Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 8 - Apa Profesi Mu Sebenarnya


__ADS_3

"Selain lebih kelihatan semuanya dari ketinggian, saya pun menyukai pemandangan malam dari ketinggian."


"Pemandangan kota, yang dipenuhi lampu dan gedung tinggi membuatnya indah."


***


"Saya juga menyukainya. Tetapi, tidak ada pengalaman yang buruk di sana." Ucap Bagas.


"Syukurlah. Em maafkan saya tuan, sudah berbicara aneh dan panjang lebar."


"Ah saya menyukainya. Kamu teman ngobrol yang asyik." Ucap Bagas, tersenyum tipis.


Anya tersenyum. "Baiklah bagaimana kalo kita hadapi bersama?" Tanya Bagas masuk ke dalam kolam lagi.


"Maksud tuan?" Tanya Anya tak mengerti.


"Ayo!" Ajak Bagas memberikan tangannya agar Anya meraihnya.


Anya menggelengkan kepalanya. "Saya akan mengajari kamu!"


"Tapi.."


Bagas menarik Anya, dan membuat Anya terkejut. Anya spontan memeluk Bagas, mengalungkan tangannya ke leher Bagas, dan melingkarkan kakinya ke pinggang Bagas.


Bagas yang ikut terkejut dengan perilaku Anya terdiam, merasakan ada sesuatu yang bangun di bawah sana. Karena ada tekanan dari Anya, yang terasa mengganjal. "Bagas fokus!" Batin Bagas.


"Hei! Ayolah! Turun! Apa kamu ingin dekat denganku?" Ucap Bagas melembut.


Anya pun spontan melepaskan pelukannya. "Byuuuuuuurrrrrr..."


"Hahh.."


"Huhh...."


Bagas memejamkan matanya, kesal. Dan mengangkat tubuh Anya, memeganginya. Dan mengarahkan agar Anya bisa belajar berenang dengan baik. "Pertama, kamu harus tenang. Jangan tegang begitu!"


Anya menarik nafas dalam-dalam. Dan berusaha setenang mungkin.


"Bagus. Sekarang kita latihan dasar, ya cara saya memang beda dari kebanyakan orang. Tapi, tidak apa-apa, yang terpenting hasilnya nanti."


***


"Tapi tuan, haruskah kita belajar tengah malam begini? Apa tuan tidak kedinginan?"


"Kamu dingin?" Tanya Bagas.


"Tidak tuan."


"Saya sudah biasa berenang malam hari, jika saya sedang penat dan susah tidur." Jelas Bagas.


"Oh baiklah. Saya juga menyukai berendam di dalam air, meskipun malam hari. Karena malam lebih indah." Ucapnya tersenyum tenang.


"Baiklah. Kita atur pernafasan dulu, jika kamu sudah merasa tenang di dalam air. Kita akan ke tahap berikutnya."


"Saya masih sedikit takut. Karena kolamnya dalam sekali." Keluh Anya.


"Bukan kolam yang terlalu dalam, kamu yang terlalu pendek." Ucap Bagas enteng.


"Ah tuan, jangan mentang-mentang tuan sangat tinggi begitu. Sehingga mengejekku seenaknya." Kesal Anya.


"Kau melawan saya?"


"Tidak tuan." Ucapnya pasrah dan mengalah.


"Ayo kita masuk ke dalam air, dan tahan nafas selama mungkin. Tapi semampunya." Jelas Bagas.


"Tapi tuan.."


"Saya akan memegangi kamu!"


Anya pun mengikuti arahan Bagas. Mereka masuk ke dalam air, dan menahan nafas. Bagi Anya ini kebiasaannya dengan teman-temannya dan keluarganya dulu, ketika di kolam. Jadi, dia sedikit mahir.


30 detik kemudian. Anya merasa sesak dan mengarahkan tubuhnya ke atas, untuk mengambil udara segar. Sedangkan Bagas membantunya, menganggkat tubuh Anya ke atas. Sedangkan dia masih betah di bawah sana.


1 menit berlalu, dia baru memunculkan dirinya.


"Wah tuan. Bagaimana bisa anda selama ini berada di dalam air?" Kagum Anya.

__ADS_1


"Itu hal biasa. Ketika ada musibah, tenggelam di laut, banjir atau sebagainya. Kita harus bertahan bukan?" Tanya Bagas.


"Ah iya. Tapi, ngomong-ngomong tinggi tuan berapa sih? Kok aku bisa sangat pendek di samping tuan." Heran Anya.


"Ah benar sekali, sangat pendek. Hampir dekat dengan pusar saya yah kamu." Ucap Bagas menambah-nambahkan.


"Tidak tuan, masih sedada tuan kok. Saya juga bukan kurcaci." Elak Anya kesal.


"Ah baiklah. 179cm. Sepertinya kamu 146cm yah?" Jawab dan tanya Bagas.


***


"Ah tepat sekali, mengapa bisa menebaknya dengan mudah?"


"Ah jadi benar. Padahal tadi gue cuma nebak. Tapi, gue harus berwibawa. Dan harus keren dong di depannya." Batin Bagas.


"Iya dong, saya kan memang genius dari sebelum lahir." Ucap Bagas bangga.


"Besok kita lanjut belajar lagi." Ucap Bagas lagi.


"Gitu aja?" Heran Anya.


"Kenapa? Memang semuanya harus berproses, gak langsung ke intinya." Tanya Bagas.


"Ah baiklah." Anya pun mengalah.


Pagi sudah menyambut, burung berkicauan. Terbang membawakan kabar berita kepada setiap insan. Terik matahari menyilaukan, menembus setiap jendela rumah manusia.


