
Mereka melihat beberapa foto prewedding yang terpajang.
"Itu membuat saya trauma dan berhati-hati, ketika ingin bersikap manis dan harmonis." Jelas Anya.
***
Bagas mendekap erat tubuh Anya. "Kan ada saya, dan keluarga saya sekarang?"
"Ini kan hanya sandiwara?" Jawab Anya kecewa.
"Kamu ingin membuatnya menjadi nyata?"
"Tentu saja. Saya tidak ingin pernikahan dibuat sebagai ajang main-main. Tuan juga mengerti, seburuk apapun hubungan yang pernah saya jalin dengan keluarga, teman, sahabat, guru dan pasangan."
"Tetap saja saya sangat menghargai dan menjaga sebuah kebersamaan dan hubungan tersebut." Jelas Anya jujur.
"Hmm.. mari kita coba. Sejauh mana kita akan bertahan." Jawab Bagas tersenyum.
"Tuan serius ingin menjalin hubungan dengan saya?" Tanya Anya tak mengerti.
"Kita hanya mencobanya. Untuk hasil, saya juga belum tahu."
"Saya ingin menerapkan keluarga yang harmonis nantinya. Jadi, jika tuan tidak benar-benar serius. Saya memohon agar segera menyudahi sandiwara ini. Dan jika bisa, lepaskan saya dari jeratan balas dendam itu." Ucap Anya serius.
Entah mengapa hati Bagas tertusuk sangat dalam, mendengarnya. Bagas merasakan ulu hatinya seperti retak, atau bahkan hancur menjadi butiran.
"Mengapa kamu berkata begitu?" Tanya Bagas dingin.
"Tidak apa-apa tuan. Saya hanya ingin membatasi. Saya sudah terlanjur masuk ke dalamnya, jadi saya harus terus membatasi diri."
"Agar tidak melewati garis yang tidak seharusnya saya terobos." Jelas Anya menundukkan kepalanya, mengusap sedikit air matanya.
Bagas tentu saja menyadarinya.
"Bagaimana ini? Mengapa jadi serumit ini? Seharusnya gue membatasi diri. Hanya untuk menyiksanya, tidak mencampur adukkan perhatian ke dalamnya." Batin Bagas.
Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya sudah terlanjur terjadi, yang mesti Bagas lakukan adalah. Berhenti, atau terus maju bersama menyusuri lorong waktu ini.
"Angel! Mari kita ganti pakaian dulu." Ajak Bagas.
Mereka pun menaiki lift ke lantai 10. Kamar utama Bagas.
Mereka mandi dan berganti pakaian. "Kita ke bawah lagi?" Tanya Bagas.
"Tuan saja. Saya sedang tidak enak badan." Ucap Anya.
"Tadi kamu pingsan beneran di kolam?"
"Maksud tuan saya bersandiwara? Saya bukan aktris. Jadi semua yang saya lakukan, adalah kenyataan tanpa dibuat-buat." Jelas Anya sensi.
"Emm baiklah." Jawab Bagas mengalah.
"Angel! Sepertinya kita harus keluar bersama!" Ajak Bagas lagi. Setelah melihat ke bawah dari balkonnya.
"Kenapa memangnya?" Tanya Anya.
"Lihatlah!"
__ADS_1
Anya pun beranjak dari tempat tidur, dan melihat ke bawah. Banyak kembang api, dan acara bakar-bakar jagung, sosis, daging dan lainnya.
"Wah si Vian bisa juga diandalkan!" Ucapnya kagum.
***
Bagas membopong tubuh Anya dan membawanya ke lift.
"Tuan turunkan saya!" Pinta Anya yang sudah di dalam lift.
"Kamu kenapa sih? Pms ya ?" Goda Bagas.
"IYA!" Teriak Anya kesal.
"Oh pantesan."
"Hah? Kamu pms?" Tanya Bagas lagi tersadar dan kaget.
"IYA EMANGNYA KENAPA?" Tanya Anya berteriak.
"Hei! Saya ada di dekat kamu. Tidak seharusnya kamu berteriak seperti itu."
"Maafkan saya tuan." Ucap Anya kemudian.
"Hhmm.. dari kapan?"
"Barusan, pas mandi." Jawab Anya.
"Gak asyik dong!" Ucapnya kecewa.
"Maksudnya?"
"Malam pertama." Ucap Bagas tersenyum nakal.
"Memangnya pengantin baru? Baru aja tunangan, udah mikir yang aneh-aneh." Ledek Anya.
"Ngikutin zaman itu gak salah, yang salah itu. Ngikutin kelakuan buruknya." Ucap Anya kesal.
"Emm baiklah, saya akan sedikit mengalah. Dari cewek yang lagi pms."
