Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 12 - Pasar Malam


__ADS_3

Vian yang sedang sibuk dengan pekerjaan kantor, memerintahkan supir untuk menjemputnya.


***


"Lain kali, kuatkan dirimu. Saya sudah malas melihat kamu lemas ketika bekerja begitu! Kamu harus menemani saya gym sekarang!"


"Dan yeah jangan bilang kamu tidak terbiasa!" Ucap Bagas setelah Anya siuman, dan mereka kini berada di dalam mobil menuju ke rumah pribadi Bagas.


"Baik tuan. Kebetulan saya juga suka gym." Jawab Anya yang masih lemas.


"Ah good job!" Ucap Bagas senang.


Sesampainya di rumah. Bagas meminta bi inem untuk menyiapkan pakaian olahraga, untuk sepasang wanita dan pria.


Bagas memakai celana pendek dan kaos oblong. Sedangkan Anya, memakai rok pendek dan celana pendek yang tidak terlihat, juga memakai baju ketat yang memperlihatkan pusar dan ketiaknya.


Bagas sengaja memilih, stelan seksi. Agar dapat cuci mata, dan membuatnya semakin bersemangat.


"Ah kau sangat cantik baby!" Ucap Bagas mengelus pipi Anya, dan mengelus perut ramping Anya. Sambil berjalan ke arah barbel.


"Baby kamu naik ya!" Ucap Bagas yang sudah mengambil posisi push up.


"Tapi tuan!" Tolak Anya.


"Ayo!"


Anya pun duduk di punggung Bagas.


"Berbaring dong baby!" Pinta Bagas lembut.


Anya berbaring mempunggungi Bagas.


"Posisinya kebalik baby!" Jelas Bagas menggoda Anya.


"Tuan saya tidak nyaman!" Ucap Anya jujur.


"Kamu lupa, perjanjian kita baby?" Ucap Bagas sedikit menahan emosi.


Anya pun membalikkan tubuhnya, d*danya dia tahan agar tak menyentuh punggung Bagas. Bagas yang merasakannya, memiliki ide.


Bagas menjatuhkan tubuhnya tiba-tiba, sehingga Anya kaget dan memeluk dada Bagas, dengan memegang dadanya Bagas.


Bagas yang merasakan sesuatu. Melanjutkan aksinya, dan terus push up. Anya tidak bisa mengembalikan posisinya ke awal. Alhasil, hanya pasrah.


Bagas pun mengajari beberapa alat gym kepada Anya. Dengan sedikit curi-curi kesempatan.


"Aahhgghh tuan! Kenapa menyentuhnya?" Tanya Anya kesal.


"Kenapa baby? Saya hanya mengajarimu!" Sanggahnya.


Beberapa menit kemudian..


"TUAN!" Teriak Anya.


"Baby! Aku tidak tuli!" Ucap Bagas memegang telinganya sakit.


***


Setelah mereka selesai gym, lebih tepatnya Bagas hanya bermain-main. Dan membuatnya senyum-senyum sendiri, penuh kemenangan. Akhirnya mereka istirahat, dan duduk sebentar.


"Tuan, bolehkah saya keluar sebentar?" Tanya Anya, yang tak nyaman.


Bagas yang senyam-senyum sendiri tersadar. "Kemana?"


"Saya sudah lama gak jajan makanan di pinggir jalan tuan, katanya ada pasar malam juga!" Jelas Anya berseri.


"Tidak boleh!" Tolak Bagas cepat.


"Emm sekali ini saja!" Ucap Anya memohon.


"Tidak."


"Emm jika tuan ikut bagaimana?" Saran Anya santai.


"Kamu serius ngajak saya?" Tanya Bagas tak percaya.


"Iya?"

__ADS_1


"Kali ini saja!" Balas Bagas senang, namun tetap berwibawa. Dan pencitraan, bahwa dia harus terlihat biasa saja.


Mereka pun jalan-jalan berdua. Bagas memarkirkan mobil, mereka berjalan di trotoar dan melihat senja yang indah. Bagas curi-curi pandang dan memotret Anya, diam-diam.


Anya membeli beberapa makanan, dari seblak, aromanis, hingga pop ice. Bagas yang tidak menyukai hal seperti itu hanya melihat. Namum, Anya menyodorkannya pada Bagas, agar mencobanya. Bagas yang awalnya tidak mau, karena paksaan dia menerimanya.


"Kamu beli lagi sana!" Pinta Bagas, yang akhirnya menyukai apa yang dia coba. Yang diberikan Anya, hanya untuk menyicipinya.


"Tuan aja yang beli, ini punya saya!" Tolak Anya.


"Siapa bosnya?" Tantang Bagas.


"Hmm... Baiklah." Jawab Anya mengalah.


Anya membeli lagi serba dua porsi, dan benar saja Bagas mengambil 1 porsi lagi.


Menikmati senja di pinggiran kota, adalah impian Anya selama ini. Tak disangka, dia menikmatinya dengan orang asing, yang salah alamat.


"Tuan kita pergi ke pasar malam yuk?" Ajak Anya antusias. Setelah hari sudah malam.


"Sebaiknya kita pulang!" Tolak Bagas.


