
"Abang! Saya kan malu!" Ucap Anya yang pipinya sudah merona.
***
"Sayang pakai ini!" Ucap Bagas menyerahkan lingerie pada Anya.
"Abang!"
"Kenapa sayang?" Tanya Bagas tanpa dosa.
"Saya tidak ingin memakainya lagi!" Tolak Anya.
"Tidak ada penolakan, sekarang setiap malam kamu harus menggunakannya sayang. Abang sudah membeli banyak, semua warna ada." Jelas Bagas kekeh, tersenyum nakal.
"Huuuhhh..." Anya hanya mendesis pasrah.
"Sebenarnya tidak ada gunanya juga, kamu memakai ini. Karena pada akhirnya, kamu akan berakhir telanjang sayang." Bisik Bagas sensual.
"Bang!"
"Apa sayang!"
"Tidur yuk." Ajak Anya memohon.
"Sebentar lagi sayang, kalo udah main. Baru kita tidur ya!" Jawab Bagas.
"Kita kan udah gede, emangnya anak kecil apa ngajak main."
"Mainnya kan beda sayang, ini main anak gede. 21+ tahu dong main apa!" Bisik Bagas nakal. Sambil meremas pa*ud*ra Anya.
"Agrrrhhh.. abang!" Teriak Anya.
"Iya sayang, panggil nama saya!"
"Gak sopan, kita kan beda 7 tahun." Tolak Anya.
"Tidak masalah, saya yang minta. Cuman panggil nama aja, pas bercinta doang."
Bagas cekatan melepaskan lingerie Anya. Tersisa bra dan CD.
"Abang! Malu tahu, udah ah tidur aja. Masa tiap hari gak pernah libur sih." Tolak Anya.
"Kebutuhan sayang." Rengek Bagas.
"Gak pagi, gak siang, gak sore, gak malem, gak subuh terus aja gitu. Itu sih bukan kebutuhan, keenakan!"
"Ya terserah deh, kamu mau bilangnya apa. Yang penting kamu bisa memuaskan saya. Sebagai istri yang baik, gak boleh nolak suami. Dosa." Jawab Bagas tersenyum smrik.
"Giliran ke orang aja ngingetin dosa, lah kamu apa kabar?"
"Suuussssttt... Jangan banyak bicara sayang. Ayo lakukan tugas mu, atau mau terima beres aja?" Pinta Bagas menempelkan jari telunjuknya pada bibir Anya.
"Kali ini, saya terima beres." Jawab Anya.
"Keluarkan suara indahnya mu sayang." Bisik Bagas sensual.
"Lepaskan bang!" Teriak Anya mendorong dada bidang Bagas.
Anya berlari ke toilet. Ke arah wastafel dan kembali memuntahkan isi perutnya.
Bagas mengikuti Anya, membantu Anya memijat tekuknya. Dan memegangi rambut panjang Anya ke belakang. Agar tidak terkena muntahan Anya.
"Baby, kamu gak apa-apa?" Tanya Bagas khawatir di sela-sela Anya muntah.
"Hmm.. apa Anya kebanyakan makan ya bang." Ucap Anya lirih.
__ADS_1
"Mending kita periksa ya, agar kita tahu kamu sakit apa." Tawar Bagas.
"Gak perlu bang."
"Udah gak usah nolak."
Bagas memerintahkan Vian untuk memanggil dokter ke kapal pesiar nya.
Dokter pun memeriksa keadaan Anya.
"Bagaimana dok?" Tanya Bagas tak sabar.
"Nyonya Anya tidak apa-apa tuan. Agar lebih memastikan keadaannya saat ini, coba nyonya Anya gunakan ini." Ucap sang dokter.
"Test pack?" Tanya Bagas dan Anya.
"Iya. Apakah nyonya Anya telat datang bulan?" Tanya dokter Kara.
"Emm saya lupa dok, beberapa bulan ke belakang jarang melihat dan menandai kalender." Jawab Anya.
"Cobalah chek kalo begitu!"
"Saya.. saya tidak bisa menggunakannya." Ucap Anya polos.
Kara hanya tertawa kecil, sedangkan Bagas geleng-geleng kepala. "Ayo!" Ajak Bagas memegang tangan Anya.
"Abang?"
"Iya, gak apa-apa kita udah sah." Jelasnya yang mengerti maksud Anya.
Sementara Kara dokter kenalan Vian di Lombok, hanya tersenyum melihat pasangan suami istri itu.
Bagas pun mengajarkan caranya pada Anya. "Kamu pipis dulu sayang." Ucap Bagas.
