Lorong Waktu

Lorong Waktu
bab 36 - Salah Siapa?


__ADS_3

Anya tersenyum, dan sedikit meneteskan air mata. "Yes, i will." Jawab Anya pasti.


***


Senja adalah langit yang indah, perpaduan matahari terbenam dan rembulan yang akan menerangi bumi. Membuat siapapun, terkesima dengan ciptaan Tuhan yang sangat elok dipandangi dan nikmati.


Segerombolan burung, seperti ingin menyampaikan pesan. Bahwa malam, akan segera datang. Mereka terbang bebas, dan berkicau seirama.


Memang benar cinta itu bisa diketahui karena adanya perhatian lebih, dan sikap yang romantis. Tetapi, penuturan kata dan pengungkapan cinta juga penting.


Untuk mengkonfirmasi apa yang dirasakan hati. Agar tidak salah paham dan berharap lebih, pada hal yang belum tentu kebenarannya.


Di kantor, para karyawan sudah bersiap-siap pulang. Dan menyelesaikan pekerjaannya masing-masing. Tidak terkecuali dengan Bagas, meskipun ia CEO.


Dia sering pulang tepat waktu, karena dia lebih nyaman lembur di rumahnya. Jika pekerjaan belum selesai, meskipun terkadang sesekali dia pernah lembur di kantor.


Anya sudah pulang dari rumah sakit. Dan Anya ikut dengan Bagas ke kantor.


Anya yang diperintahkan, untuk mengambil file di lantai 40. "Tidak apa-apa kan, kamu mengambil file nya sendiri?" Tanya Bagas memastikan.


"Tentu saja tuan."


Anya ke ruangan HRD. Yang dimana itu adalah ruangan Boni, kakak kelas sekaligus sahabatnya dahulu. Yang pergi tanpa pamit, dan hilang tanpa kabar.


Hingga akhirnya mereka bertemu di kantor ini. Sebagai HRD dan pendaftar kerja. Namun, na'asnya Bagas mengenali wajah Anya. Yang pernah, membuatnya hampir kehilangan Client pentingnya.


Dan Anya, menjadi alasan Bagas menunda merekrut sekertaris pribadi. Karena, Bagas juga memiliki Vian asisten pribadinya. Meskipun terkadang kewalahan.


Namun, Bagas memiliki pengasuh sekaligus diajarkan menjadi sekertaris pribadinya, yaitu Anya untuk menanganinya.


Anya sudah belajar banyak, pekerjaan sebagai sekertaris pribadi dari Vian. Secara diam-diam, tentu saja Bagas mengetahuinya. Karena Vian tidak mungkin mengkhianatinya.


"Kamu bilang saja, pak Boni. Semuanya pasti mengerti." Perintah Bagas.


Anya mengangguk.


Sebenarnya Bagas tak membiarkan Anya jauh-jauh, dia takut Anya kabur atau semacamnya. Mereka hanya terpisah saat ke toilet saja, selebihnya selalu bersama.


Namun, Bagas sedang darurat. Dan Boni tidak bisa dihubungi lewat telpon, sedangkan Vian. Sedang di luar, menemui salah satu Client Bagas.


Bagas tidak terlalu takut, karena mereka sudah menyepakati untuk menikah atas dasar cinta. Bagas sudah merencanakan sesuatu yang romantis untuk Anya.


Dan Bagas tidak bisa menemuinya, karena ada masalah kantor yang lebih rumit. Yang harus dia selesaikan, alhasil dia tidak ada pilihan selain menyuruh Anya.


"Dan ya, setelah mengambil filenya ke dalam flashdisk. Kamu harus segera kembali!" Peringatan keras dari Bagas.


"Hmm baiklah.."


"Ingat, ini kali pertama kamu saya biarkan sendiri!" Ucap Bagas lagi.


"Iya, tuan."


"Jika coba-coba, atau ada masalah. Hukuman yang kamu dapat, sangat kejam!" Ucapnya terus memperingati.


"Iya tuan, saya mengerti."


"Kamu ingat kan, terakhir saya menghukum kamu?" Tanya Bagas kejam.

__ADS_1


"Iya tuan."


"Cepat, gak pake lama!"


"Permisi tuan."


"Em kamu jangan jelalatan awas, karyawan saya memang pada berkharisma. Tapi, saya yang paling tampan." Ucapnya lagi.


"Hmm. Maksudnya dia apa si?" Batin Anya.


"Angel! Saya tahu ya yang kamu pikirkan. Maksud saya adalah, saya CEO nya. Masa iya ada yang mengalahkan saya!" Jelas Bagas memebaca pikiran Anya.


"Buset dia cenayang?" Batin Anya.


"Iya, saya cenayang. Kenapa? Kamu baru tahu?" Jawab Bagas, tepat sasaran lagi.


"Tidak tuan, saya permisi." Ucap Anya berlalu pergi. Dia merasa merinding lama-lama berada di dekatnya.


