Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 49 - ASI


__ADS_3

"Bagus sayang. Saya akan mengatakannya nanti, agar segera dibuatkan akte kelahiran." Jawab Bagas antusias.


***


Bagas ternyata pandai adzan, dia mengadzani kedua anaknya dengan takzim. Anya begitu terharu melihat pemandangan yang tak biasa itu.


"Kenapa sayang, mata kamu berkaca-kaca?" Tanya Bagas, usai mengadzani kedua anaknya.


"Tidak apa-apa." Jawab Anya tersenyum.


"Bu ini anaknya beri ASI dulu ya." Ucap sang perawat.


Anya mengangguk. Bagas menggendong satu bayinya, dan diberikan pada Anya. Anya menerimanya, dan segera membuka kancing atasnya. Anya mengeluarkan pay*d*ranya.


"Kenapa bang?" Tanya Anya, melihat Bagas memperhatikannya tak berkedip.


"Tidak apa-apa." Sanggah Bagas.


"Arrrgg geli.." Ucap Anya terkekeh, bergerak ke kiri dan kanan.


"Biasakan Bu, bukannya sudah biasanya ya ditetein ke suami?" Tanya perawat itu santai.


Anya tersenyum malu, sedangkan Bagas tersenyum smrik.


"Aw aw sakit. Kok dia ngemutnya kenceng banget ya sus?" Tanya Anya.


"Bayi baru lahir memang begitu Bu, kalo menyusui." Jawab perawat tersebut.


"Saya kaget dan belum terbiasa."


"Memang lebih enak ditetein ke suami Bu, daripada ke anak." Ucapnya santai.


Anya nyengir kuda mendengarnya. Sedangkan Bagas tersenyum bangga, merasa dirinya memuaskan istrinya, dan lebih baik daripada anaknya.


"Kenapa kamu?" Tanya Anya heran.


"Hmm? Tidak apa-apa." Jawab Bagas singkat.


"Sus, kayaknya airnya gak keluar deh." Ucap Anya.


"Coba saya lihat." Jawab sang perawat melepaskan emutan bayinya.


"Itu harus dipancing dulu Bu." Jelas sang perawat.


"Gimana caranya sus?" Tanya Anya polos.


"Ya, sama suami." Jawab perawat tersebut santai.


"Hah?"


"Iya, suaminya nete Bu. Setelah airnya keluar baru deh dikasih ke bayinya." Jelas sang perawat itu.


"Wajib seperti itu?" Tanya Anya enggan melakukannya, padahal setiap hari Bagas selalu melakukannya.


"Ya terserah ibu, kalo mau airnya keluar ikuti arahan saya." Jawabnya.


"Sayang, saya sanggup kok. Gak usah sungkan, kan setiap hari saya melakukannya." Jawab Bagas tak tahu malu.


"Apa sih bang!" Ucap Anya malu.


"Yasudah, saya keluar. Daripada ibunya malu, masa iya saya menyaksikan hal seperti itu." Jelas sang perawat pamit keluar.


"Yang, susternya masa gitu!" Ucap Anya.


"Gitu gimana sayang?" Tanya Bagas tak paham.


"Berkata-kata pornografi, tapi tetap santai." Jawab Anya heran.


"Bukan pornografi sayang, dia menjelaskan yang seharusnya kok." Jelas Bagas mengusak-ngusak rambut Anya.

__ADS_1


Anya terdiam. "Sini!" Ucap Bagas semangat.


"Apanya?" Tanya Anya.


"Tetenya sayang, kan harus dipancing dulu." Jelas Bagas.


"Malu sayang, ini kan di rumah sakit." Ucap Anya.


"Cuma kita berdua sayang, kasian tuh bayinya haus." Jelas Bagas.


Anya hanya bisa pasrah dan menyodorkan tetenya kepada Bagas. Bagas yang antusias, langsung mel**ap p**uk g**ung ke*ba* Anya, yang mem*esar dan men**ras karena air susunya.


"Pelan-pelan sayang, saya sampai kaget. Kamu tidak aba-aba." Ucap Anya.


Bagas masih melahapnya, dan mengeluarkan payu*d*ra yang satunya. Ia mengemut sambil meremas te*e satunya lagi. Hingga tidak ada yang menganggur. Seperti biasanya dia lakukan setiap hari tanpa bosan.


Bagas bergantian melahap pucuk gunung kembar Anya, hingga mengeluarkan cukup banyak air susu. "Sayang gunung kembarnya, makin gede aja." Ucap Bagas ngos-ngosan. Dan kembali melahapnya.


"Sayang udah, sisain buat anak kita." Jelas Anya.


"Masih banyak stok kok, tenang aja." Jawab Bagas.


Sementara itu, Anya meminta Bagas mengambil anaknya yang tadi dia simpan dulu ke troli bayi.


"Cepet yang, ambil anaknya!"


"Nih!" Ucapnya lemas. Pasalnya dia belum kenyang.


"Kamu gak enek apa minum ASI??" Tanya Anya heran.


