
Mereka pun pulang, dan mampir ke restoran untuk makan siang. Sedangkan anak-anak di titip pada ART nya.
***
"Sayang, yakin pesen itu?" Tanya Anya.
"Kenapa?" Tanya Bagas.
"Gak apa-apa sih. Tapi emang kayaknya, kamu yang ngidam deh." Ucap Anya.
"Makan rujak juga bukan cuma cewek sayang." Bela Bagas.
"Bukan cuman rujak. Lihat tuh, seblak pedes, kebab, kentang goreng, tomyam, toppoki, eskrim, jus astaghfirullah sayang. Kamu ngidam apa kelaparan, gak makan sebulan sih?"
"Gak usah heran gitu deh, lebay kamu. Lagian sayang, kamu juga sering makan banyak-banyak gini." Bela Bagas lagi.
"Terserah deh. Yang penting abis, sayang banget kalo gak abis." Ucap Anya.
"Pasti dong sayang."
Anya cemberut dan memanyunkan bibirnya. Namun, Bagas malah menyukainya. Anya terlihat imut.
Bagas mengantar Anya ke rumah, kemudian kembali ke kantor. Setelah selesai makan siang bersama.
***
Pesta tunangan Shinta dan Calvin di gelar di kediaman rumah orang tua Shinta dan Vian.
Setelah acara selesai. Mereka pun berfoto bersama.
"Kak. Tenang aja aku gak akan langkahin kakak kok." Ucap Shinta pada Vian.
"Dilangkahin juga gak apa-apa kok." Jawab Vian tersenyum.
"Gak bisa. Aku sama kak Calvin sepakat nunggu kakak. Semoga aja tahun ini kakak bisa nikah ya." Ucap Shinta.
"Mana bisa. Lagian kesannya, kamu jadi ngeburu-buru kakak tahu. Lebih baik, kamu aja yang duluan. Kan udah keliatan jodohnya." Ujar Vian.
"Udah, mikirin yang gitu nya nanti lagi. Mending difoto dulu yuk!" Ajak Sati.
"Ayo!"
Setelah selesai sesi foto. Semuanya makan bersama dengan nikmat.
"Kita pamit pulang ya." Ucap Bagas.
"Kenapa buru-buru kak?" Tanya Shinta.
"Kasian anak-anak udah cape banget tuh." Jawab Bagas.
"Selamat ya Shinta, Calvin. Kita pamit duluan." Ucap Anya cipaka-cipiki dengan Shinta dan Sati.
Anya pun menyalami Calvin. Tidak menyangka lelaki yang diawal pertemuannya dulu. Menggoda Anya kini menikahi adiknya Vian.
Sesampainya di rumah. Bagas bergegas ke wastafel di kamar mandi dekat dapur.
Anya pun mengikuti Bagas. Setelah anak-anak ditidurkan di sofa dan dijaga oleh ART nya.
"Nitip dulu ya bi."
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Anya memijat tekuk leher belakang Bagas.
Bagas memuntahkan semua isi perutnya.
"Ahh.. sayang lemes banget. Mual lagi." Ucap Bagas setelah dirasa sudah memuntahkan semuanya.
"Kita ke dokter ya? Atau panggil aja dokternya ke sini?" Tanya Anya.
Bagas mengangguk lemah. Namun, sebelum melangkah Bagas sudah tak sadarkan diri, terjatuh pingsan.
__ADS_1
Anya yang berada dekat di depan Bagas, refleks menangkap tubuhnya Bagas. Yang kekar dan berat. Kepala Bagas bersandar di bahu Anya.
Anya memeluk punggung Bagas dan membawanya ke kamar terdekat. Anya segera menelpon dokter pribadinya.
"Gimana dok?" Tanya Anya.
"Gak apa-apa. Cuman kecapekan aja kok." Jawab dokter Erik.
"Sebelumnya dia sering mual, muntah dan pingsan juga dok. Saya juga sudah memeriksa ke dokter kandungan."
"Dan kata dokter Ana itu hal biasa dan wajar. Yang mana disebut dengan kehamilan simpatik atau cauvade syndrome." Jelas Anya.
"Oh kamu sedang hamil Anya?" Tanya Erik yang baru tahu.
"Iya." Jawab Anya mengangguk.
"Emm memang benar. Sepertinya Bagas mengalami ngidam atau cauvade syndrome." Jelas Erik.
"Ini obat dan aroma terapi agar berkurang mualnya." Jelas dokter Erik.
"Terimakasih dok."
***
Pagi harinya di kantor.
"Semua udah gue tanda tangani. Gue mau pulang, soalnya gue lagi gak enak badan. Lo urus semuanya, hubungi gue kalo ada apa-apa." Jelas Bagas setelah selesai mengecek semua berkas yang harus ia tanda tangani.
