
"Duh udah jam 5 aja." Ucap Vian lagi melihat alroji nya.
***
"Gas nih, udah gue rangkum." Ucap Vian menyodorkan berkas-berkas pada Bagas.
"Oh iya, itu sekalian berkas-berkas yang mesti lo tanda tangan." Jelas Vian lagi.
"Oke makasih. Nih bonus buat lo! Kali-kali lo bisa ajak cewek nongki kek." Ucap Bagas menyodorkan amplop berisi uang.
"Makasih. And itu urusan gue ya." Jawab Vian kesal, Bagas sering menyuruhnya mencari pasangan.
"Gue itu bukan cuman bos lo, tapi sahabat lo juga. Ya wajar lah, gue khawatir liat lo ngejomblo mulu. Sedangkan gue udah punya 3 anak." Jelas Bagas simpatik.
"Ya ya, makasih atas perhatian lo." Jawab Vian langsung meninggalkan kamar Bagas.
"Anya sama anak-anak kemana?" Tanya Vian balik lagi.
"Ngapain lo tanyain istri dan anak-anak gue?" Tanya Bagas balik.
"Ah udah lah. Pak posesif mana bisa jawab." Balas Vian pergi.
"Dasar bocah tengik." Ketus Bagas setelah Vian pergi.
Malam pun tiba. Bagas datang ke acara pertemuan semua kolega bisnis nya. Vian yang sudah datang duluan mewakili Bagas menyambut kedatangan kolega-kolega nya.
"Sayang, kok kamu pakein baju gini buat M²?"
"Sayang, lucu kan?"
"Kamu keseringan deh pakein mereka baju gituan. Terus awas aja sama anak yang lain juga!"
"Kamu emang gak tahu fashion ah, anak kecil tuh lucu pake ginian!" Kesal Anya.
"Hmm." Pada akhirnya Bagas kalah dan mengalah.
Beberapa menit kemudian.
Bagas datang mengendarai mobil mewahnya. Dia keluar duluan, kemudian membukakan pintu mobil untuk Anya.
Anya mengendong Rachell dan menyimpannya di roda bayi. Sedangkan Bagas menuntun kedua anak kembarnya. Marchell dan Michaell.
Bagas dan keluarganya menjadi sorotan para tamu undangan. Vian yang melihat kedatangan majikannya. Segera menyambutnya dan mengantarnya ke dalam.
Pesta pun sangat meriah. Semua tamu undangan menikmati hidangan yang disajikan. MC yang memimpin acara terus bersuara.
Menampilkan beberapa pertunjukan, setelah memperlihatkan runtuyan kegiatannya kepada para kolega yang diundang.
"Silahkan nikmati hidangannya. Saya pamit undur diri. Sekian dan terima kasih." Ucap sang MC.
Sementara itu.
"Sayang, saya mau ke toilet dulu ya. Titip anak-anak." Ucap Anya meminta izin.
"Mau diantar sayang?" Tanya Bagas.
"Tidak perlu." Jawab Anya.
"Vian!" Teriak Bagas.
"Ya tuan?" Tanya Vian mendekati Bagas.
__ADS_1
"Bantu saya menjaga anak-anak. Anya sedang ke toilet." Ucap Bagas.
"Baik tuan."
***
Anya sedang buang air kecil di toilet. Tiba-tiba pintunya terkunci.
"Loh loh kok ke kunci sih?" Tanya Anya berusah membuka pintu.
"Ada orang di luar?" Tanya Anya.
Seorang wanita tersenyum sinis. "Ketemu lagi sama gue." Ucapnya meremehkan.
Mela membuka kunci pintunya. Dan Anya yang sedang mengotak-atik gagang pintu, tersungkur karena tidak tahu pintu itu akan terbuka.
"Arrrgg..." Ringis Anya.
Mela melipat kedua tangannya menatap Anya yang jatuh di bawah kakinya. Tersenyum meremehkan setelah Anya menatapnya.
