
Tadinya mereka tidak berniat tidur di kantor. Namun, Anya tertidur pulas. Membuat Bagas, menggurungkan niatnya untuk pulang.
***
Kamar pribadi yang rapi, bersih, dan wangi. Di atas ranjangnya, tersusun buku-buku yang rapih. Memberikan kesan estetik.
Anya merasa nyaman tidur dengan memeluk guling, dan dengan selimut yang lembut. Bagas tersenyum melihat Anya bergerak-gerak, seperti bayi.
"Kalo saja pertemuan kita itu indah. Saya tidak akan pernah kasar dan balas dendam kepadamu. Dan saya tidak akan ragu bersikap manis, hanya kepadamu." Ucap Bagas pelan, sambil menyelipkan anak rambut Anya, ke telinganya.
"Huaammm..." Anya menguap dan meregangkan tangannya.
"Emm? Dimana ini, sepertinya baru pertama kalinya saya melihat kamar ini." Tanya Anya melihat ke sekitar.
Lalu, melihat Bagas yang berada di sampingnya. Bagas pura-pura tertidur, setelah menyadari Anya akan terbangun.
Anya segera beranjak dari tempat tidurnya.
"Angel! Mandi di kantor saja, saya sudah menyiapkan pakaian. Setelah kita siap, saya akan membawa kamu ke pabrik. Yang saya janjikan." Ucap Bagas melihat Anya yang duduk di tepi ranjang termenung.
"Hmm ia tuan, tuan mengagetkan saja." Balas Anya tersadar.
Mereka pun mandi, dan bersiap-siap dengan pakaian santai. Namun senada, sengaja Bagas memilih baju seperti itu.
Kemudian mereka segera berjalan ke pabrik. Mereka melihat proses pembuatan produk yang berasal dari sampah. Tentu saja produk yang berkualitas. Dan mendapat harga nilai yang sangat tinggi.
Bagas merasa bangga, menjadi salah satu pemilik kantor asli orang Indonesia. Karena di zaman sekarang, banyak kantor yang pemiliknya orang asing.
"Terima kasih tuan, cukup menarik dan melelahkan." Ucap Anya setelah kembali ke kantor.
"Hmm. Sama-sama, jadi sekarang bagaimana penilaian kamu terhadap saya?"
"Maksud tuan?"
"Melihat siapapun bisa bekerja sama dengan saya?" Tanya Bagas, yang ingin dipuji.
"Em cukup baik. Saya tahu, tuan sangat dingin dan tegas. Tetapi, tuan memang orang yang berattitude baik. Jadi, tidak heran tuan memperkerjakan siapa saja. Dengan kondisi bagaimanapun." Jelas Anya.
"Ah biasa saja." Jawab Bagas rendah hati. Dan sedikit salting.
__ADS_1
***
Acara yang ditunggu-tunggu telah dibuka. Bagas mengadakan festival tersebut di Bali. Dan rencananya jika ini berhasil, Bagas ingin mengadakan festival ke dua di Yogyakarta.
MC atau pembawa acara festival ini adalah Vian.
"Okay sebelum kita mulai acara ini. Untuk saudara Bagas Khristal Jaya, dimohon ke depan. Untuk menggunting pita." Ucap Vian.
Bagas menggandeng Anya. "Tuan?" Tanya Anya kaget.
"Dampingi saya." Ucap Bagas dingin.
Anya pun mendampingi Bagas, mereka memegangi gunting berdua. Untuk menggunting pita, tanda kerja sama akan dimulai dari sekarang. Anya mengikuti semua perintah Bagas, karena tidak ingin merusak suasana.
Semua orang yang hadir bertepuk tangan. Vian pun mengambil alih kembali.
"Sebelum memulai ke acara inti, kita dengarkan dulu puisi. Yang akan dibawakan oleh saudara Bagas dan saudari Anya. Agar kita semua tidak terlalu tegang yah." Ucap Vian, kemudian dia menggunakan bahasa Inggris, mentranslatekannya agar kolega kerja dari luar negeri mengerti.
Anya dan Bagas ke depan. Mereka menundukkan sedikit kepalanya. Kemudian Anya mulai membacakan puisinya.
Sampah Bisa Menjadi Kristal
Pagi hari yang cerah, matahari yang terbit dari sebelah timur.
Mereka melewati jalan yang sama, atau sesekali melewati jalan yang berbeda.
"Aku berharap. Suatu hari nanti, ada seorang pahlawan. Yang mampu merubah dunia. Memanfaatkan segala sesuatu yang terbuang, dan tidak ternilai di mata manusia biasa." Ucap seorang gadis, yang memegang beberapa botol berserakan di pinggir jalan.
Sampah, selalu dianggap kotoran yang tidak ternilai.
Manusia selalu melupakan, bahwa sebelumnya 'sampah' itu sangat berharga baginya.
Manusia terlalu naif, dan mengacuhkan segala sesuatu yang dia anggap tak berharga lagi.
Di kemudian hari, gadis tersebut berjalan ke jalan yang selalu ia lewati...
Dimana sampah berserakan...
Kini dia melihat jalanan yang bersih dan rapih.
__ADS_1
Merasa aneh dan tak percaya, dia pun terus melewati jalan itu.
Matahari terbenam dari sebelah barat.
Tak menghentikan niatnya, untuk terus memeriksa apa yang terjadi.
"Akulah pahlawan yang kau cari. Sekarang tidak ada lagi sampah di sini." Ucap seorang pria tampan tersenyum manis. Lalu, menghilang.
_leehanahae_
Anya pun selesai membaca puisi tersebut. Kemudian Bagas membacanya menggunakan bahasa Inggris.
"Prok prok prok..." Semua tamu dan kolega bertepuk tangan haru.
Bagas dan Anya membungkukkan tubuhnya. Dan turun dari panggung.
Setelah melewati berbagai runtuian acara. Kini tibalah di puncak acara.
"Mari bentuk kelompok, dan kumpulkan berbagai jenis sampah. Tentu saja, kita sudah tahu dan bisa memilah dan memilih jenis sampah." Ucap Vian.
"Setiap kelompok, wajib 2 orang. Tidak lebih dan kurang." Jelas Vian.
"Okay baiklah, semuanya sudah memiliki kelompok. Kita mulai saja, kumpulan sampah sebanyak-banyaknya. Dan harus dipisahkan, sesuai jenis sampah tersebut!" Jelas Vian lagi. Setelah beberapa menit, terbentuk kelompok.
Semua orang pun sibuk dan mulai mengumpulkan sampah. Anya dan Bagas di satu tim yang sama.
"Semuanya sudah terkumpul."
"Oh dan kelompok 1 lah yang mengumpulkan sampah terbanyak." Ucap Vian. Setelah semua kelompok yang terdaftar mengumpulkan sampahnya masing-masing.
"Selamat kepada CEO kita Bagas Khristal Jaya, dan rekannya Anya Prinsiska Angella." Ucap Vian bertepuk tangan.
Vian dan beberapa panitia, memberikan beberapa hadiah pada pemenang dan orang-orang yang sudah berpartisipasi.
***
Visual 💮💮💮
__ADS_1