Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 47 - Kembalinya Masa Lalu Bagas


__ADS_3

Bagas mengangguk. "Saya permisi kalo begitu. Semoga persalinannya lancar sampai hari-h." Ucap Kara pamit.


***


3 hari pun berlalu dengan cepat. Bagas dan Anya juga para karyawan begitu menikmati liburan mereka di pantai Lombok.


Semuanya bersiap untuk pulang. Namun, tiba-tiba Anya menghilang.


"Vian! Kamu coba cari lewat cctv!" Pinta Bagas sangat khawatir.


"Baik tuan."


"Tuan, bagaimana dengan para karyawan?" Tanya Vian kembali menemui Bagas.


"Mereka suruh pulang saja, kasian jika harus menunggu." Jawab Bagas.


"Baik tuan." Jawab Vian.


"Kalian pulang duluan saja. Hati-hati di jalan." Ucap Vian pada semua karyawan.


"Kenapa kalian tidak ikut pak Vian?" Tanya salah satu karyawan.


"Kami sedang mencari nyonya Anya, tapi kalian tidak perlu khawatir. Sebentar lagi nyonya Anya pasti datang." Jelas Vian.


"Sebaiknya kami pun ikut membantu mancari nyonya Anya." Ucap salah satu karyawan.


"Iya, kami tidak akan tenang jika pulang tanpa tuan Bagas. Dengan keadaan begini." Tambah salah satu karyawan.


"Kalian boleh minta izin pada tuan Bagas. Saya harus segera memeriksa cctv di sekitar." Jelas Vian.


Sementara itu, di gudang gedung apartemen milik Erika. Anya diculik dan dibekap.


"Anya Prinsiska Angella. Cewek kampung dan miskin yang numpang hidup pada kekasih pujaan hati gue." Ucap Erika berteriak.


"Lepasin. Saya tidak tahu siapa kamu, apa maunya kamu?!"


"Mau kenalan?" Tanya Erika tersenyum sinis.


"Saya tidak ada urusan dengan kamu, dan apa untungnya kamu membekap saya begini?" Tanya Anya.


"Memang kamu itu, tidak ada untungnya kalo hidup. Lebih baik jika kamu pergi bukan? Ralat pergi sejauh-jauhnya dari hidup Bagas pujaan ku." Ucapnya mencengkram kuat rahang Anya.


Anya membalas tajam tatapan Erika. "Ohh.. berani juga ternyata, rakyat jelata seperti lo gak berhak jadi pendamping Bagas. You know lah, Bagas pengusaha kaya dan sukses." Ucap Erika meremehkan Anya.


"Terserah apapun yang kamu ucapkan tidak bisa saya artikan. Kamu seperti berbicara omong kosong." Ucap Anya.


"Belagu ya Lo!"


"Plak." Satu tamparan mendarat keras di pipi Anya, hingga sudut bibirnya berdarah.


"Ups. Kelepasan." Ucapnya memegangi tangannya, lalu meniup tangannya seperti meniup debu.


"Dan yeah! Berita pernikahan itu sampai ke telinga gue. Dan lo tahu, berapa tahun gue minggat dari Indonesia agar dapat menenangkan hati gue, yang mengingat betapa kejamnya Bagas selalu acuh sama gue. Bahkan ketika kami masih kuliah." Jelas Erika bercerita.


"Itu semua gak ada urusannya sama saya." Ucap Anya.


"Tentu saja ada. Lu hadir tiba-tiba dan merenggut semuanya!" Teriak Erika membanting meja yang ada di sebelah Anya.


"Lalu, keuntungan dari menculik saya apa?" Tanya Anya.

__ADS_1


"Jika Bagas gak bisa gue miliki, maka jangan harap ada orang yang bisa memilikinya." Jelas Erika.


"Kamu kan sudah tahu, saya dan abang Bagas sudah resmi menikah beberapa bulan yang lalu." Ucap Anya.


"Menikah? Lu gak pantes jadi istrinya. Yang pantes itu gue, lu tahu kan gue model majalah terkenal." Ucap Erika bangga.


"Majalah dewasa maksud anda?"


"Kenapa? Lu sirik?" Tanya Erika kesal.


"Tentu saja tidak. Bahkan abang Bagas jijik melihat tubuh anda yang sering terekspos itu." Ucap Anya tak takut menghadapi Erika.


"Ahhh... Biar gue tunjukin betapa, muaknya gue sama Lo!" Ucap Erika menganggukkan kepalanya dan tersenyum licik, dia menyeret Anya ke kolam renang.


Dia menyeretnya dari gudang, hingga turun tangga dan sampai di kolam renang apartment miliknya. Dia sekarang hanya mengikat lengan Anya. Dan menyeretnya, walaupun di tangga.


