
Vian pun hanya mengacungkan jempol, tanpa menoleh ke belakang. "Keren sekali dia." Ucap Bagas melihat kelakuannya.
***
Bagas menyiapkan kasur untuk Anya dan kedua bayinya, di lantai dua. Dan menyiapkan untuk acara makan-makan di lantai satu.
"Sayang, masih sakit ya?" Tanya Bagas, melihat Anya yang terlihat lemas dan tiduran sambil menyusui salah satu anaknya.
"Iyalah sayang, masih basah ini. Kenapa?" Jawab Anya.
"Gak apa-apa sayang, mungkin saya harus puasa dan menahannya lama sekali." Jelas Bagas cemberut.
"Paling kurang lebih sebulan dua bulan lah yang." Jawab Anya.
"Itu lama sekali sayang, sehari saja saya tidak melakukannya terasa berat dan lama sekali." Ucap Bagas lesu.
"Ada-ada saja kamu ini. Kan gantinya bisa yang lain." Ucap Anya heran.
"Saya boleh memintanya sekarang?" Tanya Bagas.
Anya pun bangkit dan bersandar di tembok.
"Pake ganjel bantal sayang." Ucap Bagas, memposisikan bantalnya di belakang punggung Anya.
"Iya sayang, saya mau coba menyusui keduanya."
"Maksud kamu?" Tanya Bagas.
"Ambil Michaell sayang!" Pinta Anya.
Anya menggendong kedua bayinya, dengan posisi kepala bayinya di sisi kanan dan sisi kiri. Ternyata berhasil.
"Bisa sayang!" Ucap Anya senang.
"Yah berarti saya harus menunggu mereka kenyang dong." Rengek Bagas.
"Ya iya lah sayang, mereka lebih membutuhkan. Hanya ASI makanan dan minuman mereka." Ucap Anya geleng-geleng kepala.
Kedua anaknya sudah tidur pulas, Bagas mengendong satu persatu anaknya dan kembali ditidurkan di kasurnya.
"Sayang, kamu pasti capek kan. Istirahat dulu ya." Ucap Bagas mengusap rambut Anya dan mencium keningnya.
"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Anya melihat Bagas berdiri.
"Mau ambil coklat panas sayang, kamu mau?" Tanya Bagas.
"Mau sayang. Maaf ya, Anya belum bisa melayani kamu." Jawab Anya merasa bersalah.
"Tidak apa-apa sayang, kan kamu baru melahirkan anak saya. Lagi pula, banyak ART kok." Balas Bagas tersenyum, lalu pergi membuat coklat panas di dapur.
***
"Nih sayang." Ucapnya menyodorkan cangkir coklat panas.
"Makasih sayang."
Mereka menikmatinya sambil mengemil roti sandwich fruit.
Tiba-tiba terdengar suara mobil. Bagas mengintipnya dari jendela di sampingnya. Ternyata memang benar keluarga Bagas dan Anya sudah sampai.
"Sayang mereka sampe. Saya turun dulu yah, mau menyambut mereka." Ucap Bagas.
"Anya ikut bang!"
"Jangan sayang, kamu di sini aja. Pasti sakit kan kalo berjalan." Jelas Bagas.
Anya pun mengangguk pasrah.
__ADS_1
"Dimana Anya dan bayinya?" Tanya Roni.
"Di atas." Jawab Bagas memeluk ala laki-laki sambil menepuk-nepuk punggung Roni.
Kedua keluarga pun berkumpul dan berjalan ke lantai dua.
Semua keluarganya sangat kagum, dengan bayi kembar yang sehat dan tampan itu. Ingin mereka mengendong dan mencubit pipinya. Namun, bayinya masih tertidur pulas.
"Duhh lucunya." Ucap sepupu Bagas.
"Mau gendong." Ucap sepupu Anya.
"Jangan mereka masih tidur." Ucap paman Anya.
"Lebih baik kita ke lantai satu dulu yuk, makan." Ajak Bagas.
"Iya, makan dulu aja. Sambil nunggu mereka bangun." Tambah Anya.
"Yuk, biarkan Marchell dan Michaell tidur dulu!" Ajak Bagas.
"Oh namanya Marchell dan Michaell?" Tanya salah satu keluarga Bagas.
"Iya." Jawab Anya dan Bagas kompak. Mereka pun saling pandang dan tersenyum.
"Yaudah yuk!" Ajak Bagas mendahului mereka.
Mereka pun turun dan makan bersama. Namun, Anya tak ikut. Bagas mengambilkan makan untuk Anya dan dirinya.
Semua keluarganya makan di lantai satu, sedangkan Bagas naik ke atas dan makan di lantai dua bersama Anya. Satu piring berdua.
"Saya suapi." Ucap Bagas.
"Tidak apa-apa, Anya bisa bang." Jawab Anya.
"Tidak boleh menolak!"
