
"Ambil yang kamu inginkan!" Ucap Bagas senang.
***
"Emm boneka panda yang paling besar itu, boleh kan?" Tanya Anya meyakinkan.
"Boleh!" Jawab pemilik permainan tersebut.
"Gak boleh. Ribet, masa bawa-bawa boneka?" Sungut Bagas.
"Ahh please, Anya yang bawa kok!" Bujuk Anya, seperti anak kecil.
"Yaudah terserah!" Jawab Bagas pasrah.
Mereka duduk sejenak menghabiskan makanannya. "Saya beli es jeruk dulu tuan."
"Em sekalian saya juga beliin!" Pinta Bagas.
"Tuan tunggu di sini saja. Jagain panda saya!" Jawab Anya.
"Tuh kan gue bilang juga apa, nih boneka bikin ribet aja!" Ucapnya pelan.
"Kenapa tuan?" Tanya Anya tak suka.
"Gak papah. Cepet!"
Setelah selesai makan, mereka berjalan-jalan kembali sambil melihat-lihat. Anya benar-benar kerepotan tangan kanannya memegang es jeruk, sedangkan tangan kirinya memeluk panda yang tingginya hampir menyamainya.
Anya sangat menyukai film horror. Dan ketika dia melewati rumah hantu, tentu saja dia ingin masuk.
Sedangkan Bagas cuek, hanya memegang es jeruk di tangan kanannya.
"TUAN!" Teriak Anya excited.
"Aggghhhh! Saya di sebelah kamu, kenapa harus berteriak?" Tanya Bagas memegangi telinganya kesakitan.
"Ahh.. hahaha maafkan saya tuan. Saya sangat bersemangat melihat rumah hantu itu! Bagaimana jika kita masuk?" Ajak Anya matanya dibuat berbinar-binar, selayaknya anak kecil.
"Gak!"
"Ahhhh... Tuan takut ya?" Goda Anya.
"Tentu saja tidak. Itu kan manusia yang dipakein kostum dan make up!" Jelas Bagas, yang pada kenyataannya dia sangat takut.
"Yasudah, apa yang perlu ditakutkan?" Tanya Anya.
"Baiklah!" Jawab Bagas mengalah.
Akhirnya mereka membeli tiket rumah hantu, dan masuk ke dalam. Semua barang yang mereka bawa. Dititipkan di pos penjaga, agar tidak ada kehilangan.
Bagas sudah mulai takut. Bulu kuduknya berdiri semua. Sedangkan Anya santai, dan bersemangat. Pasalnya ini pengalaman pertama baginya, setelah beberapa tahun lalu.
Ketika ia memasuki rumah hantu, dengan ayahnya. Ketika masih kecil dan kala itu, dia naik ke pundak ayahnya. Tapi dulu, mungkin karena masih kecil. Jadi Anya takut sekali, baru saja masuk sudah menangis ingin keluar.
Terlebih dulu, rumah hantu besar. Menaiki tangga sebelum masuk, dan turun tangga kala memasukinya. Disambut oleh genderewo di dalam sel.
***
"Aaaaggghhhhhhhhhh....." Teriak Anya melompat pada Bagas dan naik ke atasnya. Bagas menangkap tubuh Anya kaget.
Anya semakin mengeratkan tangannya di leher Bagas, dengan kakinya dilingkarkan di pinggang Bagas. Bagas pun hanya bisa memegangi pingga Anya.
__ADS_1
Pocong itu meloncat-loncat dan terus menakuti Anya. Melihat betapa lucunya ekspresi Anya kala itu.
Dengan cekatan, Anya meninju wajah pocong itu. Hingga...
"Bruuuggg..." Pocong itu jatuh tersungkur.
"Yaa... Angel? Mengapa memukulnya?" Tanya Bagas menatap wajah Anya.
Anya yang menyembunyikan wajahnya di bahu Bagas, kemudian menatap wajah Bagas. "Saya takutlah!" Ucapnya sensi.
"Hmm.. lalu sampai kapan, kau akan berada di pangkuan saya begini?" Tanya Bagas tersenyum smrik.
"Ahh.. maaf tuan." Ucapnya malu, dan turun dari pangkuan Bagas.
Anya menundukkan kepalanya malu, sedangkan Bagas tersenyum smrik. Tanda menang, bahwa ternyata keadaan berbalik.
Anya yang percaya diri tidak takut, dan Bagas yang ragu karena takut. Yang kini, semuanya berkebalikan.