"Tuan ini kan malam Minggu!" Bujuk Anya.


"Maksud kamu, kamu ingin kencan dengan saya?" Tanya Bagas ketus.


"Tidak. Besok kan libur ?" Jawab Anya cepat.


Bagas yang tadinya merasa tinggi dan senang, seketika terhampas mendengar alasan Anya.


"Sekali ini saja, oke hari ini bersenang-senang. Besok lihat pembalasan saya!" Ucapnya berbisik.


Anya bergidik ngeri, dan hanya diam.


***


Langit sudah berubah gelap, kemerlip bintang menemani terangnya sang rembulan menyinari malam yang sunyi. Di samping itu, ke dua insan telah menikmati keindahan malam dengan semilir angin menyapanya.


"Angel!" Panggil Bagas.


"Iya tuan?"


"Baik tuan."


"Meskipun saya terlihat tidak ada kerjaan, saya sangat sibuk." Ucap Bagas dingin.


"Iya tuan, saya mengerti. Saya juga tadinya mau pergi sendiri, atau dengan teman saya. Tapi, tuan tidak mengizinkan" Keluh Anya.


"Siapa? Kapan kamu punya teman di sini?" Tanya Bagas sensi.


"Emm meskipun saya tinggal di Subang, saya punya teman kok di Jakarta. Ada sodara saya juga di sini." Jelas Anya.


"Ah benarkah?" Tanya Bagas tak percaya.


"He'em." Jawab Anya santai.


"Tuan kita jajan dulu apa naik wahana dulu?" Tanya Anya lagi.


"Saya tidak tertarik." Jawab Bagas dingin.


"Ayolah!" Bujuk Anya.


"Lebih baik di Dufan saja." Saran Bagas malas.


"Ini kan pasar malam, lebih sederhana namun tak kalah menyenangkan, daripada Dufan." Jelas Anya ambisius.


"Jangan ngada-ngada kamu!" Jawab Bagas tak percaya.


"Ah naik kincir yuk!" Ajak Anya, setelah melewati kuncir.


"Gak!" Tolak Bagas dingin.


"Bye." Ucap Anya melambaikan tangan.


Bagas hanya memandangi Anya, gemas dengan kelakuan Anya yang masih ke kanak-kanakan.


"Kamu sendiri?" Tanya seorang pria pada Anya. Saat membeli tiket.

__ADS_1


"Emm gak sih, tapi kalo naik kincirnya sendiri." Jelas Anya santai.


"Boleh gabung gak? Saya gak nyaman kalo sendiri." Pinta pria itu sopan.


"Emm ***-" Jawab Anya terpotong.


"Tidak. Angel dengan saya." Potong Bagas cepat, lalu membeli tiketnya.


"Tuan serius mau naik?" Tanya Anya meyakinkan.


"Hmm." Respon nya dingin.


Kini Anya naik dengan Bagas, Bagas yang sudah tidak enak hati mulai was-was.


"Tuan?" Tanya Anya khawatir.


"Hmm.."


"Tuan gak apa-apa kan?" Tanya Anya lembut.


"Gak." Jawab Bagas dingin.


Tibalah mereka di tengah-tengah ketinggian. Dan kincir berhenti berputar.


"Kenapa nih?" Tanya Bagas was-was.


"Gak papah tuan. Ini biasa terjadi, nanti juga jalan lagi." Jelas Anya santai.


"Aahhgghh... Kita harus telepon damkar. Atau sejenisnya!" Saran Bagas panik.


"Tuan gak usah lebay, apa ini pertama kalinya?" Tanya Anya heran.


"Berisik!" Ucapnya marah.


"Tuan lucu banget sih kalo takut!" Ucap Anya tersenyum kecil.


"Saya gak takut!" Ucapnya memasang wajah sedingin mungkin.


"Kalo tuan takut jangan banyak gerak!" Ucap Anya memperingati.


"Aghhhgggghhhh..." Teriak Bagas melompat pada Anya dan memeluknya.


"Tuh kan saya bilang, jangan banyak gerak. Buat keseimbangan! Biar kincirnya tidak goyang-goyang!" Jelas Anya santai.


Bagas pun duduk kembali, dan memasang wajah dingin.


Kincir pun berjalan kembali.


"Apa saya bilang, ini hal biasa." Jelas Anya tersenyum.


Bagas terdiam malu.


"Jangan mengira, bahwa kamu lebih berani dari saya!" Ucap Bagas tak ingin kalah.


"Hmm. Baiklah." Respon Anya santai.


***


Setelah mereka turun, Anya mengajak Bagas membeli sea food bakar. Bagas mengekor dan ikut membelinya. Pasalnya mereka belum benar-benar makan malam.


"Em itu ada permainan baru!" Ucap Anya berjalan ke arah permainan tembak-tembakan bola. Yang menang dapat mengambil apapun, seperti boneka, aksesoris dan lainnya.


Anya mencobanya. "Ahh hampir saja!"


Bagas mencobanya, tak tega melihat Anya kecewa. "Wah tuan hebat!" Ucapnya antusias.


Bagas hanya memasang wajah sok keren.


"Ambil yang kamu inginkan!" Ucap Bagas senang.


***


Visual🌌



__ADS_1




__ADS_2