***


"Nyonya Anya mau cari siapa?" Tanya office boy yang berada di sana.


"Pak Boni."


"Oh, dia sedang ada di ruangannya nyonya." Jawab OB tersebut.


"Terima kasih pak, tapi saya tidak tahu mana ruangannya."


"Ah mari saya antar." Ucap OB itu sopan.


Anya segera masuk. "Em terimakasih pak." Ucapnya diambang pintu.


Pasalnya Anya selalu lupa, Boni yang mana yang dimaksud. Dan ternyata memang selalu Boni kakak kelasnya.


"Tok tok tok..."


"Masuk!" Ucap Boni.


"Permisi pak, em ka Boni?" Ucap Anya setelah masuk.


Anya baru ingat, kak Boni memang kerja disini. Dan Boni yang Bagas maksud, memanglah Boni kakak kelasnya.


"Anya? Lama tidak bertemu, saya kira setelah hari itu kamu tidak diterima kerja disini. Karena, pak Bagas memutuskan untuk tidak ingin merekrut sekertaris pribadi untuk saat ini." Jelasnya.


"Iya kak, eh pak."


"Tidak usah sungkan, jika kita berdua. Panggil saja, kak seperti biasanya." Ucapnya sambil tersenyum.


"Hmm baiklah kak, ceritanya panjang kak. Eh iya, saya ingin mengambil file yang pak Bagas minta. Katanya, kak Boni gak jawab telponnya." Jelas Anya.


"Oh iya, tadi saya keluar. Untuk mengerjakan projek yang benar-benar darurat." Jelas Boni.


"Ini flashdisk nya kak!"


"Sebentar." Boni segera memindahkan semua filenya ke dalam flashdisk nya.


"Nih." Ucap Boni setelah selesai.

__ADS_1


"Oh terima kasih kak!" Ucap Anya yang berniat pergi.


"Anya, Minggu depan saya wisuda. Kamu mau gak nemenin kakak?" Tanya Boni kemudian.


"Ah kok aku sih kak, emangnya Kakak belum nikah atau punya pacar gitu?" Tanya Anya.


"Belum."


"Emm aku, sebenarnya mau. Tapi.."


"Kenapa?" Tanya Boni.


"Susah meminta izin ke pak Bagas." Jelas Anya.


"Nanti kakak yang minta izin gimana?"


"Jangan, nanti Kakak kena marah."


"Kok gitu?"


"Em gapapah, lain kali kalo aku ada waktu. Anya ceritain semuanya, tapi sekarang benar-benar gak bisa." Jelas Anya.


"Kapan kamu ada waktu?" Tanya Boni. "Dan yeah, waktu terakhir kali saya melihat kamu. Di sini, di ruangan ini. Apa pak Bagas marah?" Tanya Boni lagi.


"Em entahlah, aku permisi ya kak. Nanti pak Bagas marah, saya kelamaan. Kapan-kapan saya akan menjelaskan semuanya." Ucap Anya berniat pergi.


"Anya!" Panggil Boni menarik lengan Anya ke dalam dekapannya.


"Kakak benar-benar kangen sama kamu, kamu baik-baik saja kan? Kakak tahu semuanya, tentang Soraya dan Diki. Tentang mereka, yang mengkhianati kita." Jelasnya masih mendekap Anya.


"Kak, sejak kapan? Dan lepaskan kak, ini di kantor. Takut ada yang lihat!" Tanya Anya, berusaha melepaskan pelukan Boni.


"Sebentar saja Anya, aku benar-benar rindu sama kamu. Sejak, dahulu. Soraya sering diam-diam mengajak Diki ketemuan. Aku sebenarnya ingin memberitahu mu, tapi aku gak tega. Melihat segimana cintanya kamu pada Diki." Jelas Boni.


"Kak aku ngerti, kita bicarakan nanti-" Ucap Anya terpotong.


"Brakkkkkk ..." Bagas mendobrak pintu.


"APA-APAAN INI?" Teriak Bagas, mendobrak pintu kasar.


Bagas yang merasa janggal, karena Anya begitu lama. Dia ingin segera memeriksakan, dan terlihat dari jauh. Dari balik jendela, Anya dan Boni sedang berpelukan bak sepasang kekasih. Membuat Bagas geram, dan ingin menghabisi Boni.


Sontak Anya kaget, dan melepaskan pelukannya dengan kasar. "Tuan?" Tanya Anya bingung, kenapa Bagas bisa berada di sana.


"Kenapa? Kaget, karena terciduk pacaran? Oh, jadi kamu semangat bisa ke sini. Karena Boni pacar kamu?" Tanya Bagas kesal.


"Tidak tuan, bukan begitu." Ucap Anya, mencoba menjelaskan.


"Ikut saya!" Ucap Bagas menarik kasar tangan Anya.


***


Visual🌹🌹🌹



__ADS_1



__ADS_2