Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 38 - Flashback


__ADS_3

Bagas mendekati Anya, namun Anya terus menghindar.


***


"Tapi, bukankah kita sudah menyepakati akan menikah?" Tanya Bagas, tersenyum nakal.


Anya menemukan pisau, di piring buah-buahan yang ada di meja. Anya terlalu kalap dan takut pada Bagas.


"Tuan, jika anda menyentuh saya. Saya akan bunuh diri." Ucapnya kemudian.


"Tidak Angel, letakkan!" Pinta Bagas panik.


"Tuan, hukuman apapun. Selain bercinta, saya sudah menegaskan sejak tadi." Ucap Anya lagi.


"Baiklah, turunkan pisau itu!" Pinta Bagas.


"Tidak, tuan mundurlah!" Ucap Anya mengancam Bagas.


Bagas menunggu Anya lengah. Dan...


"Aghhhgggghhhh....." Teriak Anya.


"Ah dapat!" Bagas mendapatkan pisau yang Anya pegang.


"Oh jadi itu? Lebih baik mati? Dari pada bercinta dengan saya?" Tanya Bagas semakin kesal.


"Iya."


"Baiklah jika begitu." Bagas menarik tangan Anya, dan membawanya ke parkiran.


Bagas mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Anya hanya diam, dan tidak berkutik. Meskipun, dia ketakutan. Anya sudah lelah, dengan semua tekanan yang didapatkan dari Bagas.


Bagas memarkirkan mobilnya, di rumah pribadi miliknya. Tentu saja, rumah yang masih menjadi privasi baginya.


***


Setelah sampai di rumahnya, Bagas menuju ruangan kedap suara, tanpa cahaya, dan kosong. Ya, ruangan yang dimana Anya pernah dihukum di dalamnya beberapa kali.


"Bruuuggg.."


Setelah Anya tersungkur, Bagas membuka sabuknya yang diikat di pinggangnya. Dia, mengarahkan pada Anya.


"Bukkk..."


"Bukkk..."


"Buuukkk.."


"ANYA! Mengapa menahannya tanpa suara hah?" Tanya Bagas mencengkram erat dagu Anya.


Bagas yang melihat Anya pasrah dan tanpa ekspresi. Sejak ia mengebut di jalanan, hingga ia dipukuli ikat pinggang.


Anya hanya memejamkan matanya, dan menerimanya pasrah. Membuat Bagas, kesakitan melihat Anya seperti itu. Dan justru ia yang merasakan penderitaannya.


Bagas menghempaskan wajah Anya, dan Bagas mulai memukul lagi. Setiap kali marah, Bagas akan memangil Anya bukan Angel.


Karena panggilan Angel adalah panggilan sayang bagi Bagas. Anya yang sudah paham, ketika Bagas memanggil Anya, itu artinya sedang marah padanya.


"Buuukkk..."

__ADS_1


"Buuukkk.."


"Buuukk.."


"Buuukk..."


"Buuukkk.."


"Buk."


Bagas menghentikannya, dengan sebuah pukulan pelan.


"Baiklah, jika kamu memilih menikmatinya!" Ucap Bagas kesal.


Bagas menyeret Anya, ke lantai 1. Semua ART Bagas memperhatikan mereka diam-diam.


Mereka sangat terkejut, dilihatnya Anya berdarah di beberapa kaki, tangan, dan mereka memastikan pinggangnya. Pasti memar, atau bahkan berdarah juga.


"Tuan. Kenapa nyonya Anya diseret?" Tanya bi Inem, yang melihat Anya terjatuh. Bukan dibangunkan, malah diseret oleh Bagas.


Anya pun berusaha berdiri, ketika Bagas menghentikan langkahnya. "Jangan ikut campur bi." Ucap Bagas dingin. Dan terus menyeret Anya ke dalam kolam.


Bagas menceburkan Anya. Anya yang tidak bisa berenang, hanya pasrah dan terjatuh ke dasar kolam. Tanpa, berusaha berenang atau naik ke permukaan kolam.


Membuat Bagas syok, dan menyelamatkan Anya. Setelah beberapa menit.


"Byuuuuuuurrrrrr...."


Dilihatnya Anya memejamkan mata, dan lemas. Bagas memberikan pertolongan pertama. Ketika sudah 5 kali memberikan nafas buatan, Anya akhirnya sadar.


"Ohok...ohokk..."


"Tik.. tikk.. tik.."


Gerimis melengkapi, siksaan Anya. Bagas dan Anya kehujanan, dan Anya hanya diam menahan sakit dan perih di sekujur tubuhnya.


"Dengar, hukuman kamu belum selesai. Sebab, dikasih hukuman enak. Malah milih penderitaan, mati mungkin lebih baik daripada hukuman ini." Jelas Bagas kesal.


Hening...


"Saya akan ke dalam, dan kamu tidak akan saya biarkan masuk." Ucapnya berdiri, dan meninggalkan Anya sendiri.