Membuat tubuh Anya di bagian lengan dan kakinya memar. "Lepaskan saya! Apa anda gila melakukan ini tanpa alasan?" Teriak Anya.


"Lo pasti tahu kan, alesannya kenapa? Ya! Bagas, itu alasan gue melakukan ini semua."


"Byurrr...."


Sementara itu, Erika melempar tubuh Anya ke dalam kolam renang yang sangat dalam. Dan bagi Anya yang pendek, tentu saja dia tenggelam. Terlebih tangannya masih diikat.


"Byurrr..."


Bagas segera menyelamatkan Anya setelah melihat Anya tenggelam, untunglah dia datang tepat waktu.


Sementara itu, para bodyguard yang dia siapkan mengurus Erika. Tentu saja untung menghukumnya dan memberi pelajaran padanya.


Bagas memang selalu diikuti oleh para bodyguard, meskipun mereka Bagas sembunyikan demi kenyamanan Anya dan orang-orang di sekitarnya.


"Maafkan saya yang terlambat." Ucapnya kelu.


"Sayang, bangunlah. Jangan membuat saya khawatir." Ucap Bagas lagi.


Bagas segera menekan-nekan dada Anya. Kemudian memberikan nafas buatan, Bagas mengulanginya hingga akhirnya Anya tersadar.


"Uhuk.. uhuk.."


"Sayang, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Bagas memeluk Anya.


Anya mengangguk lemah. "Abang kok bisa ada di sini?"


"Apakah itu penting? Sekarang, ayo kita siap-siap pulang ke Jakarta." Ajak Bagas.


***


Bagas, Anya dan semua karyawannya pulang ke Jakarta. Bagas mendapat panggilan dari salah satu bodyguard-nya, yang sudah mengurus Erika.


"Angel!"


"Iya bang." Jawab Anya.


"Besok abang mau ke luar kota, ke Bandung. Kamu mau ikut apa tinggal di sini?" Tanya Bagas.


"Berapa hari bang?" Tanya Anya.


"Kurang lebih seminggu." Jawab Bagas.

__ADS_1


"Saya ikut bang." Jawab Anya tersenyum.


"Baiklah." Jawab Bagas mengecup kening Anya. Dan berjalan ke luar.


"Abang!" Teriak Anya.


"Iya?" Tanya Bagas membalikkan badannya.


"Abang sibuk ga?" Tanya Anya.


"Gak, sayang." Jawab Bagas berjalan mendekati Anya.


"Saya mau tanya, sejujurnya ini sangat menggangu saya. Tetapi, beberapa hari ke belakang saya mengurungkan niat saya untuk bertanya." Jelas Anya.


"Jangan bertele-tele sayang, tanyakan saja." Pinta Bagas santai, dan duduk di sebelah Anya.


"Erika. Dia siapa bang?" Tanya Anya hati-hati.


"Emm. Dulu dia pernah naksir sama abang, tapi abang gak pernah tanggepin. Dan dia ke luar negeri katanya agar bisa move on dari abang."


"Tapi, abang kan ga peduli, dan itu gak penting bagi abang. Abang juga gak nyangka dia bisa berbuat seperti itu sama kamu." Jelas Bagas jujur.


"Selain itu, abang gak tahu apa-apa lagi?" Tanya Anya.


"Gak sayang, kenapa?" Tanya Bagas mengelus rambut Anya.


"Gak apa-apa, saya percaya sama abang." Jawab Anya memeluk Bagas.


"Emm iya, kita jalan-jalan yuk. Katanya ada pasar malem. Kita nostalgia sayang." Ajak Bagas memecah kecanggungan.


"Ayo bang, kebetulan banget saya kangen banget sama pasar malem. Udah lama gak dateng ke tempat hiburan seperti itu." Jawab Anya sangat antusias.


"Ayo ganti baju dulu!" Ajak Bagas.


Mereka sibuk bersiap-siap untuk ngedate lagi di pasar malam. Mengenang indahnya kenangan manis kala itu.


"Bang, kalo dipikir-pikir. Mending gak dipikirin." Ucap Anya.


"Kamu ngomong apa sih sayang?" Tanya Bagas terkekeh.


"Emm Erika ada benarnya. Kenapa sih, abang pilih Anya? Kan masih banyak wanita yang jauh lebih baik dari Anya?" Tanya Anya hati-hati.


Bagas tersenyum, membelai rambut panjang Anya. Menatap dalam mata Anya, dan membisikkan....


"Karena kamu sudah lebih-lebih baik dari segi apapun dibandingkan dengan siapapun."


"Abang!" Anya tersipu dan sedikit memukul lengan Bagas.


"Kenapa sayang?" Tanya Bagas menyukai Anya, yang terlihat menggemaskan jika seperti itu.


***


Visual ☔☔☔




__ADS_1


__ADS_2