Anya pun menerima suapan dari Bagas, mereka makan bersama di piring dan sendok yang sama. Sangat romantis , jika dilihat dari arah manapun.
***
Sementara itu, para ART Bagas tengah sibuk membereskan dan membersihkan sisa makan keluarga Anya dan Bagas.
"Kami pamit, ini kado untuk debaynya." Ucap sepupu Bagas.
"Ini angpao untuk twin baby boys nya." Ucap sepupu Anya menyodorkan amplop berisi uang.
Semua keluarga Bagas dan Anya memberikan kado, bingkisan, parsel dan angpao, mereka datang tidak dengan tangan kosong.
"Terima kasih. Padahal jangan repot-repot, kalian dateng aja kita udah seneng banget." Ucap Anya.
"Iya haduh, tapi makasih banyak ya udah ngerepotin nih." Tambah Bagas merasa tak enak.
"Gak apa-apa, ini kan untuk bayi pertama dan kedua kalian." Balas salah satu keluarga Bagas.
Mereka pun akhirnya pulang, dan tinggallah keempat keluarga kecil, yang sedang tiduran sambil memainkan kedua anaknya.
"Sayang, kamu sampai kapan cuti kerja?" Tanya Anya kemudian, setelah mengusap-usap pipi bayinya.
"Emm saya kerja di rumah untuk sementara waktu, sampai kamu pulih dan anak kita sudah sedikit besar. Tapi, sesekali saya ke kantor kok." Jelas Bagas menghentikan aktivitasnya yang sedang menguyel-uyel pipi bayinya.
"Emm gitu."
"Emm mau pindah ke kamar gak? Keluarga kita sudah pulang juga." Tanya Bagas.
"Emm ayo."
Mereka pun pindah ke kamar.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
"Tok tok tok." Vian mengetuk pintu kamar Bagas.
"Siapa?" Tanya Bagas.
"Gue!" Jawab Vian.
"Masuk!" Jawab Bagas.
Vian melihat Anya yang tertidur, dan kedua anaknya yang tidur pulas juga di troli bayi. Samping ranjang.
"Ehhh maaf ganggu, ini berkas yang lo minta." Ucap Vian.
"Oke, simpen aja di nakas." Ucap Bagas yang sibuk memainkan laptopnya.
"Keknya lo capek banget. Lo boleh libur dua hari. Biar gue yang urus kantor." Jelas Bagas.
"Gak perlu Gas, gue tahu lo sibuk. Ngurus istri dan kedua anak lo yang baru lahir. Gue ambil cutinya minggu depan aja." Balas Vian.
"Yaudah, terserah lo aja."
"Btw kalo gitu, tiap lo pulang kantor. Lo bawain semua berkas yang mesti gue tanda tangani!" Pinta Bagas.
"Sip, kalo gitu gue pamit." Ucapnya pamit. Bagas hanya mengangguk.
Bagas mulai bosan, dia sudah menandatangani semua berkasnya. Dia pun berjalan ke arah Anya dan menganggunya.
"Emm.. jangan ganggu bang!" Ucap Anya menggeliat.
"Sayang, main sebentar yuk! Janji gak masukin deh." Ajak Bagas menciumi leher Anya.
"Emm.." Anya mulai terusik, dan bangun dari tidurnya.
"Yaudah ayo!" Ajak Anya.
Bagas pun mulai mengecup sekilas bib*r Anya. Dia menatap lekat wajah Anya yang manis. Kemudian, dia melanjutkan ciuma*nya yang lembut.
Semakin lama, dia mulai melum*tnya. Dan menjadi ciu*an yang brutal. Membuat Anya kewalahan dan kehabisan nafas.
"Maafin sayang." Ucapnya lalu melanjutkan ci*mann*a ke le*er dan d*danya dan menyisakan kiss mark.
Bagas memegangnya, kemudian mere*as gund*kan itu pelan dan lembut. Semakin lama, semakin keras dan cepat. Hingga mengeluarkan air, dia pun segera men*hisapnya.
Bagas terus melakukannya dengan berganti ke kiri dan kanan. Bagas ******* kembali *ibir Anya. Dan mengakhirinya setelah satu jam, dan terganggu oleh tangisan anaknya.
"Oweeee oeee oeee.."
"Sayang, bayinya." Ucap Anya memegang kepala Bagas dengan kedua tangannya, dan melepaskannya. Dia yang sedang asyik men**su, seketika melepaskan put**gnya.
"Plup.. Ahh sayang..."
"Ambil yang, kedua anaknya. Mereka haus." Pinta Anya.
Anya pun menyusui kedua anaknya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Anya.
"Ke bawah." Balas Bagas.
"Kamu marah?" Tanya Anya.
"Gak."
"Kok gitu? Ini kan anak kamu juga bang!"
"Saya gak marah." Ucapnya mencium sekilas bibir Anya, kemudian ke luar kamar.
***
Visual🍀🍀🍀
__ADS_1