Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 78 - After The Wedding


__ADS_3

Sati hanya mengangguk dan tersenyum tipis.


***


2 minggu kemudian.


"Apa dok hamil?" Tanya Sati setelah diperiksa ke dokter.


"Iya, setelah saya analisis. Usia kandungan sudah tiga minggu." Jelas dokter Ana spesialis kandungan.


"Memang bisa dok, sekali melakukan jadi hamil?" Tanya Vian dengan polosnya.


Dokter Ana tertawa kecil. "Tentu saja. Why not? Jika tidak memakai pengamanan dan mengeluarkannya di dalam. Akan sangat mungkin mengahasilkan buah hati." Jelas Ana.


"Emm begitu dok." Jawab Vian.


"Ini vitamin dan obatnya. Jika mengalami morning sickness, merasa mual, pusing, bahkan muntah. Kamu bisa gunakan aroma terapi ini, bisa mengurangi karena beraroma segar." Jelas Ana.


"Makasih dok." Jawab Sati.


"Kami permisi." Ucap Vian.


Di sisi lain, Anya melihat seseorang yang dikenalnya. "Sayang, itu Vian sama Sati kan?" Tanya Anya yang berjalan ke arah ruangan pemeriksaan.


"Iya, ngapain mereka di sini?"


"Tentu saja pemeriksaan kandungan. Lihat itu, mereka keluar dari poli kandungan." Jawab Anya.


"Vian!" Panggil Bagas.


Vian dan Sati pun menoleh ke depan.


"Bagas? Ngapain lo ke sini?" Tanya Vian berjalan mendekati Bagas dan Anya.


"Tentu saja cek kandungan. Akhir-akhir ini gue masih sering morning sickness." Jelas Bagas.


"Padahal udah dua bulan yah?" Tanya Vian.


"He'em, tapi emang masih hamil muda sih. Jadi masih wajar." Jelas Bagas.


"Oh iya sih."


"Kakak ada kendala?" Tanya Sati pada Anya.


"Gak Sati, tapi bang Bagas yang mengalaminya." Jawab Anya.


"Oh gitu."


"Lo sendiri ngapain ke sini?" Tanya Bagas.


"Cek kandungan."


"Terus?" Tanya Bagas.


"Ternyata cuman masuk angin." Jawab Vian.


Vian dan Sati sengaja menutupi kehamilannya, mereka tidak ingin ada yang curiga. Alasan mereka menikah.


"Oh gitu. Ya udah gue masuk."


***


"Masih sering mengalami morning sickness?" Tanya dokter Ana.


"Iya dok, padahal yang ngalamin suami." Jawab Anya.


"Oh itu masih wajar. Baru juga dua bulan." Jawab Ana.


"Saya cuman kasian dok, tiap pagi dia muntah. Beberapa kali pernah pingsan juga." Jelas Anya.


"Emm kamu sendiri, tidak ada keluhan?" Tanya Ana.


"Alhamdulillah tidak dok."


"Ini obat, vitamin dan aroma terapi agar berkurang mualnya." Jelas dokter Ana.

__ADS_1


"Buat Angel gak ada dok?" Tanya Bagas.


"Gak. Yang mengalami gejala kehamilan kan kamu." Jawab Ana.


"Eh sebentar, ini vitamin dan obat. Agar kandungan lebih sehat. Diminum bila ada keluhan yah, bisa dihentikan. Jika semuanya baik-baik saja." Jelas Ana.


"Oh baiklah. Kami permisi."


Anya ikut ke kantor bersama Bagas. Karena mengkhawatirkan kondisinya, sedangkan anak-anak bersama mertua Anya.


"Kamu gak apa-apa yang ikut ke kantor?" Tanya Bagas.


"Iya gak apa-apa. Anak-anak kan sama mamah dan papah. Kebetulan papah libur ngantor." Jelas Anya.


"Rechaell kalo mau ASI gimana?" Tanya Bagas.


"Anya cuma sejam kok, dia masih bisa minum susu sapi." Jelas Anya.


"Bukannya anak kita gak ada yang suka susu sapi ya? Mereka cuma bisa minum ASI kan?" Tanya Bagas.


"Iya, tapi Richaell masih bisa dikit. Gak seharian juga pake susu sapi, lagian tadi pagi udah Anya kasih ASI dan udah setok ASI ke dot." Jelas Anya.


"Mereka kan gak suka minum dari dot?"


"Sesekali bisa yang." Jawab Anya.


"Terus tadi kamu bilang susu sapi?" Tanya Bagas.


"Iya maksudnya, kalo susu ASI Anya abis kan bisa dikasih susu sapi. Paling juga Anya sejam kok di sini. Abis itu Anya pulang." Jelas Anya.


