
"Baiklah, apakah kamu mau mendonorkan darah pada Anya?" Tanya Ana.
"Tentu saja." Jawab Roni.
***
Semua keluarga Anya dan Bagas berkumpul. Mengetahui kabar Anya kecelakaan dan melahirkan. Bahkan mereka sangat terpukul ketika tahu Anya dikabarkan meninggal. Dan sangat bahagia ketika tahu Anya sadar kembali.
Roni mendonorkan darah pada Anya. Dengan senang hati. Dia juga akan memberitahu kabar bahwa dirinya akan menikah dengan Rosi. Pacarnya yang belum dikenalkan ke keluarga karena baru pulang dari Italia.
"Akhirnya kamu sadar adik ku. Untunglah, aku bisa mengabarkan kabar bahagia ini." Jelasnya yang sedang terduduk bersandar. Sedangkan tangannya dipakaikan selang.
"Kakak akan menikah Nya, minggu depan kakak dan Rosi akan tunangan." Jelas Roni yang berbaring di samping Anya.
Setelah dia mendonorkan darahnya, pada Anya.
"Syukurlah kak, tapi kenapa kakak baru kasih tahu Anya?"
"Dia baru pulang dari Itali."
Anya mengangguk paham. Setelah Roni menjelaskan sedikit alasannya.
Acara yang dinantikan Shinta dan Calvin pun, berlangsung.
Anya sudah pulih. Dia duduk sambil menggendong bayi. Yang ia beri nama Farhaell Khristal Jaya. Sudah 2 hari, usai ia melahirkan. Dan kabar yang menyakitkan, kabar kematiannya. Yang alhamdulilah nya, dapat selamat dan hidup kembali.
Pesta pernikahan Shinta dan Calvin. Yang diselenggarakan dengan mewah. Bagas terus mendampingi Anya beserta anak-anaknya.
Roni kakak Anya pun turut diundang. Dia hadir bersama Rosi calon istrinya. Roni sudah memberi kabar bahagia itu kemarin, sekalian mengenalkan pada keluarganya mengenai hubungannya.
Tentu saja mereka tampil, untuk menghibur.
"Kak. Lama banget kita gak ketemu, tahu-tahu bawa calon istri." Ucap Anya tersenyum.
"Hehe iya Nya, kakak kan sibuk bolak balik ke luar kota. Tak jarang ke luar negeri, karena pekerjaan kakak. Rosi juga baru pulang dari Italia, jadi baru dikenalkan." Jelas Roni.
"Kamu udah baikan Anya?" Tanya Rosi yang sudah akrab dengan Anya.
"Sudah kak. Untunglah, penanganannya sangat baik." Jawab Anya.
"Syukurlah. Lain kali kita liburan bersama. Pasti seru tuh!" Ajak Rosi.
"Pasti dong kak. Kita juga sering liburan btw. Dan sekarang nambah personil pasti makin rame kak." Jawab Anya.
"Liburan kemana aja Nya biasanya?"
"Banyak si kak, ke luar kota lebih seringnya. Ke luar negeri paling cuma keluarga kecil aja." Jawab Anya.
"Keluarga kecil? Maksudnya kamu, suami sama anak-anak?" Tanya Rosi.
"Hehe iya kak." Jawab Anya.
Mereka pun sesi foto bersama. Setelah makan dan ngobrol. Setelah itu, semuanya pamit pulang satu persatu. Sangat indah melihat, geng pasutri itu foto bersama di atas pelaminan.
***
"Sayang, kita belum buka box yang dikasih pas reuni kamu itu loh." Ucap Anya setelah membaringkan Farhaell.
__ADS_1
Sedangkan anak-anak yang lainnya sudah tidur di kamar masing-masing.
"Oh iya, abang juga lupa. Karena kita fokus mau nonton waktu itu." Jawab Bagas yang sedang membuka bajunya.
"Anya buka ya bang."
"Iya, cepet buka. Abang penasaran banget." Jawab Bagas antusias.
Setelah dibuka ternyata ada dua pasang baju couple. Yang satu batik dan yang satunya lagi baju haram (alias baju seksi) untuk yang perempuan lingerie dan untuk yang pria baju transparan.
"Ih apaan nih!" Tanya Anya terkejut.
"Bagus nih yang, buat kita olahraga malam." Jawab Bagas.
"Anya baru aja lahiran. Gak boleh loh!" Jawab Anya.
"Iya nanti kalo udah selesai nifas sayang." Ujar Bagas.
"Hmm."
"Mereka kasih batik buat ke kondangan kali ya?" Tanya Bagas.
"Iya dong bang, kita juga kan sering kondangan. Lumayan bagus ini, merk ternama semua." Jelas Anya.
"Pasti dong, universitas sultan. Lulusan sana banyak yang sukses sayang." Jelas Bagas.
"Oh gitu."
"Iya. Ada yang pengusaha atau CEO, pilot, dokter, polisi, TNI, aktor, model dan lain-lain." Ucap Bagas bangga.
