Lorong Waktu

Lorong Waktu
Mencari Eva (Bagian 2)


__ADS_3

Aldi dan Ivanna memutuskan untuk memeriksa kembali seluruh ruangan di lantai bawah, satu persatu.


Di kamar ke empat mereka masuk, kamar ini cukup besar juga bersih. "Aneh sekali ya kak padahal gak ada orangnya di sini, tapi kamar ini kok bersih ya." Celetuk Ivanna.


"Entahlah Iv, kak Aldi juga bingung."


"Aduuhh..." Tiba-tiba Aldi tersandung karpet. Karena Ivanna memegang tangan Aldi otomatis Ivanna juga ikut jatuh di lantai dan menubruk Aldi. "Aauuu..." Desah Ivanna.


Tanpa sadar mata Ivanna bertemu dengan mata elang milik Aldi, rasanya indah sekali terjatuh kali ini, batin Ivanna. "Kok detak jantungnya cepat banget sih, itu jantung aku atau jantung Ka Aldi" Batin Ivanna.


Cukup lama mereka saling pandang, sampai akhirnya. "Tolong.... siapa pun di sana tolong.." Suara itu mulai melemah. Kemudian, "Tolong.... Tolong aku, aku di sini...." Suara itu keras dan nyaring.


Aldi dan Ivanna saling pandang. Kemudian bangun tanpa rasa canggung. "Kak Aldi kita harus kemana dulu? disini ada suara yang dekat." Bisik Ivanna.


"Kaya nya kita cek yang dekat aja dulu Iv." Bisik Aldi tak kalah pelan. Mereka pun berdiri dan melangkah mendekati sumber suara itu. Ternyata di dalam kamar tersebut ada pintu lagi yang ditutupi tirai. "Pantas aja gak keliatan tadi." Gumam Ivanna.


Eva mencoba membuka pintu itu namun terkunci. "Kak gimana nih? Pintunya terkunci kak."


"Kak Ivanna...." Teriak suara di dalam.


"Ini Eva?" Tanya Ivanna ragu.


"Iya kak, tolong Eva."


Tiba-Tiba.... Bruukkk seperti suara pintu yang di banting dengan keras, kemudian.. "Tolong....." Suara itu lagi, tolong... aku di sini." Ivanna makin hawatir, yang mana dan yang di mana sebenarnya adiknya. Kalau suara yang lantang itu adiknya, dia takut sekali adiknya kenapa napa. Tapi di sini, di dekatnya jua ada suara adiknya. Ivanna bingung sekarang.


"Kak Aldi..." Pandang Ivanna sambil memegang lengan Aldi. Se akan mengerti perasaan Ivanna, Aldi mengelus lembut rambut Ivanna.


"Ivanna minggir dulu yaa, kak Aldi dobrak aja pintunya." Pinta Aldi.


Ivanna minggir, beberapa kali Aldi mencoba mendobrak pintu itu dengan tubuhnya yang kekar, dan.. Brukkkk...

__ADS_1


Pintu itu akhirnya terbuka. Di dalam sudut ruangan itu terlihat gadis yang mirip sekali dengan Ivanna, tapi dengan rambut yang lebih panjang, dan mata yang lebih besar. Dia menangis dan terlihat kusut.


"Kak Ivanna...." Eva berlari dan memeluk Ivanna. Ema menangis tersedu-sedu.


"Eva kok bisa sampai di sini sih?" Ivanna sambil melepaskan pelukan adiknya itu.


"Ceritanya panjang kak, sebaiknya kita gak usah cerita disini." Kata Eva dengan cemas. Ivanna dan Aldi menganggukkan kepala.


"Ayo kak Aldi, kita keluar, kita keluar lewat jendela tadi kak." Ucap Ivanna cepat sambil menarik tangan Eva dan tangan Ivanna satunya lagi terus berpegangan pada tangan Aldi.


"Loh Iv, tadi kita benerkan lewat jendela ini?" Aldi bingung menapa jendela yang tadinya pecah dan bisa di lalui tiba-tiba kembali seperti semula tanpa ada bekas pecah atau retakan sedikit pun.


"Iya bener kok kak kita tadi lewat sini." Ucap Ivanna cepat. Sementara Eva dia bingung harus bagaimana.


"Apa sebaiknya kita pecahin lagi, tapi di sini gak ada benda keras, kecuali...." Ivanna menggantungkan kata-katanya.


"Patung!" Sambung Aldi cepat.


"Kalian jangan jauh-jauh dari kaka ya, kita tetap pegangan." Ucap Aldi. Karena dia hawatir kalau terjadi apa-apa dengan dua gadis di sampingnya. Ivanna dan Eva menganggukkan kepala serentak.