Ketika Bagas mendekati pintu, semua ART yang melihatnya, segera ke dapur. Dan berpura-pura bekerja.


Sedangkan bi Inem, menelpon Rara mamahnya Bagas. Bi Inem takut, Bagas akan membunuhnya secara perlahan.


"Hikss... Hikkss.. terima kasih hujan, meskipun perih dan sakit. Setidaknya, air mata yang ku tahan sejak tadi bisa lolos, bersama dengan turunnya hujan. Hujan, terimakasih sudah menutupi kesedihan ku." Ujar Anya menangis.


Anya hanya terduduk memeluk lututnya. Sambil menangis, dress berwarna nevi selututnya sudah basah kuyup. Karena dress tangan pendek, membuatnya semakin kedinginan.


Bagas yang berniat mandi dan ganti baju, dari lantai atas. Memperhatikan Anya.


"Bruk." Anya terkulai lemas, pandangannya mulai kabur. Dan dia pingsan, ketika tubuhnya sudah tidak bertenaga lagi.


"Sial. Dia tertidur, apa pingsan?" Tanya Bagas dingin.


Bagas yang dari lantai 10, sangat khawatir. Dia melihat Anya terkulai lemas, di bawah sana.


Bagas membuka pintu yang mengarah ke balkonnya. Dia loncat dari atas, menceburkan diri ke kolam. Agar tidak lama untuk menghampiri Anya.

__ADS_1


"Byuuuuuuurrrrrr..."


Bagas terus berenang, dan naik ke permukaan kolam. Lalu, mendekati Anya. Dan menggoyangkan tubuh Anya.


"Angel?" Ketika marah, dia terkadang memanggil Anya, namun setelah luluh. Kembali memanggilnya Angel. Panggilan sayangnya.


Bagas menepuk-nepuk pipi Anya, ketika tidak ada respon. Bagas membopongnya ke dalam. Dan berjalan cepat.


Tak disangka, orang tuanya datang ke rumahnya disaat yang tidak tepat. Dan Bagas tidak bisa bersembunyi.


"BAGAS!" Teriak kedua orang Bagas.


Bagas yang di ambang pintu, sedang membopong Anya pun terhenti. Dan berbalik ke belakang.


"Eh mamah, papah? Ada apa, tumben kemari? Eh ia tahu dari mana alamat rumah Bagas?" Tanyanya basa-basi sok kaget.


Padahal, Bagas tahu di hari pertama Anya ke rumahnya. Orang tuanya mengetahui Anya. Dan saat tunangan pun, Bagas mengadakan acara tersebut di rumahnya.


"Jangan basa-basi!" Ucap Rara.


"Kami pun ada di sini saat tunangan, lalu!" Ucap Bima.


"Liat mah, badannya memar dan berdarah!" Ucap Bima lagi.


"Bagas? Kamu apakan anak orang? Jangan bilang kamu memper*osanya." Tuduh Rara.


"Gak mah, sumpah gak." Jawab Bagas.


"Panggil dokter dan rawat dia." Ucap Bima kemudian.


Anya mengerjitkan halisnya, dan membuka matanya. Pandangan yang dia lihat, adalah Bagas.


"Dia sangat tampan, terlebih dari dekat. Dan sedang basah begini, tetesan air di rambutnya. Membuatnya semakin maskulin. Andai dia tidak arogan." Batin Anya.


Anya tersadar, dan mendengar perdebatan, antara orang tua dan anak. "Emm.." Anya berusaha turun.


Karena sangat tinggi, Anya kesulitan. "Emm tuan, turunkan saya." Ucapnya lemas.


Bagas yang baru sadar pun senang. "Angel kamu sudah sadar?" Tanyanya melihat wajah Anya, lalu memeluknya. "Saya takut kehilanganmu tadi." Ucapnya kemudian.


Anya yang salah tingkah, karena ada yang memantau mereka. Memberontak melepaskan pelukan Bagas, lalu berusaha turun. Yang akhirnya, Bagas pun mengalah. Dan menurunkan Anya.


Anya yang masih lemas, berdiri pun kakinya bergetar. Bagas yang menyadarinya, merangkul bahu Anya.


Kedua orang tua Bagas. Saling bertukar pandangan, dan heran melihat Bagas berperilaku demikian.


Pasalnya, dia selalu menolak untuk dijodohkan. Dan seperti, lelaki yang tidak normal. Melihat wanita seksi pun tidak tertarik.


Namun dengan gadis yang di depan mereka ini. Yang terlihat sangat muda, dan polos. Membuat orang tua Bagas, mengerjitkan dahinya.


Pasalnya pertunangan mereka pun hanya menutupi rumor. Dan kedekatan mereka, hanya berdasarkan balas dendam Bagas pada Anya.


***


Visual🌻🌻🌻



__ADS_1


__ADS_2