Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 57 - Posesif


__ADS_3

"Suka hati lah." Jawab Anya acuh.


***


Mereka pun jalan kaki, M² dibiarkan berjalan dan menikmati keindahan pinggir pantai.


Mereka berjalan di pinggir jalan dan pinggir pantai. Laut tersebut terhalangi oleh tiang-tiang tinggi.


"Sayang ayo kita sewa sepeda!" Ajak Bagas.


Mereka pun menyewa sepeda, yang setang nya dua. Ketiga anaknya dititipkan dulu ke Vian.


Kemudian, mereka mengajak M² karena sudah besar mereka membiarkan M² ikut naik sepeda dengan tetap dipegangi.


"Sayang kita makan bakso yuk!" Ajak Anya.


"Yuk."


Mereka pun makan bakso di pinggir pantai. "Vian kapan kau menikah?" Tanya Bagas.


"Ohok.. uhuk..." Vian sampai terbatuk-batuk mendengar pertanyaan tersebut, karena sedang melahap baksonya.


"Sayang, kamu ini kalo bertanya bikin orang senam jantung saja." Ucap Anya menyodorkan gelas berisi air pada Vian.


Vian pun segera mengambilnya. Bagas jadi cemburu melihatnya.


"Lain kali biarkan dia sendiri mengambilnya, hanya saya yang boleh diperlakukan seperti itu!" Ucap Bagas memperingati.


"Ya ampun sayang, gitu aja cemburu. Malu tuh sama anak-anak." Balas Anya acuh, geleng-geleng kepala.


Bagas masih cemberut. "Sorry Gas, gue gak maksud." Ucap Vian.


"Sudah lupakan, ayo kita ke vila." Ajak Bagas mendahului.


Dia menuntun kedua anak kembarnya dan berjalan meninggalkan Anya, Rachell dan Vian.


Karena Rachell memakai roda bayi. Bagas sulit untuk membawa ketiga anaknya, alhasil dia hanya membawa si kembar M² saja.


"Sayang! Tunggu!" Teriak Anya.


Anya pun berjalan mengejar Bagas sambil mendorong roda bayi nya.


"Hadehhhh lihat pasutri ini bikin kepala saya sakit saja." Ucap Vian.


"Bang berapa?" Tanya Vian yang ingin membayar.


"Semuanya jadi 100 ribu." Ucap tukang bakso tersebut.


"Ini bang, makasih ya. Saya permisi." Ucap Vian menyodorkan uangnya.


"Sama-sama pak, sering-sering mampir ya!" Jawab tukang bakso tersebut.


***


Setelah tiba di kamar. Bagas masih merajuk dan sibuk dengan M². Anya pun pasrah dan mengalah.


"Sayang, maaf ya saya cuman mau nolongin Vian yang tersedak. Itu pun karena pertanyaan kamu kan? Lain kali, saya tidak akan melakukannya." Bujuk Anya mengelus lembut lengan suaminya.


"Hmm." Respon Bagas dingin.


"Kamu masih marah?" Tanya Anya melihat ekspresinya.


"Hmm."

__ADS_1


"Lalu, saya harus bagaimana agar kamu memaafkan?" Tanya Anya.


Bagas memonyongkan bibirnya. Memberi kode ingin dicium. Anya menciumnya sekilas.


"Kurang lama." Protesnya.


Anya menciumnya lagi, lalu Bagas menahannya. Dia memegangi tekuk leher Anya dan satu lagi memegangi pinggang Anya.


"Hmmmphhmm..." Anya kewalahan dengan cara berciuman Bagas yang brutal dan menuntut.


Bagas berusaha melapaskan pakaian Anya. "Sayang, anak-anak belum tidur!" Ucap Anya memperingati.


"Hmm.." Bagas pun cemberut lagi.


"Titip dulu sama Vian ya?" Tanya Anya menyarankan.


Bagas langsung sumringah, dia segera membawa ketiga anaknya untuk dititip ke Vian.


"Gue titip dulu. Kalo mereka tidur, gapapah tar diambil." Ucap Bagas yang langsung nyelonong masuk kamar Vian.


"Ngagetin aja lo!" Teriak Vian.


"Mau kemana emang lo?" Tanya Vian lagi.


"Lo gak perlu tahu." Jawab Bagas cuek.


"Hmm. Sini." Ucapnya tak menolak.


Bagas segera memberikan semua anaknya pada Vian. Dia sangat mempercayainya, karena sudah lama dia bekerja sama dengan Bagas.


Bahkan saat Bagas masih merintis dari 0. Hingga berjaya seperti sekarang ini, dia pun tentu saja kecipratan oleh kesuksesan Bagas.


Bagas langsung melancarkan aksinya. "Sayang. Come on!" Ucap Bagas bergairah.


