Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 35 - Salah Paham


__ADS_3

"Baiklah, jika itu maunya tuan!" Ucapnya berlari dan menjauhi Bagas.


***


"ANGEL!" Teriak Bagas mengejar Anya.


Mereka berada di pinggir jalan, di jembatan jalan. Yang sepi dan semilir angin yang kencang.


Anya menangis dan terus berlari menjauh. Kecewa pada apa yang dia lihat. Bagas memperlakukannya kasar, dan merobek surat kontrak mereka.


Yang Anya yakini, bahwa hubungan mereka telah berakhir. Begitu pula, dengan pertunangan mereka.


Bagas mencari Anya, dan terus mengejarnya. Anya bersembunyi di balik semak-semak. Namun...


"Emmm..."


"Ssssstttttsss... Manis, jangan berteriak. Jika kamu tidak ingin kami bunuh!" Ucapnya, membekap mulut Anya.


"Emmm... To!" Anya terus memberontak, dan berusaha berteriak.


"Angel!"


"Bawa dia ke mobil!" Ucap seorang pria tua, yang membekap Anya.


"Baik bos." Jawab yang lainnya.


"Emmm... TOLONG!" Teriak Anya setelah bekapannya terlepas, karena Anya mengigit tangganya. Dan menginjak kakinya.


Bagas mendengarnya, dan mendekati ke arah sumber suara. "Angel?" Tanya Bagas.


"Tolong!" Anya terus meminta tolong dan berlari.


Kedua penjahat tersebut mengejar Anya. Anya tersandung pada batu yang besar. Karena penerangan yang minim membuatnya tidak bisa melihat apapun dengan jelas.


Meskipun kakinya berdarah. Anya segera berdiri, dan terus berlari. "TUAN!" Teriak Anya.


Hanya Bagas yang ada dalam pikirannya saat ini. Dan hanya dialah yang dapat Anya andalkan saat ini.


Bagas mendengar teriakkan Anya. Bagas segera berlari dan mendekatinya.


Kedua pria tersebut dapat meraih Anya. Mereka membekap mulut Anya. Dan mengikat kedua tangan dan kakinya.


"Ah akhirnya kamu tertangkap juga!" Ucapnya.


"Ayo bos!"


"Bruuuggg.." Bagas memukulnya dengan kayu.


Mereka pun baku hantam. Untunglah Bagas memiliki ilmu bela diri, taekondo sabuk hitam. Yang membuatnya jago bertarung, meskipun tanpa alat.


"Angel!" Tanya Bagas penuh kekhawatiran.


"Tuan."


Bagas membuka tali yang mengikat kedua tangan dan kaki Anya.


"Tuan awas!" Teriak Anya menghalangi Bagas.


"Brruuggggg.." Anya terpukul kayu, yang seharusnya mengenai Bagas.


"Aaaarrrrgggghhhh..." Teriak Anya kelu, dan terbaring lemah.


Bagas kembali meniju kedua penjahat itu, dengan kasar. Kemudian, melaporkan kedua penjahat itu pada polisi.


Bagas menggendong Anya. Jaraknya cukup jauh dari mobil yang dia parkirkan tadi.


***

__ADS_1


Bagas membawa Anya ke dokter, ke rumah sakit pribadinya.


"Gas! Kenape lagi lu?" Tanya Vian yang baru datang.


"Hmmm huuuhhhh..." Bagas menarik nafasnya panjang.


"Ngapa?" Tanya Vian simpatik.


"Gua lagi mau kasih Angel pelajaran. Karena nolak gua." Ucap Bagas kemudian.


"Nolak apa?"


"Gue cuman cium dia." Jelasnya.


"Cium apa aja?"


"Lu yeh!"


"Ah sorry, sorry. Dia gak mau lo sentuh, mungkin karena kalian gak saling cinta. Atau kalian belum resmi menikah." Jelas Vian kemudian.


"Emang iya."


"Terus kenapa lu paksa?" Tanya Vian.


"Gak gue paksa, itu mengalir dengan sendirinya." Sanggah Bagas.


"Emangnya selama kalian tidur bareng, gak ada em em gitu?" Tanya Vian gamlang.


"Gak! Gue kan cuman mau bales dendam dari awal." Ucap Bagas kesal.


"Terus pas lu curi-curi kesempatan. Dia agak nerima gak?" Telisik Vian.


"Gue kurang merhatiin."


"Ah lu mah."


"Ya itu salah lu!"


"Maksud lu?"


"Lu buat dia salah paham. Cewek kalo udah dibawa ke jalan gitu, ya ngira bakalan ditinggalin lah." Jelas Vian.


"Gue cuman mau dia ngerti aja. Kalo gue juga manusia, yang masih punya perasaan." Sanggah Bagas.


