Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 14 - Terjebak Dalam Sangkar


__ADS_3

Lagu hantu pun dinyalakan. Yang berjudul "ding-dong."


***


Sedikit lirik lagu Ding Dong*


"Ding dong kudatang padamu bukalah pintu!"


"Tak mungkin sembunyi dariku."


"Ding dong kudatang padamu bukalah pintu!"


"Kau tak bisa lari dariku."


"Dari balik jendela."


"Kutatap erat wajahmu."


"Kau diam membeku."


"Kudatang mendekatimu."


"Ding dong kudatang padamu siapkah kamu?"


"Lari dan sembunyi dariku."


"Ding dong menuju arahmu cepatlah lari!"


"Larilah dan cepat sembunyi!"


***


"Ya lagu macam apa ini?" Tanya Bagas ngeri.


"Ini lagu hantu, meskipun saya sering mendengarnya dan menyukainya. Tetap saja, kali ini sangat merinding ketika saya mendengarnya di rumah hantu yang nyata." Jelas Anya ketakutan.


"Lagu seperti ini, apakah enak dipakai berdansa?" Tanya Bagas.


"Entahlah. Ayo kita coba! Agar segera keluar dari sini." Jawab Anya.


"Buk buk buk.." Suara gedoran pintu terdengar nyaring.


Membuat Anya semakin jantungan dibuatnya. Bagas pun terkejut, tetapi dia tidak begitu takut. Karena, dia menyakini bahwa mereka hanya manusia biasa.


Bagas berdiri menghadap ke arah Anya, kemudian memegang kedua tangan Anya. Bagas, menempatkan tangan kanan Anya di pundaknya.


Dan tangan kiri Anya, yang setia ia genggam di samping sambil mengangkatnya. Bagas memegang pinggang Anya, dengan tangan kirinya. Tangan kanannya, masih setia menggenggam tangan Anya.


Bagas mulai bergerak, ke arah kiri dan kanan. Kemudian, ia memberikan arahan untuk Anya agar maju dan mundur.


Anya bagai tersambar petir. Mengikuti arahan Bagas, dengan lihai. Padahal ini pengalaman pertama dia berdansa. Dan di tempat yang tidak biasa.


***


Bagas membuat Anya memutar tubuhnya, dan membuat tubuh Anya bergerak menyamping dengan sedikit ke bawah.


Dan dia menahan tubuh Anya dengan satu tangannya. Mereka bertatapan dengan jantung yang berdegup kencang.


Namun, masing-masing saling menyembunyikan perasaannya. Dengan memasang wajah biasa saja.


"Brakkk..." Pintu pun terbuka, para hantu yang mengganggunya keluar dan menakuti mereka.


"Aggghhhh..." Teriak Anya hampir jatuh.


Namun, tenaga Bagas yang kuat. Mampu menahannya. "Ingat! Jangan lepaskan tangan kita, dan jangan terpengaruh."


"Emm.." Anya mengangguk paham.


Mereka masih berdansa. Dan para hantu masih setia menganggu, dengan sedikit meraba bahu Anya dan Bagas.


Bagas tidak terpengaruh. Sedangkan, Anya sangat terganggu. Namun, Bagas mengeratkan tangannya dan merekapun berpelukan sambil berdansa.


"Tenanglah. Saya ada di sisi mu!" Bisik Bagas di telinga Anya.

__ADS_1


Anya tersentuh, ada getaran lain. Yang Anya anggap, perasaan itu salah. Dan harus segera ia hentikan.


"Ceket..." Pintu keluar pun terbuka.


***


"Huh! Akhirnya kita selamat!" Ucap Anya tenang, setelah keluar dari rumah hantu.


"Hmm.. siapa yang nangtangin, siapa yang kalah!" Ucap Bagas tersenyum penuh kemenangan.


"Em baiklah, saya kalah. Dan yeah, ini kita ambil hadiah itu!" Jawab Anya.


"Tuan, nyonya. Ini hadiah foto dan Vidio yang kami ambil." Ucap pantia rumah hantu.


"Yah lihatlah, betapa lucunya wajahmu yang ketakutan begitu!" Goda Bagas, melihat foto dan Vidio Anya, yang terkejut dan terus menempel pada Bagas.


"Ya! Hentikan!"


"Bolehkah saya menempel foto ini?" Tanya panitia tersebut, menunjukkan foto Bagas dan Anya sedang berdansa, dan foto Anya yang berada di pangkuan Bagas.


"Boleh!" Ucap Bagas cepat.


"Ya! Itu memalukan!" Ucap Anya dengan wajahnya yang memerah.


"Ini adalah koleksi favorit yang kami pilih, tidak banyak yang kami jadikan album. Em yeah, kami menyetak dua kok yang ini. Semua foto dan vidio kalian, telah kami unduh dan cetak. Kalian boleh mengambilnya, sebagai hadiah. Dan ini, hadiah dari harta karun itu." Jelas panitia itu ramah.


"Em terima kasih." Ucap Bagas dan Anya, menerima semua hadiah itu.


***


"Naik kuda yuk!" Ajak Anya setelah membawa semua hadiah dan belanjaan yang dia beli.


"Sebentar. Kita simpan semua barang ini dulu ke mobil?" Tanya Bagas.


