Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 77 - Vian Dan Sati


__ADS_3

"Aku harus jadi patung?"


"Bukan itu maksudnya kak."


***


"Sudah cukup. Terima saja. Aku bisa memberikan apapun yang kamu mau, asalkan kamu memberikan apa yang aku inginkan!" Ujarnya tersenyum smrik. Sambil melepas pakaiannya satu persatu.


Sati semakin takut. Dia ingin berlari. Namun Vian segera mengunci pintu dan menyimpan kuncinya ke atas lemari yang tinggi.


"Kak. Sati sahabatnya Shinta. Adiknya kakak, masa kakak tega!" Ujarnya memohon.


"Suuuttttssss... Kali ini saja." Ucap Vian menarik baju Sati.


Satu tarikan membuat semua kancingnya terlepas. Vian menyeringai melihat pa**d*** nya yang montok. Di balik bra. Vian melepaskan pengaitnya. Dan terlihatlah pa***r* dengan p**i*g yang besar.


Vian m***m*s dan menghisap. Terus memainkannya, sampai si pemilik berdesah sakit.


"Kak kkkak.. hikss hikss kak cukup kak." Sati menangis dan memberontak.


Namun pengaruh alkohol tersebut membuat Vian tak sadar.


"Diamlah. Aku akan lembut jika kamu menerimanya."


Vian mencium bibir Sati, menyesapnya hingga beberapa saat. Sati diam tak membalas. Masih menutup mulutnya. Vian pun mengigit bibir bawahnya. Hingga Sati membuka mulutnya.


Terus menerobos dan mengabsen giginya, Vian pun bermain dengan li**h Sati dan terus ia sesap.


"Sssssttttt.... Sati kamu manis sekali."


Vian menarik rok Sati, dan melepaskan segitiga bermuda tersebut. Dia bermain di sana dengan jarinya.


"Arrrggghhhh.... Kkkaak. Jangan kak. Hiks hikss.." Sati terus menangis dan melawan.


Tenaganya tentu tak sebanding dengan Vian yang kekar perkasa. Setelah puas dengan jari, Vian pun memasukkan si dedek dengan pelan.


"Aw.. sak-it kak. Jangan kak." Ucap Sati meringis.


"Tahan sayang. Sebentar kok sakitnya, lama-kelamaan akan nikmat. Meskipun ini pengalaman pertama ku, aku tahu dari beberapa sumber." Jelas Vian yang masih belum sadar seutuhnya.


Dia mendorong hingga ujung. Terus memompa ke bawah dan ke atas. Membuatnya mendesah nikmat. Sambil terus me***as p****ra Sati dan menghisapnya bergantian. Mencumbu leher dan bibirnya. Hingga meninggal kissmark.


Tak terasa sudah lima jam lamanya mereka bercinta. Lebih tepatnya Vian mem***k*a Sati. Hingga akhirnya lemas dan mereka pun tertidur.


***


Keesokan paginya.


Matahari menembus jendela yang terhalang gordeng. Dan kicauan burung terus bersahutan membangunkan siapapun yang mendengarnya.


"Ahhhhhhhhh.... Dimana ini? Aw kepala ku, hah siapa dia?" Vian terbangun.


"Sati?" Tanya Vian pelan.


"Apa yang terjadi. Noda merah? Apakah aku-"


Hp Sati berdering, Sati terbangun dan melihat hp nya berada di atas kepalanya. Dia belum seutuhnya sadar, bahwa Vian masih memeluknya, kepalanya yang terbenam di dada Sati. Sudah terlepas, usai tadi dia bangun.


"Emmm..." Sati terbangun. "Shinta?" Sati melihat hp nya.


"Hiks... Hiksss... Kakak jahat! Kakak me*p**k*a aku!" Ucap Sati menangis kecewa.


Sati tidak mengangkat hp nya. Dia langsung marah saat teringat kejadian malam tadi.


"Sati. Maafkan aku, aku tidak sadar. Kenapa kamu bisa berada di sini. Aku akan bertanggung jawab." Ucap Vian mencoba mengingat.


"Hiks... Hiks.." Sati terus menangis.

__ADS_1


Vian mendekati Sati dan memeluknya lagi.


"Sati, aku tahu. Kata maaf tidak cukup untuk menebus kesalahan ku. Izinkan aku bertanggung jawab. Aku akan menikahi mu Sati!" Ucap Vian serius.


"Tidak kak. Kakak gak cinta sama Sati. Gak mungkin kita nikah tanpa dasar cinta." Jelas Sati menatap Vian.


"Aku tidak peduli. Yang jelas aku harus bertanggung jawab." Kekeh Vian.


"Hiks... Hikss.." Sati masih sesenggukan. "Sati gak tahu harus apa. Sati gak mau kakak menyesal nanti."