"Gak sayang, langsung dari pabriknya seenak itu ternyata." Jawab Bagas berbinar.


"Hmm. Yaudah nih satunya!" Ucap Anya mengeluarkan payu*ara yang tadi sempat dimasukkan.


Bagas pun dengan senang hati, langsung melahapnya. Anya seperti merasakan, ayahnya dan anaknya sedang balap nyusu. Mereka mengemutnya dengan sangat kencang dan ritmenya yang cepat.


Anya pun menukar bayinya, karena yang sudah ia susui telah tertidur pulas.


Beberapa menit kemudian.


Tanpa mengetuk pintu. Orang tua Anya dan Bagas datang ke rumah sakit, tempat bersalinnya Anya. Mereka sangat antusias melihat cucunya.


"Dimana cucuku?" Tanya ibu Bagas.


"Dimana mereka, kami ingin melihatnya?" Tanya ibu Anya.


Keempat orang tua itu pun, segera memalingkan wajahnya dan membalikkan badannya. Melihat Bagas yang juga sedang mengemut gunung kembarnya Anya.


Anya sangat terkejut, tak terkecuali Bagas. Dia sampai melepaskan pucuknya dengan kecang. Membuat si empunya meringis.


"Aisshhh.." Ringis Anya.


"Maaf sayang, saya kaget." Ucap Bagas mengusap gunung kembarnya.


"Kalian ini, kenapa gak ketuk pintu dulu?" Tanya Bagas.


"Maafkan kami, kami tidak sabar." Ucap ibunya Bagas.


"Kami keluar dulu." Ucap ibunya Anya. Mereka berempat pun keluar.


Bagas yang ingin melanjutkan aktivitasnya, dihentikan oleh Anya. "Kedua anak kita sudah tidur. Udah nyusunya. Ini malah yang lahap bapaknya." Ucap Anya.


"Sayang, saya kan penanam benih. Ya, memang lebih membutuhkan air susunya." Rengek Bagas seperti anak kecil.


"Kamu ini, udah kayak anak kecil aja. Nanti dilanjut, ada orang tua kita. Gak malu apa?"


"Gak lah, kan saya suaminya." Jawab Bagas bangga.


"Udah ah." Ucap Anya menyilangkan tangannya di d*danya.

__ADS_1


Keempat orang tua Bagas dan Anya pun mengetuk pintu. "Tok tok tok"


"Gimana udah belum"? Tanya ibunya Bagas.


"Masuk!" Ucap Bagas.


"Dimana cucu kami?" Ucap mereka serempak.


"Itu mereka!!" Tunjuk Bagas.


Mereka pun membalikkan badannya. Dan melihat cucu-cucunya sedang pulas tertidur.


"Jagoan opah." Ucap ayahnya Anya.


"Uhh kebanggaan kakek." Ucap ayahnya Bagas.


Anya dan Bagas saling menatap, dan tersenyum bahagia.


***


Anya dan kedua anaknya dibolehkan pulang. Persalinan Anya yang normal, membuatnya cepat pulih. Dan kedua anaknya yang sehat, dan tidak ada masalah. Jadi, mereka diperbolehkan untuk pulang.


Bagas menyuruh Vian untuk menjemputnya di rumah sakit. Bagas mengindap di rumah sakit pribadinya, selama dua malam. Karena Anya dan bayinya tidak perlu perawatan intensif, yang memakan banyak waktu.


"Jemput gue di rumah sakit." Ucap Bagas dalam telpon.


"Oke." Jawab Vian.


"Oh iya, bawa satu supir." Ucap Bagas lagi. Kemudian mematikan teleponnya sepihak.


"Ba-"


"Kebiasaan, gue belum selesai ngomong pasti dimatiin. Padahal kalo keadaan kayak gini, yang ngurus kantor kan gue." Gerutu Vian.


Akhirnya Bagas dan Anya sampai di rumah. Keluarga Anya dan Bagas, akan kumpul hari ini di rumah mereka. Karena ingin melihat baby boys nya itu.


"Vian, lo cari katering. Sekarang juga." Pinta Bagas.


"Sekarang?"


"Kenapa?" Tanya Bagas tajam.


"Hm. Oke gue usahain!"


"Harus dapet ye!"


"Oh iya, lu mau ke kantor lagi?" Tanya Bagas.


"Iya, banyak kerjaan yang belum tuntas."


"Ambil semua berkas yang harus gue tandatangani. Gue gak mau numpuk kerjaan terlalu lama, gue akan kerja di rumah sementara ini." Jelas Bagas.


"Oke siap bos." Jawab Vian patuh.


"Yasudah, go!"


"Gue permisi!" Pamit Vian, dijawab anggukan Bagas.


"Awas kateringnya secepatnya!" Ucap Bagas memperingati.


Vian pun hanya mengacungkan jempol, tanpa menoleh ke belakang. "Keren sekali dia." Ucap Bagas melihat kelakuannya.


***


VisualšŸ–¤šŸ–¤šŸ–¤



__ADS_1


__ADS_2