"Kenapa?" Tanya Anya penasaran.
"Sebenar apapun cowok, kalo berhadapan dengan cewek pms akan tetap dipojokkan." Jawabnya.
"Hmm.."
***
Bagas dan Anya ikut pesta tersebut. "Vi lu benar-benar bisa diharepin ye. Gua kira lu gak akan peduli." Ucap Bagas merangkul bahu Vian.
"Gua ke sini gegara Roni. Yakali gegara lu." Jawab Vian.
"Huuh dipuji dikit lu, ngelunjak." Ucapnya menjitak kepala Vian.
"Ishh.. kebiasaan." Ringis Vian mengusap kepalanya.
Mereka pun menyalakan kembang api besar. Wanita dan anak kecil hanya bermain dengan kembang api yang yang bisa dipegang.
Bagas meminta menyalakan air mancur berwarna-warni yang menyala, dan air terjun di kolam ikan yang besar. Semuanya menyala sesuai warna airnya.
"Wah air terjun dan air mancur itu menyala lihatlah!" Teriak keponakan Anya.
"Wah benar. Mari kita kesana!" Ucap keponakan Anya yang lainnya.
__ADS_1
Semuanya menikmati hidangan dan pesta tersebut. Hingga tengah malam. Keluarga Bagas pulang ke rumah masing-masing, sedangkan keluarga Anya ikut menginap di rumah Bagas.
"Gila rumahnya gede bener." Bisik sang sepupu Anya.
"Ini mah istana." Jawab yang lainnya berbisik-bisik.
Bagas melihat Anya yang membantu beberapa ART -nya untuk beres-beres. Orang tua Anya pun ikut membantu.
"Bunda sama ayah ke atas aja, cari kamar." Pinta Anya.
"Gak papah." Jawab Ririn bunda Anya.
"Ya de, gapapa." Jawab Anton ayah Anya.
Anya dipanggil Dede oleh orang tuanya dan beberapa keluarganya. Karena anak bungsu.
Akhirnya setelah berdebat dengan Anya, ayah dan bunda Anya naik ke atas. Sedangkan ibu tiri Anya tidak ikut.
Anya masih setia membantu para art-nya. "Non. Sudah, lebih baik non ke atas aja. Itu den Bagas sudah menunggu." Ucap bi Inem.
"Gak papa bi, ini berantakan banget." Jawab Anya setelah melihat Bagas berdiri menatapnya tajam, sambil melipat kedua tangannya.
"Non, jangan. Nanti den Bagas marah." Ucap bibi khawatir.
"Biar saya yang tanggung jawab bi."
Bagas pun tak tahan. Dan menyeret Anya. Dia memarahi Anya di tempat yang sepi, di kebun belakang rumahnya.
"Angel! Saya sudah tidak tahan lagi. Hal yang harus kamu lakukan adalah hanya patuh pada perintah saya. Meskipun kita sudah tunangan, surat kontrak itu belum selesai." Tegasnya
"Tuan, saya hanya membantu."
"Tidak perlu."
Hening...
"Baiklah, saya akan membawa kamu mengelilingi rumah ini." Jelas Bagas menarik tangan Anya lembut.
"Ini kebun bunga milik saya, tidak banyak yang tahu. Ini di lantai 1 sebelah kiri." Ucap Bagas menjukkan di balik lorong yang dipenuhi dengan dedaunan yang melingkar indah di sepanjang lorong.
Dan cahaya menyambut mereka, dan betapa indahnya taman bunga tersebut.
"Wah saya sangat menyukai bunga." Ucapnya memetik satu bunga dan menghirup aromanya.
Bagas tersenyum manis melihatnya.
"Saya kira di sisi ini hanya ada kolam renang dan berberapa bunga saja." Ucap Anya.
"Tentu saja, semua orang yang baru menginjakkan kakinya di rumah saya. Akan berpikiran seperti itu. Saya yang mendesain sendiri bangunan rumah ini."
"Dan yang tahu isinya hanya saya seorang. Jadi kamu seharusnya bersyukur saya beritahu." Jelas Bagas bangga.
"Hmm.. terima kasih tuan." Ucapnya manis.
"Ini kebun sayur dan buah saya. Ada di bagian belakang rumah, di lantai 1."
"Wah ini seperti perkebunan yang sesungguhnya."
Bagas geleng-geleng kepala melihatnya.
"Ini bagasi dan tempat terparkirnya semua kendaraan saya. Dari mobil, motor, sepeda. Lihat ini ada scooter dan sketchboard." Tunjuk Bagas. "Ini di lantai 1 sebelah kanan rumah.
"Saya sangat ingin mencobanya. Tetapi, sekarang tidak bertenaga." Jawab Anya melemas.
__ADS_1
"Hmm besok saja."
***