"Syukur deh. Anya juga dulu mau banget kuliah. Ya tapi, keadaan yang memaksa untuk kerja cari nafkah. Eh malah ketemu kamu dan terjebak kontrak." Jawab Anya mengingat awal pertemuan mereka.
"Udah deh sayang, jangan ingetin itu lagi. Saya jadi nyesel berkali-kali dulu." Ucap Bagas merasa sesak.
"Eheehe.. maaf ya bang."
***
Anya dan Bagas ke pesantren di Jakarta. Mereka syukuran ulang tahun Rechaell yang kedua.
Bersholawat bersama, berdo'a bersama. Tak hanya itu, mereka melihat bagaimana kegiatan sehari-hari di pesantren.
"Kamu yakin mau ngindep sayang?" Tanya Bagas setelah acara ulang tahun selesai.
"Iya, dulu pas kecil Anya mau banget pesantren. Belum kesampaian loh bang." Jelas Anya.
"Farhaell masih 4 bulan sayang, emang gak apa-apa?" Tanya Bagas.
"Gak apa-apa dong, kita juga ngindep gak di pondoknya. Kita di kasih rumah kecil gitu, deket masjid yang tadi." Jelas Anya.
"Kalo gak nyaman, kita pulang ya?"
"Di sini seru loh bang, kita juga bisa lebih mengingat Allah." Ucap Anya.
"Iya sayang."
"Jadi, pasti betah Anya di sini. Anak-anak juga akrab sama ustadz dan ustadzah di sini. Ditambah para santri yang ngajak main mereka." Ucap Anya lagi.
"Yaudah, kita pulang besok."
Keesokan harinya.
"Sayang, abang mau ke kantor. Jadi, kita pulang sekarang aja ya?" Tanya Bagas.
"Yaudah sayang, yuk pamit ke pemilik pesantren. Abu Nawas sama Umi Chasanah." Jawab Anya.
Setelah pamit, mereka pun melajukan mobil menuju rumah. Bagas mandi dulu di rumah dan sarapan.
"Sayang abang berangkat ya!"
__ADS_1
"Iya bang, hati-hati." Jawab Anya menyalami Bagas dan mencium bibirnya sekilas.
***
Kejadian beberapa bulan lalu belum terungkap. Dan akhirnya kini Bagas tahu, siapa dalang di balik kecelakaan istrinya dulu.
"Klara? Dia kakak kelasnya Anya kan?" Tanya Bagas pada Vian.
"Iya, dulu mereka di SMK yang sama." Jawab Vian.
"Ada lagi?"
"Klara masa lalunya Diki, dia sangat mengharapkan Diki. Dia sekelas sama Diki, ketika tahu Anya juga naksir dan ngejar-ngejar Diki. Dia sangat membenci Anya. Dulupun hampir mencelakai Anya." Jelas Vian.
"Lanjut."
"Dia tahu kalo Diki menghubungi lagi Anya, bahkan sampai nekat mendatangi Anya. Jadi, dia ingin menganggu dan mengancam Anya. Agar menjauhinya." Jelas Vian lagi.
"Dia kan tahu, Anya sudah berkeluarga. Lalu, kenapa dia masih aja takut?"
"Gue juga gak tahu."
"Beri dia pelajaran yang setimpal. Tapi, jangan sampai mati. Dia harus menyaksikan kebahagiaan Anya. Dan dia tetap tidak akan mendapatkan si Diki itu!" Jelas Bagas.
"Oke. Gue udah suruh para bodyguard, dan gue ikut ke sana kalo udah ke tangkep." Jawab Vian.
"Hmm. Oh iya anak lo berapa bulan?" Tanya Bagas.
"3 bulan." Jawab Vian.
"Anak lo prematur ya? Seperti yang lo bilang dulu." Tanya Bagas.
"Kenapa emangnya?" Tanya Vian.
"Gak apa-apa. Lain kali ajak ke rumah, kita makan-makan." Jawab Bagas.
"Oh okey."
Di sisi lain, Klara sudah ditangkap. Dia disekap di gudang, yang sudah disediakan Vian. Vian pun datang mendekatinya.
"Apa maumu!"
Hening.
"Katakanlah! Atau aku akan melaporkannya ke polisi." Ancam Vian.
"Kalian siapa sih?"
"Gue orang kepercayaan Bagas. Suami Anya."
Deg.
"Gue- gue gak tahu."
"Hah?"
"Gue gak tahu, kalo dia bakal kecelakaan mobil. Gue juga gak tahu dia meninggal apa gak." Jelasnya.
"Klara, Klara. Muslihat iblis!"
"Apa!"
"Kita akan kirim lo ke suatu tempat, yang lo gak tahu. Setelah itu, lo bebas mau ngapain aja. Asal jangan ganggu Anya!" Peringat Vian, kemudian meninggalkannya.
Para bodyguard membawanya ke suatu tempat. Di Lombok, vila angker yang sempat Anya dan Diki datangi. Ternyata vila tersebut memang tak berpenghuni.
***
Visual🌷🌷🌷
__ADS_1