"Terus dia gak punya perasaan, lu perlakukan begitu?" Tanya Vian.


"Lu sekarang jadi bela-belain dia yeh!"


"Bukan bela. Gue mah realistis aja." Ucap Vian.


"Gue kebawa emosi."


"Terus apa yang terjadi selanjutnya? Gak mungkin kan dia lari ke tengah jalan sampe ke tabrak, atau loncat ke jembatan?" Tanya Vian.


"Dia lari ke hutan gitu, terus dia ditangkep sama dua penjahat. Sampe diiket segala, gue ya selametin dia lah. Tapi, pas gue lengah. Dia malah nyelametin gue, dari serangan tu penjahat!" Jelas Bagas serius.


"Wah dia berarti udah peduli tu same lo!" Ucap Vian.


"Gatau juga. Tapi, setelah itu gue ngerasa bersalah banget udah kasar dan ajak dia ke jalan yang sepi!" Ucapnya penuh sesal.


"Ya sudah. Bubur gak akan menjadi nasi."


"Nasi sudah menjadi bubur si setahu gue."


"Same aje."


***

__ADS_1


Vian izin pulang, karena pekerjaan kantor masih banyak. Mereka juga, menyiapkan festival kedua yang akan dilakukan satu bulan ke depan.


Mereka masih menyiapkan konsep yang lebih menarik dan tidak membosankan. Dengan tetap berjalannya pembuatan produk, yang sudah disepakati oleh semua kolega. Diberbagai negara, terus mengembangkan beberapa produk hasil sampah organik maupun anorganik.


Bagas sesekali bekerja di rumah, jika pikirannya sedang mumet. Dia selalu profesional dengan bekerja keras. Meskipun, dia sedang ada di puncak-puncaknya.


Bagas menunggu Anya sadar. Dia duduk di tepi ranjang rumah sakit. Dengan terus memegang tangan Anya, dan melihat jari manis Anya. Cincin tunangan mereka masih melingkar di sana.


Bagas melihat ada dua cincin yang Anya kenakan. "Emm cincin yang gue berikan, ketika gue ngelamar dia di depan umum?" Tanya Bagas tersenyum.


Anya menggerakkan tangannya. Kemudian, dia mengambil nafasnya perlahan. Anya membuka matanya perlahan. Menandakan bahawa Anya, telah sadarkan diri.


"Angel?" Tanya Bagas.


"Tuan? Apakah tuan baik-baik saja?" Tanya Anya khawatir.


"Seharusnya saya yang menanyakan itu." Ucap Bagas.


"Hmm.. tuan terima kasih, telah menolong saya." Ucap Anya tersenyum lemah.


"Maafkan saya."


"Maaf?" Tanya Anya tak mengerti.


"Saya sudah membuat kamu salah paham. Saya marah karena kamu terus menolak saya." Jelas Bagas.


"Emm..."


"Saya tidak berniat meninggalkan kamu di sana. Apalagi membatalkan pertunangan kita." Jelasnya menyesal.


"Tuan?"


"Iya, Angel. Kamu salah paham."


"Jika tidak ingin meninggalkan saya? Apalagi membatalkan pertunangan itu? Lalu, maksud tuan tadi apa?" Tanya Anya.


"Saya hanya ingin memberikan kamu pelajaran. Bahwa saya juga manusia, yang memiliki perasaan, jika kamu terus menolak saya begitu." Jelas Bagas.


"Kenapa tuan tidak mengatakannya terus terang?" Tanya Anya.


"Bagaimana mungkin?"


"Mungkin saja. Jika itu, benar-benar tulus dari hati." Ucap Anya.


"Saya ingin menyudahi surat kontrak itu. Dan saya, ingin benar-benar melamar kamu Angel!" Ucap Bagas tulus.


Anya tersenyum bahagia.


"Ah maafkan saya, seharusnya saya lebih romantis. Dan menyiapkan segalanya." Ujar Bagas melihat sekeliling rumah sakit.


"Memang tempat sangat penting, bagi mereka untuk menyampaikan perasaan mereka. Terhadap orang yang terkasih. Tetapi, yang paling penting adalah." Ucapnya terhenti.


"Apa yang mereka katakan, dan jangan terlalu lama untuk menundanya. Agar tidak ada banyak kendala lagi, yang akan menghampiri." Jelas Anya tersenyum.


Bagas tersenyum dan senang mendengar penuturan Anya. "So, will you marry me?" Tanya Bagas tersenyum.


Anya tersenyum, dan sedikit meneteskan air mata. "Yes, i will." Jawab Anya pasti.


***


Visual 🌼🌼🌼




__ADS_1


__ADS_2