"Ini kak, coba pakai patung ini aja." Ivanna sambil menunjuk patung monyet yang ada di dalam lemari.


Aldi mengambil patung tersebut dan membawanya mendekati jendela. Kemudian Aldi melemparkan patung tersebut. Tapi kaca jendela tersebut tidak bisa dipecahkan. "Aneh sekali padahal tadi mudah sekali." Ucap Aldi lelah, karena sudah lima kali dia melemparkan patung tersebut namun tidak bisa memecahkan jendela kaca tersebut.


"Apa kita cari jalan lain aja?" Tanya Ivanna ragu.


"Iya kak cari jalan lain aja ya, Eva takut lama-lama disini." Ucap Eva hampir menangis.


Aldi tidak tega melihay dua gadis cantik itu ketakutan, Aldi menganggukan kepalanya. "Kalian terus pengangan ya jangan sampai lepas, kak Aldi gak modus, cuma kak Aldi gak mau kalian kenapa-napa, apalagi kita sekarang di sini." Eva dan Ivanna paham dengan maksud Aldi. Kedua kakak beradik itu tersenyum dan mengaggukan kepala.


Sekarang posisi mereka Aldi di baris paling kanan, kemudian di tengan ada Ivanna memegang lengan Aldi, sekekali memengang erat tangan Aldi. Sementara Eva paling kiri, memegang erat tangan kakaknya, Ivanna.

__ADS_1


Mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Karena di lantai satu mereka tidak menemukan jalan lagi untuk keluar, kecuali jendela yang tidak bisa di pecahkan tadi.


Saat sudah berada di lantai dua, tiba-tiba... "Tolong....." Sontak saja mereka bertiga kaget.


"Suara itu lagi kak." Ucap Ivanna pelan bahkan hampir berbisik. Aldi menganggukan kepala, wajahnya tampak hawatir. Iya sebenarnya hawatir kalau-kalau Eva yang bersama mereka bukanlah Eva, namun Aldi menepiskan pikiran itu, mungkin saja yang berteriak itu yang bukan Eva.


"Suara siapa itu Iv?" Tanya Eva tak kalah pelan dari suara Ivanna tadi. "Aku gak tau, sebaiknya jangan dekati suara itu, perasaan kaka gak enak Va" Ucap Ivanna dengan wajah cemas. "Iya kak Ivanna." Jawab Eva.


Aldi, Ivanna dan Eva terus berjalan menyusuri lantai dua. Mereka sebenarnya sudah beberapa kali menemui jendela, namun semua jendela yang mereka temui ada teralis nya, bisa di buka jendelanya, namun karena ada teralis tidak bisa di lalui.


"Kita coba cari kamar, biasanya di kamar ada balkon kan?" Kata Aldi sambil berjalan dan membuka ruangan yang ternyata memang benar kamar. Kamar itu seperti kamar anak perempuan, banyak hiasan dinding cantik, ada bunga-bunga kertas di meja, dan terlebih lemari, kasur dan selimut semuanya warna pink.


Ivanna sempat berpikir, cantik sekali kamar ini. Nuansanya sungguh berbeda dengan ruangan di bawah yang terkesan agak menyeramkan karena banyak patung dan lukisan.


"Kak lihat." Sontak membuyarkan sedikit lamunan Ivanna. Eva menunjuk ke arah pintu, itu mengarah ke balkon. Mereka ke sana membuka pintu baklon dan Aldi memeriksa apakah bisa turun lewat baklon ini.


"Kita bisa saja turun lewat sini, tapi kita butuh tali atau semacamnya." Kata Aldi sambil mengedarkan pandangannya mencari apakah ada yang bisa digunakan untuk turun.


"Kak pakai gorden aja di sambung-sambungin." Kata Ivanna memberi usul. "Iya iya benar, cerdas!" Aldi sumringah.


Mereka bertiga melucuti beberapa gorden dan mengikat tiap ujung gorden yang satu dengan gorden yang lainnya. Kemudian Aldi mengikat ujung atas gorden di pagar pembatas balon. Gordennya memang tidak sampai tanah panjangnya, namun cukup kalau untuk turun dengan terjun sedikit saja akan sampai ke tanah.


"Aman gak nih kak Aldi?" Tanya Eva


"Aman deh, insya Allah. Ayo Eva duluan turun" Sambung Aldi.


Eva turun pertama kali, dengan hati-hati berpegangan erat pada gorden. Kemudian di susul Ivanna dan terakhir Aldi.


"Ayo kita segera keluar dari sini!" Aldi menarik kedua tangan kakak beradik itu untuk segera keluar dari rumah misterius itu.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2