"Yaudah tunggu aja." Timbal Bagas.
"Kalo udah pipis digimanain bang?" Tanya Anya yang benar-benar polos.
"Saya benar-benar aneh tahu, masa kamu perempuan tidak tahu caranya pakai test pack. Sedangkan saya pria tahu bagaimana cara menggunakannya." Ucap Bagas heran.
"Ya kan saya belum pernah pakai bang." Ucap Anya beralibi.
"Apalagi saya?!"
Anya hanya nyengir kuda.
"Intinya tuh test pack nya harus kena air kencing kamu." Jelas Bagas kemudian.
"Saya pipisin test pack nya?" Tanya Anya polos.
"Ya, tapi gak gitu juga sih. Mending biar gampang, air pipis kamu masukin ke wadah kecil. Terus test pack nya masukin, dan tunggu sampe 10 detik. Tar keluar deh hasilnya." Jelas Bagas.
Anya mengangguk paham. "Tahu kan kalo positif berapa garis?" Tanya Bagas meremehkan Anya.
"Tahu dong bang, dua garis kan." Jawab Anya kesal.
"Hmm... Kali aja kamu juga gak tahu." Ucap Bagas mengangguk.
Hingga beberapa menit kemudian...
"Positif." Ucap Bagas dan Anya bersamaan.
"Dok berapa bulan kandungan Angel?" Tanya Bagas setelah memberitahu hasilnya pada Kara.
"Kamu terakhir menstruasi kapan?" Tanya dokter Kara.
__ADS_1
"Emm bentar dok, sekitar tiga bulan yang lalu. Wah saya baru ingat, sudah lama tidak datang bulan. Karena terlalu sibuk." Jawab Anya melihat kalender kecil yang selalu dibawanya.
"Kandungan kamu berusia tiga bulan." Jawab Kara.
"Berarti dari malam pertama dong. Wah senjata daddy memang tokcer." Ucap Bagas bangga.
Anya menggeleng heran. "Oh iya dok, saya boleh nanya privasi kan?" Tanya Bagas kemudian.
"Iya kenapa tuan?" Tanya Kara.
"Meskipun hamil, tapi kita boleh berhubungan intim kan dok?" Tanya Bagas khawatir.
Kara tersenyum. "Tentu saja tuan. Terlebih ketika hamil tua, bisa menyebabkan kontraksi. Banyak sekali keuntungannya. Saya akan memberikan buku mengenai pembahasannya." Jelas Kara.
"Kamu dokter kandungan?" Tanya Bagas.
"Bukan, tetapi saya juga banyak mempelajari tentang kandungan. Dan mempunyai sahabat dokter kandungan di Jakarta. Dia sangat dipercayai dan banyak sekali ibu hamil yang konsultasi kepadanya."
"Saya memiliki buku, mengenai kehamilan pemula, manfaat melakukan hubungan **** saat hamil, makanan sehat untuk ibu hamil."
"Saya memiliki banyak buku seperti itu. Jika tuan mau, besok saya akan membawanya." Jelas Kara panjang lebar.
"Wah itu sangat menguntungkan bagi saya. Saya menginginkan semua buku itu, besok kamu bawa ke sini." Pinta Bagas.
"Baik tuan, kalo begitu ini vitamin untuk nyonya Anya."
"Terima kasih, saat transfer saja ya." Ucap Bagas.
"Boleh." Jawab Kara.
"Oh iya, kamu temannya Vian? Kok bisa Vian cepet nemuin dokter yang bisa dipanggil ke rumah." Tanya Bagas.
"Iya, kita berteman saat kuliah dulu." Jawab Kara.
"Wah teman Vian jauh juga ya."
"Dulu ada pertukaran pelajar, kebetulan saya ke Jakarta." Jawab Kara.
Bagas mengangguk paham.
"Oh iya tadi, dokter kandungan temen kamu di Jakarta siapa?" Tanya Bagas.
"Dokter Ana."
"Yang ini?" Tanya Bagas menunjukkan fotonya.
Dia memang memiliki banyak foto karyawan kantor, dan tenaga medis di RS pribadinya. Dibeberapa acara Bagas berfoto dengan mereka. Walau tak banyak.
"Iya benar tuan." Jawab Kara.
"Oh dia berkerja di rumah sakit pribadi saya." Jawab Bagas.
"Wah kebetulan sekali."
Bagas mengangguk. "Saya permisi kalo begitu. Semoga persalinannya lancar sampai hari-h." Ucap Kara pamit.
***
Visualš„
__ADS_1