"Kau?!" Tunjuk Anya setelah bangkit.
"Apa? Masih berani lo sama gue?" Jawab Mela sewot.
Anya tidak ingin menggubrisnya. Dia ingin pergi meninggalkannya, meskipun banyak pertanyaan dalam benaknya.
Setelah sekian lama, dia bisa bertemu lagi dengannya. Dan bahkan di Padang.
"Tunggu!" Ucap Mela.
"Lo pasti binggung kan kenapa gue ada di sini? Pasti banyak pertanyaan yang ada di otak lo itu."
"Setelah lama gak ketemu kok bisa gue ada di Padang? Haha gue emang pintar, bisa nebak isi otak dangkal lo itu." Ucapnya bangga.
"Lo gak kangen sama gue?" Tanya nya.
"Lepas! Gue gak kenal sama lo. And sepertinya tidak ada kenangan yang mesti gue rindu bersama lo." Jawab Anya menepis tangan Mela.
"Oh udah mulai berani ya lo? Mau kenalan?" Tanya Mela sinis.
"Sorry gak level." Jawab Anya ketus.
"Heh! Jangan mentang-mentang lo udah jadi istri CEO jadi ngelunjak begitu."
"Sepertinya kita tidak ada urusan." Jawab Anya.
"Plak." Mela menampar pipi Anya.
"Plak." Anya membalasnya.
"Lo berani ya!" Teriak Mela menjambak rambut Anya.
Anya tak ingan kalah. Dia melawannya. "Lepasin!" Teriak Anya.
Di sisi lain.
"Vian, kok Anya lama banget ya?" Tanya Bagas.
"Iya tuan, mau dicek?" Tanya Vian.
"Yaudah yok kita cek." Ajak Bagas.
"Saya tunggu di sini aja sama anak-anak." Jawab Vian.
__ADS_1
"Yasudah. Kalo saya lama, kamu susul ya sama anak-anak juga." Pinta Bagas.
"Baik tuan."
"Hai pak Vian? Saya boleh gabung?" Tanya pak Zeno rekan bisnis Bagas.
"Tentu saja pak Zeno."
Bagas pun sampai di toilet. Dia mendengar kericuhan di sana.
"MELA!" Teriak Bagas.
Mela dan Anya pun menoleh pada Bagas.
"Bagas? Apa kabar? Kamu gak kangen sama aku? Udah lama kita gak ketemu loh?" Tanya Mela bertubi-tubi.
Bagas tidak menggubrisnya, dan menarik lembut lengan Anya. "Ayo sayang, anak-anak sudah menunggu." Ajak Bagas.
Anya mengangguk dan tersenyum.
"Stop it!" Ucap Mela menghentikan mereka.
Anya dan Bagas berhenti tanpa menoleh. "Anak-anak? Kamu udah punya anak berapa Bagas?" Tanya Mela.
Vian pun datang membawa ketiga anaknya Bagas dan Anya. "Tuan, ayo kita pulang." Ajak Vian.
"Siapa, anak-anak itu?" Tanya Mela terbelalak.
"Tentu saja anak tuan Bagas dan nyonya Anya. Kenapa Mela?" Jawab dan tanya Vian.
"Sudah biarkan saja dia. Saya tidak mengenalnya." Ucap Bagas pergi.
"Bagas!" Teriak Mela.
"Bagas kamu tega, tinggalin aku begitu aja?" Tanya Mela.
"Bagas!"
"Bagas! Aku gak akan tinggal diam. Lihat saja Bagas!" Ucapnya mengancam.
Sedangkan mereka sudah naik mobil yang disiapkan Vian.
"Brengsek kamu Bagas! Setelah lama aku mencoba melupakan apa yang terjadi dulu. Tapi kamu malah masih sama."
"Ok aku terima permainan ini."
"Lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya!" Ucapnya penuh penekanan.
***
Visual🌼🌼🌼
Pasutri.
Rachell.
Mela.
__ADS_1