"Aman sayang, sama Vian." Jawab Bagas.


Merekapun bermalam bersama sampai tak habis-habisnya melakukannya lagi dan lagi.


"Sayang, udah jam 3 pagi ini. Saya capek banget, lengket lagi. Mau mandi ahh." Jelas Anya menghentikan aktivitasnya.


"Ikut!" Pinta Bagas tersenyum smrik.


"Gak ah, tar gak kelar-kelar. Kasian anak-anak sama Vian, pasti dia kelelahan menjaga anak kita." Jelas Anya.


"Tuh kan Vian lagi yang kamu khawatirkan!" Ucap Bagas merajuk lagi.


"Ya ampun sayang, posesif banget sih. Vian itu sahabat siapa? Rekan kerja siapa? Yang repot kamu juga kan, kalo dia mogok gegara anak kita. Karena nafsu kamu itu?" Tanya Anya bertubi-tubi.


"Hmm." Bagas hanya bisa cemberut.


"Yaudah, ayo mandi bareng." Uca Anya kemudian.


Anya sering mengalah jika Bagas merajuk seperti anak kecil. Tapi, Bagas lah yang lebih tegas dan bijak sebagai pemimpin keluarga. Dia pun lebih banyak berkorban dan mengalah untuk keluarganya.


Akhirnya mereka pun melakukannya lagi di toilet, tak ada habisnya pasutri ini. Terlebih Bagas setiap hari menyusu pada Anya.


Meskipun Anya sedang menstruasi ataupun nifas. Karena juniornya tidak ada yang menghangatkan jika sangkarnya sedang menstruasi ataupun nifas. Membuat Bagas terhenti melakukan kebiasaan.


Seperti biasa, Anya dan Bagas sholat berjamaah. Tahajud ataupun sholat subuh.


"Sayang, Vian udah bangun belum ya?" Tanya Anya.


"Ngapain kamu tanyain dia?" Kecut Bagas membalas.

__ADS_1


"Anak kita kan lagi sama dia! Masa iya kita nyelonong masuk ke kamarnya?" Jawab Anya kesal.


"Oh iya, nanti saya yang ambil. Kamu diem aja di sini!" Jawab Bagas santai.


"Ya udah, sekarang!" Pinta Anya. Dia sangat khawatir tidak tidur bareng dengan anaknya. Walaupun satu atap, tapi beda kamar.


Bagas pun berjalan ke kamar Vian. "Tok tok tok." Bagas mengetuk pintu.


"Vian! Udah bangun belum?" Tanya Bagas.


"Gue mo ambil anak-anak! Mak nya udah ngamuk ini." Jelas Bagas lagi.


Vian yang baru menyelesaikan sholat subuh. Segera merapihkan alat sholatnya dan membuka pintu.


"Iya, anak-anak tuh lagi pada tidur." Jawab Vian setelah membuka pintunya.


"Mereka tidur di kasur lo?" Tanya Bagas kaget.


"Hmm. Masa di lantai si?" Respon Vian acuh.


"Terus lo tidur dimana?" Tanya Bagas.


"Gak usah sok khawatir. Gue tidur di sofa. Dah keluar sono, gue mau ngelanjutin proposal buat presentasi besok." Jawab Vian lesu.


"Yowes, makasih udah jagain anak-anak gue. Tar ada bonus buat lo seperti biasa." Ucap Bagas tulus.


"Oke." Jawab Vian membulatkan jempol dan telunjuknya.


"Oh iya, presentasi besok gue yang pimpin kan?" Tanya Bagas membalikkan tubuhnya.


"Hmm." Jawab Vian mengangguk.


"Lo rangkum dan siapin apa aja yang harus gue hapalin. Bawa semua berkasnya ke kamar gue hari ini ya."


Sebenarnya Bagas selalu hatam, mengenai pekerjaan. Namun, agar lebih baik lagi saat presentasi dia selalu mempelajari setiap proposal kerjanya.


"And nanti malem ada pertemuan semua kolega bisnis gue, gue bakalan telat. Jadi lo harus udah duluan ke sana. Tapi, gue liat situasi lagi nanti." Jelas Vian.


"Oke pak bos." Ucapnya sambil hormat.


"Bye." Ucapnya lalu pergi.


"Bos sekaligus sahabat gini rasanya ya. Mau serius juga rasanya gak enak banget. Formal gak nyaman, informal gak sopan." Ucap Vian bermonolog setelah kepergian Bagas.


"Duh udah jam 5 aja." Ucap Vian lagi melihat alroji nya.


***


Visual ☔☔☔


Si Kembar🐝🐝





Rachell 🌺



Pasutri kesayangan

__ADS_1



__ADS_2