"Baiklah tuan."


Anya dan Bagas menyimpan semua belajaan dan hadiah ke dalam mobil, dan kembali masuk ke pasar malam.


"Jadi kan, kita naik kuda?" Tanya Anya lagi.


"Bye!" Ucap Anya membeli tiket.


"Aish... Sialan." Ucap Bagas menggerutu.


Akhirnya Bagas pun mengikutinya, dan menaiki kuda yang sejajar. Setelah satu putaran, Anya masih tidak puas.


"Tuan kita naik sekali lagi, emm duduk di sana kereta kencana ya! Bisa berdua kok!" Ajaknya excited.


"Hmm.." Bagas yang sudah pusing hanya mengikut dan menikmati saja.


"Tuan senyum dong! Kita foto!" Ucap Anya mengambil ancang-ancang untuk mengambil gambar.


"Gak ah dari tadi kamu foto-foto terus!" Tolak Bagas.


"Setiap moment memang harus difoto!" Anya tidak melewatkan satu momen pun yang tidak dia abadikan.


Dia terus memotret fotonya, foto Bagas, dan foto mereka berdua. Dimulai dari trotoar, naik kincir, permainan tembak-tembakan, naik kuda. Bahkan saat jajan.


Dan untungnya lagi, di dalam rumah hantu. Mereka mendapatkan hadiah yang istimewa, yaitu foto dan Vidio mereka selama berada di dalam.


Yang tentunya, Anya tidak ada pemikiran untuk memotretnya. Karena, ketakutan itu lebih besar. Daripada rasa sukanya pada hal-hal yang ingin dia abadikan.


Dan sebenarnya dalam hati kecil Bagas, dia sangat menyukainya. Dia tidak perlu ambil foto diam-diam lagi.


***


Anya dan Bagas mencoba berbagai permainan dan jajanan di pasar malam itu. Hingga mereka sangat lelah, dan memutuskan untuk pulang.


Diperjalanan pulang, karena Anya sangat lelah. Dia tertidur pulas, sedangkan Bagas mencuri-curi pandang, sambil fokus menyetir ke depan.


"Kalo dilihat-lihat kamu memang cantik, dan tipeku. Tapi, kamu terlalu ribet dan kekanak-kanakan." Batinnya bermonolog.


Setelah mereka sampai di rumah. Bagas tak tega membangunkan Anya, tapi jika menunggunya akan sangat lama. Tapi, jika menggendongnya dia terlalu gengsi.

__ADS_1


"ANGEL!" Teriak Bagas.


"Ah iya ?" Jawab Anya terkejut.


"Sudah sampai!" Ucapnya turun dan mengabaikan Anya.


"Gue gak boleh terlalu lunak padanya! Gue kan mau menghukum dia." Batin Bagas.


Anya pun keluar dari mobilnya, dengan membawa hadiah dan belanjaannya.


"Angel, siapkan air panas untuk saya!" Ucap Bagas dingin. Setelah mereka sampai di kamar.


"Tuan mau mandi malem-malem gini?" Tanya Anya meyakinkan.


"Kenapa?"


"Tapi tidak baik untuk kesehatan." Ucap Anya memberitahu.


"Lakukan semua perintah saya, tanpa bertanya dan membantah!" Ucapnya dingin.


"Baik tuan!"


Anya menyalakan shower air panas ke bath tub. Hingga bath tub penuh, dia segera memanggil Bagas.


"Tuan sudah saya siap-" Ucapnya terhenti, melihat Bagas sudah mengenakan handuk dan hanya menutupi bagian bawahnya saja. Perut atletis nya terpampang nyata.


Bagas hanya tersenyum smrik. Lalu, berjalan ke toilet. Melewati Anya yang syok melihatnya.


Bagas sudah di ambang pintu toilet, namun dia berbalik. "Angel! Sebaiknya kamu juga mandi!"


"Ah iya, saya akan mandi." Ucapnya beranjak keluar.


"Kemana?"


"Ke toilet di bawah." Jawab Anya.


"Di sini saja."


"Ah baiklah, setelah tuan."


"Kita mandi bersama!" Ajak Bagas nakal.


"Mak-maksudnya tuan?"


"Ayo!"


"Tidak tuan."


"Ingat surat kontrak!"


"Tap-tapi tuan."


"Jangan membantah saya."


Anya pun berjalan perlahan ke arah toilet, Bagas yang menunggunya tersenyum nakal. Kimono, handuk mandi, sudah tersedia di dalam kamar mandi.


Bahkan, Bagas sudah menyiapkan segalanya untuk Anya juga. Alat mandi, dari shampoo, sabun, lulur dan lainnya. Sangat kumplit dan pas dengan selera Anya.


"Tuan, seb-"


Bagas segera menarik tangan Anya, sebelum dia menyelesaikan ucapannya.


Bagas mendorong Anya, dan mengunci pintunya. Dia melepaskan handuknya di depan Anya tanpa malu.


Anya spontan menutup matanya. Bagas yang sudah masuk ke dalam air, yang sudah diisi sabun dan bunga mawar yang dia minta.


"Airnya hangat, sangat pas untuk kita!" Ucapnya mengeluarkan suara erotisnya.


***


Visual🌺🌺🌺


__ADS_1



__ADS_2