu." Jelas Rara.
"Jika Tante dan Om tahu. Semua ini hanya sandiwara, dan kalian juga tahu latar belakang saya. Mengapa kalian tetap ingin menjadikan saya menantu kalian?" Tanya Anya merendahkan diri.
"Anya!" Ucap Bagas tak terima. Dengan yang Anya katakan.
Rara duduk di sebelah Anya, dan memeluk Anya.
"Tante memiliki mata-mata untuk terus mengintai Bagas. Tante juga tahu, apa yang terjadi pada kalian."
__ADS_1
"Tante dan Om sama sekali tidak mempermasalahkan latar belakang kamu. Tante tahu maksud kamu adalah, bahwa keluarga kamu tidak sekaya keluarga Bagas? Dan bahkan keluarga kamu tidak seutuh keluarga Bagas?" Tanya Rara sambil bercerita.
"Tante tahu semua itu, tetapi jika ingin menjadi utuh. Mengapa kita tidak menjalin hubungan itu, ke jenjang yang lebih serius?" Lanjutnya.
"Kami tidak saling mencintai Tante. Meskipun Tante dan Om menerima segala kekurangan saya. Tetapi jika pernikahan ini tidak didasari dengan cinta, mau bagaimana?" Jawab Anya tersenyum.
"Kalian saling mencintai, tapi kalian saling enggan untuk mengungkapkan." Jawab Rara.
"Papah dan mamah sudah bulat untuk menjadikan kalian sepasang kekasih!" Ucap Bima.
"Papah dan mamah sudah merencanakan ini dari jauh?" Tanya Bagas.
"Tentu saja." Jawab keduanya.
"Lalu, mengapa menerima lamaran Mela dan menyebar undangan?" Tanya Bagas.
Rara dan Bima saling menatap penuh arti.
"Tentu saja untuk memancing kamu, dan ternyata benar. Kamu menggunakan Anya untuk menyelamatkan pernikahan yang tidak kamu inginkan itu!" Jelas Rara tersenyum.
"Semuanya sudah disiapkan, kedua orang tua dan keluarga Anya akan datang besok. Mereka sempat menolak, karena mereka mengetahui yang sebenarnya. Bahwa kalian bukanlah sepasang kekasih."
"Tetapi, mereka menerima pinangan kamu, setelah melihat foto dan Vidio kebersamaan kalian." Jelas Bima menunjukkan foto dan vidio mereka.
"Ah kalian sampai mengikuti kita ke pasar malam?" Tanya Bagas melihat foto mereka.
"Jadi? Apakah kalian akan menolak? Tunangan ini juga mengundang beberapa kolega kamu yang berada di luar negeri. Jadi tunangan ini akan menjalin kerja sama juga. Jika nantinya, kalian memutuskan untuk tidak menikah." Jelas Rara lagi.
"Mah mengapa melakukan ini sebagai ajang kerja sama lagi?" Tanya Bagas kesal.
"Berarti memang kalian saling mencintai, bukan hanya atas dasar kerja sama ataupun balas dendam." Jawab Bima tersenyum.
"Kalian jangan mudah menyimpulkan kalo kita saling mencintai. Itu kesimpulan yang tidak mendasar. Kami hanya kerja sama. Ia pah, mah. Bagas memang ingin balas dendam, tapi Bagas juga memanfaatkan Angel, untuk melakukan hal-hal yang dikerjakan selayaknya karyawan, sekertaris ataupun hal-hal lainnya yang Bagas butuhkan." Jelas Bagas terus menolak.
"Bagas, Bagas! Jangan terlalu keras pada hatimu!" Ucap sang ayah.
"Iya nak, mamah tahu. Kamu sudah mulai mencintai Anya. Jika tidak, bagaimana mungkin kamu selalu melindunginya. Dan memberikan kehangatan, seperti..." Ucap Rara terhenti.
"Pelukan." Lanjut Bima.
"Ciuman." Balas Rara.
"Dan kata-kata penyemangat untuk Anya!" Ucap Bima dan Rara kompak.
"Apapun alasannya. Bagas tidak ingin menikah!" Ucap Bagas kekeh.
"Kami tidak menyuruh kamu menikah! Kami hanya ingin melindungi kalian, mengertilah. Bagas kamu seorang pengusaha terkenal. Tentu kamu tak asing bagi media, entah itu di televisi, internet, majalah dan lainnya." Jelas Rara.
__ADS_1
"Kami juga tidak ingin, Anya ikut menanggung rumor tak berdasar itu!" Tambah Bima.
"Rumor?" Tanya Bagas tak mengerti.
"Hah? Kalian sama sekali tidak tahu? Pantas saja, tidak ada konfirmasi. Karena sibuk berduaan, kalian kapan terakhir kali melihat hp?" Tanya Rara tak percaya.
Sementara itu, Bagas dan Anya membuka hp nya masing-masing. Dan benar kedua hp Rara dan Bagas mati. Kehabisan baterai.
Anya dan Bagas tidak membuka hp masing-masing dari semenjak kepergian mereka ke Bali.
Bagas hanya menggunakan hp, untuk menelpon rekan kerjanya saja. Sedangkan Anya, sama sekali tidak kepikiran untuk membuka hp nya.
Menonton televisi pun, tidak menonton berita atau gosip terkini.
"Ini!" Ucap Bima menyodorkan teleponnya.
Bagas dan Anya mulai membaca, rumor demi rumor yang beredar.
"CEO terkenal dan tersukses se-Asia, Bagas Khristal Jaya. Tengah menggandeng wanita berparas cantik yang belum diketahui identitasnya. Akankah mereka berkencan?"
"Rumor yang beredar, pengusaha Bagas Khristal Jaya. Hampir menikah dengan Mela sahabat dekatnya, karena kerja sama orang tua mereka. Yaitu perusahaan ayah handa dari, Bagas Khristal Jaya. Dan perusahaan dari ayah handa Mela."
"Kabarnya CEO Bagas dan Mela tak jadi menikah, karena gadis belia yang digandeng Bagas ke Bali. Acara kerja sama dengan berbagai kolega di penjuru dunia."
"Apa-apaan ini?" Tanya Bagas kesal.
"Ya, media ada dimana-mana. Kamu pikir, kita membuat kamu tunangan itu jalan yang buruk, dan tanpa mendasar?" Tanya Rara.
"Jika memang nantinya kalian tidak cocok, kalian boleh membatalkan pertunangan kalian. Tetapi, dengan cara yang baik-baik. Ingat, mamah dan papah tidak ingin ada akhir yang buruk. Apapun yang terjadi." Jelas Bima memperingati.
"Tante, Om. Kenapa tidak mencoba memberikan klarifikasi dari rumor itu?" Tanya Anya menyarankan.
"Klarifikasi? Itu semua hanya omong kosong, yang tak pernah dipercayai oleh netizen." Jawab Rara.
"Huuuhh..." Anya bernafas panjang.
"Baiklah. Kita akan tunangan, untuk memberikan klarifikasi. Bagas tidak ingin menikah dengan Mela. Dia adalah sahabat Bagas, sampai kapanpun." Jelas Bagas tegas.
"Bagus!" Ucap Rara dan Bima kompak.
***
Visual🦋
__ADS_1