
"Wow.... My goodness."
Bagas mengusap lembut rambut Anya. Sambil tersenyum manis.
***
Bagas mengatur kepulangannya ke Jakarta. Semuanya sudah sampai tadi subuh. Dan sekarang mereka sudah berada di Jakarta.
"Kenalin nama aku Shinta adik kandungnya kak Vian." Jelas Shinta memperkenalkan diri setelah sampai di rumah kediaman Bagas.
"Oh jadi kamu beneran adiknya Vian? Kok saya baru tahu ya?" Tanya Bagas.
"Soalnya semenjak papah ada bisnis di Singapore, aku tinggal di sana dari sebelum lahir. Mamah dan papah pulang ke Indonesia, dan aku sekolah di Singapore."
"Aku baru lulus kuliah, jadi aku kembali ke Indonesia. Dan melamar kerja di sini kak." Jelas Shinta.
"Oh gitu, pantesan aja kita gak kenal. Aku Bagas sahabat sekaligus bosnya Vian." Jawab Bagas.
"Aku Anya, istrinya Bagas." Tambah Anya.
"Salam kenal kak Bagas, kak Anya." Ucapnya ramah.
"Sekarang puas kan?" Tanya Vian pada Bagas, masih kesal.
"Okeh. Gue justru lebih seneng kalo ternyata itu lo sama pacar lo." Jelas Bagas.
"Gue harus ke kantor." Ucap Vian.
"Gue juga." Ucap Bagas sewot.
"Emm Shinta main aja di sini sama kak Anya ya?" Ajak Anya.
"Boleh kak. Emm kak Vian boleh kan?" Tanya Shinta.
"Boleh kok, lo kan udah gede. Gue pulang malem, jadi pulangnya sendiri aja pake taksi ya?" Tanya Vian.
"Siap kak." Jawab Shinta.
"Gak apa-apa nanti dianterin, supir juga ada." Ucap Anya.
"Hehe makasih kak."
"Kita ke kamar yuk, anak-anak kakak belum mandi." Ajak Anya.
"Ayo kak, Shinta juga mau kenalan sama mereka." Ucap Shinta.
"Kamu beda berapa tahun sama Vian?" Tanya Anya.
"Setahun kak. Makanya sering disangka kembaran atau bahkan pacar, kek tadi." Jelas Shinta.
"Iya bener juga. Tapi kok kalian dipisahin sih dari bayi?" Tanya Anya.
"Dulu kan papah punya bisnis di Singapore. Terus mamah hamil besar dan melahirkan di sana. Sedangkan kak Vian masih kecil, dan gak tahan sama cuaca di sana."
"Jadi papah pulang sama mamah pulang. Sedangkan Shinta sama om dan tante di Singapura." Jelas Shinta.
"Kenapa Shinta gak ikut juga ke Indo?" Tanya Anya.
"Karena Shinta baru lahir. Eh tahu-tahunya Shinta balik ke Indonesia udah lulus kuliah. Diumur ke 22." Jelas Shinta.
"Ohh gitu. Kamu betah dimana Shin?" Tanya Anya.
"Masih beradaptasi di Indonesia. Kemungkinan sih betah di sini. Di Indonesia lebih santai hehe." Jawab Shinta.
"Oh iya, enak ya bisa tinggal di luar negeri."
__ADS_1
"Gak juga kak. Kadang kita suka tinggal di kampung halaman. Selain data-data yang mudah, kita juga bisa ngerasain perkembangan di negeri sendiri."
"Shinta kan orang tuanya asli Indonesia. Eh lahirnya di Singapura, jadi akte dan data Shinta beda sendiri. Coba kak Vian setahun lebih awal, masih di Indonesia." Jelas Shinta.
"Ngerti ngerti, setidaknya kita bisa dua bahasa. Bisa tinggal di dua Negera juga kan." Jelas Anya.
"Iya sih kak."
"Ini kakak gak pake baby sister? Kan udah punya 4 anak. Mana selisih semuanya 20 bulan lagi." Tanya Shinta.
"Gak Shin. Cukup pembantu yang bantu jaga rumah. Jaga anak biar kakak aja, masak juga sama kakak. Pekerjaan berat lainnya yang sama pembantu." Jelas Anya.
"Oh gitu, kakak hebat banget ya. Jadi ibu muda beranak 4 xixi.." Ucap Shinta.