Mereka berjalan lagi, dan menemukan harta Karun yang digembok.
"Ah ini kuncinya!" Ucap Bagas menemukan kunci.
"Wah kita dapet hadiah tuan!" Ucap Anya senang.
"Ah bukankah kita serasi? Kau menemukan kotak gembok, dan saya menemukan kuncinya?" Goda Bagas.
"Hmm. Biasa saja, ini kan permainan." Jawab Anya.
"Tidak romantis." Ucap Bagas pelan.
"Apa tuan?" Tanya Anya.
"Lupakan."
Bagas dan Anya saling menatap. Kaget dengan, boneka hantu yang tiba-tiba muncul dari atas.
"Emkhemm.. maaf tuan." Ucap Anya kembali melihat ke depan.
"Hmm." Balas Bagas yang menyembunyikan salting nya.
Mereka kembali berjalan, sesuai naluari mereka.
Tiba-tiba....
"Tingggg...." Suara nyaring terdengar. Membuat Anya dan Bagas terkejut. Dan mereka tak sengaja berpelukan.
Yang membuat mereka, kembali salah tingkah. Mereka kemudian melepaskan pelukannya, dan saling diam. Sambil terus berjalan ke depan.
"HAAAHHH." Sinder bolong yang datang tiba-tiba, mengejutkan mereka.
"Aaaaggghhhhhh...." Teriak Anya dan Bagas. Anya memeluk lengan Bagas, Bagas menatap Anya sekilas.
Anya melepaskan lengannya. Lalu, Bagas menahan tangan Anya. Dan memegang jemari Anya erat.
"Saya tahu, sekarang kamu lebih takut daripada saya. Jadi, jangan lepaskan!" Ucap Bagas khawatir. Dengan matanya, yang menatap ke depan.
"Em." Anya pun mengangguk. "Baiklah, terima kasih tuan!"
"Jangan salah paham!" Ucapnya memperingati, dengan terus berjalan ke depan.
"Ya tuan, saya mengerti."
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka pun menyadari. Bahwa ternyata, mereka belum juga menemukan pintu keluar.
"Tuan bukankah kita tersesat?" Tanya Anya mulai panik.
"Sepertinya begitu." Jawab Bagas santai.
"Hah... Bagaimana ini?" Tanya Anya hampir menangis takut.
"Em tenanglah, kita tidak akan mati di sini."
"Bukan itu yang saya takutkan, tetapi kita tersesat di tempat yang menakutkan begini." Jelas Anya hampir menangis.
"Ya! Siapa tadi yang sangat bersemangat? Lalu, mengapa harus takut begitu?" Tanya Bagas heran.
"Jika ada yang tersesat. Maka lihatlah petunjuk di atas." Ucap seseorang di balik pembesar suara.
"Itu!" Tunjuk Anya.
Bagas membacanya. "Apa rahasia dari langgengnya sebuah hubungan?"
"Bahkan saya belum pernah pacaran." Jawab Anya jujur.
"Emm saya juga." Balas Bagas.
"Hah? Tidak mungkin."
"Saya fokus sekolah, lalu bekerja. Bukankah tidak ada waktu untuk pacaran?" Jelas Bagas meyakinkan.
"Em baiklah, gimana kalo ngasal aja?" Saran Anya.
"Em kepercayaan?" Tanya Bagas.
"Coba ketik!"
Bagas pun mulai membuka komputernya, dan mengetiknya.
"Benar! Tapi, masih kurang."
"Em kejujuran!" Ucap Anya menyarankan.
"Ah benar. Satu lagi!"
"Komunikasi!" Ucap Bagas dan Anya kompak. Mereka pun tersenyum penuh kemenangan.
"Ah tepat!"
Pintu pun terbuka, namun ada tangtangan pasangan. "Siapapun yang masuk ke dalam rumah hantu. Berdua, dengan lawan jenis. Harus menyelesaikan tantangan hingga selesai!" Ucap Anya membacakan pelaturan wahana itu.
"Pilihlah satu!" Ucap Bagas membacakan.
"Ini!" Ucap Bagas dan Anya kompak, mengambil satu kertas yang tersedia.
"Berdansa dan jangan melepaskan tangan kalian. Meskipun banyak gangguan dari para penghuni rumah hantu." Ucap Anya membacakan tangtangan pasangan tersebut.
Lagu hantu pun dinyalakan. Yang berjudul "ding-dong."
***
Visualš«£
__ADS_1