"Oh yaudah kalo gitu."


***


"Yang, Anya pulang yah." Ucap Anya pada Bagas yang terlihat sibuk dengan laptop kerjanya.


"Abang anterin yah?" Tawar Bagas.


"Gak usah. Anya bisa bawa mobil sendiri." Jawab Anya.


"Yakin?" Tanya Bagas.


"Yaudah, hati-hati ya." Ucap Bagas mengecup bibir Anya sekilas.


"Hmm. Kalo ada apa-apa kabarin!" Pinta Anya.


"Oce sayang."


Anya pun keluar dari kantor Bagas, menuju ke parkiran.


"Anya! Kita ketemu lagi." Ucap Diki yang mengikuti langkah Anya.


"Ngapain kamu di sini?" Tanya Anya.


"Aku baru aja nemunin Boni. Dia HRD di sini kan?" Tanya Diki.


"Aku sibuk." Ucap Anya cuek.


"Anya! Kenapa kamu gak bilang Boni kerja di sini?" Tanya Diki.


Anya mengacuhkan ucapannya.


"Anya kamu sama Boni pernah ketemu kan? Dan kamu kerja di sini Anya?" Tanya Diki yang belum tahu, ini perusahaan suaminya.


"Apa sih maunya kak Diki?" Tanya Anya kemudian.


"Aku mau kamu Anya!" Tegasnya.


"Sudahlah kak Diki jangan membual. Sudah tidak mempan!" Ucap Anya masuk ke dalam mobilnya.


Diki menghadang Anya. "Aku hanya ingin kita memperbaiki hubungan ini Anya!"


"Hubungan yang mana?" Tanya Anya keluar lagi.


"Hubungan kita."

__ADS_1


"Kita? Kapan aku dan kamu menjadi kita?" Tanya Anya sinis.


Diki terdiam. "Hubungan apa? Hubungan tanpa status?" Tanya Anya lagi.


"Anya, tolong dengarkan kakak!"


"Cukup kak! Semuanya sudah tak ada lagi bagiku! Kau dan aku bagaikan buih di lautan. Sudah hilang tersapu ombak." Jelas Anya kembali masuk ke mobilnya dan kini melajukan mobilnya tanpa menghiraukan Diki.


Diki terdiam membisu. "Sungguh sakit Anya. Ternyata begini yang selama ini kamu rasakan." Ucapnya kembali ke mobilnya dan meninggalkan perusahaan Bagas.


***


"Tuh bunda pulang!" Ucap Rara.


"Bunda!" Panggil Marchell.


"Iya sayang?" Tanya Anya keluar dari mobilnya.


"Kita jalan-jalan ke taman yuk, sambil beli es krim." Ajak Marchell.


"Iya Bun, kita bosen nih." Tambah Michaell.


"Yaudah hayu. Ajak yang lainnya." Ucap Anya.


"Mamah sama papah ikut ya?" Tanya Bima.


"Tentu saja pah." Jawab Anya.


Merekapun masuk ke mobil dan pergi ke taman dekat rumah nya. Rara, Bima, Marchell, Michaell, Rachell, dan Richaell turun dari mobil dan duduk di taman yang sudah dialasi kain kotak-kotak berwarna pink dan putih.


Rara menyiapkan semuanya, mengeluarkan makanan yang dibawanya di bagasi mobil. Sedangkan Bima menjaga cucu-cucunya.


"Mah, biar papah aja yang bawain!" Ucap Bima.


"Gak usah, dikit lagi ini." Jawab Rara yang masih sibuk mondar mandir mengeluarkan bawaannya.


Sedangkan Anya pergi ke supermarket untuk membeli es krim dan yang lainnya.


"Dreettt... Drett.." Ponselnya bergetar.


"Sayang kamu dimana?" Tanya Bagas.


"Di supermarket. Anya ajak anak-anak sama mamah, papah ke taman." Jelas Anya.


"Oh yaudah, saya susul."


"Tut... Tut..." Sambungan pun terputus.


"Dasar."


Bagas datang lebih dulu dari Anya.


"Wah piknik?" Tanya Bagas ikut duduk bersama anak-anak dan orang tuanya.


"Kamu kapan pulang Gas?" Tanya Bima.


"Barusan pah."


"Udah baikan?" Tanya Rara yang mengetahui Bagas mengalami cauvade syndrome.


"Seperti biasanya mah. Cuman, pake aromaterapi Bagas mendingan." Jelas Bagas.


"Oh syukurlah."


***


Visual 🫶🏻🫶🏻🫶🏻




Sati🌻🌻🌻


__ADS_1


Vian🪴🪴🪴



__ADS_2