"Bisa aja kamu." Balas Anya.
"Ya bisa dong. Kalo gak bisa, mana mungkin Shinta sampe Indonesia." Jelas Shinta.
"Tak diragukan pokoknya Shinta. Oh iya, mau renang gak? Anak-anak biar dititip ke ART." Tanya Anya.
"Boleh kak."
***
Anya dan Shinta berenang sambil makan steak dan soda.
"Enak gak?" Tanya Anya.
"Apanya kak?"
"Steak."
"Enak banget kak. Kayak di restoran bintang lima." Jawab Shinta antusias.
"Ini kakak yang buat loh." Ucap Anya sambil memanggang.
"Kakak dulu masa-masa SD sampe SMK suka banget sama Korea. Entah itu drama ataupun KPop." Jelas Anya.
"Wah gitu kak?"
"Iya, bukan hanya itu. Cuman make up Korean yang kakak suka, belum lagi fashion nya. Semua tentang Korea kakak suka. Ya kecuali agama mungkin ya." Jelas Anya semangat.
"Wah kakak pasti army ya?" Tebak Shinta.
"Kok tahu?"
"Cuma nebak hehe... Kebanyakkan kpopers sukanya BTS kak." Jawab Shinta jujur.
"Iya sih."
"Renang lagi yuk?" Ajak Anya.
"Ayo kak."
Mereka pun berenang sampai merasa kelelahan.
Setelah beberapa jam.
"Kita mandi aja yuk. Kakak udah lelah nih." Ucap Anya.
"Ayo kak haha..." Jawab Shinta sambil tertawa kecil.
"Kak Anya niat punya anak lagi gak?" Tanya Shinta setelah mandi dan ganti baju.
"Niat, satu lagi. Kakak sama Bagas dulu tuh pengen banget punya lima anak." Jelas Anya.
__ADS_1
Mereka pun berjalan ke dapur. Mereka ingin makan siang, sambil mengasuh anak-anak. "Oh bisa kompak gitu ya kak?" Tanya Shinta.
"Hehe iya. Jodoh kali ya namanya." Jawab Anya.
"Aku liat sih, kakak tuh sama kak Bagas kayak masih SMK tahu." Jelas Shinta jujur sambil duduk di meja makan.
"Wah seriusan?" Tanya Anya sambil menyiapkan makanan.
"Iya loh kak, awet muda banget." Jelas Shinta.
"Gak juga ah. Mau makan apa?" Tanya Anya.
"Biar Shinta ambil sendiri kak." Ucapnya.
"Oh boleh silahkan."
"Beneran loh kak, kalian pake produk kecantikan apa sih?" Tanya Shinta sambil mengunyah makanan.
"Nanti kakak kasih tahu." Jawab Anya. "Tapi, bukan cuman kamu sih yang bilang kita awet muda." Jelas Anya.
"Tuh kan. Berarti emang bener, kalian tuh awet muda." Jelas Shinta.
"Padahal umur kami tuh beda tujuh tahun loh." Jelas Anya.
"Umur kakak berapa?" Tanya Shinta.
"Jalan 24 tahun tahun." Jawab Anya.
"Berarti kak Bagas 31 tahun?" Tanya Shinta.
"Iya."
"Kak Anya sama Shinya juga beda 2 tahun. Loh kak Vian 23. Kek ngerasa, gak mungkin."
"Ya gak sih? Kirain kak Vian tuh seumuran sama kak Bagas." Jelas Shinta.
"Iya yah. Baru nyadar loh kakak."
"Syok berat nih Shinta."
"Haduh.. kamu ngindep aja di sini Shin." Tawar Anya.
"Gak enak kak." Jawab Shinta.
"Bagas sama Vian ada tugas lembur. Mereka ngindep di kantor." Jelas Anya.
"Oh gitu?"
"Iya barusan Bagas hubungi kakak."
"Gak apa-apa Shinya ngindep? Masa pertemuan pertama udah ngindep si?" Tanya Shinta.
"Gak apa-apa dong sayang, angep aja kakak sendiri." Jelas Anya.
"Asyik punya kakak baru."
Anya tersenyum dibuatnya.
***
Visual🤍🤍🤍
Foto perkara, menuai keributan.
__ADS_1
Shinta 🪩🪩🪩