Beberapa orang terganggu dengan sinarnya yang menyilaukan dan membangunkan tidur yang nyaman. Tetapi, ada beberapa orang yang bahagia, menyambutnya karena seperti alarm tak berbunyi.


"Angel!" Panggil Bagas.


"Iya tuan?"


"Pasangkan dasi!" Perintahnya.


"Tapi tuan."


"Gak bisa?" Tanya Bagas.


"Cepat!" Ucapnya dingin.


"Ba-baiklah." Gugup Anya.


Anya pun mendekati Bagas, dan mengambil dasinya. Memakaikannya ke lehernya, dengan sangat teliti dan cekatan.


"Sudah tuan."


"Wah rapih juga yah, kamu sekola dimana?" Tanya Bagas.


"Ah waktu SMP tuan, saya mempelajarinya. Karena, SMK tidak memakai dasi." Jelas Anya.


"Ah iya, tapi kenapa masih ingat? Padahal sudah lebih dari 5 tahunan?" Tanya Bagas heran.


"Ah entahlah." Jawab Anya.


"Kenapa kamu gak lanjut kuliah, saya lihat kinerja dan nilai kamu bagus semua." Tanya Bagas lagi.


"Saya juga sangat ingin tuan, tapi keadaan memaksa saya untuk bekerja." Jawab Anya melemah.


"Ah begitu. Kenapa tidak lewat beasiswa?" Tanya Bagas menelisik.


"Tetap saja tuan, ibu saya tidak mampu membiayai bekal, ongkos, biaya buku dan sejenisnya." Jawab Anya setenang mungkin.


"Ah begitu. Ayah?"


"Ayah saya sudah menikah lagi. Tepat saat saya di kelas 4 SD tuan, orang tua saya bercerai ketika saya masih kelas 2 SD. Ah maafkan saya, kenapa saya harus bercerita masalah pribadi." Jelas Anya tak sadar.


"Ah saya yang harusnya minta maaf, karena mungkin menyinggung perasaan kamu." Ucap Bagas iba.


"Tidak tuan." Jawab Anya.


"Baiklah ayo!"


"Kemana?" Tanya Anya heran.


"Kamu lupa? Saya harus bekerja, padahal kamu sudah benar memakai pakaian ke kantor." Tanya Bagas.

__ADS_1


"Ah maaf tuan, saya lupa." Jawab Anya.


Anya pun mengikuti langkah kaki Bagas.


"Tuan tidak sarapan?" Tanya Anya.


"Saya tidak pernah makan di rumah." Jawab Bagas dingin.


"Tapi tuan, saya sudah menyiapkan makanan untuk tuan." Ucap Anya setengah memohon.


"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Bagas menatapnya tajam.


"Tidak ada , inisiatif. Semua pembantu tuan memang melarang saya, tetapi saya yang memaksa. Jadi, bisakah kita coba sedikit saja?" Jelas Anya hati-hati.


"Kamu!? Mau memerintah saya?" Tanya Bagas ketus.


"Tidak tuan."


"Hanya menghabiskan waktu berharga saya saja." Ucap Bagas bergegas keluar dari lift, namun ketika melewati meja makan. Makanan sudah tersaji rapi, aromanya menggiurkan lidah.


"Baiklah sekali ini saja." Ucapnya berjalan ke arah meja makan.


***


Anya dibuat heran, meja makan sebesar dan sepanjang ini untuk apa. Padahal tinggal sendiri, yang lebih membuatnya terkejut. Meja makan itu bisa dikecilkan dan dibesarkan, seperti meja makan yang bisa dilipat.


Ketika para pembantu Bagas ingin menyiapkan dan melayani, tiba-tiba..


"Tidak perlu. Anya layani saya!" Pinta Bagas santai.


"Emm ba-baik tuan." Jawab Anya yang awalnya berdiri mematung, seketika sigap melayani Bagas.


Semua ART Bagas hanya menatap tak percaya, untuk pertama kalinya Bagas menyantap makanan rumahan. Bagas tak pernah menyantap makanan rumahan sekali pun, itu sudah menjadi kebiasaannya saat kecil.


Karena orang tuanya, selalu membawanya ke restoran ternama. Membuat Bagas sulit melepaskan kebiasaannya, untuk tidak makan di luar.


"Tuan ingin makan apa?" Tanya Anya.


"Steak."


Anya menghidangkan steak ke piring Bagas , dan memberikan garfu dan pisau di samping piringnya.


"Enaknya sih makan steak dengan anggur merah." Ucap Bagas membayangkan.


"Buah tuan?" Tanya Anya polos.


"Hmmm... Miras!" Jawab Bagas kesal.


"Ahh tapi tuan kan mau kerja."


"Jangan memerintah saya! Ambilkan anggur merah!" Ucap Bagas dingin.


"Tuan serius?" Tanya Anya meyakinkan.


"Memangnya saya pernah bercanda?" Tanya Bagas kalem.


"Baiklah tuan."


Anya mengambil anggur merah, bi Inem menunjukkan dimana dia menyimpannya. Lalu, Anya menuangkannya.


Bagas menghabiskan steak nya dan anggur merah yang disajikan. Dia juga meminta nasi dan ayam goreng yang ada dihadapannya. Tak biasanya Bagas makan selahap ini.


"Kamu itu sebenernya bekerja apa sih?" Tanya Bagas disela dia menyarap sarapannya.


"Saya tuan?" Tanya Anya.


***


***


Visual🌃




__ADS_1


__ADS_2