
Pasutri yang udah kadaluarsa ini masih saja seperti ABG yang baru pacaran.
***
"Sayang. Besok saya harus ke Medan. Untuk peresmian di wisata sana yang memesan air mancur dan air terjun buatan perusahaan saya. Di Medan ada 3 tempat yang harus saya hadiri." Jelas Bagas yang sedang memakai kemeja.
Anya membantu Bagas memakaikan dasi. "Kami boleh ikut kan?" Tanya Anya.
"Boleh dong. Tapi, serius mau ikut?" Jawab Bagas.
"Iya, saya juga belum pernah ke Medan."
"Jaga anak-anak bakal kelelahan gak si?" Tanya Bagas.
"Ajak aja bi Rati." Saran Anya.
"Serius mau ngajak dia? Dia kan pembantu termuda di keluarga kita sayang? Kamu kan paling gak mau ada pembantu muda."
"Iya sih, tapi mau ngajak siapa lagi coba. Yang lain, emang sanggup berpergian jauh, pekerjaan di rumah juga gak bisa ditinggal kan?"
"Saya sih, terserah kamu." Jawab Bagas.
Keesokan harinya. Akhirnya mereka pun sampai di Medan.
"Rati, anggep aja kamu liburan sambil kerja ya. Kalo saya panggil, itu artinya kamu harus jagain anak-anak. Bantu saya." Ucap Anya pada Rati.
"Iya nyonya." Jawab Rati, karena dia masih muda. Jadi tidak memanggil non.
"Oh iya, kamu tunggu aja di sini. Kalo mau jalan-jalan juga gak apa-apa , soalnya anak-anak lagi pada tidur." Saran Anya.
"Em saya mau coba jalan-jalan nyonya." Ucap Rati.
"Oh iya silahkan. Saya kembali ke kamar dulu ya." Ucap Anya berjalan ke kamarnya meninggalkan Rati.
.Kamar mereka beda satu lantai. Bagas sengaja memesannya tidak dekat, karena tidak ingin ada hal yang tidak diinginkan.
"Sayang. Kamu mau ke kantornya kapan?" Tanya Anya.
"Nanti malem sayang. Sekarang, saya ngecek berkas-berkas sambil jagain kalian." Jawab Bagas yang masih fokus pada laptopnya.
"Emm baiklah. Anak-anak juga pada tidur pules tuh."
"Iya, mereka capek kayaknya."
"Eh iya sayang, saya harus ke kamar Vian. Ada berkas yang harus diambil. Dia dihubungi susah banget." Ucap Bagas lagi.
"Oh iya sayang."
Kamar mereka berdampingan. Jadi tidak perlu memakai lift.
"Kamar tuan Bagas yang mana ya?" Tanya Rati yang mengintip di balik tembok.
"Tok tok tok.."
"Siapa?" Tanya Vian.
"Gua."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Berkas yang harus gue tanda tangan mana? Nanti malem kita kan harus peresmian?"
"Oh iya. Bentar." Jawab Vian, sambil mengambil berkasnya.
"Suruh gua masuk kek."
"Masuk aja kali, gak usah sok sungkan." Balas Vian kesal.
"Kalo bukan friend gue pecat Lo dari lama." Ucap Bagas.
"Kalo bukan friend gua juga bakal lebih sopan."
"Mana?" Tanya Bagas lagi.
"Nih. Tar malem cuma kita berdua yang peresmian?" Tanya Vian.
"Istri dan anak-anak gue juga ikut. Sekalian gue mau bawa jalan-jalan." Jawab Bagas.
"Kita ke kantor pusat dulu kan? Baru ke pesta peresmian?" Tanya Vian.
"Iya."
"Si Rati pembantu lo juga ikut?" Tanya Vian.
"Iya lah, kan bantu jagain anak-anak. Kenapa? Demen Lo sama dia?"
"Bukan gitu, gue liat dia agak laen."
"Laen gimana? Hantu, monster, atau zombie maksud lo?"
"Ya bukan lah Panjul! Gue pernah mergokin dia ngintip lo pas renang sendirian minggu kemarin di rumah lo." Jelas Vian.
"Ya elah gue kira apaan."
"Terus pas Lo mandi di toilet dekat dapur. Dia juga ngintip, pintunya emang Lo kunci kan, dan kamar mandi nya juga ada shower sama pintu kaca di dalem. Tapi, dia ngintip di gagang pintu." Jelas Vian panjang lebar.
"Apaan sih lo! Tumben lo mikirin hal yang gak penting."
"Lo yang apaan. Lo pikir itu gak penting?"
"Udah ah gue masih banyak kerjaan!" Ucap Bagas meninggalkan Vian.
"Dikasih tahu gak peduli! Besok-besok gue kasih tempe Lo!" Kesal Vian.
"Sekalian pake lalab sama sambal!" Timbal Bagas.
***
Tibalah di acara peresmian. Lebih tepatnya ini pesta. Banyak orang-orang penting yang hadir.
Anya duduk dengan anak-anaknya ditemani oleh Rati. "Rati kamu makan aja dulu. Anak-anak juga lagi anteng." Ucap Anya.
"Iya nyonya."
"Nanti pulangnya, Bagas mau ngajak kita jalan-jalan. Gak apa-apa kan?" Tanya Anya.
"Gak apa-apa nya."
"Kamu pertama kali ke sini?" Tanya Anya.
__ADS_1
"Iya nya, boro-boro saya main. Saya kerja terus dari masih SD nya." Jelas Rati.
"Dari SD? Emang kamu gak sekola?" Tanya Anya.
"Sekolah nya, pulang sekolah saya harus kerja jadi pembantu. Orang tua saya meninggal, ketika saya masih bayi nya." Jelas Rati.
"Maaf ya saya tanya hal yang membuat kamu sedih."
"Gak apa-apa nya."
"Terus kamu tinggal sama siapa dari bayi?" Tanya Anya.
"Sama nenek nya. Tapi pas saya masih SD, nenek meninggal. Jadi, mau gak mau saya harus cari uang buat makan sama sekolah." Jawabnya.
"Kamu mandiri dari kecil dong?"
"Hehe bisa dibilang gitu nya." Jawabnya ragu.
"Hebat dong kamu?"
"Gak juga nya."
"Oh iya, kamu betah gak tinggal dan bekerja di rumah saya?" Tanya Anya.
"Betah banget nya. Dari sekian banyak majikan saya dari SD sampe sekarang, saya paling betah sama nyonya." Jawab Rati gamblang.
"Ah kamu berlebihan. Btw kamu sekolah sampe tingkat apa?" Tanya Anya.
"Sampe SMA nya. Saya baru lulus, langsung kerja sama nyonya." Jelas Rati.
"Oh berarti umur kamu 18 atau 19?" Tanya Anya.
"19 nya."
"Soalnya kamu baru kerja dua bulanan kan ya? Dan itu kelulusan kamu dua bulan yang lalu?" Tanya Anya.
"Iya nya."
"Emm saya mengerti sekarang. Yang betah ya kerja sama saya."
"Iya nya. Nyonya juga yang betah ya memperkerjakan saya."
"Semoga ya Rati."
***
Visual🥳🥳🥳
M² nihhh readers.
Rachell 🐰
__ADS_1
Richaell 🐻