"Tidak Sati. Yang salah adalah aku. Biarkan aku menebus kesalahan ku!" Tutur Vian tulus.


"Bagaimana kita menjelaskan ke semua orang kak?" Tanya Sati.


"Bilang saja kita sudah pacaran. Dan memutuskan untuk menikah." Jelas Vian.


"Kakak serius? Kakak yakin?"


"Tentu saja."


"Tapi, Sati masih belum bisa memaafkan kakak!"


"Tidak apa Sati."


"Kapan?" Tanya Sati.


"Minggu depan."


***


POV Shinta*


"Loh, banyak banget panggilan dari Sati. Kenapa yah?" Tanya Shinta yang baru ngecek hp nya.


"Kok gak diangkat si?" Tanya Shinta heran dan khawatir.


"Gak apa-apa. Aku cuma mau ngajak ketemuan." Balas Sati setelah beberapa jam.


1 Minggu kemudian.


Sati dan Vian pun resmi menikah.


Awalnya semua orang merasa bingung karena mereka mendadak ingin menikah. Namun, setelah penjelasan yang Vian berikan. Semuanya mencoba untuk memahami dan menerimanya.


"Aku gak nyangka kakak udah pacaran sama Sati dan menikahinya sekarang." Ucap Shinta.


"Agar kamu bisa segera menikah dengan Calvin." Jawab Vian.


"Sepenting itukah kak? Sampai kakak sanggup mendadak nikah gini?" Tanya Shinta.


"Lebih dari itu."


"Makasih banyak kak. Aku sayang banget sama kakak." Jelas Shinta memeluk Vian.


"Wah bener-bener yah kakak adik ini pasangan yang tidak disangka-sangka." Ucap Bagas nimrung.


"Hehe iya dong kak." Ujar Shinta.


"Ngapa? Iri?" Tanya Vian.


"Lah kagak. Gue udah punya dari lama. Gue justru seneng, lo akhirnya bisa nikah juga." Jelas Bagas.


Setelah sesi foto dan makan. Mereka pun pulang, karena merasa lelah.


Vian dan Sati masuk ke kamar pengantin yang sudah dihias.


"Seharusnya tidak usah dihias begini." Ucap Sati duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


"Hmm. Aku juga gatau, yang menyiapkan semuanya pekerja." Balas Vian, yang membuka jas pengantinnya.


"Emm baiklah."


"Aku mandi dulu. Nanti ada yang mengantar makan malam." Ucap Vian masuk ke kamar mandi di dalam kamarnya.


Sati hanya mengangguk. Sambil melepaskan semua aksesorisnya.


Setelah beberapa menit, Vian sudah selesai mandi. Dan melihat Sati kesusahan melepaskan resletingnya yang berada di belakang gaun.


Vian berjalan mendekati Sati. Dia hanya memakai handuk di atas lutut sebatas pinggang, berwarna putih. Dengan keadaan masih basah.


"Biar ku bantu." Ucapnya berada di belakang Sati.


"Egg.. gak usah kak. Sati bisa kok." Jawab Sati yang terkejut, berusaha untuk melepaskan resletingnya.


"Tuh kan. Gak apa-apa, aku cuman mau bantu aja." Vian pun akhirnya melepaskan resletingnya.


"Deg." Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya, ketika melihat punggung mulus Sati.


"Emm emm makasih kak." Ucap Sati gugup.


Sati pun pergi ke ruang ganti. Untuk menyimpan gaunnya, dan segera mandi.


"Kak biar Sati bantu mengeringkan rambut kakak!" Ucap Sati yang sudah selesai mandi.


Dia memakai handuk kimono. Vian pun memberikan hair dryer yang di pegangnya pada Sati. Sati membantunya hingga rambut Vian kering.


"Kak mau kemana?" Tanya Sati. Yang sudah berganti pakaian. Dan baru keluar dari ruang ganti.


"Tadi ada yang nganter makan malam. Tuh di balkon, udah disiapin." Jelas Vian.


"Oh gitu kak, yaudah kita makan sekarang aja kak."


Merekapun menikmati makan malam bersama, dengan hening. Keadaan semakin canggung.


Setelah selesai makan malam, Vian mengambil laptop kerjanya dan mengecek apakah ada pekerjaan yang terhambat. Untunglah, semuanya berjalan lancar.


"Kak kenapa tidur di sofa?" Tanya Sati.


"Em aku takut buat kamu gak nyaman." Jawab Vian yang rebahan di sofa.


"Gak apa-apa kak, kita udah nikah." Jawab Sati.


"Emm baiklah. Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padamu, di luar keinginan kamu. Aku akan menunggu kamu siap." Jelas Vian.


Sati hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


***


Visual🪹🪹🪹



Shinta🌺🌺🌺



Vian🌼🌼🌼



Sati🌼🌼🌼



Calvin🌺🌺🌺

__ADS_1



__ADS_2