"Oke. Lo morning sickness lagi?" Tanya Vian.
"Ya begitulah. Kehamilan simpatik atau cauvade syndrome yang dokter bilang, gue bener-bener tersiksa. Ternyata hamil itu gak mudah." Jelasnya.
"Makanya surga di telapak kaki ibu." Ujar Vian.
"Yaudah. Gue pulang."
"Oke hati-hati di jalan. Atau mau gue anter?" Tanya Vian.
"Gak usah, gue udah hubungi supir pribadi."
Vian terpaksa harus menghadiri undangan bisnis. Karena Bagas sedang mogok. Beberapa karyawan Bagas pun turut di undang. Hanya perwakilan saja.
"Sati, kamu jadi perwakilan untuk datang ke undangan bisnis nanti malam." Ucap kepala divisi tiga.
"Pesta buka Bu?" Tanya Sati.
"Ya kurang lebih seperti itulah. Dan yeah, meskipun terlihat seperti bersenang-senang. Kamu wajib datang. Tanpa terkecuali! Itu juga pekerjaan." Jelasnya.
"Emm baiklah Bu."
"Bukan cuma kamu kok yang diundang. Beberapa karyawan pak Bagas ikut diundang!" Jelasnya.
Sati pun mengangguk.
***
Malam pun tiba.
Vian yang merasa frustasi, akibat putus cinta. Pasalnya sahabat kala dia sekolah dulu sudah menikah minggu kemarin. Dan dia baru tahu hari ini.
"Seandainya gue gak harus dateng ke sini. Gue udah dateng ke club' malam buat melampiaskan kekesalan ini." Ujar Vian yang sedang meminum miras di balkon gedung.
Vian berdiri di pagar balkon, sambil meneguk Vodka.
Untung saja acara sudah selesai. Dan tinggal menikmati hidangan dan pesta yang ada.
"Sati kamu kasih ini ke pak Vian. Dia tinggalin berkas sepenting ini." Ujar atasan Sati.
"Baik pak."
Sati pun mencari Vian. Hingga akhirnya dia menemukan di balkon, yang sedang duduk di lantai.
__ADS_1
"Pak Vian!" Panggil Sati.
"Hmm?" Vian pun mendongakkan kepalanya.
"Ini berkas kerja sama, yang sudah di tanda tangani oleh perusahaan Bellegyo entertainment." Jelas Sati menyodorkan berkasnya.
Vian mengambilnya lalu memasukkan ke tasnya.
"Bawa ke mobil pribadi ku!" Ucap Vian pada supir pribadinya.
"Oh iya tunggu aku di mobil saja!" Ucap Vian lagi pada supir pribadinya.
"Baik tuan."
"Jika lama, kau duluan saja pulang!"
"Siap tuan."
"Sati! Kamu Sati kan?"
"Iya pak Vian." Jawab Sati membalikkan badannya. Tadinya dia akan kembali ke bawah.
"Sini!"
Sati pun mendekati Vian tanpa ragu.
"Tolong ambilkan wine!" Ucapnya.
"Tidak pak, sepertinya bapak sudah mabuk berat." Jawab Sati.
"Berani melawan ku?"
"Emm emm baiklah pak." Sati pun mengambil sebotol wine dan memberikan pada Vian.
"Tunggu! Temani aku minum." Pinta Vian menghentikan langkahnya.
"Saya gak minum pak."
"Tidak bisa! Kamu harus ikuti maunya saya!" Ujar Vian.
Vian pun memberikan segelas wine pada Sati. Memaksanya untuk meminum wine tersebut.
"Saya-"
Sati pun tak sengaja menelan wine yang disodorkan paksa oleh Vian. Hingga segelas tandas.
"Pak. Bapak keterlaluan!"
Sati berusaha menghubungi Shinta, sahabat sekaligus adik Vian.
"Shin kenapa gak diangkat-angkat sih." Ucapnya yang menahan pusing.
"Ayo!" Ajak Vian menarik tangan Sati ke kamar yang ada di gedung tersebut.
Vian sengaja menyewa. Karena merasa lemas untuk pulang. Sebelum mabuk pun dia sudah menyewanya. Mengantisipasi bila dia tak kuat pulang.
"Brukk.."
Vian melempar tubuh Sati ke ranjang besar yang ada di kamar itu.
"Pak! Apa yang bapak lakukan!"
"Aku bukan bapak kamu!"
"K kak. Sati mohon kak, jangan lakukan apapun!"
"Aku harus jadi patung?"
"Bukan itu maksudnya kak."
***
__ADS_1
Visualš š š